
Pagi yang menjelang, Kian udah bersiap-siap untuk pergi sekolah. Ia kini sedang berdiri di dalam kamarnya, sedang memakai dasi sambil berkaca di depan cermin seukuran telapak tangan di depannya.
Tok... tok...
Tok.... tok...
Mendengar pintu diketuk dengan ramainya, membuat Kian terburu-buru langsung berjalan keluar rumahnya.
Kriet
"Ada apa ya kak, bu?" Tanya Kian setengah terkejut. Bagimana tidak, sekarang di depan rumahnya banyak sekali orang, ada yang sudah seperti ibu-ibu dan ada juga yang terlihat masih muda seperti dirinya.
"Ini neng, ibu kasih piring tiga biji. Maaf ya cuma itu yang bisa ibu kasih." Ucap seorang ibu yang memakai baju polos dan bawahan kain itu, lalu pergi meninggalkan Kian setelah memberikan piringnya.
"Eh, iya makasih bu." Ucap Kian yang sedikit lebih lambat sebab ia sudah berlalu pergi, disusul lagi dengan beberapa orang yang ada di depannya yang juga ikut memberikan barang padanya.
"Ini saya kasih gelas sama sendok ya neng."
"Baskom buat kamu nyuci."
"Ember buat lo."
"Nih, gue kasih selimut mahal dari dubai. Dipake, jangan sampai lo kedinginan malam ini. Oh ya kenalin nama gue Yuli. Cewek paling cantik di sini."
"Dubai kepala lo Yul! Lo beli itu aja di pasar tanah abang. Halu banget sih lu, mana udah bekas lagi. Kenalin gue Icha."
"Yeee... sewot aja lu markonah. Serah gue dong. Oh ya nama lu saha?"
"Kian kak."
"Oh Kian. Lo sama Devan ada hubungan apa?" Tanyanya menyelidik, yang diangguki oleh teman-temannya. Mereka adalah geng yang semalam heboh karena kedatangan Devan, yang terdiri dari lima orang. Sedang berdiri mengerumuni Kian saat ini.
"Iya lo ama Devan punya hubungan apa? Inget ya dia tuh bebeb gue." Ucap rambut keriting sepinggang yang bernama Viona.
"Hehe... iya kak. Kita cuma temen sekelas doang kok." Ucap Kian dengan senyum.
"Eh enak aja lo. Dia calon pacar gue ya karung goni. Lo juga (menunjuk ke arah Kian) dia tuh cuma punya Naya seorang."
"Mana ada, dia calon suami gue ya. Gak usah pada mimpi kalian!! Devan dan Lexa, beuh cakep banget Kalo naleng di undangan iya kan??"
Adu mulut antar mereka pun terjadi sampai Kian melerai semuanya. Setelah perkenalan singkat yang lebih banyak adu mulut itu selesai, mereka semua bubar. Kelima orang tersebut merupakan satu kawanan dalam perkuliahan. Hanya beda semester saja yang tinggal di satu pintu kontrakan.
Masing-masing dari mereka memberikan peralatan untuk Kian, tak terkecuali kelima orang itu juga. Kian sampai kewalahan memeganginya. Tak lupa juga ia berterima kasih pada mereka semua. Banyak sekali perabotan yang diberikan, seperti pisau, kompor gas beserta tabungnya. Alat mencuci juga dan masih banyak alat lainnya. Jumlah yang sedikit namun banyak sekali macamnya.
Membuat Kian tampak masih bingung namun juga haru. Bahkan ia tak menyangka jika masih banyak orang yang bisa membantu dan baik sekali di dunia ini. Rumah yang tadinya memang masih kosong, ia berencana untuk membeli beberapa keperluan saat ia sudah mendapat pekerjaan nanti. Namun sebuah kebaikan terjadi pagi ini, membuatnya sedikit terkejut sekaligus bersyukur.
"Woy Ki! Ngapain ngelamun?"
Kalimat yang membuat Kian terbuyarkan, "Eh, kak Nari. Gak kok kak. Kian masih syok aja, kok bisa?"
