
"Kian!" Panggil seseorang, membuat Kian lari tunggang langgang kearahnya.
"Ngapain lo disini?" Tanya dingin
"Ohh tadi ada kucing. Iya kucing, hehe" Ucap Kian dengan cengiran, namun orang itu malah melihat Kian dari atas sampai bawah seperti mencari sesuatu.
"Gue gak ap- apa kok Van." Ucap Kian dengan PD
"Ck, yang nanya keadaan lo siapa? Temen lo nyariin tuh."
"Hehehe... ya siapa tau. Temen? Febbry ya. Astaga, gue lupa."
Flash back
Bukh
"Aaakh!!!"
Kian yang baru membuka pintu toilet, langsung kedatangan tamu dari luar toilet. Tangannya ditarik secara dadakan oleh seseorang, dan langsung di dorong ke tembok hingga ia sedikit tersentak dan merasakan sakit. Bagiamana tidak, ia baru saja bernafas lega sekarang sudah ada lagi yang mengganggunya bahkan memaksanya.
Di lain ruangan, Kian yang sedang di kungkung oleh seseorang di pojokkan dinding merasa takut. Ia berusaha lepas dan lari dari sana, namun seseorang itu tak memberikan akses pada Kian untuk kabur atau sekedar menjauh sedikit saja darinya.
Detak jantung Kian kini berdegup sangat kencang, hampir membuatnya lemas tak berarti. Nafasnya tersengal ditambah lagi dengan keringat yang mengucur begitu deras. Ia tak tau salahnya apa hingga laki-laki yang ada di depannya seperti ini. Seperti baru saja menangkap istrinya sedang berselingkuh dengan laki-laki lain. Mata yang mengambarkan kemarahan, menatap manik mata Kian.
"Jer!! Minggir gak lo! Lo gila ya!!" Bentak Kian yang tak melihat ada pergerakan sedikit pun dari orang yang ada di depannya saat ini.
"Iya gue udah gila, gila karena lo Kian! Dan gue gak akan minggir!!" Tegasnya. Kini jarak wajah mereka hanya menyisakan dua jengkal saja hingga bisa bersentuhan.
"Mau lo apa? Jangan buat orang lain salah paham dengan lo yang kayak gini. Gue gak mau Sarah tambah gak suka sama gue cuma gara-gara lo yang udah gila ini. Dia sahabat gue, dan lo temen gue. Gue gak mau ada hal-hal yang gak jelas kayak gini. Jadi gue...." Kian berusaha terlepas dari kungkungan Jerry namun masih sia-sia. Kekuatannya tak sebesar itu untuk melawan Jerry.
"Oh.. Gue cuma temen lo Ki? Selama ini gue baik sama lo, tapi lo cuma anggap gue temen gitu? Dan lo tau mau gue apa?" Ucapnya dengan nada tersengal marah. Wajahnya semakin dekat dengan Kian membuat Kian meronta-ronta. Hingga karena ketakutan menbuat air bening itu mengalir begitu saja. Terisak dalam diam.
"Gue suka sama lo!!!" Pekiknya di telinga Kian.
Membuat Kian seperti membatu, tak bisa berkata. Selama ini ia berteman dengan Jerry tak pernah berfikir sampai ke sana. Namun tiba-tiba hari ini, Jerry mengatakan kalimat itu. Yang tentu saja membuat Kian sangat terkejut bukan main.
"Gue suka sama lo, Kian Zeline Zakeisya." Kian mengerjabkan matanya beberapa kali, takut ini hanya mimpi. Namun teriakan dan rasa sakit itu sungguhlah nyata. Hingga ia tersadar, "Tapi, gue cuma nganggep lo temen gue Jer!" Bantah Kian.
"Kenapa? Karna udah ada orang lain? Iya!!!"
"Maksud lo apasih. Dateng-dateng kayak orang gila. Bisa gak ngomongnya baik-baik, jangan gini!! Lepasin gue Jerry!!"
"Gak!"
"Mau lo apasih Jer!!!" Kian berusaha mendorong Jerry, namun tak juga ada pergerakan darinya.
"Lo mau tau, mau gue apa?" Ucapnya lagi dengan nada tersengal marah. Wajahnya semakin dekat dengan Kian membuat Kian meronta.
Plak
Dan tanpa ia sengaja, ia menampar wajah Jerry. Membuat Jerry yang hendak menciumnya menjadi berhenti. Menatap tak suka dan penuh amarah pada Kian.
