
Pagi pagi sekali Kian langsung menuju ruang tata usaha sekolah. Berniat membayar setengah dari biaya penunggakannya, agar ia bisa mengikuti kelas pagi ini dan menyelesaikan ujiannya.
"Assalamulaikum, pagi bu."
"Waalaikumsalam, pagi juga Kian. Ada apa?" Tanya seorang guru yang mengurusi bagian administrasi sekolah. Wajahnya tampak biasa bahkan tak segalak waktu itu.
"Em.. Kian mau bayar uang sekolah bu. Tapi Kian nyicil ya. Sekarang Kian baru punya setengahnya tapi nanti Kian janji bakal lunasin kok bu. Jadi Kian mohon untuk hari ini biarin Kian masuk kelas dan mengikuti ujian ya bu." Pinta Kian dengan memohon, menyerahkan amplop berwarna coklat
"Loh, kan uangnya udah di bayar. Katanya orang tua kamu lupa, dan malah nitip ke temanmu."
Kian nampak terkejut dengan hal itu, "Emang siapa bu?"
"Devan, Ki. Dia udah lebih dulu ke sini sebelum kamu. Dia bilang ayah kamu kasih uangnya ke dia, ayah kamu lupa buat kasih kamu. Ohh, dan lagi sejak kapan keluargamu dekat dengan Devan?" Sang guru terlihat heran, apalagi ia tau bagaimana sikap dari Devan yang selalu saja tertutup dengan orang lain.
Tak ada jawaban dari Kian, membuat sang guru memanggil nama itu lagi, " Ki?!"
"Eh iya bu, kenapa?"
"Keluarga mu deket dengan Devan itu sejak kapan? Kalian juga bisa seakrab itu ternyata?"
"Eh, iya bu. Udah lumayan lama sih. Sekarang Devan tetangga Kian soalnya bu."
"Ouh gitu, jadi sekarang dia tinggal di perumahan kamu itu ya?"
"Em, itu.... Iya bu." Ucap Kian asal, tak lagi menggubris pertanyaan si guru, yang ia mau hanya bertemu dengan Devan secepat mungkin.
"Oh, ya sudah. Setidaknya keluarga kamu baik baik saja. Ibu sudah terlalu over thinking waktu kamu nunggak Ki."
Kian nampak berfikir sejenak, lalu mengangguk dan permisi keluar ruangan saat itu juga. "Kalo gitu Kian ke kelas dulu bu. Wassalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Kian terburu buru keluar, mencari keberadaan Devan. Hari ini hari pertama ujian, maka usahakan jangan sampai telat, pikir Kian. Tapi hari ini juga hari pertama ujian di sekolah, yang artinya kelas akan di acak. Satu kelas hanya terisi setengah dari biasanya dan teman temannya pun random, yang memungkinkan besar ia tak akan sekelas dengan Devan.
Setelah cukup berkeliling, akhirnya ia mendapatkan kelasnya. Ruangan ke lima dan benar saja kalau ia tak satu kelas dengan Devan bahkan dengan sahabatnya pun tidak.
Kian berlanjut hendak mencari kelas Devan, setelah ia menaruh tas nya di bangku miliknya. Namun kenyataan tak mengizinkan, sebelum itu terjadi bel masuk sudah berbunyi, hingga ia harus menetap dan menunda mencari Devan.
Ujian hanya ada satu mapel dalam satu hari, hingga membuat siswa siswi sekolah itu bisa pulang sekolah sangat cepat dari biasanya.
Tepat pukul sembilan tiga puluh, mereka semua sudah harus selesai dan mengumpulkan jawaban ujian, begitu pun dengan Kian. Dengan segera ia keluar dari kelas itu dan mencari Devan.
Hingga ia menemukan kelas yang ditempati Devan, yang berada di ruangan sepuluh. Namun dilihatnya ruangan itu sudah kosong tak ada satu pun orang yang bisa ia tanyai. Bahkan juga Devan sama sekali tak terlihat. Walaupun kenyataanya ia merupakan siswa yang paling telat untuk keluar saat jam pelajaran sudah selesai.
