
"Aku menerima beberapa komentar buruk dari wali kelas terhadap prestasimu, Kian. Dan aku juga bertemu dengan beberapa orang tua siswa yang juga membicarakanmu. Tapi aku tidak kecewa sama sekali. Di saat banyak orang menyoraki kegagalanmu aku tidak berpikir demikian. Kau tau kenapa?"
Kedua orang itu, Kian dan seorang nenek duduk di kursi taman belakang kelas. Para wali siswa sudah di panggil ke kelas masing-masing, dan begitu pula dengan wali dari Kian. Mereka adalah sepasang suami istri renta yang malam itu tak sengaja berpapasan dengan Kian dan Devan.
Selain menjadi wali Kian, mereka juga tak lupa menjadi wali Devan. Mengambil rapor mereka dan mendengarkan seluruh apresiasi dari guru terhadap prestasi para siswa.
Seperti yang dikatakan oleh sang Nenek, pada saat menerima rapor Kian sang wali kelas sedikit banyaknya kecewa dan memberi pertanyaan serta komentar yang lumayan berat. Berbeda dengan Devan yang bahkan mendapat banyak sanjungan.
Mendengar semua hal itu Kian sama sekali tak merasa marah atau benci pada siapapun termasuk Devan. Banyak yang mengatakan jika kemerosotan nilainya karena Devan. Tapi Kian menepis kasar hal itu. Benar-benar salah besar menurut Kian. Ia Hanya mau tau bagaimana sepasang sejoli nan romantis ini bisa menjadi wakil nya hari ini. Ia sangat terkejut kala keduanya berucap akan menjadi wali dirinya dan juga Devan untuk mengambil rapor tahunan.
Apa Devan yang memberitahukan dan memintanya? Itu adalah kemungkinan terbesar yang ada, terlebih lagi ia tak kenal sama sekali dengan dua orang ini. Devan juga meminta diri nya tidak memikirkan hal itu, dan Devan juga mengatakan bahwa ia sudah mempersiapkan segalanya. Itu artinya Devan benar menepati janjinya dan membuktikan ucapannya.
"Setiap manusia akan mengalami pasang surut dalam hidupnya Kian. Kadang di atas kadang di bawah, hal itu lah yang mengajarkan manusia untuk tidak berbuat sombong. Yang kau alami sekarang aku yakin ada pengaruh lain. Beberapa keluhan yang di lontarkan gurumu sudah cukup membuatku sedikit tau masalah yang kau alami saat ini. Pesanku padamu, kau tidak perlu menjadi tokoh utama di panggung dunia, tapi kau adalah tokoh utama dalam hidup dan ceritamu. Seburuk apapun yang orang lain katakan padamu jangan membuatmu mati asa dan berhenti mengejarnya. Dan jangan juga kau buat pujian orang lain menjadikan kau manusia yang congkak. Mendengarkan orang lain itu baik, tapi sesekali juga diperlukan ketulian dalam beberapa hal. Kau mengerti?" Tanya nya lagi sambil menggenggam erat tangan Kian.
Kian menatap netra mata itu, penuh dengan ketulusan dan kejujuran. Ia tau bahwa orang yang ada di depannya saat ini bukanlah orang sembarangan bicara. Apa yang dikatakannya semuanya benar. Tentu saja, orang yang berada di depannya saat ini adalah orang yang memiliki lebih banyak pengalaman dari dirinya.
Sepertinya ia harus berjuang lagi untuk ke depannya. Tidak hanya berjuang untuk apa yang ia cita-citakan, namun berjuang terhadap sesuatu yang ada dalam dirinya.
Kian mengangguk pelan disertai dengan seulas senyum manis di bibir ranum tanpa polesan apapun itu. "Iya nek terima kasih. Apa yang nenek katakan itu benar, dan Kian juga sangat berterima kasih karena nenek dan kakek sudah mau menjadi wali Kian hari ini. Pasti Devan kan yang memberitahukannya?"
"Em... Ya secara tak sengaja."
"Tak sengaja??" Kian nampak berfikir keras maksud dari kalimat itu.
"Lupakan. Kian selain kau bisa menjadi tokoh utama dalam kehidupan mu, kau juga bisa menjadi tokoh utama dalam kehidupan orang lain yang menyayangimu."
"Kenapa? Harusnya semua orang menjadi tokoh utama bukan?"
"Ya, tapi dia akan menganggap kau sebagai sebuah alasan yang bahkan bisa mengorbankan dirinya untuk dirimu."