"Hahaha.. terkejut ya pastinya. Syukurin aja, mereka semua pada baik kok, walaupun sebagian mulutnya lemes banget. Dan satu hal lagi, mereka cuma fans Devan doang, yang suka ngimpi deket ama Devan. Padahal Devan aja gak pernah ngelirik mereka. Hahaha..."
"Iya kak. Kian jadi ngerasa ngerepotin semua orang disini." Sendunya.
"Udah gak usah dipikirin. Lo betah-betah disini. Oh ya udah sarapan belum?"
"Belum kak." Jawabnya malu, sebenarnya ia ingin hanya saja tak memiliki uang untuk membeli sedikit sarapan.
"Makan sama gue yuk. Temen gue gak pulang dari semalem, jadi gue gak ada temen makan nih. Yuk!"
"Gak ngerepotin kak?"
"Udah sans aja sama gue."
Kian langsung di tarik oleh Nari, masuk ke rumahnya. Ruang utama yang hanya beralaskan karpet itu, layaknya anak kosan, menjadi tempat mereka makan bersama.
"Nasi gorengnya enak kak." Kian mengacungkan jempolnya pada Nari.
"Hahaha... makasih. Makan aja udah, gak usah banyak ngomong."
Kian dan Nari yang tengah sibuk makan, tak menyadari kedatangan seseorang yang melihat mereka dari pembatas pintu antar kontrakan.
Hingga sedetik kemudian Nari menyadarinya.
"Eh Devan. Ngapain lo disana, sini ayo masuk. Mau sarapan bareng gak?"
Devan hanya menggeleng dan menopang dagunya dengan tangan. Wajah yang terlihat sedikit kecewa namun masih tertutupi dengan wajah dinginnya.
Kian yang sadar, lalu menoleh ke arah Devan. Dengan mulut yang masih penuh dengan nasi.
__ADS_1
Lama tak ada jawaban, bahkan tak ada sapaan antar mereka berdua, membuat Nari juga merasa canggung.
"Eh, Ki. Kalo udah makannya lo bisa berangkat sekolah sekarang. Atau mau gue bawain nasgornya?"
"Emm.. Gak usah kak. Makasih. Kian beresin ini dulu ya kak. Van tungguin bentar yak." Kalimat terakhir itu terlontarkan begitu saja, padahal ia tak tau Devan kemari untuknya atau bukan.
Devan tak menjawab sepatah katapun hanya melirik Kian sekilas. Kian tak terlalu ambil pusing itu, dan berlalu ke dapur Nari untuk mencuci piringnya. Walaupun Nari mencegah dan menyuruhnya untuk langsung pergi saja, tapi Kian bersi keras sehingga membuat Devan menunggu. Menyandarkan punggung di depan pintu kontrakannya.
Lagi pula tak terbesit sedikit pun pikirannya tentang Devan yang akan datang ke kontrakannya pagi ini. Membuatnya santai-santai saja. Setelah selesai mencuci piring tak lupa berterima kasih pada Nari, ia mengambil tasnya di dalam kamar dan mengunci pintu, lalu berangkat.
"Sebenarnya lo gak perlu ke sini Van. Gue bisa berangkat sendiri kok." Ucapnya santai, namun tanpa disadarinya Devan melirik tajam ke arahnya.
"Siapa yang dateng buat berangkat bareng lo. Gue ke sini cuma bantuin bu Eti." Dinginnya.
'Bener kata bu Eti. Devan sering bantu dia.'
"Tapi kenapa lo ke kontrakan gue?"
"Cuma pastiin lo udah makan atau belum. Gak usah ke ge-eran lo!" Ketusnya yang melihat Kian seperti tersenyum.
"Terus kenapa lo mau nungguin gue?"
"Dari sini ke sekolah lumayan jauh. Lo tau ini dimana? Harus naik angkutan mana untuk ke sekolah?" Cerca Devan yang dibalas gelengan dari Kian.
"Ck!" Devan tersenyum miring, seperti meremehkan Kian.
Kian hanya mencebik, menatap Devan dari atas sampai bawah. Menatap malas sebab ia selalu saja tak tau apa-apa dibandingkan dengan Devan.
Huph
Devan mengangkat sebelah tangannya yang menggenteng sesuatu sebab hampir saja terkena bola anak-anak yang baru saja lewat sambil bermain bola.
