
๐นHAPPY READING GUYS๐น
_______*_______*_______*_______*_______*______
"Ahh... itu tak seperti yang kau pikirkan Jeemy." Bantahnya yang langsung seperti cacing kepanasan.
"Hey... Hey... Aku dengar dari dapur ada seseorang yang menggilai novel di grup ini. Ahaha.... Sungguh manis sekali. Laki laki yang luarnya terlihat seperti badboy tapi di dalamnya sweet boy. Uhhh... Betapa manisnya Theo kita ini." Sambung Lusy yang kembali ke sana membawa minuman George yang juga ikut menggoda Theo.
"Aku juga tak menyangka paman ku seperti ini. Sangat menggemaskan." Ucap Arnold yang memang sudah terbiasa memanggil mereka dengan panggilan paman.
"Oh astaga... Berhentilah kalian!!! Jika tidak....."
"Jika tidak?" Tanya George dengan dingin lalu mengangkat alis sebelahnya.
"Tidak..." Ucap nya yang meringsut duduk kembali. Yang tentunya mengundang tawa dari mereka semua.
"Aih.... Sudahlah. Aku sudah lelah menertawakan mu Theo. Apa kalian ingin makan sesuatu?"
"Aku ingin makan salad dan beef teriyaki noona." Pinta Arnold dengan senyum manisnya. Memperlihatkan gigi kelincinya itu.
"Ohh baiklah Arnold. Ku rasa kalian tak akan keberatan untuk menuruti adik kecil ini bukan? Maka akan kusamakan makanan kalian." Ucap Lusy yang kemudian berlalu pergi.
Arnold adalah anggota termuda di sana. Yang tentu saja akan dimanjakan oleh orang orang di kelompok itu. Anak yang terbilang sangat manis, dengan kulit putih, hidung mancung, mata hitam, tinggi 178 cm, dengan gigi kelinci, dan rambut hitam sedikit gondrong. Suka dengan game dan berperan sebagai hacker di kelompok itu. Namun Arnold akan berbeda jika di luar bertemu dengan orang asing. Maka sifatnya yang seperti itu akan berubah 180ยฐ.
Sedangkan Lusy berperan sebagai seorang ibu disana, selalu mengurusi keperluan anggota itu. Wanita cantik yang menjadi incaran hampir semua lelaki sebab kecantikan yang ada padanya mengalahkan kecantikan para model yang ada, bahkan bisa dibilang nomor satu. Namun dengan sukarelawan menolak itu semua dan bergabung dengan kelompok yang diketuai oleh George.
Jeemy? Dia adalah orang dengan kepintaran di atas 150. Yang merupakan otak dari segala bisnis yang mereka jalani. Hingga mereka menjadi sangat sukses. Bahkan sangat sulit dikalahkan di dunia perbisnisan. Memiliki fisik yang lebih mengarah pada Arnold. Kulit putih, wajah yang mulus, hidung yang mancung kecil, tubuh yang terbilang lebih kecil dari Theo dengan tinggi 182 cm. Karna ia terbilang orang lebih malas untuk beraktivitas seperti Theo. Serta berumur 35 tahun.
Dan Theo adalah anggota yang paling ceroboh dalam hal itu. Namun tidak dalam berkelahi. Ia sangat senang dalam mengatur taktik saat mereka ingin mengalahkan lawannya. Mengoleksi benda benda tajam dan semua jenis Revolver serta barang lainnya adalah keahliannya. Namun seperti yang diketahui selain itu juga ia senang mengoleksi Novel keluaran terbaru ntah itu berbau manis, misteri, horor atau pun komedi. Hingga ia terkenal dengan seseorang yang ramah dan selalu bisa mencairkan suasana yang kadang terlihat kaku dengan dingin di sana. Umurnya 34 tahun yang memiliki postur tubuh atletis, kulit sawo matang, hidung besar dan mancung, wajah yang bersih, dan memiliki tinggi 175 cm.
__ADS_1
Sedangkan George Govanie sendiri merupakan ketua dari kelompok itu, berperan sebagai ayah disana. Yang memiliki mata tajam, alis tebal, hidung mancung, rahang bersegi sedikit brewok, tubuh yang kekar dan tegap, tinggi 185 cm serta umurnya menginjak 38 tahun.
