
Sesampai di halte tak jauh dari mall, Kian pun turun dan berjalan ke arah mall. Karna merasa haus ia berhenti di sebuah warung yang ada di dekat mall. Setelah beberapa teguk minum, ia tak sengaja melihat bocah yang ia kenal. Ia pun memanggil bocah itu.
"Gio??!" Teriak Kian
Bocah itu pun melihat Kian dan hendak langsung menghampiri kian. Namun kian memberikan kode agar ia tetap di tempatnya. Karna arung itu berada di sebrang mall, Kian pun harus menyeberang. Dan setelah menyeberang Gio pun langsung menghampirinya.
"Kak Cantikkk" teriaknya yang langsung menghamburkan pelukannya pada Kian. Seperti biasa kian akan berlutut menyetarakan tingginya dengan Gio.
"Gio ngapain disana sayang? Ouh atau jangan jangan Gio kabur lagi dari rumah? iya?"
Gio yang sudah melepaskan pelukannya pada Kian pun langsung menjawab.
"Gak kok kak. Bahkan Gio kesini sama kakak gio."
"Terus mana kakak kamu?" tanya kian yang baik mencari cari walaupun ia tak tau yang mana kakak gio.
"Kakak lagi nganter penumpang kak. Dia gak disini"
"Maksudnya?" Kian yang tak mengerti
"Jadi, kakak Gio itu tukang ojek. Sekarang dia lagi antar penumpangnya. Karna Gio kemaren keluar rumah tanpa izinnya jadi Gio diajak dh. Cuma karna lagi anter penumpang aku dititipin sama pak Asep yang punya warung itu."
"Oh gitu. Bilang dong sayang."
"Terus kakak mau ngapain ke sini?"
"Kakak mau beli buku. Mau ikut gak? nanti kalau udah selesai kakak antar lagi ke sini."
"Wah....boleh tuh. Aku juga udah lama gak ke mall."
"Kenapa?"
"Kakak sibuk kerja, sedangkan mama sakit"
"Kalau papa kamu?" tanya Kian yang sedikit hati hati
"Mama bilang papa gak ada. Dan kalo aku tanya papa, mama sama kakak pasti marah."
"Ouh gitu ya. Ya udah gak usah sedih. Kita masuk aja, kamu mau apa? makan?"
"Gio udah makan sebelum kesini."
"Terus mau apa?"
__ADS_1
"Es krim aja ya kak, hehe"
"Ya udah, kita beli es krim. Tarus abis itu temenin kakak beli buku ya."
"Oke kakak cantik.๐"
Kian mengantarkan Gio ke toko es krim. Dan ia memesan porsi spesial untuk Gio.
"Makasih ya kak. kakak kenapa gak beli juga?"
"Iya sama sama. Kakak gak terlalu suka manis Gio."
"Ouh gitu. Wajar sih kakak gak suka manis, kakak aja udah manis. Es krim aja kalah sama manis kakak. Sekarang Gio double nih nikmati manisnya, yang pertama es krim nya manis, dan yang kedua kakak yang manis. hehe"
"Hmm.... pinter banget sih gombal ya. Emang kamu belajar dari siapa? masih kecil aja udah pinter gombal kayak gini." Kian menarik hidung Gio pelan karena gemas.
"Hehe... Gio sering liat kakak gombalin mama. Lagian Gio udah gede kok kak. Gio udah kelas tiga SD."
"Kelas tiga SD aja dah pinter gombal. Gimana gede nya?"
"Kalo gede nya ya pasti penakluk hati cewek lah kak. hahaha"
"Hmm..serah dh. Eh ini udah sampai, kita masuk yuk. kakak udah gak sabar mau beli buku."
"iya dh. Tapi janji ya jangan kemana mana, ntar kakak di marahin kakak kamu kalo kamu hilang."
"Iya janji gak bakal kemana mana kok kakak cantik."
Kian meninggalkan Gio di kursi tunggu dalam toko buku itu sambil menikmati es krim nya. Sedangkan Kian memilih milih buku untuk dirinya. Setelah menimbang nimbang beberapa buku yang ia pilih akhirnya ia selesai dan pergi ke kasir untuk membayarnya. Dan melewati kursi Gio.
"Uhhuk...uhhuk..."
