Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)

Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)
#58


__ADS_3

🌹HAPPY READING GUYS🌹


_______*_______*_______*_______*_______*______


Kian yang baru selesai mengerjakan tugas di kamarnya memilih untuk tidur. Selama kedua orang tuanya masih di rumah, Kian tak banyak ke luar kamar. Baginya keluar kamar hanya akan membutnya stres, sebab kedua orang tuanya selalu bertengkar. Bahkan masalah sepele pun akan jadi bahan pertengkaran mereka.


Kian menarik selimut hingga lehernya, hendak terpejam dan berharap malam ini cepat berlalu. Supaya besok ia bisa ke sekolah lebih cepat. Memulai hari baru dan berharap akan lebih baik lagi. Tapi....


Drttt.... Drttt....


"Siapa sih yang nelpon malem malem." Kesal Kian yang kemudian kembali beranjak menuju nakas. Sebab ponselnya ada di sana.


"Ha? Gak salah nih? kok.... Udah lah jawab aja." Gumamnya melihat layar ponselnya yang bertuliskan nama Devan.


Ia pun memencet tombol warna biru yang terus bergerak.


"Hn... Kenapa?"


"Lo belum tidur? Itu.... Gio, mau minta itu.. em.."


"Minta apa Van? Gaje banget sih."


"Ih kak Kavin lama." Suara kedua yang terdengar dari ponsel itu.


"Hai kak Kian...." Gio merebut ponsel itu dari Devan, alhasil wajah Gio pun muncul di sana.


"Hai juga Gio. Kenapa malem malem telpon hm?"


"Tolong ajarin Gio pelajaran matematika ya kak. Kak Kavin jelasinnya gak jelas sama kayak hidupnya kakak. Gio gak ngerti."


"Hey!!" Terdengar suara ke dua dari ponsel itu. Berteriak tak terima.


"Ouuhhh ahahaha.... Ya udah oke."


Malam itu Kian dan Gio sedang melakukan Vc sambil belajar. Hal itu berlangsung selama dua jam. Sampai semua pr Gio selesai tuntas. Devan yang menunggunya sudah terkantuk kantuk, begitu juga dengan Kian. Bahkan setelah acara Vc an itu moodnya untuk tidur malah hilang. Hingga keesokan paginya subuh subuh baru ia merasa kantuk yang luar biasa.


Pagi hari yang cerah menyambut semua orang, tentu dengan semangat yang penuh untuk menjalani hari ini. Namun tidak dengan Kian. Pagi subuh ia baru merasa kantuk dan berniat ingin tidur, tapi.....


Kejadian beberapa jam lalu....


Pyar......


Suara gelas pecah dari dapur. Kian yang awalnya mengantuk malah terkaget sehingga rasa itu pun hilang. Ia pergi ke lantai bawah lebih tepatnya ke dapur untuk melihat apa yang terjadi.


"Kamu inget ya!! Dari sekarang kau harus bisa meyakinkannya, jika tidak... maka kau tau apa yang akan terjadi." Ucap seseorang yang ada di dapur.


"Kalo aku gak mau kenapa?"


"Ya pilihannya cuma ada dua itu. Itu terserah kamu Intan!!"

__ADS_1


Kian tak sengaja mendengar kalimat itu dari balik tembok. Ia ingin mencari tahu, apa yang terjadi sekarang ini.


"Bunda??? Ayah??" Panggil Kian yang baru datang melihat bundanya di lantai sambil membersihan pacaran gelas itu sedangkan ayahnya berdiri.


"Ini ada apa?" Melihat pecahan kaca yang berhamburan di lantai.


"Gak ada apa apa kok Kian. Kok kamu udah bangun jam segini?" Tanya bundanya yang masih asik dengan apa yang dilakukannya.


'Ya kan biasanya Kian juga bangun jam segini walaupun gak ada kalian. Cuma semalem aja gak tidur jadi pagi ini kesiangan. Ini juga pagi pagi udah ribut aja. Gimana Kian gak bangun.'


"Kian gak sengaja denger suara tadi. Kok gelasnya bisa pecah bund? Bunda gak apa apa kan?" Tanya Kian mendekat sambil menyilip ayahnya.


"Gak apa apa kok. Udah kamu sana aja. Bunda beresin ini dulu. Awas nanti pecahannya bisa kena kamu. Kamu mending siap siap aja buat pergi sekolah. Dan kamu bisa kan sarapan di sekolah aja hari ini?" Usir bundanya.


"Iya bund." Pasrah Kian. Yang pergi dari sana, tak jadi membantu bundanya.


Jam yang menunjukkan pukul enam tiga puluh. Saatnya Kian berangkat ke sekolah. Seperti biasa ia akan menaiki angkutan umum, namun kali ini dengan wajah yang ditekuk. Ia tak habis pikir dengan yang terjadi di rumahnya itu. Semakin hari semakin aneh.


Dengan wajah yang pucat karna tak tidur semalaman, di rumah ia juga tak sarapan di tambah lagi dengan memikirkan hal itu membuat Kian merasakan pusing yang teramat sakit di kepala nya. Hingga ia kembali mimisan. Setiba di sekolah ia langsung berlari ke toilet seperti biasa tanpa memperdulikan orang sekitar.


