Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)

Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)
#121


__ADS_3

"Ngapain sih ngajak ke taman?" Barulah Kian berucap ketika langkah mereka berhenti di bawah pohon besar yang begitu rindang nan teduh. Tempat cocok sekali untuk bersantai dengan sajian pemandangan yang indah.


"Supaya belajarnya gak suntuk aja." Santainya


"Cie.... perhatian banget pak." Goda Kian yang bermaksud bercanda, agar wajah Devan tak terlalu banyak kerutan sebab memasang wajah seramnya sepanjang hari.


Tuk!


"Gak usah geer. Selama satu minggu ke depan cafe Arya bakal di renov biar lebih besar lagi. Jadi selama itu juga karyawan di liburkan."


Brukh!!!


"Dan ini buku buat lo belajar. Gue harap semuanya bisa lo baca dan pahami."


Kian hanya menatap Devan malas, setelah ia mengeluarkan sepuluh buku yang tak tanggung-tanggung tebalnya di lantai beralaskan rumput itu. Dengan maksud memberikan pada dirinya.


Namun hal itu malah di balas lain oleh Kian, ntah lah semakin hari rasanya ia sudah lelah dan tak sanggup lagi dengan semua itu. Yang ia mau hanya menghabiskan sisa waktu yang dimilikinya untuk berdamai dengan diri dan suasana. Ia sadar mengejar dunia dan isinya sangat melelahkan untuk saat ini.


"Van, Gue capek!! Bisa gak berhenti dulu, gue..."


"Udah nyerah? Gimana sama cita-cita dan orang tua lo?" Ucap Devan dingin. Kian nampak berfikir, kalut dengan isi pikirannya saat ini.


Mungkin yang dikatakan Devan benar, untuk sesaat otaknya kacau dengan satu hal. Yang harusnya ia tak terkecoh sedikit pun dengan kedatangannya. Tapi tetap saja, manusia memiliki rasa bosan dan lelah...


"Nih." Devan menunjukkan layar handphonenya pada Kian.


"Apa?"


Setelah menatap layar hp itu, Kian terdiam seakan tak percaya. Bahkan dia sendiri belum mencari tau tentang informasi kampus favoritnya, baik itu dari segala jalur yang ada. Namun Devan, dengan santainya menunjukkan sebuah situs yang mencantumkan tanggal diadakan tes beasiswa untuk dirinya.


"Waktu lo masih tersisa sebulan buat belajar sebelum ikut tes beasiswa. Gue harap lo belajar, gak usah pikirkan apapun. Inget, walaupun gue gak ada bukan berarti lo tanpa pengawasan." Ucapnya dingin dengan tatapan tegas.


Kian nampak mencerna kalimat yang baru saja di lontarkan Devan dengan seksama. "Maksudnya lo gak ada? Lo mau kemana?"


"....."


Melihat ekspresi Devan yang berubah membuat kian merasa tak enak, "Eh, gak apa-apa kalo gak mau jawab. Maaf gue kepo banget, hehehe... Terus buat kelulusan besok? Lo gak ikut?"


"....."


"Oke, Gue gak bakal tanya lagi, but..."


"Gue ada urusan sama keluarga gue. Dan buat kelulusan besok, lo tenang aja gue udah atur itu. Lo tinggal dateng aja ke sekolah."


"Urusan keluarga? Akhirnya lo baikkan juga sama om Daren dan keluarga lo." Senyum Kian mengembang, Devan hanya datar dan mengangguk. Tak ada lagi kalimat di sana.


"Gak ada niat buat cerita ke gue?" Pinta Kian, selama tak ingin membahas masalah pelajarannya.


Devan diam lalu membaringkan dirinya di rumput, menarik napas panjang tanpa ingin menjawab kalimat itu. Tau akan gelagat Devan yang seperti itu membuat Kian tak ingin memaksa dan mulai membuka buku bacaan itu sembari menikmati hilir angin yang menyapa lembut nan tenang.


"Abis ini lo mau ajak gue ke taman mana lagi, Van?"


"Ngarep." Cibirnya.


"Dari kemarin lo ngajak gue ke taman terus. Gue pikir abis ini lo bakal ajak gue ke mana lagi. Kayaknya lo tau banyak tau tentang taman yang di kota ini. Gue aja gak pernah pergi ke taman kecuali taman kota."


