
"Selamat pagi jagoan kecil."
Clap....
"Pagi juga kak Arya." Ucap Gio yang menyambut tos-an tangan Arya.
Kini Devan dan Gio sudah berada di cafe Arya. Karena tak ada Kian yang menemani Gio di rumah, maka ia akan membawa Gio ke tempatnya bekerja. Berbeda dari kemarin yang apabila Gio sudah pulang sekolah dan Devan sudah untuk bekerja, maka Gio akan ia tinggalkan di rumah sakit bersama Zanna.
Setelah motor itu dijual, Devan tak lagi mengojek melainkan hanya bekerja di cafe Arya. Lagi pula ia tak bisa terus terusan meninggalkan Gio sendiri di rumah.
"Gio, ikut kakak ke dapur aja ya. Oh ya inget jangan nakal. Oke."
"Ai... Ai... Kapten." Ucapnya sambil mengangkat tangan memberikan hormat.
Gio sibuk bermain di pojokan bersama beberapa mainan yang ia bawa dari rumah. Sedangkan Devan sibuk dengan pekerjaannya di depan meja coffe.
"Salut gw sama lo Van. Abis ini nikah aja, biar Gio ada yang urusin." Arya yang menghampiri Devan di dapur dengan candaannya sambil berdecak pinggang.
"Lo pikir nikah gampang. Tambah dong gw harus cari duit dua kali lipat. Lagian gw masih sekolah woy." Sewot Devan.
"Ya kan bentar lagi lo tamat sekolah."
"Emang nikah gak pake modal gitu? Lagian umur gw masih muda ya kali mau gw ribetin buat punya bini."
"Gak mau ribet atau emang gak punya calon, Van? Ha... ha..... ha....."
"Ih kakak Kavin udah punya pacar ya Kak Arya." Sahut Gio yang sedari tadi asik bermain.
Tertarik dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Gio, membuat Arya menoleh ke sumber suara.
"Emang iya? Wah lo boongin gw dong Van. Siapa emang Gi?" Penasaran Arya.
"Kak Kian lah. Cantik orangnya, terus lemah lembut, sama baik juga ama Gio." Ujarnya dengan membanggakan Kian.
"Udah gak usah di dengerin si bocil. Kalo ngomong seenak perutnya aja." Ketus Devan. Bagaimana tidak saat tidak ada Kian, maka Gio selalu saja berbicara tentang Kian dan Kian membuat Devan sedikit bosan. Bahkan tanpa di bicarakan oleh Gio, Devan sudah tau bagaimana Kian.
"Yang mana Van? Gw pikir selama ini lo dingin dan gak tertarik sama cewek. Tapi nyatanya ada juga ya. Ha... ha...."
"Lo kate gw apaan lagi. Tapi serius gak usah di dengerin bocil yang masih suka ngompol nih." Cibir Devan yang masih asik membuat coffe.
"Lah Gio gak pernah ngompol lagi ya (marahnya pada Devan, namun malah terlihat lucu). Emang kak Kavin gak mau? Ya udah tunggu aja, bakal Gio yang pacarin kak Kian."
"Buset... Bocah. Main pacar aja lu. Pipis aja masih belum bener." Bantah Arya.
"Emang selama ini Gio pipis gak bener ya? Terus pipis yang benr gimana?" Dengan ekspresi sok Coolnya.
"Eh... itu..." Ucap Arya yang terbata, bingung ingin menjawab pertanyaan Gio bagimana. Sedangkan Devan sudah menahan tawa, ya dia tau sekali Gio. Dia orang yang tak pernah takut dengan larangan yang orang lain lontarkan. Bahkan jika dirasa ia benar ia akan berucap secara ceplas ceplos.
"Lagian kan gak sekarang pacarannya. Kalo Gio udah gede nanti kak arya." Lanjutnya lagi.
"Keburu tua tuh cewek." Sahut Arya ketus agar anak itu diam. Namun ia salah, Gio masih melanjutkan perdebatan itu.
"Gak apa apa. Gio tetap suka. Lagian kalo sama kak Kavin gak di kasih kejelasan sih." Bela Gio yang tak mau kalah.
"Woy tong. Adek lu, lu kasih apa sih. Omongannya luar biasa. Kalah gw." Ucap Arya pada Devan yang tak mau mendengar mereka berdua.
__ADS_1
"Mana gw tau. Padahal kalo di rumah tontonannya kalo gak kepala botak, ya alien yang nyerang bumi." Ucap Devan pada Arya.
"Atau paling dia di ajak Kian nonton drama lagi." Enteng Devan.
Sedetik kemudian....
"Eh?! Dek, kamu kalo nonton sama kak Kian nonton apa he?" Tanya nya yang berhenti mengerjakan tugasnya. Baru sadar dengan pertanyaannya.
"Itu tuh, nonton film nenek-nenek yang rambutnya item putih terus sering marah-marah sama cucunya. Bilang Demi apa ya... Gak tau lah Gio."
"Wah... Jadi Kian sering ke rumah lo Van? Yang mana sih ceweknya? Penasaran gw."
"Ada tuh cewek. Anaknya bantet bantet, rambutnya pendek terus cebol." Penggambaran Devan pada Arya.
"Eh dek. Nanti kalo kak Kian nonton itu jangan mau lagi ya." Lanjutnya
"Lah kenapa?"
"Demi kebaikan kamu mending jangan."
"Demi kakak maka Gio bakal nurut."