Jerry langsung menarik kerah baju Kian, bak dua orang laki-laki yang hendak bertengkar. Kian hanya diam menatap Jerry, sungguh dalam benaknya tak pernah ia tau kalau Jerry adalah laki-laki kasar yang terkelumus sikap lemah lembut dan perhatian.
Kini cekikan kerah baju itu semakin kuat, membuat Kian sedikit sesak.
"Lo adalah perempuan pertama yang berani nampar gue. Dan gue yakin kalo hal ini akan lo sesalin Kian!!" Ucapnya penuh penekanan.
"Lo gila Jer. Gue gak tau ternyata selama ini gue deket sama orang gila kayak lo!!!" Bentak Kian marah.
Srakh
Jerry menarik rambut Kian, membuatnya sangat merintih. "Lo harus tau Ki. Apapun yang gue mau bakal gue dapet termasuk lo. Dan hidup lo bakal bersama orang gila ini. So, jauhin laki-laki lain. Karena gue gak suka liatnya!!"
Jambakan itu terlepas, Jerry beralih mempuk-puk kepala Kian lembut. "Oh ya satu lagi. Sampai lo aduin hal ini, lo tau sendiri akibatnya!!!"
Setelah kalimat ancaman itu keluar dari mulutnya ia langsung bergegas pergi, saat mendengar ada langkah kaki seseorang yang mendekat ke arah mereka.
Kian masih berdiri di depan tembok tanpa menyandar, menatap punggung itu pergi berlalu. Mencoba mempercayai perlakuan dari sang mpu barusan, tapi sedikit sulit. Kian seperti melihat Jerry dengan sisi yang lain, seperti memiliki kepribadian ganda dan bukan dirinya. Yang dimana satunya bersikap begitu kasar dan buruk.
Kian tak tau maksud dari laki-laki itu bahkan ancamanan yang ia lontarkan pada dirinya.
__ADS_1
Laki-laki? Apa maksudnya adalah Devan? Hidup bersama orang gila ini? Tidak!! Kian tak bisa mencerna kalimat-kalimat yang dilontarkan oleh Jerry padanya.
"Kian!" Panggil seseorang dari belakang, membuatnya menoleh dan langsung berlari tunggang langgang menghampiri orang itu.
Flash back off
"Lo kenapa? Ada yang gangguin lo? Kasih tau gue." Membuat Kian tersadar dari lamunannya dengan suara Devan yang bertanya dengan suara yang lembut.
"Eh.. gak kok. Ya udah kita ke kelas aja. Lo bilang Febbry cariin gue tadi."
"Hn!"
Kian dan Devan jalan berdampingan pergi ke kelas. Tak ada yang mereka bahas disana, hanya sunyi menemani. Kian terlihat masih asik dengan pikirannya. Dan untuk Devan sendiri, ntah apa yang ada di otaknya namun ia hanya menatap lurus, datar, dingin ke depan.
"Kiannnnn... Lo dari mana aja sih. Gue cariin gak nemu-nemu. Lo buat gue khawatir bego!! Kemana aja lo?!" Roceh Febbry tanpa jeda ketika Kian sudah berada di kelas.
"He.. he.. Maaf. Gue tadi gak sengaja liat kucing. Jadi gue mau ambil tuh kucing, eh dianya malah lari. Gue sampe kejar dia, dan lupa balik ke kantin."
Tampak wajah Febbry berubah kesal, "Lo ninggalin gue cuma gara-gara kucing?! Jadi lebih penting kucing gitu dari pada gue!! Kurang ajar banget lo Ki, sampe-sampe gue gak makan nungguin lo. Tapi lo....."
"Astaga maaf banget Feb, gue bener-bener lupa. Jangan ngambek dong, nanti istirahat ke dua gue yang traktir deh."
"Bener ya!"
Kian mengangguk, dan mereka pun langsung berlalu ke meja masing-masing. Sedangkan Devan? Ia sudah lebih dulu berlalu, malas melihat drama kedua orang itu. Drama anak perempuan sungguh membuatnya bosan. Terlalu banyak adegan manja, banyak bicara dan peluk. Tak sepeti laki-laki yang terlihat cool dan sedikit bicara.
__________
"Ki, Lo pulang sama gue ya.." Pintanya dengan wajah memelas ketika mereka berada di halaman depan sekolah hendak pulang.
"Emm.. lain kali aja ya."
"Hm!! Kenapa lo mau naik bus terus sih? Lo mau aja sempit-sempitan sama mereka. Atau jangan-jangan lo mau pulang bareng Devan ya?" Tanyanya dengan penuh selidik.
"Apaan sih Feb..."
