Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)

Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)
#103


__ADS_3

"Gue cuma gak mau sekolah lo terganggu. Lo butuh banget kan beasiswa buat kuliah? Itu cuma bakal terwujud kalo nilai lo bagus semua!" Marah Devan


"Lo...??" Kian sedikit terkejut


"Iya!! Gue denger semua yang dibilang semua guru ke lo di kantor tadi. Jadi lo gak bisa bohong ke gue Kian! Dan stop nunjukin senyum itu di kala lo gak bener-bener bisa senyum!"


Kian kembali tersenyum dengan air mata yang juga sudah menetes, "Apa pun itu gue bakal usaha sendiri. Lo gak usah khawatirin gue, mau diterima atau enggak itu terserah. Dan satu lagi gue belajar senyum ini juga dari lo Van. Lo yang ngajar gue senyum bohong ini. Lo selalu senyum ke orang yang lo sayang, walaupun hati lo juga khawatir dan sakit. Lo gak lupa kan kejadian di rumah sakit waktu itu? Dan gue harap lo gak benci senyum buatan lo sendiri."


Kian melangkah pergi setelah perdebatan itu ia sudahi, walaupun Devan sendiri mungkin belum selesai berbicara. Kian melangkah menuju toilet, berniat untuk membersihkan wajahnya dari sisa-sisa air mata yang begitu lengket, lalu barulah ia masuk kelas.


Berjalan tegap dengan meredam kekesalan dan amarahnya yang terasa sudah mencapai puncak. Menggenggam kuat ujung roknya, dengan sesak yang masih ada di dadanya. Di sepanjang koridor begitu sepi, sebab semua siswa dan siswi sedang belajar di kelas. Hingga tak ada yang memperhatikan dirinya yang menangis tersedu-sedu itu.


Ceklek


Byuuuurrr!!!


Kian mematung di tengah-tengah pintu toilet. Yang tak lama satu gerombolan orang datang dengan tawa yang begitu keras dan puas.


"Cuih!!! Gila bau banget sih?! Iuuwhh!"


"Ahahaha... Iya lah bau, kan air bekas pel. Udah bau, kotor lagi. Jorok!!"


"Eh!! Kian masih wangi tau. Nih kita tambahin telur aja biar rada bau."


Plak


Plak


Dua telur mendarat di atas kepala Kian. Dan tak lama kemudian mendarat pula satu bungkus tepung. Lengkap sudah ia saat ini, lengket, busuk, amis dan kotor. Kian memejamkan matanya sebentar membuat tetes-tetes air mata itu kembali meluncur. Mencoba bersabar, menekan amarahnya dalam hati.


"Hahahaha...." Tawa ketiga siswi itu sangat puas


"Udah puas?! Atau masih ada lagi?! Ayo tambahin!! Gue capek setiap hari harus berurusan sama kalian. Mungkin kalian gak bakal capek buat bully orang lain, tapi gue capek berurusan sama manusia kayak kalian bertiga. Kalo masih ada tambahin sekarang, udah nanggung!! Ayo!!!" Bentak Kian menatap ketiga siswi yang sedang melipat tangan di depan dada itu. Melihat Kian dengan tatapan jijik, dan tanpa dosa.


"Haduh!! Gak usah teriak-teriak! Kita juga denger kok. Kayaknya untuk hari ini cukup deh itu dulu. Kita lanjut besok lagi. Kita juga gak capek malah merasa terhibur dengan lo jadi bahan hiburan kita. Tapi gue mau bilang sesuatu boleh Ki?" Tanya si ketua geng siapa lagi kalo bukan Via.


Kian menatap geram ke arahnya, mengepalkan kedua tangannya erat. Ingin sekali rasanya Kian bisa melayangkan pukulan itu ke wajah Via, namun masih ia tahan.


"Lo cocok kayak gitu. Siswi rendahan kayak lo lebih bagus kayak gini." Bisiknya tetap di telinga Kian, "Oh ya guys! Kita punya kutu miskin yang kedua di sekolah ini. Setelah Devan sekarang Kian. Udah cocok emang sejoli miskin." Lanjut nya yang kembali di sambut tawa oleh kedua sahabatnya


"Emang Kian sekarang udah miskin ya Vi? Wah kenapa tuh? Apa ayahnya korupsi atau banyak hutang? Sampai mendadak miskin kayak gini? Hahahaha..."


