
Setelah acara tiup lilin, Kian yang merupakan satu-satunya perempuan di sana, menyuapi mereka bertiga dengan potongan kue. Gio dan Mikko tentu sangat senang bahkan ketagihan dengan kuenya. Berbeda dengan Devan yang sempat menolak, namun akhirnya makan juga satu suap kue nan manis itu.
Karena tak ada air minum Gio dan Mikko permisi untuk membelinya. Menyisakan Devan dan Kian yang duduk di kursi panjang taman dengan kue sebagai pembatas diantara keduanya.
Keduanya hanya saling diam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Menoleh pun begitu, tak ada satu pun yang mau. Ntah itu canggung gara-gara kejadian tadi atau memang tak ada yang bisa diobrolkan keduanya.
"Van..." Panggilan itu keluar dari mulut Kian yang sedari tadi ingin bicara namun bingung harus memulainya dari mana.
"Devan!" Panggil Kian lagi, sebab sedari tadi tak ada jawaban dari si mpu.
"Hn." Devan menoleh ke arah Kian dengan tatapan biasa. Mata tajam dan wajah datar yang selalu menghiasi kehidupannya. Jika orang lain melihatnya mungkin akan takut, tapi bagi Kian wajah itu sangat membosankan.
"Lo kenapa sih? Diem aja, sakit gigi lo?"
"Ya, gara-gara kue coklat lo."
"Eh sembarangan lo ngomong ya. Yang beli siapa? Yang kasih siapa? Kan bukan gue, kalo gak mau ya gak usah dimakan tadi. Bodoh banget jadi orang." Kian merasa tak terima, karena dipersalahkan.
"Cerewet lo. Gio yang minta, gue juga gak suka rasa kuenya."
Kian menerka memang Mikko yang membelinya. Tak mungkin Devan, seorang laki-laki yang cuek dan dingin seperti es mau membeli hal-hal seperti itu. "Ya terus kenapa lo nyalahin gue?! Lo bisa suruh Mikko beli rasa yang lo mau kali. Terus itu juga kue nya kecil banget, gedean dikit bilang Mikko dan kepingan coklatnya......"
"Aelah, cerewet amat sih lo. Masih untung juga gue beliin kue yang lo suka. Besok-besok gak bakal lagi gue mau beli buat cewek cerewet kayak lo!" Ketusnya, melengos ke sembarang arah.
Mendengar kalimat itu tentu membuat Kian mematung tak percaya, mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia bahkan berpikir kalau telinganya sudah mulai rusak karena salah mendengar. Sampai-sampai ia menepuk tepuk telinganya berapa kali.
"Lo kenapa?!"
"Astaga, gue gak salah denger kan Van. Lo yang beliin kue? Wah gue takut bentar lagi bakal ada apa nih... Tumben banget seorang Devan mau jadi babu." Ledeknya.
Tersadar dengan kalimat yang baru saja ia ucapkan membuatnya terasa ingin pergi saat ini juga.
"E..eh.. Gak usah gr-an lo. Gue belinya juga terpaksa karena Gio yang minta."
"Tapi kok lo tau kesukaan gue? Apa Gio juga yang bilang? Tapi perasaan gue gak pernah bilang ke Gio deh. Terus tanggal ultah gue juga gak pernah bilang ke siapa pun."
"Pernah kali, cuma lo lupa aja." Elak Devan. Kian hanya mengangkat satu alisnya seperti tak percaya, namun untuk percaya jika Devan tau tentang dia juga sangat tak masuk akal, hingga ia menyudahi perdebatan itu.
"Van, gue mau nanya." Di menit selanjutnya.
__ADS_1
"Apa?"
"Lo bilang ke Gio papanya dia udah meninggal ya?"
"Kenapa lo nanya itu, sementara lo udah tau jawabannya." Masih cuek dan ketus, seakan tak tertarik sama sekali dengan topik yang dilontarkan Kian.
"Gue tau om Daren salah kemarennya. Tapi bukan berarti lo harus sembunyiin fakta itu Van. Biar gimana pun dia papanya Gio. Lo tau anak itu bener-bener anggap papanya udah meninggal. Van, Gio juga perlu tau. Apa pun jawaban dia ya itu...."
"Ngapain lo ngomongin dia he? Lo tau sendiri ceritanya dari dulu." Devan mulai tak sabar, dan hampir kehabisan kesabaran.
"Iya tau. Tapi gue ngerasa ini cuma salah paham deh. Lo pikir aja setiap orang berbuat itu pasti ada alasannya. Iya kan?"
"Iya, emang bener. Alasannya dia gak suka sama Gio. Dan dia ninggalin mama Gio karena gak mau publik tau dan bakal kebongkar aib dia."
"Gue rasa gak gitu Van. Buktinya aja Sarah...."
