
Kian berjalan ke arah lokernya, untuk mengambil beberapa buku yang memang ia taruh di sana dan jarang di bawa pulang.
Namun ntah kenapa, sepanjang perjalanannya bahkan ketika ia sampai di depan loker, semua orang masih menatapnya aneh. Jam istirahat seperti sekarang ini kadang jarang koridor kelas bisa ramai, karena banyak siswa siswi akan berkumpul di kantin. Namun tidak dengan hari ini. Seperti ada sesuatu.
Karena merasa tak ada yang salah dengan dirinya, Kian tak terlalu perduli. Ia memiliki prinsip, jika orang lain tak menganggu maka ia pun begitu. Hanya menatap, takkan membuat seseorang langsung kena serangan jantung bukan? Seperti itulah pikirnya.
Clak
Kunci loker sudah terbuka, dan....
Crash
Banyak sampah keluar dari lokernya. Kian menjadi tersentak kaget, selama ia sekolah baru kali ini ia mengalami hal seperti ini. Ia mengoreksi dalam diam, ia merasa tak berbuat salah dengan orang lain. Tapi? Kenapa hal ini terjadi.
"Hoooooohoooooooooo!!!!!!"
"Hahahaha!!!"
"Huuuuuuuuu!!!!"
"Ihh... Kenapa tuh? Ternyata ada sampah lain di sekolah ini!"
Sorakan dan teriakan yang begitu riuh terdengar di sepanjang koridor. Membuat telinga Kian terisi penuh dengan suara kebisingan yang menyakitkan itu.
Kian melihat buku-bukunya sudah kotor dan basah karena sampah. Ia tak memperdulikan orang beserta dengan sorakan yang dituju pada dirinya. Ia hanya fokus mengeluarkan semua sampah di dalam lokernya lalu membuang sampah itu ke dalam tong sampah.
"Hey!! Kenapa sampahnya dibuang hm? Kan udah pantes disana. Lokernya lebih cocok jadi tempat sampah loh Ki." Ucap seorang perempuan tinggi dengan rambut di kuncir dua, wajah yang begitu cantik, simetri, hidung mancung kecil dan kulit putih bak seorang putri, dengan dua orang teman samping kanan dan kirinya, layaknya pengawal.
Berjalan anggun ke arah Kian dengan berkacak pinggang. Kian tak merasa terganggu sedikit pun, ia tetap membersihkan lokernya. Yang tentu saja membuat perempuan itu makin marah karena diacuhkan.
Sret
Tangan Kian ditarik olehnya, membuat Kian berhenti melangkah.
"Lo denger gak sih!! Atau lo budek!!" Bentaknya.
"Mau lo apa sih Vi?! Lepas!" Kian menghempaskan tangan itu, namun ia malah di dorong sampai jatuh ke lantai.
"Lo harus tau Ki! Betapa gue benci banget sama lo!"
"Terus gue harus apa? Lo mau gue ngapain atas rasa benci lo itu?" Terdengar suara Kian yang ketus. Ia sudah cukup lelah menghadapi sekelompok yang lagi-lagi adalah mereka yang sering membuat ulah pada dirinya. Kian sendiri tak tau apa salahnya hingga mereka selalu saja membully-nya.
Penuturan Kian barusan membuat Via menjadi tambah murka, ia menjambak rambut Kian dengan kuat membuat gadis itu meringis kesakitan.
"Gue mau lo enyah dari muka bumi. Karena lo tuh selalu jadi penghalang orang lain buat bahagia! Lo tau itu!" Bisiknya penuh penekanan.
"Maaf." Satu kata yang terucap dari kedua bibir mungil Kian, yang tambah membuat Via merasa geram padanya.
"Lo!!" Via yang geram, menambah jambakan itu semakin kuat seperti orang kesetanan. Ia hendak membantai Kian dengan membabi buta. Namun ada orang lain yang khawatir akan hal itu.
"Akhh!"