Brak


Cekrek, cekrek


Setelah mendorong Kian sampai tersungkur di lantai, salah satu dari mereka mengambil foto Kian. "Ki, gue simpen ya fotonya buat dokumentasi. Biar lo bisa viral dan dapet uang. Lumayanlah buat bayar spp sekolah. Biar lo gak capek capek jadi kuli di luar sana buat bayar utang. Tunggu aja, paling lama juga besok lo udah viral kok. Haha, anak miskin aja gayaan mau masuk sekolah berkelas." Sindirnya.


"Heh, lo bertiga apain Kian hah!!!" Bentak seorang laki-laki yang baru tiba di sana.


Dengan terburu buru, ia langsung membantu Kian bangkit. Namun bukannya menurut, Kian malah menolak mentah mentah bantuan orang itu.


"Udah lah Jer, ngapain sih lo bantu nih anak miskin ha? Lagian dia juga gak pernah anggap lo." Remehnya


"Tau nih Jerry." Seru satunya lagi


"Lo yang baik aja di sia siain ama nih cewek. Padahal lo udah sebaik itu sama dia. Tapi dia tetep aja milih cowok aneh kelas dia. Sayang banget ya Jer hidup lo saingan sama cowok aneh, hahaha..."


Jerry tak menggubris sama sekali apa yang dikatakan oleh Via dan teman temannya. Ia tetap bersikeras membantu Kian, tapi tetap saja di tolak oleh Kian. Bahkan uluran tangan Jerry ditepis oleh Kian.

__ADS_1


"Ki, ayo gue bantu."


"Gue gak mau Jerry. Pergi lo." Kian mendorong Jerry


"Lo liat aja Jer!! Buka mata lo gede gede, dia tuh cewek gak tau di untung tau gak! Udah lo tolong malah nyuruh lo pergi. Gila ya lo Ki!!"


"Arghh!! Muak banget gue liat nih manusia!!" Via sudah mengambil ancang ancang mendekati Kian, ingin melakukan sesuatu terhadap nya. Tapi langsung di seret oleh Jerry untuk menjauh.


"Diem lo!!!" Sergahnya lagi, ia mendekat ke arah Via and the geng, menunjuk satu per satu dari mereka, "Kalau sampai Kian kenapa napa, maka kalian bertiga yang bakal tanggung jawab!!" Ucapnya dengan tatapan yang amat marah. Membuat ketiga siswi itu langsung pergi dari sana dengan wajah begitu kesal.


____________


"Gila ya si Jerry, masih mau mau aja bantu tuh cewek. Padahal di sisi lain ada orang lain yang lebih cantik dari tuh cewek, Bahkan yang lebih segalanya dari si Kian! Kenapa sih!!!! Kenapa tuh anak selalu di deketin sama cowok cowok di sekolah ini?!! Wajahnya aja gak seberapa! Cuma modal otak aja! Arghh" Marahnya begitu kesal, saat mereka berjalan di sepanjang koridor. Kedua temannya beringsut takut ketika melihat Via yang sudah marah seperti itu.


Hingga mereka bertemu dengan seseorang, lalu mencegat mereka. Menghadang mereka dengan tatapan seperti ingin menerkam mangsa.


"Apalagi ini! Apa lo? Gue gak ada urusan ya sama lo!" Bentak Via pada orang itu, lalu berjalan hendak melewatinya namun langsung ditahannya. Membanting tubuh itu ke udara.


"De.. De.. Devan. Vi, gimana nih ada Devan." Bisik salah satunya ketakutan.


Devan mendekat kerah mereka dengan mata tajam itu, menatap satu per satu perempuan yang ada di depannya. "Jangan bilang gue gak peringatan kalian waktu itu buat gak ganggu Kian lagi. Dan karna hal ini, kalian bakalan nyesel."