Tring..... Tring...
Pintu Cafe terbuka, yang artinya ada pelanggan yang masuk.
"Van, tolongin gw gantiin jadi pelayan ya. Gw mau ke toilet dulu." Pinta teman kerjanya.
"Ya udah sono gih." Suruh arya.
Devan berjalan ke arah meja pelanggan dengan membawa note dan pena.
"Permisi tuan. Mau pesan apa?" Tanya Devan pada orang itu.
Orang itu membuka buku menu yang tak sengaja menutup wajahnya hingga Devan tak tau siapa itu.
"Mungkin nanti saja. Anak saya belum datang. Saya akan memesan jika nanti dia sudah tiba." Ucapnya.
"Baiklah tuan. Anda bisa panggil saya jika nanti ingin memesan." Pamit Devan. Dan orang itu pun menutup buku menu yang ada di tangannya.
"Kavin??"
Membuat Devan berbalik arah dan melihatnya.
"Sepertinya takdir ingin selalu mempertemukan kita nak."
Rupanya yang datang adalah Daren. Hal ini tentu membuat wajah Devan yang mulanya bahagia menjadi otomatis berubah murung dan kusut.
"Hm.. Jika anda ingin sesuatu teman saya akan membantu anda." Devan yang kembali berbalik.
"Kavin, tunggu. Biarkan papa bicara sebentar dengan mu. Kau tau betapa papa merindukan mu nak. Bisakah kita bicara Kavin?" Pintanya
"Maaf saya sibuk. Bos saya akan marah jika melihat saya santai dan duduk." Dengan nada bicara yang benar benar malas.
"Tapi papa akan bicara pada bosmu. Bahkan bila ia tak mengizinkan, papa akan membayar untuk itu."
__ADS_1
.
"Kak Arya, kak Kavin kenapa? Dia terlihat begitu marah. Padahal papanya hanya ingin bicara."
Dua orang yang ditinggalkan Devan tadi, malah asik mengintip dirinya dari balik kaca yang ada di pintu dapur.
"Papa? Gio kenal?"
"Ehhem..... Dia kan papa angkat kak Devan. Dia beruntung memiliki papa angkat sedangkan Gio tidak memiliki papa." Gio yang menunduk.
"Kak, ayo kita temui kak Kavin." Ajaknya.
"Sttt... Kita tidak boleh mengganggu kakakmu dengan papa angkatnya."
Cegah Arya pada Gio.
'Gw tau van, lo gak suka sama papa lo. Tapi gak seharusnya lo bohongin Gio juga. Itu adalah papa kalian berdua.'
.
"Apa??? Bayar? Dasar pak tua sombong. Simpan uang mu, aku tak memerlukannya sama sekali. Jika pun bos ku mengizinkan, aku tetap tak akan mau bicara padamu pak tau." Sinisnya.
"Kavin, papa mohon. Kau tau sendiri papa sudah semakin tua. Papa ingin kau kembali nak. Kau bisa urus semua perusahaan papa tanpa harus bekerja seperti ini."
"Ahahaha..... Lucu sekali kau pak tua. Apa kepala mu pernah terbentur sebelumnya hn?? Kau tidak ingat yang meninggalkan rumah itu kau bukan aku."
"Papa tau Kavin. Tapi itu semua kemauan almarhumah Zanna. Maafkan papa karna tidak bisa menjadi orang tua yang baik. Tapi papa benar benar menyayangi mu Kavin. Biarkan papa menebus kesalahan papa."
"Tak ada lagi yang perlu kau tebus. Aku juga sudah menggunakan semua harta yang kau berikan pada kami. Mungkin itu sudah cukup. Lagi pula kau sudah tidak memiliki hubungan apa pun pada mama. Terima kasih." Devan lanjut melangkah.
"Kavin papa belum selesai bicara."
"Apalagi yang ingin kau tanyakan. Aku tak akan mau ikut bersamamu."
"Apakah mama mu pernah menikah lagi? Jika tidak siapa anak itu? Apa... Apa.. Dia...?"
"Heyyy pak tua. Kau adalah manusia yang tak tau malu yang pernah ku temui. Untuk apa kau menanyakan itu? Iya atau tidak tak ada hubungannya denganmu. Pergilah! Kau sudah memiliki keluarga baru. Untuk apa lagi kau mencampuri urusanku. Heh...."
"Dan satu lagi. Kau masih memiliki anak yang bisa mengurus semua perusahaan milikmu."
"Kavin percayalah pada papa. Papa tidak memiliki keluarga selain kau dan mama mu nak.."
"Apa maksudmu?" Devan menatap tajam pria tua itu.
"Sarah bukan anak kandung papa nak. Hanya kamu anak papa."
"Ha... ha... ha... Betapa lucunya kau tuan. Kenapa kau selalu saja tidak mengakui darah daging mu hm? Terkadang aku malu menjadi laki laki, karna ulahmu ini. Beberapa tahun lalu kau mengakui hal yang sama. Ada apa dengan kau hn?"
"Ayo Kavin ikut papa jika kau ingin tau. Masalah keluarga tak baik dibicarakan depan umum."
"Yang bicara masalah ini kan kau bukan aku. Lagipula kita bukan lagi satu keluarga. Kau memiliki keluarga sendiri. Dan tetaplah akui bahwa Sarah anakmu!" Suara Devan meninggi.
"Tapi Sarah bukan anak kandung papa nak." Bantah Daren.
Brakh....
__ADS_1