"Bisa gak lo diem. Gak usah ngomong kalo cuma bahas itu!" Ucapnya sedikit meninggi.
"Tapi yang lo lakuin tuh egois Devan. Gio juga butuh kasih sayang papanya, dan lo bisa bilang semuanya ke dia. Jangan bohongin dia, pasti nanti dia juga kecewa sama lo."
"Sekali gue bilang gak ya gak!!"
______
Malam yang semakin larut, kini Kian sudah berada di rumahnya, diantarkan oleh Mikko dengan motor kesayangannya. Sebenarnya Kian tak mau hanya saja Mikko memaksa, sedangkan Devan memasang ekspresi cuek.
Namun saat baru pulang, Ia sedikit terkejut dengan sesuatu berdiri di depan pintu rumahnya. Berdiri dengan senyum manis dan wajah tampan, menyambut dirinya pulang.
"Oh astaga... Febbry"
Setelah membersihkan diri ia merebahkan dirinya di tempat tidur. Ntah kenapa malam ini ia begitu sulit untuk terpejam. Apa mungkin karna stand bias-nya yang baru diberi oleh Febbry itu? Pikirnya. Tapi kemudian terlintas lagi ucapan Daren tadi siang yang berkata kalau,
'Sarah memang bukan anak om, Ki.'
Pikirannya terus berkelana mencari kemungkinan yang terjadi hingga tak sengaja ia melirik satu kotak kado berwarna brown dengan pita cream di atas meja belajarnya.
Ya, sedari siang tadi ia sama sekali belum membuka hadiah dari Devan. Dan karena terlalu sibuk sendiri ia sampai lupa dengan hal itu.
Kian meraih kado yang ada di atas meja dan mencoba menebak isi dari benda itu dengan meraba dan mengguncangnya.
__ADS_1
"Devan ngasih apa ya? Kok bunyinya gini? Emas batangan kali ya, ha... ha..." Guraunya untuk menghibur diri sendiri.
Krak.. krak... krak...
Kian bukan tipe manusia estetik, dimana ia akan membuka kertas kado secara beraturan dan rapi. Baginya menyobek kertas kado adalah kepuasan tersendiri. Bisa dibilang tidak sah jika bungkusan kado itu di buka dengan rapi.
Setelah terbuka, nampak lah satu buku diary berwarna dark coklat bergambarkan pohon besar dengan dua orang memunggung yang duduk di kursi panjang di bawah pohon itu. Dan tak lupa satu buah pulpen berwarna cream dengan hiasan kelinci putih di kepalanya.
Semburat senyum terukir di ke dua bibir Kian. Ntah apa yang sedang ia pikirkan, namun senyum itu terus mengembang. Membuka helai demi helai buku kosong berwarna coklat tanpa garis itu. Membuat dirinya sedikit bingung untuk menulis. Ia berfikir akan cukup sulit menulis sesuatu tanpa garis pembatas.
Namun ia mencoba menulis di sana dengan serapi mungkin.
Diary Kian📒
Dear diary,
Hari ini aku tepat berusia 17 tahun, seperti biasa tanpa sebuah ucapan dari kedua orang tua, namun aku tau tanpa diminta, mereka akan selalu mendoakan ku.
Dan hari ini teman temanku memberi kejutan yang tak terduga. Dan karna itu juga aku bertemu lagi dengan manusia yang terlihat tak perduli namun begitu peduli. Dia menyiapkan semuanya, acara kecil yang bagiku itu begitu berharga. Siapa sangka dia akan melakukan itu? Lihat saja bagimana sikapnya, sungguh menjengkelkan!
Dia selalu melakukannya dengan alasan menuruti Gio. Adik kecil nya yang manis dan tampan. Malaikat kecil yang selalu disayanginya.
Kau begitu sombong, angkuh, dan dingin sampai melakukan sesuatu itu hanya karena adikmu. Tentu aku percaya itu, tapi...
Hey, dude. Jika suatu hari kau membaca tulisan ini maka akan ku katakan kau adalah laki-laki angkuh tapi bodoh! ha... ha...
Apa kau lupa hm? Aku dan adikmu itu satu tim. Anak kecil nan lugu itu tidak akan pernah bisa menyembunyikan apa pun dari ku. Sekecil apa pun itu.
Tapi kau tau, aku sangat senang bahkan hal besar yang kau lakukan itu membuatku begitu bahagia.
Ini merupakan perayaan pertama bersama teman dalam hidup ku. Bahkan orang tua ku pun sudah melupakan hari ini ketika usia ku lebih dari tiga tahun.
Untuk itu, aku sangat berterima kasih pada kalian, Gio, Mikko, dan Mr. Wolf.
Dan terima kasih juga untuk bukunya^^
.
.
__ADS_1
.