"Gak usah sok ngancem kita ya Van!! Lo pikir gue takut sama ancaman lo. Emang apa yang bisa diperbuat sama siswa miskin dan aneh kayak lo!!" Sahut Via


"Gue aneh? Miskin? Iya. Tapi gak semiskin dan seaneh pemikiran tiga orang kayak kalian!" Dinginnya,


"Gue heran ya, kenapa sih kalian bisa masuk ke sekolah ini? Lo yang dari awal miskin juga bisa masuk, dan sekarang Kian. Apa mungkin gara-gara Kian temenan sama lo, jadi terjangkit miskin juga Van? Hahaha... Lo tau kan Van sekarang Kian udah miskin? Gak habis pikir gue, anak miskin kayak kalian sekolah di sekolahan berkelas kayak gini." Remehnya


Wajah Devan nampak sedikit heran, bagaimana mereka bisa tau keadaan Kian sekarang? Apa mereka juga menguping pembicaraan Kian dengan para guru di kantor? Atau ada orang lain yang memberitahukannya? Sejenak ia masih berfikir dengan hal itu.


"Kenapa lo diem Van? Bener ya apa yang gue bilang? Hahaha..."


"Gak, gue cuma heran aja sama sekolah ini, kenapa punya siswi yang gak punya otak kayak kalian? Bahkan lo ngomong masalah berkelas? Pikir lagi, mungkin bisa aja hidup lo yang bahkan gak seberkelas alas kaki Kian. Heh" Senyum miring itu terukir di sana dengan mata tajam yang ikut memandang. Meninggalkan ketiga siswi yang masih mematung kesal dengan ucapan Devan.


"Pergi lo!!!" Bentak Kian


"Ki, gue cuma mau bantu lo. Gue ambillin baju ganti ya." Ucapnya


"Gue gak butuh bantuan lo Jerry. Lo denger ya, lo bisa bohongin orang lain dengan sikap dan wajah lo yang baik! Tapi gak sama gue. Gue tau siapa lo Jerry! Lo bisa aja baik ke orang lain buat nutupin sikap buruk lo tuh, tapi percuma kalo lo baik sama gue. Itu gak bakal ubah pandangan gue terhadap lo!! Lo tuh jahat!!! Mending sekarang lo keluar!!!" Titah Kian yang mendorong Jerry keluar dari toilet


"Terserah lo mau nilai gue apa Ki. Gue cuma mau nolongin lo." Balasnya dengan sneyum enteng


"Lo gak budek kan?! Gue bilang keluar!! Gue gak butuh bantuan iblis berwujud manusia kayak lo!! Gue benci lo Jerry! Pergi lo!! Hiks.. " Jerit Kian saat Jerry tak kunjung mendengarnya, dan dorongan itu tak mengubah posisi dari Jerry sendiri.


Krak


Brakh


Jerry di seret keluar dari toilet itu. Membuat Jerry tampak begitu marah. Melepaskan tarikan itu dengan paksa, dan hendak menghajar si mpu yang menariknya.


Huph


Pukulan ditahan olehnya, dan kemudian menghempaskan kepalan tangan itu. Ia kembali ke toilet memberikan satu stel pakaian olahraga pada Kian. Kian hanya menerima tanpa berucap. Lalu orang itu menutup pintu toilet dan langsung di kunci oleh Kian sendiri.


"Mau jadi pahlawan kesiangan lo hah!!" Garamnya


"Lo yang mau jadi penjahat? Lo tau itu toilet cewek, kenapa lo masuk? Maksa seorang cewek lagi. Ini sekolah bukan tempat lo yang biasa buat ngelakuin hal itu."


Geram dengan kalimat yang dilontarkan Devan, Jerry langsung melayangkan satu pukulan ke wajah Devan dan itu berhasil mengenai wajahnya hingga lebam. Devan hanya diam tak membalas, yang kemudian Jerry melayangkan pukulan kedua langsung ditangkis Devan. Devan membalikkan keadaan, dengan menyikut Jerry. Memojokkannya ke dinding dan menahan leher Jerry dengan lengannya.

__ADS_1


"Kurang ajar lo Devan!!" Pekiknya


"Yang kurang ajar itu lo. Ngapain di toilet cewek sampai Kian nangis hm?! Lo apain dia!!!"