Seperti yang kita tau bahwa ia tak memiliki kekasih atau pun istri di usianya itu sebab masih menunggu seseorang yang baru ia temui sekali namun tak bisa ia lupakan sampai sekarang.
kembali ke topik~~
"Apa kau tidak penasaran dengan anak itu Geor? Dengan tingkahmu yang berubah saat bersama anak itu. Apa kau tak mengenalnya sama sekali?"
"Aku rasa aku memang tidak mengenalnya. Hanya saja ntah kenapa tubuh ini selalu menuruti anak itu. Aku menjadi penasaran. Theo, aku ingin kau cari tau tentang anak itu." Titah George.
"Oh ayolah Geor, Kenapa harus aku? Disini kita memiliki hacker terhandal yang bahkan jika kau mau dia bisa mendapatkan info apa saja yang kau inginkan tanpa susah payah." Ucapnya tak terima dan menunjuk ke arah Arnold.
"Aku hanya ingin kau yang mencarinya. Apakah begitu sulit untukmu hm?" Alis mata yang terangkat sebelah yang artinya ia tak menerima penolakan.
"Tapi.... tapi.... Arghh baiklah. Tapi aku akan mendapatkan bayaran bukan?" Theo yang berusaha menego.
Tap... Tap... Tap...
"Argghhh.... Kenapa dia senang sekali menyusahkan diriku hah! Kau bocah! (Tunjuk Theo pada Arnold yang sedang memakan biskuit dan teh yang tersedia di meja) Kau harus membantu ku. Aku tidak mau perusahaan ku yang ku bangun dengan usah payah malah akan di hancurkannya seenak hati hanya karna tak mendapatkan info tentang anak itu." Theo yang terlihat begitu kesal.
"Owh ywa phamwan. Akwu akwan membwantu mwu. Thapwi harwus dengwan bayarwan dwua kali liphat." Ucap Arnold tak jelas sebab masih melahap biskuit kering itu hingga mulutnya terisi penuh.
Sedikit catatan bahwa George tak mengizinkan Arnold untuk minum walaupun usianya sudah 21 tahun. Ia tak mau anak itu akan melakukan kesalahan seperti dirinya nanti. Ia juga sudah berjanji pada almarhum sopirnya untuk menjaga Arnold. Hingga karena itu lah Arnold seperti tak kekurangan kasih sayang ayah dan ibu serta keluarga sebab disana ia benar benar diperlakukan seperti seorang anak bagi mereka. Sedangkan ibu kandung Arnold sudah lama meninggal bahkan dia tak memiliki keluarga lain sebelumnya.
"Arraggggghh.... Kenapa aku disini selalu saja di peras oleh kutu besar dan kecil." Ucap Theo yang frustasi mengacak rambutnya.
"Ha... Ha... Ha... Itu sudah takdirmu Theo. Terima saja."
"Jadi paman? Apa mau aku bantu atau tidak? Jika tidak pun aku akan lebih memilih untuk pergi ke perusahaan cabang atau bermain game. Dan kau tak akan dapatkan sesuatu yang kau mau."
__ADS_1
"Ya... ya.... ya.... Baiklah. Terserah kau saja berapa pun itu." Ucapnya berlalu pergi sambil memegang kepalanya yang terasa sakit. Sedangkan kedua orang yang ada di ruangan itu malah asik menertawakan nasib Theo.
"Akhh... Kenapa aku selalu saja diperalat oleh makhluk makhluk ini. Ingin sekali ku membuang mereka jauh jauh." Gumam Theo, yang berlalu pergi ke ruangannya.
Ceklek.....
'Aku penasaran dengan wanita ini. Tapi anak itu melarangku. Aku merasa penasaran namun jika aku melihatnya aku kembali berbuat jahat.'
Tap.... Tap....
'Melihatnya yang begitu menyayangi ibunya, membuatku teringat satu orang.....'
Tut.... tut...
.
.
.
.
.
.
.
๐ฌ๐ฌ๐ฌ๐ฌ๐ฌ๐ฌ๐ฌ๐ฌ๐ฌ๐ฌ๐ฌ๐ฌ๐ฌ
__ADS_1