"Tapi gak apa-apa sih. Biar gue gak terlalu khawatir juga sama lo. Biar ada yang jagain lo. Lagian kayaknya Devan bukan tipe cowok yang suka colak colek cewek deh." Cibirnya menatap punggung Devan yang tak jauh dari mereka.
"Pikiran lo tuh ya. Udah ah sono balik lo!"
Dengan wajah kesalnya, Febbry pun berpisah dengan Kian. Namun tak sampai di sana, ia malah melihat Bimo berjalan sendiri. Hingga Febbry menghampiri laki-laki yang berjalan santai ke arah parkiran motor, merangkul leher laki-laki yang notabene lebih tinggi dari dirinya sendiri. Hingga membuat ia tertunduk oleh tangan Febbry. Sedangkan Kian masih menatap tingkah sahabatnya itu dari kejauhan.
"Lo apa apaansih Feb!! Leher gue bisa patah lo buat kayak gini!! Lepas gak!!" Bimo memberontak melepaskan rangkulan tangan Febbry yang berada di lehernya.
"Santai aja Bim. Gak bakal sampai gitu juga kali. Btw, gue nebeng lu ya." Pinta Febbry dengan menaik turunkan kedua alisnya dengan cepat.
"Gak gak. Apaan lo. Males banget motor gue boncengin kaleng rombeng kayak lo. Lagian mobil jemputan lo udah nunggu di depan sekolah. Sana!!" Usir Bimo pada Febbry.
Bukannya menurut Febbry malah semakin semangat untuk nebeng Bimo. "Gak mau. Bosen naik itu mulu. Udahlah bonceng aja, abis itu kita langsung ke tempat gym. Kita ada jadwal ke sana hari ini. Buat buang lipatan di perut lo tuh. Hahaha..."
"Gue capek Feb. Gak bisa lo biarin gue buat istirahat dulu pulang sekolah. Abis itu baru ke sana." Pinta Bimo dengan wajah memelas.
"Pokoknya kita berangkat sekarang. Gue gak mau tau! Ayo."
"Woy!! Buset si lambe turah ngapain temen kita tuh." Teriak Dion bersama teman-temannya, yang melihat Febbry bersama Bimo berdua.
Dino, Afkar, Dion, dan Noel langsung menghampiri Febbry dan Bimo. Dan terjadilah adu mulut antar kelimanya. Febbry dengan sikap keras kepalanya tentu saja kekeh dengan permintaannya. Sedangkan keempat orang itu sudah mencurigai gerak-gerik dari Febbry. Bisa dibilang mereka suudzon terhadap Febbry saat ini.
Tak ada tanda-tanda berhenti dari mereka, Bimo pun langsung menarik Febbry untuk duduk di jok belakang motornya. Jujur saja jika Bimo sangat lelah untuk saat ini, hingga hal itu sangat mengganggu bagi Bimo. Dan terpaksa ia mengalah, menarik Febbry untuk pulang bersamanya. Jika tidak, ntah sampai kapan perdebatan itu akan selesai. Hal itu sukses membuat keempat orang itu langsung ternganga tak percaya.
Sementara di lain pihak, ada seseorang yang hanya menyunggingkan senyum seperti ingin tertawa melihat aksi mereka yang tak jauh dari tempat berdirinya saat ini.
Plak
"Astagfirullah, kayaknya gue ninggalin sesuatu deh." Setelah menepuk jidatnya, ia kembali berlari ke arah kantin.
Menerobos orang-orang yang berjalan keluar, berbeda dengannya yang malah berjalan masuk.
Berlari ke arah kantin, melewati jalan belakang. Ntah kenapa ia ingin saja lewat sana, mungkin untuk menghindari ramainya koridor saat ini.
Sedikit tergesa-gesa? iya jelas. Sebab ia takut kalau akan di tinggal oleh bus yang biasa ia naik.
__ADS_1
"Jerry!! Gue suka sama lo!!" Ucap seorang perempuan setengah berteriak. Tentu membuat Kian berhenti, dan sedikit mengintip apa yang terjadi pada perempuan itu. Ditambah lagi ia meneriaki nama seseorang yang bahkan ia benci dari beberapa saat lalu. Sebab ia sudah berani untuk merebut kesucian bibirnya, dan hal itu hampir saja terlaksana jika dirinya tak memberontak dan menamparnya.
Kian mencari asal suara itu, berjalan ke arah lorong yang tak jauh dari sana. Dan benar saja ada dua orang yang berdiri disana. Kian mengintip dari balik tembok yang ada di sana. Terlihat dua orang sedang beradu argumen. Seorang perempuan yang terlihat hampir menangis berdiri dengan kaki yang bergetar.
