
Febbry yang sudah mengambil paper bag dan kadonya langsung bergegas keluar, namun.... Karna ia merasa kesal sekali dengan kesombongan pria yang ada di depannya itu, membuatnya menendang kaki pria itu dan langsung saja berlari keluar.
"YAKKK!!! Kau berhenti perempuan gilaaa!!!"
Theo yang tak terima di tendang oleh Febbry, mengejarnya walaupun dengan kaki yang pincang.
Tup....
Brakh....
Pintu toko itu tertutup, Theo yang hendak meraih tangan Febbry malah tak sampai alih alih malah menabrak pintu yang baru saja di tutup oleh Febbry.
Febbry yang tak mau tertangkap terus berlari tanpa memperdulikan siapa pun.
"Feb... Febbry...." Suara yang awalnya kencang menjadi melemah, melihat Febbry yang begitu saja melewatinya.
Beberapa saat lalu~
"Feb, gw mau ke toko sebrang dulu ya. Nanti kalo lo dah selesai, lo tunggu aja di depan pintu. Atau nanti kalo gw yang duluan, gw juga bakal susul lo kok."
"Oh oke. Jadi lo gak nemenin gw masuk buat beli buku."
"Ntar kalo dah selesai gw susul kok."
"Oh oke deh. Btw thanks ya lo mau nemenin gw pergi. Lo bilang ortu lo ada di rumah? kok lo bisa keluar?"
"Oh kalo pagi sih iya mereka ada. Tapi pas pulang mereka udah gak ada di rumah." Ucap Kian datar, lagi pula ia sudah biasa diperlakukan seperti dengan kedua orang tuanya. "Ya udah cepet sana, ntar malah keduluan orang lagi." Lanjut Kian menyuruh Febbry masuk.
"Oke oke. Hati hati lo."
"Iya iya."
Ternyata Febbry dan Kian pergi bersama, namun karna Kian ada perlu sebentar untuk membeli barang. Hingga ia memilih untuk pergi ke toko sebrang.
Saat keperluannya sudah terpenuhi, Kian kembali ke toko buku hendak menghampiri Febbry yang masih ada di dalam. Namun saat ia hendak membuka pintu toko buku itu, Febbry malah lebih dulu membukanya dan langsung berlari keluar tanpa bicara sepatah katapun pada Kian dan melewatinya begitu saja, hingga membuat diri Kian bingung.
Tak lama keluar lagi satu orang laki laki dengan berjalan pincang yang terlihat mengejar Febbry. Membuat Kian dua kali lebih bingung, ntah apa yang terjadi sampai mereka berdua seperti itu. Alhasil ia hanya mematung melihat mereka.
Kembali ke sekarang ~
'Lah kok gw di lewatin gitu aja. Itu berarti Febbry sengaja atau emang lupa kalo gw disini buat nungguin dia?'
__ADS_1
"Yakk!!! Perempuan gila tunggu!! Kau harus tanggung jawab dengan apa yang kau lakukan dan kembaliin buku itu!!!"
Roceh Theo yang masih meringis kesakitan yang tepat berada di samping Kian.
Kian menatap aneh dan bingung ke arah Theo.
Tap, tap, tap,
Langkahnya mengejar Febbry dan juga melewati Kian begitu saja. Kian yang khawatir akhirnya ikut berlari juga mengejar Febbry, yang ntah mau kemana itu.
"Heyyy!!!" Teriak Theo
"Febbb.... Febbry..." Panggil Kian yang juga sambil berlari. Namun larinya tak lah secepat Theo dan Febbry. Hingga Meninggalkan Kian yang berda di posisi paling akhir dalam kejar kejaran itu.
Suara Kian dan Theo bersahut sahutan memanggil Febbry namun anak itu tak kunjung berhenti malah semakin kencang berlarinya.
Febbry yang mendengar suara namun tak menoleh itu, tetap fokus berlari hingga dirinya serasa tak sanggup lagi. Sampai ia melihat seseorang yang sedang nangkring di motornya dengan santai. Dan tentu saja Febbry mengenal orang tersebut.