"Vi... Udah Vi..." Cegah temannya
Siswa siswi yang sedari tadi ada di lorong, melihat dengan seksama, sesekali bersorak ria. Bahkan ada yang memvideo mereka, membuat takut kedua teman Via.
"Kalian apa -apaan sih. Matiin gak kameranya!!" Titah salah satu teman Via yang mencoba menutupi kamera itu. Namun sayangnya lebih banyak yang menangkap kejadian itu dari tangannya.
"Hahah.. Ayo terus lanjutin!!"
"Wah bakal tambah seru nih! Ayo Ki lawan si Via, masa lo diem aja."
Dan masih banyak lagi kalimat yang dilontarkan di sana. Teman-teman Via berusaha memisahkan Via dengan Kian, menarik Via menjauh dari sana agar tak mendapat masalah.
"Vi, udah. Lo bakal di hukum sama guru BK kalo dia tau. Udah ah!!" Tarik temannya.
"Inget lo Ki! Ini semua baru permulaan!" Teriaknya lalu meninggalkan Kian yang masih terduduk tanpa ekspresi.
Ia membenarkan rambutnya yang sudah acak-acakan ulah Via, lalu bangkit dari duduk. Merapikan kembali seragam sekolahnya yang lumayan berantakan.
Tak ada air mata, tak ada ekspresi, dan tak ada keluhan apapun. Bahkan ia tak memperdulikan sekitar yang masih menggunjingkan dirinya. Tatapan mata itu seolah benar-benar kosong. Tak ada rasa apapun yang terpancar, tidak marah, tidak sesal, tidak ada apapun! Ia seperti manekin bernyawa.
Kian melangkah, meneruskan kembali membuang sampah yang ada di lokernya. Mereka masih asik memandangi Kian yang terlihat begitu menyedihkan. Sampai Febbry datang dengan terburu-buru, yang memeriksa keadaannya.
"Ki! Gue denger dari anak-anak lo di labrak sama Via ya? Lo diapain sama dia? Biar gue kasih pelajaran!! Gila ya! Kenapa dia nyari gara-gara sama lo sih." Ucap Febbry yang sibuk memutar-mutar Kian melihat ada yang tergores atau tidak.
"Gue gak apa-apa. Lagian gak separah itu juga. Lo tenang aja gue bisa..."
"Bisa apa ha? Maaf gue harusnya selalu ada di samping lo. Ini malah gue tinggalin lo sampai kena bully tuh trio garong." Ucap Febbry begitu menggebu-gebu. "Emang lo punya masalah apa sama geng garong?" Lanjutnya lagi.
"Gue juga gak tau. Udahlah. Mending kita ke kelas aja." Kian menarik Febbry untuk menjauh dari sana. Takut Febbry akan membalas perbuatan mereka jika berlama lama di sana, apalagi sampai di kompori oleh siswa siswi lainnya.
Berada di tingkat ini bukan hal mudah, semua bisa mempengaruhi kelulusan mereka. Baik dari segi nilai maupun sikap dan perlakuan. Ia tak mau hanya gara-gara permasalahan ini, akan mempersulit kelulusan mereka dan menuju tingkat selanjutnya.
__ADS_1
________
Bel pulang berbunyi, seperti biasa semuanya akan keluar berhamburan untuk pulang.
Febbry dengan posesifnya menggandeng tangan Kian. Membuat Kian sedikit risih dan merasa terheran. Bahkan ia sampai menempelkan telapak tangannya di dahi Febbry.
"Ish! Apaan sih Ki. Pokoknya lo pulang sama gue. Gue gak mau lo sampai kenapa napa." Tegasnya, yang membuat Kian menjadi sedikit gugup. Ia takut kalau Febbry akan tau jika ia tak lagi tinggal di rumah itu.
"Gue masih harus ke toko dulu. Mending lo pulang duluan deh."
"Gak apa-apa. Gue bakal anter lo kemana aja lo mau. Lagian gue gak mau lo sampai di ganggu grup garong lagi." Entengnya, Kian berusaha keras untuk mencari alasan apa lagi yang bisa ia gunakan untuk menolak permintaan Febbry.
