Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)

Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)
#127


__ADS_3

"Sendiri aja?"


Pertanyaan yang sontak membuat Kian terperanjat kaget saat sedang asik duduk di bangku taman setelah cukup menghibur para pengunjung taman sebelumnya.


"Haah! Kadang gue berpikir sejelek itu ya gue sampai gue ngomong sama orang gak dijawab."


Kian yang berada dalam kostum itu langsung menoleh, merasa tak enak hati karena mengabaikan pertanyaannya. Namun apa yang bisa ia katakan pada orang yang ada disampingnya saat ini? Bukannya menjawab ia malah memiliki pertanyaan lain, kenapa dia di sini?


"Nih" Ucapnya memberikan sebotol air mineral pada Kian. Memang saat ini Kian merasa tenggorokannya begitu kering, membuatnya tak ada pilihan lain selain mengambil botol tersebut. Ia berusaha menyingkirkan pikiran negatif saat ini, dan teringat dengan pesan tidak baik menolak rezeki yang ada di depan mata.


"Terima kasih."


"Gak usah terlalu formal juga kali." Ucapnya tersenyum miring. "Gak capek lo tiap hari kerja? Mending cari tulang punggung aja, biar lo enak-enakan di rumah."


"Tulang punggung?" Kian mengerinyit


"Iya."


"Gak ada waktu buat pikirin apalagi cari." Jawab Kian seadanya.


"Kalo lo belum nemu atau gak punya waktu buat cari sih gue siap aja buat jadi tulang punggung lo."


Mendapat kalimat yang aneh itu, membuat Kian merasa risih. Kalimat tak etis menurut Kian yang dilontarkan oleh seseorang yang baru saja duduk disebelahnya walaupun ia mengenal orang tersebut, tapi tetap saja tak sopan.


Kian memilih bangkit dan hendak pergi dari sana, dari pada omongan tersebut tambah melantur kemana-mana.


Namun belum sempat ia melangkah untuk pergi, tangannya sudah lebih dulu ditarik. Membuatnya kembali terduduk.


"Hey!! Jangan kurang ajar ya!!" Bentak Kian yang sudah mengepalkan tangannya.


"Eits, kalem aja Ki. Gue gak bakal ngapa-ngapain lo juga. Ini tuh tempat umum, bisa abis digebukin masa gue kalo kurang ajar sama lo." Yang langsung melepaskan tangan Kian.


"Terus mau lo apa! Gue mau kerja gak usah ganggu!"


"Gue gak mau ganggu lo, bahkan gue dateng ke sini punya niat baik buat bantu lo. Gue udah nawarin diri buat jadi tulang punggung lo supaya lo gak cape-cape kerja."


"Gue gak punya waktu buat denger omong kosong lo, Refan!"


"Ya udah, maaf. Gue niatnya mau becanda doang, lo malah serius banget. Tapi kalo lo mau serius gue juga seneng sih."


"Ngomong gitu sekali lagi, gue tonjok juga lo!" Kian sudah mengepalkan satu tangannya, hendak benar-benar menghajar Refan jika bicara seperti itu lagi.


"I-iya maaf. Gue cuma mau lo duduk istirahat, santai, dan ketawa doang. Lo pasti cape kan?"


"Sok tau lo." Kian kembali duduk tenang di bangku panjang itu, menatap lurus ke depan.


Duk... Duk...

__ADS_1


Kepala beruang yang dikenakannya, diketok oleh Refan. Dia hanya menoleh sebentar.


"Buka aja Ki. Gak engap?"


"Gak. Ngapain sih lo di sini he? Kok lo tau sama gue?"


"Em... waktu itu gue gak sengaja lewat terus liat lo. Dan tadi feeling gue kuat banget pas liat nih badut, ngiranya itu elo pas gue lewat. Eh ternyata bener. Menurut lo jodoh gak sih?" Wajah tengil itu kembali tampak yang bisa dilihat Kian dari mulut kostum beruang.


"Kebetulan."


"Katanya jodoh itu gak ada yang kebetulan Ki."


"Lo kalo aneh kayak gini, mending pulang aja. Bikin capek gue nambah tau!"


"Vis, gak lagi deh. Em, itu minuman mau terus lo genggam? Jadi pengen jadi botolnya aja deh kalo gini."


"Refan!!!"


Kian bangkit hendak memukul kepala pria yang ada di sampingnya. Kata-kata yang begitu mencolok, sangat membuatnya malah kesal tiada ujung. Niatnya ingin bercanda, tapi malah membuat ia naik darah.


~


Tepat pukul 23.00 malam, Kian selesai mengerjakan pekerjaannya. Ia kembali ke ruang ganti untuk menaruh kembali kostum beruang yang ia pakai semalaman ini.


Terlihat ruangan ganti itu begitu sepi, menandakan semua seorang sudah pulang, kecuali satpam taman.


Ia berjalan keluar, berniat untuk pulang. Pakaian serba panjang dan hangat yang ia kenakan sekarang ini tak membuatnya gentar meski sudah begitu larut dan udara dingin bagai es mulai merayap, menerpa kulit siapa saja yang terekspos.


Langkah demi langkah ia ambil, suasana taman yang tak terlalu sepi membuatnya tak terlalu takut. Baik itu karena gelap atau kesunyian, sebab masih ada beberapa muda mudi nongkrong di sana.


Kaki itu terus bergerak dengan santai, sampai suatu pemandangan tepat berada di bangku taman memaksa langkah itu terhenti dengan mendadak.


'Kenapa dia di sini?'