__ADS_1
Ucapan sang Nenek yang semakin membuat Kian bingung menjadi-jadi. Ntah apa maksudnya Kian pun tak tau. Dan pada detik berikutnya, ia hendak kembali melontarkan kalimat namun.....
"Sampai kapan kau akan terus menceramahi anak itu. Kau hanya akan membuatnya bosan. Lagipula seharusnya kita sudah kembali sekarang." Celetuk seseorang.
"Hah... Dasar kakek tua! Aku sedang mengobrol dengan cucuku tapi kau mengacau saja. Ya sudahlah Kian nenek dan kakek harus pulang sekarang. Jangan menyerah, satu pintu tertutup bukan berarti pintu lain juga tertutup kan? Bahkan beribu pintu lainnya akan terbuka apabila kau mau berusaha. Kau harus tau sang pencipta sangat baik Kian, yakinlah dan berusahalah."
Kian mengangguk dan membalas ucapan itu dengan ramah. Kian menyalami mereka sebelum akhirnya mereka benar-benar pergi dari taman belakang itu.
_____________
"Aku merindukan cucuku. Apa dia tidak merindukan ku? Apa dia sudah tak lagi mengingat wajahku?"
"Tenanglah. Aku pikir semua ini terselip kesalahpahaman."
"Lalu aku harus bagaimana Sam? Kenapa saat bertemu denganku wajahnya sangat berbeda. Bahkan aku sangat bodoh tidak menyadarinya saat itu bahwa dia lah orang yang aku cari selama ini. Hiks... Hiks..."
"Berhenti di depan sana. Aku ingin menemui seorang ojek."
"Kenapa tuan? Anda sudah naik mobil untuk apalagi ojek?"
"Kau berhenti atau ku pecat?"
"Ya baik tuan."
Dengan tangan gemetar setelah tongkat kayu itu berada di sebelah pundaknya, ia menurut dan menepikan mobil yang sudah berada di dekat sang ojek.
"Sam..." Lirihnya ketika sang kakek hampir keluar dari mobil.
"Tenang lah. Aku sudah menyuruh Peter untuk menyelidiki ini semua. Semua akan baik-baik saja. Kenapa kau terlihat sangat cemas hm? Biasanya kau akan mengancamku atau marah padaku. Hari ini kau terlihat begitu lesu dan khawatir kau ingin sesuatu?"
__ADS_1
Lama tak ada jawaban dari sana, hingga pada detik kemudian barulah wanita cantik itu bersuara, "Tidak, pergilah." Ketusnya.
"Hehe..." Ia terkekeh pelan, yang tentu mengundang ketidaksukaan seseorang.
"Apa yang kau tertawakan pak tua!!" Marahnya.
"Aku tau kau mencintaiku bahkan untuk jauh pun rasanya sangat sulit bukan? Tapi ketahuilah sayang aku hanya pergi keluar untuk memberikan amplop ini pada sang ojek. Aku pastikan setelah ini kau bisa menggenggam dan memeluk tanganku sepuasnya." Roceh sang kakek panjang lebar.
Seketika si nenek langsung melepaskan cengkeraman nya setelah mengetahui hal tersebut. Membenarkan duduknya lalu kembali menghadap jendela mobil di sebrang, seakan tak ingin melihat pria tua yang berada di ambang pintu.
"Pergilah, sebelum ku suruh dia untuk jalan!! Dan jangan bersikap sok manis terhadap ku!"
"Lihatlah betapa menggemaskannya nenek tua ini. Waktu itu kau marah padaku karena tak pernah romantis, namun sekarang? Kau juga marah karna aku bersikap manis padamu." Timpalnya.
"Sam, di rumah ada banyak sekali alat yang bisa kau pilih untuk menuju tempat peristirahatan selamanya. Kau bisa putuskan itu ketika kita sudah kembali ke rumah."
Sontak wajah pria paruh baya itu mendadak berubah, ketika kalimat dingin dan sadis itu keluar dari mulut istrinya. Buru-buru ia keluar dan menghampiri sang ojek. Sedangkan di mobil hanya ada seulas senyum dari si sopir yang padahal dalam hatinya sudah tertawa terpingkal ketika melihat kedua majikan berceloteh.
Moto hidup kakek & nenek, tiada hari tanpa bertengkar namun itulah bentuk sayang mereka.
.
.
.
.
#tbc
__ADS_1