Tak lama kemudian Devan keluar kelas dengan wajah datarnya namun langsung di serang oleh Febbry. "Ini nih dia orangnya! Eh Van, lo kemana aja sih! Kian digangguin grup garong bukannya di tolongin juga!" Roceh Febbry, namun Devan hanya menampakkan wajah datar seperti tak tau dengan apa yang katakan oleh Febbry.
"Apa sih Feb. Devan gak..."
"Ssst!!! Pokoknya dia salah. Lo harus pulang sama gue. Karena gue gak bisa percaya lagi ama nih anak." Febbry menarik lengan Kian. Tapi langsung di tahan oleh Devan.
"Kian balik sama gue." Dinginnya.
"Gak bisa. Lo gak bisa jagain Kian dengan becus. Gue gak mau nanti Kian sampai kenapa-napa lagi." Febbry sudah berjalan menyeret Kian.
"Eehh.... ehh... heh!! Lepas woy!!" Seketika genggaman Febbry menjadi terlepas dari tangan Kian. Sedangkan lehernya malah di kunci oleh lengan seseorang. Febbry memberontak, namun percuma saja.
"Woy!! Lepas nih!! Bisa mati sesak gue nantinya." Febbut memukul lengan gempal itu dengan terburu-buru.
"Gak. Lo pulang sama gue aja. Jangan gangguin orang lain Feb! Lo ikut gue pulang, urusan kita belum selesai!!" Orang itu menyeret Febbry, sedangkan Febbry sendiri mengulurkan tangan seperti meminta tolong pada Kian. Bukannya menolong Kian hanya diam.
"Kian udah ada Devan. Gak usah gangguin orang pacaran!" Ia terus menarik Febbry menjauh dari mereka berdua.
"Ayo." Devan menarik lembut tangan Kian.
Devan menuntun Kian dari sepanjang koridor sampai dengan naik bus. Genggaman itu tak kunjung lepas, sedikit canggung yang dirasakan oleh Kian saat Devan bertingkah seperti itu.
"Mau makan apa?" Tanya nya dengan suara lembut.
Kian sedikit tersentak saat suara lembut itu menyapa. Dilihatnya Devan memandang kearah luar jendela bus, ntah apa yang diperhatikannya. Ya, mungkin saja mencari tempat makan. Seketika Kian teringat dengan hutangnya.
"Emm.. Van. Kita gak usah makan di warung ya." Pinta Kian sambil berusaha melepaskan genggaman Devan.
Devan langsung menoleh ke arah Kian, menatap lekat wajah itu. Tambahlan Kian merasa sangat gugup. Sudah jarak yang begitu dekat, ditambah tatapan itu...? "Gak. Maksud gue, kalo makan di warung itu kan cuma bisa sekali aja." Ia membuka suara, untuk mengurangi kegugupannya.
"Lo bisa langsung pesen buat ntar malem." Entengnya.
"Gue cuma mau beli bahan mentah aja. Gue pinjem uang ya."
"Berapa?"
"50.000 aja."
"Cukup?"
"Cukup kok. Masukin aja dalam daftar hutang gue ya. Yah....yah..."
"Gak cukup kalo ke supermarket!"
"Gak kok. Kita ke pasar aja, yah" Mata Kian berbinar.
Tanpa bicara Devan langsung menepuk-nepuk jendela kaca itu, hingga membuat kernet bus menoleh. "Kita berhenti di sini pak." Ucapnya kembali dingin, membuat si kernet mengangguk dan memberi tanda pada sopir untuk segera menepi.
Ia membayar biayanya lalu menarik Kian dari bus. Kian tampak bingung dengan tingkah Devan yang kembali berubah menjadi dingin.
Kian sedikit merutuki dirinya yang seperti terlalu frontal pada Devan. Mungkin salah satu kata yang ia ucapkan membuat Devan tersinggung.