"Oh."


Kian menoleh ke arah Devan yang masih memejamkan mata, seperti acuh pada nya.


"Oh doang? Huh...." Terdengar suara Kian agak kecewa.


"Ada tempat yang lo ingin kunjungi?"


"Jujur aja sih ada, apalagi setelah liat anak-anak tadi gue pengen ke suatu tempat bareng mereka."


"Maksud lo?"


"Iya, Setelah pengumuman beasiswa keluar gue mau ajak mereka ke tempat yang bisa buat mereka seneng, dan lupa sama masalah mereka walaupun cuma sebentar." Kalimat terakhir yang terdengar begitu sendu


"Mau kemana?"


"Gue juga belum tau sih, yang jelas gue mau mereka bisa liat pemandangan yang indah." Sumringahnya.

__ADS_1


"Yakin?" Tanya Devan, yang di angguki mantap oleh Kian. Tak ada jawaban hanya anggukan yakin yang tersemat.


"Terserah, cuma sama mereka aja?"


"Gak, Gue bakal dateng sama seseorang yang bisa dibilang penyemangat gue selama ini."


"Lo lagi suka sama seseorang?" Tanyanya mendelik, memberikan tatapan aneh.


"Iya, dan gue pengen ajak dia sama mereka. Hah.... Gue jadi pengen adopsi tuh anak-anak deh. hehehe..." Wajah Kian bersemu malu.


"Ternyata Kian si kutu buku juga suka halu. Kenapa lo suka haluin tentang keluarga? Kuliah dulu, abis itu kerja, baru punya keluarga. Dan lo harus tau bangun keluarga gak cuma lo sama anak-anak aja, lo harus punya suami."


"Yah, tapi kan gue udah punya orang itu. Apa salahnya, menata dan merencanakan apa yang gue pengen. Walaupun gue tau di samping itu, ada rencana Tuhan yang bahkan akan lebih bagus dari rencana gue. Gue mau banget punya keluarga yang harmonis dan buat mereka jadi bagian keluarga gue, kasih mereka pemandangan bahwa mereka gak harus selalu terbayang dan tenggelam sama masa lalu kelam mereka."


Devan tak bersuara, percayalah di saat Kian mengatakan hal tersebut ada satu hal yang membuatnya merasa aneh. Ia mengeluarkan sebuah kotak kecil dari kantong celananya beserta dengan korek api.


Gulungan panjang itu kini sudah terselip di antara kedua bibirnya. Dengan menelunglupkan telapak tangan di depan benda tersebut, ia mulai menarik roda korek api dengan tangan satunya lagi.


"Heh!!" Sergah Kian tak bersahabat setelah melihatnya melakukan hal tersebut. Ia menoleh dan melihat mata Kian yang sudah sebesar biji salak.


Melihat sebatang rokok itu membuat Kian malah memarahi Devan. Selain wilayah taman yang bersih, di sana juga sudah terpampang rambu-rambu di larang merokok. Tapi Devan tetaplah Devan, bahkan larangan merupakan perintah baginya.


Panjang lebar Kian menceramahinya, mulai dari larangan dan mentaati peringatan, pentingannya menjaga kebersihan lingkungan serta ajakan untuk hidup bersih dan sehat dengan menjauhi rokok.


Ceramahan Kian sudah melebihi panjangnya pidato kepala sekolah di hari senin. Dan ekspresi Devan yang melihatnya sama persis seperti murid yang mendapat barisan paling depan dengan panas yang full.


"Permisi kak, bunganya?"


Devan menoleh, "Gak ada yang sakit di sini jadi perlu dikasih bunga." Dengan rokok yang masih menempel di kedua bibir nya.


"Loh kak, bunga kan gak cuma di kasih ke orang sakit. Tapi bisa pacar atau orang tersayang juga. Lagian ini banyak macamnya kok kak, jadi kakak bisa sesuain sama bunga apa yang....."


"Gak... gak..." Tolak Devan mentah-mentah saat sang penjual bunga itu berbicara.


Kian langsung menatap Devan kesal, menurutnya jika tidak ingin membeli bunga setidaknya menolak pun dengan bahasa yang tak terlalu kasar yang bisa menyinggung orang lain tentunya.