Kian berusaha menghubunginya, namun ponselnya mati. Membuat Kian sedikit kesal dan frustasi. Kian pun berjalan keluar sekolah memilih untuk pulang, lagi pula ia akan bertemu Devan sewaktu bekerja nanti. Ia pun berencana menaiki angkot saja dari pada bus, dan lebih menghemat pengeluaran.
Zrakh!!
Sebuah motor berhenti di depannya, ketika ia sudah berada di depan gerbang sekolah. Ia sedikit terkejut, sebab motor itu hampir menabraknya.
"Ayo gue anter!" Pintanya
Kian menatap dari atas sampai bawah orang itu, seragam yang berbeda bahkan motor yang tak pernah ia jumpai di sekolahmya, dan suara khas itu. Yah, ia tau siapa itu walaupun tanpa dirinya membuka helm yang masih melekat.
Kian langsung menghindar, tanpa berucap. Malas untuk berdebat apalagi berurusan dengan manusia itu, pikir Kian.
Tapi nyatanya orang tersebut tak semudah itu menyerah, ia turun dari motor dan membuka helm nya. Membuat sebagian siswa siswi sekolah itu melihat kearahnya dengan berbagai makna tatapan.
"Hey, gue serius. Gue anter pulang." Ucapnya lagi menarik tangan Kian.
Kian yang geram langsung menghempaskan tangan itu. "Lo ngapain sih kesini? Sekolah lo bukan di sini!! Pulang sana." Usir Kian di saat mereka hampir menjadi bahan tontonan
"Emang ini bukan sekolah gue. Gue ke sini cuma mau jemput pacar gue pulang sekolah aja." Ucapnya enteng
"Maksud lo pacar apa?! Dasar manusia aneh! Jangan jangan gara gara lo berantem semalem ya, kepala lo kebentur kayu makanya jadi gila hari ini." Roceh Kian
__ADS_1
"Lo pacar gue lah. Dan kepala gue gak semudah itu langsung rusak cuma gara gara sepenggal kayu."
"Gue bukan pacar lo Refan!! Sejak kapan juga!!!"
"Sejak hari ini."
"Bodo amat Fan!" Kian meninggalkan Refan yang masih dengan senyum manisnya.
"Kian gue suka sama lo!!" Teriaknya di depan sekolah itu. Tentu membuat Kian khawatir dan melotot. Tak terkecuali juga orang orang yang masih ada di sana.
Kian menyeret Refan, mendekat ke motornya. "Mending sekarang lo pulang!! Gak usah bikin malu!!"
Kian dengan penuh penekanan.
"Gak, sebelum lo jawab lo juga suka sama gue." Cengiran itu muncul di sana, membuat Kian melihatnya menjadi aneh. Bagaimana bisa Refan bertingkah seperti ini? Sedangkan pertama kali bertemu ia sangat sangar dan galak. Bahkan wajah itu sangat kaku.
Kian meraba dahinya, mengecek apakah suhu tubuh Refan aneh hari ini. "Lo gak panas? Lo lagi mabok ya?" Tuduh Kian
"Gue baik baik aja. Gue gak amnesia, kebentur, atau salah minum obat. Perlu lo tau, gue bukan Devan yang suka mabok cuma buat pelarian. Heh..." Smirknya tersungging di sana, "Dan gue juga serius sama ucapan gue."
"Dasar gila!! Devan gak bakal gitu!"
"Hahaha... Kian lo gak tau apa apa tentang Devan ya? Devan emang gak suka berantem kayak gue, tapi dia sering minum buat lupain masalah dia."
Seketika Kian teringat kejadian dimana almarhumah baru saja meninggal. Devan pulang dengan bau alkohol, dan karna itulah dia pertama kali bertemu dengan Mikko. "Setidaknya Devan gak kayak lo, yang jadiin perempuan pelarian lo." Sinis Kian
"Gue gak jadiin lo pelarian, bahkan gue emang bener bener suka sama lo. Dan makasih ya buat semalem, karna lo udah ngerawat gue semaleman." Ucap Refan menggenggam tangan Kian
"Lepasin tangan lo!!" Tegas seseorang yang suaranya sudah terdengar begitu marah.