Setelah turun dari bus, Devan tetap menarik lembut tangan Kian. Berjalan kaki ke arah berlawanan, seperti ada yang terlewatkan tadi.
Setelah sampai di satu gang, mereka masuk ke sana. Kian memberanikan diri untuk bertanya padanya, "Van, kita mau kemana?" Cicit Kian, tak dijawab sama sekali oleh Devan.
Sampai ia kembali membuka suara, memanggil nama Devan beberapa kali, membuat Devan melirik tajam. Seketika ia kembali takut. "Ii..ii.. iya Gue gak ngomong lagi." Ucapnya terbata.
Sepuluh menit mereka berjalan, akhirnya sampai di suatu tempat yang sangat ramai. Begitu banyak sayur dan bahan bahan dapur lainnya terjajak di sana. Begitu bising dan bau amis serta sayuran segar menyeruak di sana.
Kian POV
Gue gak tau kenapa dengan Devan, yang tiba-tiba lembut ketika di sekolah sampai di dalam bus juga begitu. Genggaman tangannya tak kunjung lepas, buat gue malu diliatin orang orang. Jujur aja sih, sebenarnya gue deg-degan banget cuma gue gak mau dia tau.
Gue berusaha buat lepasin tuh genggaman, tapi setiap kali udah lepas dia bakal genggam lagi. Gue pasrah, karena sepanjang hari ini gue ngerasa kepala gue sakit banget. Jambakan Via tadi siang nggak main-main, sakit banget. Seharian di kelas gue diem buat nahan sakit. Devan juga gak banyak bicara sama gue. Setidaknya gue aman dan gak bohong sama dia. Hingga di satu kesempatan saat gue bilang gak mau, genggaman itu lepas. Buat gue lega banget.
Tapi... Anehnya, gue mungkin udah nyakitin perasaan Devan lagi. Wajahnya berubah dingin drastis. Dia berhintiin tuh bus, dan kami berdua pun keluar.
Lagi dan lagi dia genggam tangan gue. Gue gak tau dia mau kemana, gue juga mau nanya tapi masih takut.
Sampai di suatu gang, gue beraniin buat nanya ke dia. Tapi dia malah diem, gue juga udah beberapa kali panggil nama dia dan nanya, tapi dia malah ngelirik gue dengan tatapan tajam.
__ADS_1
Gue langsung cepet-cepet buat tutup mulut dan yakini dia gak bakal tanya lagi. Terus jalan dalam kesepian, dan akhirnya kita sampai di satu lapangan luas, dengan beberapa bangunan.
Begitu ramai, dengan bau amis menyeruak dan penuh dengan sayuran juga. Gue ngelirik Devan yang menatap lurus tempat itu. Tingkahnya yang menurut gue aneh, bisa nurutin gue juga. Huh... Setidaknya keras kepala dia gak muncul sekarang itu lebih baik. Dan utang gue gak tambah bengkak sama dia.
Dia narik tangan gue buat masuk ke wilayah itu, gue pun dengan senang hati nurut walaupun badan gue rasanya capek banget. Hingga kita sampai di depan stand jualan seorang ibu yang lumayan udah tua.
Si ibu langsung senyum sumringah ketika melihat Devan. Gue sampai bingung kenapa? Kenalan Devan lagi nih kayaknya.
"Eh.. nak Devan. Udah lama gak ke pasar ini. Sama siapa? Pacarnya ya?" Ujarnya mandang gue dengan senyum penuh arti.
"Bu.. bukan bu. Saya cuma temen Devan kok." Tukas gue.
"Oh gitu, kirain neng. Habisnya neng cakep banget sih."
"Hahaha.. ibu bisa aja." Ucap gue, yang mungkin sekarang wajah gue udah merah banget gara-gara ini.
"Gimana kabarnya bu?" Devan membuka suara.
"Baik nak, alhamdulillah. Kalo kamu?"
"Syukur kalo gitu. Devan juga bu."