"Hehehe... maaf ya kak temen saya emang gitu." Ia hanya mengangguk, Kian yang merasa tak enak hati berniat ingin membeli salah satu dagangannya. "Bunga yang itu berapa?" Kian menunjuk salah satu rumpun bunga yang sudah di plastik berwarna merah. Yups, bunga mawar. Ntah kenapa sedari dulu ia suka sekali dengan bunga itu.


Di sisi lain ada Devan yang menggerutu dengan kalimat itu, "Halah sok tau banget lo! Bunga itu gak cocok sama sekali buat Kian." Sewotnya.


"Terus cocoknya?"


"Itu bunga yang ada di pojokan itu kasih ke dia." Tegas Devan lalu mengeluarkan uang lima puluh ribu.


"Kaktus, kak?"


Laki-laki itu pun menyerahkan satu tanaman kaktus berukuran kecil beserta pot keramiknya pada Kian setelah mendapat persetujuan dari Devan.


Devan beranjak dari duduknya, meninggalkan Kian dengan wajah cengok. Dari banyaknya macam bunga yang ada di keranjang itu, ia masih tak habis pikir kenapa Devan memberikan kaktus untuknya.


Kaktus itu persis kayak lo Kian, spesial melebihi bunga mawar ~Devan


_____________


19:00


Kian dan Devan udah berada di depan kontrakan Kian.


"Masuk dan istirahat. Jangan keluar rumah malem-malem gini, anginnya dingin gak baik buat kesehatan." Ucap Devan, setelah Kian turun dari sepeda lala berwarna biru yang mereka naiki tadi.


"Iya, dan maksih buat hari ini. Oh ya mau mampir dulu gak? Gue buatin..."


"Gak usah. Gue langsung pulang." Devan berbalik sambil menintin sepeda itu kembali ke tempat semulanya.


Jarak yang sudah agak lumayan jauh dari pandangannya, namun Kian masih bisa melihat Devan bercengkrama dengan si mpu sepeda.


"Ini kak, sepedanya. Berapa?"


"Ha? Lo gak lagi berusaha beli sepeda gue kan?"


"Gue udah pinjem sepedanya seharian, jadi berapa rentalnya?"


Ia nampak berfikir seraya memperhatikan Devan. Devan bertanya seperti itu sebab ia tak mau terlalu banyak berhutang budi pada orang lain, apalagi itu perempuan. Bukan maksudnya memandang ia rendah jika berhutang pada perempuan, namun ia tau jika perempuan yang ada di kontrakan itu semunya gila kecuali Kian dan Nari.

__ADS_1


Obsesi mereka yang selalu aneh ketika dirinya datang ke sana, terkadang membuatnya harus lebih banyak bersabar. Selain mereka makhluk spesial yang Tuhan ciptakan, mereka juga memiliki perasaan yang lembut.


"Gak usah bayar. Tapi lo harus jalan bareng gue."


"Gak ada pilihan lain kak? Gue gak punya waktu buat jalan."


"Tapi lo punya waktu buat jalan sama Kian!!"


"Kak gue gak mau ribut malem-malem. Gue sama Kian tadi ada perlu, bukan jalan-jalan. Pilihan lain atau gak sama sekali?"


"Oke-oke, gini aja...."


Cekrek


Satu foto diambil dan tersimpan di galeri Lola dengan bagusnya. Ia tersenyum manis dan bahagia bukan main karena hal itu. Dan percayalah setelah itu Devan bahkan tau apa yang akan terjadi di kontrakan ini.


__________


"Sayang....."


Seorang perempuan yang baru saja masuk ke sebuah ruangan rapi dan bersih, bercat putih, begitu luas ditambah beberapa pernak pernik penghias di sana.


Perempuan itu bergelayut manja di pundak seorang pria yang sedang duduk di kursi depan laptopnya. Pelukan dari belakang yang di berikan perempuan itu seakan membuatnya sesak dan kesal.


"Kau sudah berapa hari tak pernah pulang ke rumah. Ada apa?? Kau sudah bosan ya?" Manjanya dengan suara yang benar-benar dibuat begitu gemulai.


"Tidak sama sekali. Aku hanya sedang sibuk saat ini. Mengertilah" Ucapnya lembut melepaskan lingkaran tangan yang membelit lehernya itu.