Kedua orang itu terus bergelut, saling memukul satu sama lain. Tak lupa juga saling menyalahkan antar keduanya, sampai datang satu orang memisahkan mereka berdua. Menarik paksa keduanya agar menjauh dan berhenti bertengkar.


"Kalian berdua apaan sih?! Gila ya?! Sekolah, ini sekolah Devan, Jerry! Ngapain kalian berantem hem? Mana di depan toilet cewek lagi! Kalian rebutan ngintip cewek ya?! Ngaku kalian?" Paksanya


"Gak!!" Serentak mereka berdua, membuat perempuan itu terkejut.


"Terus kalian ngapain? Curiga gue? Bukannya masuk kelas masing-masing buat belajar malah gelud di sini."


"Feb, di dalem ada Kian. Temenin dia ke UKS kalo dia udah keluar." Titah Devan


Febbry diam sejenak memandangi Devan tak percaya, selama hidupnya bahkan satu sekolahan dengan Devan, baru kali ini Devan bicara dengannya.


"Febbry!!" Tegasnya


"Eh iya, Kian di dalem?! Ngapain? Pantes aja dia di cariin gak ada, masuk kelas juga gak. Terus kalian....?" Memandangi Devan dan Jerry bergantian


"Cepet!"


Febbry langsung menggedor pintu toilet itu dengan keras membuat si mpu yang di dalamnya langsung membuka pintu setelah Febbry menyebutkan nama dirinya.


"Ki lo kenapa?" Sambutnya dengan tanya yang begitu khawatir


"Gue gak apa-apa." Kian menyunggingkan senyum simpul. Febbry langsung menuntun Kian menuju UKS, takut Devan akan meneriakinya lagi. Meninggalkan kedua orang yang masih berada di depan toilet. Melihat Kian dengan begitu lamat. Sampai di tegur oleh Febbry, hingga mereka berdua bubar.


___________


Jam istirahat berbunyi, semua siswa dan siswi berhamburan ke luar ruangan. Sepanjang pelajaran Devan tak masuk kelas semenit pun. Sedangkan Kian masih menghabiskan waktu di UKS yang juga tak masuk kelas. Ditemani oleh Febbry, menceritakan semua yang terjadi padanya.


Setelah dari bascame, Devan turun hendak pergi menuju UKS berniat melihat keadaan Kian yang ia tinggalkan tadi. Namun,


"Wah, anak last rank Ndre. Kayaknya dia serius sama tantangan dia." Cibir salah satu orang yang ada di kelompok itu. Yah, Devan dan Andre the geng berpapasan di tengah tengah koridor.


"Hahaha... Iya nih. Jauh loh dari peringkat terakhir ke peringkat dua puluh lima. Kerja keras banget lo ya bro. Salut gue." Sambil menyulut bahu Devan


"Ndre, saingan lo bukan orang biasa nih. Dia juga gak main-main sama tantangannya. Cuma dalem satu bulan aja nilainya udah naik."


"Dia mau seberapa usaha pun dia gak bakal bisa kalahin gue. Hahaha... last rank aja, gak bakal semudah itu." Remehnya dengan senyum smirk.


Devan hanya mengangkat sebelah alisnya, "Takut?"


"Weh dia nantangin Ndre." Sahut temannya.


"Minggu depan ketentuan last renk. TO lo gede bukan berarti ujian lo bisa gede. Jadi gak usah sombong lo. Hahahaha... Siap-siap aja lo kalah dan tanggung resikonya."


"Cuma nilai ujian, itu bukan ketentuan. Tapi kalo lo mau sih gak apa-apa. Ambil aja tuh nilainya. Kalau gue sampai bisa kalahin lo dalam nilai ujian bukan berarti gue mau bener-bener kalahin lo. Tapi karna ada orang lain. So dude, kita liat aja nanti. Gak perlu takut sama gue. Gue kan cuma last rank, hn?" Ucapnya dengan smirk lalu meninggalkan kawanan itu dengan wajah yang kesal.


Ia berjalan santai seperti tak ada yang terjadi sebelumnya, bahkan dengan wajah yang sudah lebam karena pukulan Jerry tadi.


.


.


.


.

__ADS_1


.


tbc


__ADS_2