Gluk....


"Huh...." Ia menyandar sebentar di samping wastafel. Mengistirahatkan dirinya yang letih dan berharap darah itu bisa berhenti.


Lima belas menit berlalu... Kian baru keluar dari toilet dengan penampilan yang sudah rapi tanpa ada noda darah. Ia berjalan ke arah kelas dengan santai dan wajah yang sudah seperti biasanya di tambah senyuman tipis terlukis di bibirnya itu.


Kian masuk kelas dan langsung duduk di bangku nya. Mengeluarkan alat tulis agar meja itu tak terlalu kosong. Dan menyibukkan diri agar otaknya tak berpikir yang macam macam.


"Sarah Zahin...???" Panggil guru itu namun tak ada jawaban.


"Sarah Zahin.... (panggilnya lagi, namun sama tak ada jawaban) Dimana Sarah? Ketua kelas? Atau sekretaris ada yang tau?" Tanya Bu Melan


Semua orang menggeleng tak tau kenapa dan kemana Sarah hingga ia tak masuk sekolah hari ini.


Kian memandang ke arah Devan, namun si mpu hanya cuek.


"Van, lo gak tau?"


"Gak." Ketusnya.


"Lo kan sodaranya. Masa lo gak tau sih?"


"Gw bilang gak tau ya enggak Kian." Dengan suara kecil dan penuh penekanan. Kian pun hanya mengangguk pasrah.


"Baiklah tak apa jika tak ada yang tau. Pelajaran di kelas ini akan ibu awali dengan pembagian nilai ulangan yang beberapa minggu lalu kalian kerjakan."


Bu Melan sebagai guru kimia mulai membagikan hasil ulangan itu dengan memanggil satu persatu murid ke depan hingga selesai. Dengan nilai tertinggi di pegang oleh Kian.


"Baiklah semuanya sudah dapatkan? Ibu minta bagi yang nilainya masih di bawah KKM tolong kumpulkan ramedial berupa buku. Terserah buku apa saja. Dan untuk kamu Febbry. Nilai kamu banyak sekali kurangnya, bahkan tugas yang waktu itu tidak kamu kerjakan. Jadi ibu minta kamu mengumpulkan lima buku sekaligus. Dan untuk semuanya bisa di kumpulkan paling lambat besok lusa."

__ADS_1


"Ha!!!? Bu! Yang bener aja dong. Lima buku tuh banyak bu, lagian belum nunggu PO nya yang lama. Ayolah bu, kasih keringanan, perpanjangan waktu pengumpulan ya."


"Itu juga sudah ringan Febbry. Atau ibu suruh kalian ramedial buat praktikum aja?" Tanya Bu Melan yang tentu saja di gelengi oleh anak kelas itu.


"Hmm... iya deh bu." Pasrah Febbry.


Jam pelajaran usai, Kian dan Febbry pergi ke Kantin untuk mengisi perut yang sudah keroncongan. Apalagi Kian yang tak sempat makan apapun pagi tadi itu.


"Kenapa sih Feb? Muka lo di tekuk gitu. Nih makannya udah dateng. Ayo dimakan."


"Kesel gw Ki. Ibu Melan selalu gitu ke gw. Seneng banget ngehukum gw. Mana semalem tuh kecebong ngechet gw lagi."


"Ha? Siapa?"


"Itu makhluk gede kaya buto ijo. Untung aja warnanya putih."


"Siapa? Bimo ya?"


"Ho oh... Bisa bisanya dia ngechet gw semalem."


"Wah... Mau pdkt kali sama lo. Ha... Ha..."


"Enak aja lo ngomong. Dia nanya masalah buku novel Ki. Dimana gw belinya, berapa harganya pokoknya banyak deh. Lah dikira gw seller novel apa. Yang lebih parahnya dia malah nitip tuh novel sama gw buat beliin. Mana harus di bungkus rapi lagi. Kesel gw Ki.... Masalah kemaren aja belum gw maafin malah sekarang dia gak tau diri banget." Febbry yang sudah frustasi.


"Emang buat apa di bungkus rapi? di kadoin gitu?"


"Iya Ki... Buat pacarnya. Mana pacar dia maunya tuh judul novel lagi. Masih baru banget keluar, pasti bakal susah cariinnya." Cemberut Febbry


"Ya udah tolongin aja. Lagian lo juga mau beli tuh novel-novel buat nilai ko kan."


"Iya sih. Temenin ya..." Pintanya dengan manja.


"Sorry kayaknya gak bisa deh. Soalnya orang tua gw ada di rumah."


"Hmm ya udah dh." Kembali cemberut dan hanya menusuk nusuk makanannya dengan garpu tanpa di makan.


"Iya. Nanti kalo di kasih gw bakal ikut."


Langsung saja wajah di tekuk itu berubah 180Β° jadi senang bukan main. Bahkan hendak memeluk Kian namun Kian menolak, tak mau.


.


.


.


.


.

__ADS_1


πŸ˜“πŸ˜“πŸ˜“πŸ˜“πŸ˜“πŸ˜“πŸ˜“πŸ˜“πŸ˜“πŸ˜“πŸ˜“πŸ˜“πŸ˜“πŸ˜“


__ADS_2