"Dia kan?" Batin Kian.
Apalagi setelah melihat gelagat Jerry yang mencurigakan. Jerry bersandar di dinding melipat kedua tangannya di depan dada. Dan menyilangkan kakinya. Dengan wajah datar dan santai. Membuat Kian berfikir yang tidak-tidak akan hal itu.
"Lo suka sama gue? Apa yang bakal jadi jaminan lo kalo lo suka sama gue? Soalnya gue gak terlalu percaya sama lo." Tanyanya dengan mengangkat satu alis, dan senyum miring seolah meremehkan perempuan yang ada di depannya saat ini.
Tampak perempuan itu menggenggam erat rok nya, tak bisa berucap. Ntah apa sebabnya, mungkin saja karena tak tau harus bagaimana menjawab pertanyaan Jerry.
Sepersekian detik kemudian Jerry mengetuk-ngetuk bibirnya, seolah memberi kode pada perempuan yang ada di depannya.
"Lo kelihatannya anak baik-baik dan lugu banget. Udah kalo takut, gak usah. Pergi sana lo!"
Kian baru saja hendak melangkah, karena ia takut jika perempuan yang ternyata adik kelasnya sendiri akan diapakan oleh Jerry. Tingkah anak itu sungguh berbeda hari ini. Benar-benar berbeda, dari biasanya. Yang membuat Kian takut.
Dan... cup
Kian langsung mematung di sana. Tak tau apa yang dipikirkan oleh Jerry dan perempuan polos itu hingga hal itu bisa terjadi. Yang kemudian membuat air matanya jatuh begitu saja.
Ia tak tau kenapa, dan bagaimana air mata itu bisa jatuh begitu saja. Apakah ia punya perasaan terhadap Jerry, hingga air itu bisa jatuh. Tapi ia benar-benar hanya menganggap Jerry temannya. Atau karena hal lain? ntahlah ia tak tau sama sekali.
Kian melihat ciuman itu semakin aneh, membuatnya meninggalkan tempat itu, dan buru-buru menghapus air mata yang keluar dari kedua pelupuk matanya.
"Neng Kian, mau ambil sayurnya ya?"
Pertanyaan itu membuyarkan lamunan Kian hingga ia terburu-buru mengangguk. Ia tidak sadar jika ia sudah berjalan sampai kantin. Membuatnya sedikit terkejut.
"Ini neng. Lagian kenapa kok sekolah bawa sayuran? Tugas ya?"
"Enggak kok bu. Tadi, ada ibu-ibu yang baik banget, kasih Kian sayur bu. Cuma karena masih pagi, kan nanti sayurannya jadi layu kalau Kian isi di dalem tas. Jadi Kian titip ke ibu deh. Maaf ya bu."
"Oh gitu. Iya deh, nih." Bu Eti memberikan sayur itu dengan plastik.
"O iya bu. Makasih, maaf udah ngerepotin ibu."
"Ya gak apa-apa kok neng. Santai aja kalo sama ibu mah."
"Hehe.. ibu bisa aja. Ya udah Kian pulang dulu bu, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Setelah cukup bercengkrama dengan bu Eti, Kian berjalan keluar dari sekolah. Namun ternyata sudah ada seseorang yang menunggunya di pilar depan sekolah. Menekuk sebelah kakinya, bersandar di pilar itu dan melipat kedua tangannya di depan dada.
"Lama banget lo!"
Kian yang tersentak kaget langsung menoleh. "Loh kok lo disini? Ngapain?"
"Bus di depan sekolah udah nungguin lo. Cepetan!! Lama banget kayak siput!"
"E...eh.. Iya. Maaf."
Kian langsung berjalan begitu saja meninggalkan Devan dibelakangnya. Ntah karena memang baru menyaksikan itu secara real atau rasa kecewa terhadap temannya, membuat Kian seperti hilang fokus.
Kini mereka berdua sudah duduk di dalam bus, bersebelahan, dan bus pun melaju. Sepertinya benar kata Devan kalau bus itu sudah menunggu.
Tapi bukannya kalau sudah waktunya jalan, maka bus bisa berangkat begitu saja tanpa memperdulikan siapa yang tertinggal. Bagiamana bus yang Kian tumpangi sekarang malah menunggu dirinya??
Untuk sejenak ia tak mempermasalahkan hal itu. Sebab masih ada yang lebih mengganjal di benak dan pikirannya.
.
.
.
.
Tbc
__ADS_1