"Eh Gio, pelan pelan makannya. Kalo kamu belum selesai kakak masih bisa tunggu kok."
"Bukan itu kak. Emang kakak bakal ngapain sama semua buku buku itu?" sambil menunjuk buku di meja kasir.
"Oh... Ya jelas dibaca lah."
"Ih serem. Aku aja liatnya udah pengen pingsan. Kakak malah mau baca semuanya."
"Buku kan ilmu Gio. Jadi semakin banyak kamu baca ya semakin banyak juga kamu bakal tau."
"Ihh...pokoknya Gio gak suka sama semua itu."
__ADS_1
"Permisi mbak. Total bukunya lima ratus ribu." ucap kasir pada Kian.
Setelah membayar mereka berdua langsung keluar. Kian bertanya pada Gio ia ingin kemana lagi, namun Gio tak mau kemana mana. akhirnya kian memutuskan untuk mengantar Gio ke warung pak Asep. Saat mereka disana kakak Gio tak kunjung datang bahkan tak pulang dari tadi. Wajah Gio kini mulai berubah masam.
"Ihhh....kakak nyebelin banget sih!! katanya gak lama. Gio udah kangen mama tau." kesalnya
"Gio jangan gitu. Kan kakak lagi cari cuan sayang."
"Tapi Gio udah kangen mama, kakak cantik. Gimana kalo kak cantik anter gio kesana. Sekalian liat mama. Kan waktu itu kakak belum liat mama."
"Tapi masalahnya ntar kamu dicariin sama kakak kamu gimana.?"
"Tenang aja. Kan ada pak Asep yang bakal bilang ke kakak. Bentar ya kak." Ucap Gio meninggalkan Kian dan berlari ke arah warung pak Asep. Disana terlihat anak umur sembilan tahun itu berbicara serius pada pak Asep. Sedangkan pak Asep hanya mengangguk angguk kepalanya. Setelah selesai Ia kembali menghampiri kian.
Sebelum ke rumah sakit, Kian pergi ke sebuah toko yang menjual buah dan roti.
"Kak ngapain sih kita ke sini. Ayo langsung ke rumah sakit aja." Rengek Gio
"Bentar Gio. Kakak lagi mau beli buah sama roti dulu buat mama kamu."
"Hmm...iya dh. Tapi Gio mau coklat"
"Yah jangan dong. Ntar dimarah kakak kamu gimana? coklat itu manis lho, gak boleh terlalu banyak makan manis"
"Sedikit aja kak. Lagian aku perlu yang manis manis nih, soalnya lagi kesel sama kakak"
"Kamu bilang kakak manis. Berarti liat kakak aja dong. Coklatnya gak usah."
"Gak bisa lah. Kakak emang manis coklat aja kalah. Tapi masalahnya kakak gak bisa dimakan. Kalo coklat bisa."
Sontak kalimat itu membuat Kian terdiam. Ia tak habis pikir dengan perkembangan ucapan gio yang polos namun sangat menusuk itu. Bahkan dari ucapannya pun tak salah. Akhirnya Kian mengalah namun dengannperjanjian Gio hanya bisa memakan coklat yang kecil. Bocah itu pun mengangguk setuju.
Setelah selesai, mereka menaiki taksi untuk pergi ke rumah sakit. Dan juga untuk meminimalisir peluang ia bertemu bule siang itu. Sungguh ia benar benar malu tapi kesal juga. Tapi jika sekarang pun bertemu lagi pastilah kian akan lari darinya.
Sepuluh menit berlalu, mereka akhirnya sampai di Rumah Sakit dan langsung menuju kamar mama Gio.
Sesampai di depan pintu terlihat pasien itu seorang diri berbaring di tempat tidur tanpa ada yang menemani. Hal itu diketahui Lian dari kaca pintu kamar.
ceklek....pintu terbuka.
Gio dengan semangatnya langsung menghampiri mamanya itu. Dan kian pun mengikuti Gio. Namun belum sempat Kian menyapa saat ia melihat siapa mama gio ia pun berhenti dan tanpa ia sadari air matanya keluar tanpa diminta.
Setelah mengecup pipi mamanya Gio pun beralih pandang pada Kian.
__ADS_1
"Kakak cantik....kenapa?" tanya nya lirih