Mereka sedikit berbincang bincang, sedangkan gue masih sibuk buat mikirin sayuran sama beberapa bumbu dapur. Gue sempet berfikir kalo dua orang ini saling kenal bahkan sangat dekat kayaknya. Karena Devan jarang banget mau ajak ngomong orang asing.
"Oh ya, gimana kabar ibu kamu?" Tanyanya yang kemudian langsung merubah ekspresi Devan.
"Mama... mama udah gak ada bu." Ucapnya dengan senyum. Gue tau itu pasti senyum palsu, biar gimana pun Devan sayang banget sama mamanya. Bahkan saat acara pemakaman itu dia gak berhenti buat nangis.
Gue tau rasanya pasti sakit banget, gue juga bakal terpuruk kalo sampai hal itu kejadi sama gue. Tapi amit-amit, jangan sampe gitu. Walaupun mereka kayak gak peduli sama gue, gue yakin mereka sayang kok. Cuma cara penyampaiannya aja beda.
"Maksudnya gimana ya nak?" Tanya si ibu meyakinkan, sepertinya ia juga tau maksud Devan hanya saja ingin meyakinkan apa yang dikatakan Devan itu.
"Mama udah meninggal bu. Beberapa bulan lalu." Sendunya namun dengan seluas senyum.
"Innalillahi wainnaillahi raji'un, maaf nak ibu gak tau." Si ibu terlihat begitu bersalah.
"Gak apa-apa kok bu. Gue tunggu di depan. Dan nih." Ucap Devan kasih gue dua lembar uang seratus ribu dan ninggalin gue gitu aja di sana. Gue mau bilang banyak cuma dia langsung aja nyelonong kabur.
Gue liat tuh ibu, ngeliat punggung Devan yang berlalu pergi. Jujur aja gue ngerasa gak enak banget karena hal itu. Gue pun berusaha memecahkan kecanggungan itu.
"Emm.. cabe rawit berapa bu?"
"Eh.. iya cabe rawit atau ons 5 ribu neng." Ujarnya, gue pun ngangguk.
"Maaf ya neng, bilang nak Devan. Ibu jadi gak enak."
"Iya bu. Devan emang masih belum bisa terima itu sepenuhnya bu. Oh ya ibu kenal Devan....?"
"Dia sama mamanya sering datang kemari, makanya ibu tau. Ibu juga tau kalau mamanya sakit-sakitan. Tapi ibu gak tau kalo mamanya udah.... Nak Devan tuh orang yang bertanggung jawab banget terus juga mandiri."
Lagi... Ibu adalah orang kesekian yang bilang gitu. Gue makin percaya sama sikapnya yang gitu.
"Iya bu. Banyak yang bilang juga. Em.. Ibu jangan khawatir Devan baik-baik aja kok bu. Dia juga gak tersinggung sama ibu cuma mungkin lagi gak mau bahas itu aja bu."
Terlihat wajah si ibu yang cemas dan khawatir. Hanya mengangguk sebentar lalu kembali menatap sayuran yang ada di depannya.
"Jadi berapa bu semuanya?"
Setelah membayar belanjaan yang kurang dari seratus ribu itu, gue keluar dari arena pasar. Si ibu juga kasih beberapa barang, dia bilang sebagai permintaan maaf. Gue pun mengiyakannya, dan langsung keluar dari sana.
Kaki gue melangkah buat cari Devan yang gak nemu dari tadi. Setelah lama cari, akhirnya gue nemu dia, yang lagi duduk di bangku ayunan dekat pohon besar. Lumayan jauh dari sana.
Gue langsung hampirin dia. Menepuk bahunya, seketika ia langsung gelagapan seperti ada yang terjadi sebelumnya.
"Udah?" Tanyanya, gue ngangguk dan natap wajah dia.
Keliatan mata dia tuh merah, kayak abis nangis. "Lo kenapa? Ada yang sakit?"
"Gak, yuk pulang." Ajaknya langsung menggandeng tangan ini. Lagian kita juga gak bisa lama-lama, harus masuk kerja sebentar lagi.
end-
.
.
.
.
.
tbc
__ADS_1