"Maaf kak." Teriak mereka, yang hanya dibalas tatapan tajam oleh Devan.
"Udah Van, bola doang. Jangan marah, masih pagi juga. Tapi eh itu apa?" Kian melihat sesuatu yang ada ditangan Devan. Dengan cepat Devan langsung menyembunyikannya di belakang badan.
"Ihh, Devan!! Itu apa?" Kian yang hendak merebut sesuatu itu, namun di halangani Devan.
"Bukan apa-apa." Ucapnya dengan nada yang begitu dingin.
"Tapi..."
Tring...., sebuah pesan masuk.
___________
Sesampai di gerbang sekolah, Devan hendak memasukkan sesuatu itu dalam tasnya namun...
Huph
Kian mengambilnya dan langsung berlari, membuat Devan melotot melihatnya.
"Thanks Van." Teriaknya yang langsung ngacir ke koridor sekolah meninggalkan Devan yang masih berdiri di gerbang sekolah.
Senyum tipis terlukis di bibir tipis yang jarang senyum itu karena tingkah Kian pagi ini, membuat para siswi yang melihat itu langsung berbisik satu sama lain.
Sadar akan hal itu, membuatnya kembali merubah wajah serius tanpa senyum. Dingin dan datar, dengan tatapan serigala yang selalu melekat di sana.
___________
"Ahhh!! Akhirnya istirahat juga." Ucap Febbry merenggangkan otot-ototnya yang mulai kaku. "Ki!! Kantin gak?" Teriaknya lagi.
"Emm... Gak deh feb. Gue bawa bekal."
"Oh, bagi dua ya?" Dengan senyum mengembang, hal itu sudah biasa dilakukannya saat Kian membawa bekal.
"Gak! Enak aja lo. Udah lo sana aja, makan di kantin borong makanan bu Eti biar laris."
"Aelah pelit banget sih lo! Ya udah gue ke kantin dulu. Woy Van, jangan lo apa-apain sahabat gue." Teriaknya berlalu, namun Devan hanya melirik sebentar.
Brukh
Membuat Devan terkejut, "Lo pasti laper juga kan Van. Kita makan berdua aja ya." Ucapnya yang sudah memakan satu suap nasgor.
"Emm... Enak banget Van. Bisa juga lo masak, padahal bilangnya gak bisa. Btw nih, lo juga harus makan."
"Gak!! Abisin aja! Males berbagi jigong."
Mendengar kalimat itu, membuat Kian seperti terkena hantaman batu besar. Ia ternganga dan ingin marah mendengar kalimat hinaan yang teramat kejam baginya.
__ADS_1
"Ya udah terserah! Jangan ngeluh laper aja lo!" Ketus Kian yang kini memindahkan kursi kembali ke mejanya.
Tiba-tiba saja Devan bangkit dari kursinya. Tak pamit, tak bicara sepatah kata pun pada Kian. Meninggalkan Kian seorang diri di kelas dengan perasaan jengkel. Melihat sikap Devan yang seperti itu membuatnya menekan-nekan kotak makan itu dengan sendok. Namun si mpu tetap tak menggubris, berlalu begitu saja.
"Ki!!" Panggil seseorang yang sekarang menghampirinya, berdiri, dan menumpukan kedua tangannya di meja Kian setelah kepergian Devan.
Kian tetap sibuk memakan makannya tanpa menoleh pada orang itu. Sebab tanpa menoleh pun ia tau siapa dia. Membuatnya begitu muak. Bahkan hanya sekedar mencium aroma khas dari laki-laki itu.
"Gue denger lo di usir dari rumah? Lo kenapa sih? Cuma gara-gara dia sampai keluar dari rumah?! Lo mau jadi gelandangan dan miskin he?!" Tak ada jawaban dari Kian, membuat orang itu gusar.
Brakh
Ia menggebrak meja, membuat Kian berhenti untuk melahap makanannya. "Lo punya mulut kan? Ngomong!!" Bentaknya.
"Lo punya mata kan?! Liat gue lagi makan, gak usah ganggu gue! Apa pun yang gue lakuin, bukan urusan lo Jer! Mending sekarang lo pergi!"