Kian menoleh, "Devan?" Cicitnya. Refan langsung melespakan genggaman tangan itu. Tersenyum miring ke arah Devan yang baru datang dengan wajah yang kaku.
"Lo punya urusan sama gue bukan sama Kian. Biarin dia pulang, gak usah ganggu dia!!" Devan menarik Kian dan menyuruh Kian untuk pulang terlebih dahulu.
"Tapi gue ngerasa untuk hari ini gue gak punya urusan sama lo cupu. Gue cuma punya urusan sama Kian. Ayo Ki jawab aja, kalo lo juga suka kan sama gue?" Senyum licik terpancar di sana.
"Gue pulang sama Devan, mending lo sekarang pergi!!" Usir Kian lalu menarik Devan menjauh, takut akan menjadi tontonan anak anak lain nantinya.
"Ki urusan kita belum selesai, gue bakal tunggu jawaban lo." Teriaknya, lalu berlalu dengan motor besarnya.
Kian hanya menoleh sepintas, lalu menoleh pada Devan. "Gue semalem langsung pulang kok Van. Lagian gue gak ngerawat dia, cuma nolongin doang." Kian gelagapan setelah melihat mata hitam dengan alis menukik.
"Lo gak diapa apain sama dia?"
"Gak kok. Semalem waktu pulang gue liat dia di kroyok sama beberapa orang. Dia bilang sih tuh anak sekolah sebelah. Dan lo tau mereka ngeroyok sambil bawa kayu panjang dan besar juga. Gue gak bisa liatnya, dan gue tolongin aja. Terus mau bawa dia ke rumah sakit, tapi dia nolak. Jadi semalem cuma di kasih antiseptik doang, dia bilang sih itu udah biasa. Dan abis itu dia pergi, dan gue langsung pulang kok."
"Lain kali, kalo dia kayak gitu lagi harusnya lo ngejauh dan kasih tau gue aja. Jangan sok jadi pahlawan, kalo lo kenapa napa gimana?"
"Lo khawatir sama gue?" Kian bertanya dengan senyum sumringah.
"Gak, yang jadi masalah gimana lo bayar biaya rumah sakitnya?"
Seketika senyum itu memudar, "Hn. Terus kenapa lo mau bayar uang spp gue? Gue juga gak butuh kok. Lagian gue punya uang, walaupun gak seutuhnya. Gue bisa bayar setengahnya dulu. Kalo kayak gini kan gue hutang lagi sama lo. Jangan sok jadi pahlawan deh Van." Ketus Kian.
"Emang siapa yang sok jadi pahlawan?"
"Tadi bu Rachel udah bilang semuanya ke gue. Gak mungkin banget kalo itu ayah yang nitip uang ke elo. Pasti lo kan yang bayar."
"Emang bener kok orang tua lo yang kasih, gak sengaja ketemu di rumah sakit semalem."
Kian tersentak kaget saat Devan mengatakan hal itu, apakah ayahnya mengatakan sesuatu yang buruk terhadap Devan? Atau bahkan mengatakan pada Devan mengenai perjodohan itu. Dan rumah sakit? Siapa yang sakit? Kini pikiran itu menghampiri Kian.
"Kok lo tau ayah gue? Ayah emang bilang apa aja Van? Terus siapa yang sakit?"
"Lo lupa, kalo gue waktu itu pake jaket khas kelas kita. Nama kelas dan sekolah juga tercantum besar di sana dan mungkin dia gak sengaja liat. Jadi dia tanya aja ke gue, dan gue bilang iya. Bukan dia yang sakit, tapi kayaknya ibu lo deh. Kenapa lo gak pulang buat liat dia?"
__ADS_1
"Bunda? Lo tau dia ibu gue?"
"Ya soalnya, dia sama seorang perempuan. Siapa lagi kalo bukan ibu lo. Perempuan tinggi, dengan rambut bergelombang, baju minim, dan putih banget."
"Dia bukan bunda, terus siapa?"
"Ouh gitu. Terus gimana keadaan om Daren?"
"Dia baik baik aja. Lo gak mau pulang? Ibu lo sakit."