"Ck! Kau bahkan sesibuk apapun akan tetap pulang ke rumah. Tak biasanya kau seperti ini, jangan berbohong pada ku!!" Ucapnya lagi yang kini duduk di pangkuan pria itu. Menatap iris abu-abu yang terlihat begitu gelisah.


"Ku mohon Divia, ini kantor! Jangan bersikap tidak sopan begitu." Tegasnya menyingkirkan perempuan itu dari pangkuannya.


"Bram, ada apa ini?! Sikap mu berubah sangat drastis! Ini sudah malam dan ini kantormu, siapa bawahan yang berani menentang itu!!" Kesalnya.


"Divia bisakah kau jangan berteriak. Masih ada beberapa karyawan yang belum pulang. Katakan, apa yang kau inginkan? Aku akan memberikannya, lalu kau bisa pergi. Aku sedang sibuk saat ini. Jadi ku mohon jangan mengganggu ku!"


"Sejak kapan aku menjadi pengganggu di hidupmu Bram! Ku rasa kau sekarang sudah benar-benar jatuh pada permainan Intan!"


"Bisakah kau tidak mengatakan suatu hal tentang itu?! Intan sedang sakit sekarang jadi jangan bahas dia!"


"Hahaha, apa!!! Kau tau aku istri pertama mu! Bahkan aku rela berbagi suami dengan wanita itu! Tapi apa?! kau malah berkata jika aku seorang pengganggu! Tak hanya itu, kau juga sekarang mengusir ku! Kau bahkan tak bertanya padaku, apa yang aku alami tadi!!"


Apa yang dikatakan perempuan itu, membuat dirinya sedikit lemah. Yah memang kenyataanya seperti itu, seharusnya ia tetap bisa membagi rata perhatian yang dimilikinya.


Ia mengalah, "Memang apa yang terjadi padamu? Ada yang menyakitimu? Siapa? katakan saja." Ucapnya yang melembut dan menatap istrinya itu.


"Brand terbesar yang ada di kota ini mengeluarkan barang terbaru, dan aku terlambat untuk itu! Seorang bocah perempuan sudah lebih dulu mengambil barang itu!! Dan kau tau apa poin pentingnya!! Aku kehilangan barang itu gara-gara seharian menunggumu yang tak datang ke rumah! Kau bahkan tak menjawab pesan dan telpon ku, Bram!!!"


Sikap nya yang sudah melembut tadi berubah amat kesal dan marah ketika penuturan dari sang istri terasa begitu tak masuk akal, "You're so childish Divia!! Kau ingin barang itu? Ini, kartu debit yang bisa kau gunakan untuk membeli barang tak berharga itu!"


"Apa kau bilang tak berharga? Kau tau, itu barang yang langka bahkan sangat mahal harganya. Dan ku katakan itu lebih mahal dari Intan!!"


"Stop Divia!! Apa yang kau tau tentang kata berharga ha?? Bahkan kau saja tak bisa menjaga anak kita dengan baik!"


"Jangan kau salah kan aku jerk!! Don't forget that's moment Bram!! Aku kehilangan bayi ku ketika pernikahan kau dengan Intan! Bahkan di saat itu aku kehilangan dua kehidupanku! Kau dan anakku!! Seharusnya kau tau apa yang baru saja kau ucapkan! Itu tidak hanya melukaiku tapi juga membuktikan betapa tak bertanggung jawabnya kau sebagai seorang ayah!! ****! Aku membencimu Bram!!"


"Arghhh!!!" Erang Bram frustasi.


"Ya, aku lupa. Kau sekarang juga kehilangan putri kesayanganmu bukan? Apakah Intan sakit karena hal itu? Dan biar ku tebak kau tak menemukan putrinya bukan? Hahaha... Kau rasakan itu Bram. Seperti itulah aku disaat kau dan Intan bersenang-senang."


Setelah wajah serius itu tertampak, selanjutnya terbitlah senyum nan mengejek di sana. Berjalan keluar sambil melambaikan tangan seolah ia memang benar dan menang. Tak lupa perempuan yang memakai baju minim itu mengambil black card yang ada di meja, yang dilemparkan Bram sebelumnya.


.


.


.


.


.


#tbc

__ADS_1


__ADS_2