"Lo!!!" Ucapnya kini mengangkat satu kepalan tangan seperti hendak menghantam kepala Kian. Namun Kian bukannya menghindar atau pun takut, malah menatap balik Jerry.
"Tugas cowok jagain, bukan nyakitin! Lemah!" Celetuk seseorang.
Tap
Devan yang baru saja datang meletakkan satu botol air mineral di meja Kian dan menatap sinis Jerry.
Jerry menurunkan tangan itu, dan menatap remeh Devan. "Gak usah ikut campur lo! Lebih baik lo pergi!"
"Kenapa? Ini kelas gue, lo yang harusnya pergi. Karena ini bukan kelas lo! Makan aja lagi, gak usah peduliin dia." Kalimat terakhir yang ia tujukan pada Kian, sambil melihat gadis itu.
Klak
Byur
"Buat lo yang berani nantangin gue!" Ucap Jerry dengan sombongnya, setelah menuangkan setengah dari air mineral yang ada di meja itu ke kepala Devan.
"Jerry!! Lo apa-apaan sih!!!" Marah Kian yang bangkit dari kursinya.
Zreph
Devan menarik kerah baju Jerry dan memaksanya duduk di tumpahan air yang ada di lantai. "Gue gak suka berantem. Tapi siapa yang berani berbuat, dia juga harus bertanggung jawab!" Ucap Devan sinis.
"Sia*!!!! Kurang ajar lo Devan!!" Jerry bangkit hendak memukul Devan yang sudah berbalik arah. Namun langsung ditangkis oleh Devan, membalikkan tangan itu, hingga berada di belakang Jerry.
"Gue udah bilang, gue gak suka berantem. Gak usah mancing gue!"
"Lepas pecundang!!"
"Pecundang itu buat mereka yang selalu manfaatin perempuan, dan nyakitin mereka!" Ucapnya pelan dengan penuh penekanan, dan melepaskan tangan Jerry yang ia pelintir.
Merasa tak puas, Jerry kembali melayangkan satu pukulan dan akhirnya mengenai sudut bibir Devan.
"Udah kan? Lo udah dapet apa yang lo mau. Pergi lo, gak usah ganggu Kian." Ucap Devan santai dengan sudut bibir yang sudah berdarah, tapi tak digubris sama sekali oleh nya
Bukannya membuat Jerry pergi, ucapan Devan malah membuatnya tambah marah. Ia kembali hendak melayangkan satu pukulan lagi pada Devan, namun langsung dihentikan Kian. Kian berdiri tepat di depan Devan merentangkan kedua tangannya, yang membuat Jerry menghentikan tangannya. Sedangkan Devan tetap menatapnya dengan tatapan datar dan santai, namun mata tajam itu tak lah berhenti fungsi. Menatap setiap orang dengan tatapan memangsa.
"Minggir Kian!!!" Jeritnya namun tak diindahkan oleh Kian. "Sekarang siapa yang pengecut? hah! Hanya berani di belakang perempuan." Tawanya sinis.
"Lanjutin makan lo!" Suara Devan datar menarik lembut tangan itu, agar menyingkir.
"Gue gak mau!! Lo berdua stop apa gue panggil guru BK. Biar kalian masuk ruangan itu!!" Ancam Kian. "Ayo Jer! Kalo lo mau masuk ruang BK untuk pertama kalinya! Maju dan hadapin gue!"
"Ck, lo bakal nyesel Ki. Gue pastiin lo bener-bener nyesel!" Ancamnya yang langsung berlalu pergi dari kelas mereka.
"Huh!!"
"Lanjutin makannya. Gue mau beli air minum lagi." Ucapnya santai hendak berlalu.
"Lo kenapa sih Van? Selalu aja bersikap biasa! Seolah semuanya baik-baik aja, padahal bibir lo berdarah dan gue yakin itu sakit! Gue kadang heran sama lo! Lo selalu santai berhadapan dengan orang lain. Seolah lo bisa ngatasin itu semua! Tapi kenapa sama papa lo gak! Lo selalu aja langsung pengen mukul dan mukul, sebenci itu kah lo? Setega itu lo?"
Tanpa bicara, Devan kembali melangkah. Membuat Kian frustasi.
.
.
.
.
.
__ADS_1
tbc