Febbry langsung menghampiri orang tersebut dan....
"Bim... Bim.... Bim. Ayo cepat jalan." Ucap Febbry yang sudah naik ke di jok belakang dan menepuk bahu Bimo beberapa kali.
"Woy lo apa apaan sih. Dateng dateng, langsung naek mana pake mukul segala lagi. Lo pikir gw tukang ojek?!" Rocehnya
Mendengar ocehan Febbry yang tak kalah cempreng itu membuat Bimo sakit mendengarnya, "Lo abis ngapain emang? Wah lo nyuri ya?"
Plak...
"Sembarang lo kalo ngomong. Gw lagi di kejar orang gila oon."
"Hey!!! Perempuan gila!!" Teriak seseorang dari kejauhan sambil berlari ke arah mereka.
"Nah... itu dia Bim. Sekarang lo percaya kan. Ayo cepat jalan!!"
Melihat situasi yang seperti itu membuat Bimo terpaksa menjalankan motornya. Melesat pergi dengan kecepatan tinggi. Meninggalkan depulan asap untuk mereka berdua.
"Huh... huh... si*l!" Ucapnya ketika Febbry berhasil meloloskan diri. Kian yang juga melihat punggung Febbry yang kian menjauh, ikut berhenti.
Theo yang saat ini benar benar sudah sudah seperti habis mengejar maling, dengan dasi yang sudah miring, keringat bercucuran, ditambah lagi sepannya juga kotor.
Kian menatap laki laki itu yang sedang menghirup udara dengan rakusnya.
__ADS_1
"Apa yang kau lihat hah!!! Harusnya kau menangkap pencuri itu! Kenapa kau malah diam dan bengong seperti itu!! Apa kau tidak lihat hah! Dia mencuri buku buku ku. Argghhh... awas kau perempuan gila!"
Kian masih menatap nanar laki laki yang meroceh di depannya. Ia tak kenal dengan laki laki itu, namun dia malah marah-marah dengan seenaknya di tambah lagi dengan tuduhannya yang ia lontarkan kepada Febbry membuat Kian merasa tak suka.
"Tapi tuan, apa kau yakin dia mencuri? Setauku Febbry tak akan melakukan hal itu. Uang orang tuanya saja banyak. Untuk apa dia mencuri?"
"Oh jadi kau kenal dengannya? Katakan padanya untuk mengembalikan buku ku itu! Jika tidak maka siap siap saja...!!! huh... huh... huh...." Letihnya di ujung kalimat.
Tap... Tap... Tap....
Theo kembali berjalan dengan arah berlawanan. Kembali ke toko itu berniat untuk pulang.
Menyisakan Kian sendiri dengan wajah cengok ditambah juga dengan jari gak bercucuran di sekitar dahinya.
Sementara di sisi lain ada dua orang yang berhasil lolos dari kejaran Theo. Mereka sekarang sedang berhenti di pinggir jalan, serasa mereka sudah jauh.
"Huh... huh... " Nafas mereka berdua.
"Lo kenapa jadi ikut ikutan beg*"
"Gw ikut engap liat lo yang kayak gitu."
"Serah lo dah. Ini kadonya."
"Thanks. Tapi kenapa lo sampai di kejar sama orang itu sih. Dan gw rasa dia bukan orang gila deh. Masa baju sama dandanan gitu lo bilang orang gila. Dia siapa? Dan kenapa lo sampai di kejar sama dia?"
"Lo cerewet banget sih. Intinya gw gak nyuri, tapi dia nuduh gw nyuri barang dia. Eh... bentar dulu deh. Perasaan gw, gw dateng sama seseorang deh tadi. Kok gw bisa pulang bareng lo ya..."
"Gak tau gw. Lo tiba tiba aja naek ke motor gw terus minta jalan gitu aja."
Plak....
Febbry menepuk jidatnya kuat.
"Oh astaga.... Kian?!!! Gw lupa, tadi gw dateng sama dia. Dan sekarang malah gw tinggal. Haduh mati nih gw."
.
.
.
__ADS_1
.
.