Dia melihat sesosok yang sedang duduk menumpu kaki kanannya di atas kaki kiri, tangannya ia lipat di depan dada, menyandarkan punggung itu di kepala kursi hingga kepalanya menengadah ke langit. Jaket jeans yang ia kenakan seolah bisa menghangatkan tubuhnya di udara seperti sekarang ini, tak lupa dengan sepan jeans hitam panjang, sepatu kets abu-abu gelap, dan masker putih yang melekat di wajahnya.


Otak Kian enggan memintanya untuk menghampiri laki-laki yang tengah tak sadarkan diri itu. Namun ntah kenapa kakinya tergerak sendiri melangkah bangku. Padahal ia ingin sekali mengabaikan pria itu. Pria yang selalu membuatnya jengkel dengan omong kosong yang tak pernah masuk akal bagi Kian.


Duakh!!


Kian menendang kaki bangku panjang yang menjadi tempat singgah-nya. Membuat kepala itu ikut bergetar, dan ia pun langsung tersadar. Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri, berharap bisa menemukan orang asing yang berani mengganggu dirinya saat ini. Akan ia pastikan jika orang tersebut menerima akibat yang setimpal dengan apa yang baru saja ia lakukan.


Namun bukan orang asing yang ia temukan, melainkan sesosok wajah cantik dengan beberapa helai anak rambut menerpa wajahnya karena tertiup angin. Wajah yang begitu sempurna menurutnya. Hingga tanpa ia sadari ia menatap wajah itu begitu lamat.


"Ngedip Refan ngedip! Mata lo hampir aja jatuh ke tanah." Kesal Kian tak habis pikir dengan manusia yang ada di hadapannya.


Dengan gelagapan, Refan kembali mengubah mimik wajahnya yang tadinya konyol menjadi biasa kembali. Mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan, untuk mengurangi kaku wajah itu, dan membersihkannya jika saja terdapat lelehan pulaunya di sana.

__ADS_1


"Lo ngapain tidur di sini? Kayak gak punya rumah aja."


Refan menarik nafas dalam dan kembali menatap Kian yang masih setia berdiri dengan jarak dua langkah dari posisinya saat ini. "Justru gue lagi nungguin lo. Yuk gue anter. Udah malem, kendaraan umum udah banyak pulang. Nanti lo di culik loh kalo jalan sendiri malem-malem."


"Gue bukan anak kecil lagi Fan. Gue bisa jaga diri. Lagian gue udah biasa juga kayak gini."


"Tapi mulai hari ini lo juga biasa pulang gue anter."


"Gue gak mau dan jangan maksa gue!"


"Kenapa? Lo berharap si cupu itu yang bakal jemput lo?" Refan memiringkan kepalanya, memandang remeh kepada Kian.


Kian merasa aneh dengan bicara Refan, padahal sedari tadi ia tak menyinggung persoalan Devan. Kenapa lelaki prik di depannya ini seolah kesal dengan pertanyaannya sendiri.


"Aneh lo." Ketus Kian, yang kemudian langsung melangkah pergi. Karena tak mau jika berlama-lama dengan Refan ia akan ketularan gila. Terlihat sekali dari ucapannya yang aneh.


Melihat dirinya yang diabaikan, mendadak ia merasa tak senang dan langsung menarik lengan kanan Kian, hingga gadis itu terhuyung kebelakang namun tak sampai jatuh.


Tatapan Kian menajam hebat. Tak ada yang berani seperti ini padanya. Namun lelaki aneh di depannya ini seolah tak merasa bersalah sama sekali. Sampai Kian menghempaskan tangan itu dengan kuat.


"Jaga sikap lo!"


Refan hanya menarik nafas berat, melepaskan tangan itu dan langsung mengangkat tangannya di samping telinga. Menandakan bahwa ia tak akan melakukan apapun yang berbahaya dan menyakiti Kian atau bahkan sekedar mengulang perlakuan sebelumnya.


"Biarin gue anter lo pulang ya. Gue khawatir kalo lo malem-malam harus pulang sendiri. Gue janji, cuma nganter lo doang, gak lebih. Gak usah lo suruh masuk atau sekedar minum teh panas. Gak usah Ki, suwer gak usah." Suaranya berubah lembut, hingga membuat Kian sedikit bergidik ngeri.


"Cih, siapa juga yang mau nawarin lo teh. Gak ada ya."


Refan menggaruk tengkuk nya yang tak gatal. Bingung bagaiman cara membujuk Kian yang keras kepala. Haruskah dia menculik gadis ini? Menggendong ala karung beras dengan paksa? Atau memasukkan kepala gadis ini dengan karung? Lalu segera membawanya pergi.


Ah tidak! Kian terlalu baik dan terlalu sempurna untuk diperlakukan seperti itu. Gadis cantik ini layak diperlakukan seperti ratu. Bukan karena cantik tapi karena hatinya juga baik, walau sedikit judes.


Refan memilih bertekuk lutut di depannya, yang tentu saja membuat Kian kaget bukan main. 'Apa-apaan nih cowok!'


"Lo kalo gak mau gue anter, gue bakal kayak gini terusi." Ujarnya sambil menatap Kian melas.


Tidakkah ini terlalu cringe? Dimana otak pria itu saat ini? Apa pindah ke dengkul? Sampai berani melakukan hal yang memalukan seperti ini. Mereka bukan sedang berada di cerita romantis sekarang! Kian semakin curiga, jika pria itu ada maksud lain sepertinya.


Kian memicing tajam menatap Refan. Alih-alih dia menurut atau iba, ia malah memilih berlalu pergi meninggalkan seonggok manusia yang masih berlutut.


"Gue anter depan gang deh Ki!!! Plisss!"


'Huh'


.


.

__ADS_1


.


Bisa-bisanya anak holkay berlutut cuma demi nganterin Kian pulang. Ada yg jatuh tapi bukan kelapa, canda Fan😂 by Author.


__ADS_2