"Syukur deh kalo om Daren baik baik aja. Gue gak bakal pulang, gue takut ayah bakal ngusir gue lagi nanti."
"Ayah lo gak bakal marah Ki. Dia baik."
"Lo yang gak tau ayah gue Van. Bahkan ayah gue orangnya kejam banget. Gpp lo bohong, tapi setidaknya gue tau sesuatu dari sana."
"Gue bakal pulang, kalo gue udah lulus nanti Van." Ucap Kian sedikit sendu.
______________
Kian dan Devan sudah berada di tempat kerja mereka saat ini, kerna jam malam mereka tak masuk, maka mereka akan pergi lebih cepat di siang harinya. Sedikit menutup waktu kerja di malam hari walaupun tak seberapa.
"Weh, kalian dah dateng aja. Gimana Ki, ujiannya? Lancar?" Tanya Arya yang melihat mereka baru masuk ke dalam Cafe.
"Alhamdulillah kak lancar. Hehehe..." Kian sedikit cengengesan
"Oh syukur deh. Kalo lo Van?" Tanya Arya yang hanya diangguki oleh Devan. "Bagus deh kalo gitu. Kalian udah pada makan kan?"
"Udah kok kak. Tenang aja."
"Syukur deh, soalnya kalian harus nganter pesanan ke hotel AghaStas."
"Itu kan hotel paling berbintang di wilayah ini. Waw, bukan main nih pasti yang pesen, banyak ya kak?"
"Alhamdulillah iya Ki. Banyak banget, mereka ada acara di hotel itu. Dan kalian harus anter siang ini juga. Mobil kita lagi di service jadi gak bisa dipakai. Jadi kalian berdua susul Aga sama temannya satu lagi tadi udah ke hotel itu." Arya mengeluarkan beberapa paperbag dan kotak di meja.
"Ohh gitu kak. Kita ganti baju dulu." Arya mengangguk.
Setelah selesai mereka langsung bergegas mengantar pesanan itu. Berboncengan menggunakan motor Cafe, dengan Devan yang membonceng.
Kedua tangan Kian sudah oenuh dengan kotak dan beberapa paperbag, hingga sulit baginya untuk memakai helm. Devan pun memakaikannya dengan telaten. Bahkan harus menunduk karna tubuh Kian lebih pendek darinya.
Setelah siap, mereka langsung melaju di jalan raya yang begitu padatnya. Devan sedikit melajukan motor dengan kencangnya, membuat Kian berteriak dan kewalahan menghadapi angin. Yah, karna mereka sedikit mengulur waktu tadi, hingga sedikit terlambat membuat Devan menjadi seenaknya berkendara tanpa memikirkan Kian.
Saat sampai, mata Kian sudah basah. Basah karna terpaan angin yang kencang. Ternyata helm yang ia pakai tak memiliki kaca, tak seperti punya Devan. Ia pun sedikit kesulitan turun dari motor. Rasanya ia benar benar sudah kaku menempel pada jok motor itu.
Melihat Kian dengan keadaan yang mengenaskan, membuat Devan menurunkannya dari motor dengan di gendong. Tak lupa juga dengan membuka helm nya saat itu.
"Wajah lo kenapa? Marah? Emang gue buat salah?"
"Arghhh!!! Kenapa lo ngebut banget sih!! Lo tau kita lagi bawa barang? Gimana kalo gue jatoh? Lagian gue gak bisa pegangan Devan!! Heran gue jadi tukang ojek ngebut, jadi tukang anter juga ngebut. Yang lo bawa ini manusia bukan semuanya barang!!" Roceh Kian di depan hotel begitu megah itu.
"Stttt,," Devan menutup mulut itu dengan telapak tangannya, tambahkan Kian merasa kesal. " Ya udah pulang ini lo yang bonceng." Ucapnya lalu meninggalkan Kian di depan pintu masuk.
"*Lo manusia teraneh yang gue temuin!! Di depan orang lain lo selalu belain gue, tapi kalo cuma berdua lo selalu bikin gue kesel! Arghhh!!!"
.
.
.
.
.
__ADS_1
tbc*