Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)

Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)
#35


__ADS_3

Kian tersadar dari lelapnya dengan Gio masih bersandar di pelukannya. Melihat sekeliling yang sepi dan tak lupa ia memandang Bedside monitor untuk melihat keadaan mamanya yang terlihat normal seperti sebelumnya. Ia melihat ruangan itu masih belum muncul juga batang hidung Devan. Ia sedikit khawatir namun ia juga tak mau mengganggu Devan. Apalagi ia tau anak itu juga tidak akan menjawab telpon dari dirinya.


Ia ingin menggenggam tangan di depannya itu. Terlihat begitu sangat pucat dengan selang infus masih melekat di sana. Belum sempat tangan kian meraih, jari jari itu sudah bergerak membuat Kian senang melihatnya. Begitu juga dengan kelopak matanya, yang mulai bergerak perlahan. Kian yang senang langsung membangunkan Gio dan hendak pergi untuk memanggil dokter. Namun Zanna sudah memanggilnya terlebih dulu. Membuat kian berhenti dan menggenggam tangan rapuh itu penuh sayang dan berhati hati.


Gio yang tersadar langsung turun dari pangkuan kian dan berjingkrak senang melihat mamanya yang telah terbangun. Setelah begitu lama tertidur.


Di arena balap yang masih terguyur dengan shower raksasa itu ada seseorang yang sedang berusaha untuk meraih kemenangan. Namun hal itu tidaklah mudah. Jalanan yang licin dan harus mengalahkan para pembalap senior itu serasa begitu sulit baginya. Namun ketika bayangan mamanya yang tersenyum kembali terputar di pikirannya membuatnya kembali bersemangat.


Hujan yang semakin larut semakin deras membuat jalan itu licin menyebabkan beberapa pembalap lain tergelincir bahkan hampir di tabrak oleh Devan. Posisi yang masih berada di urutan terakhir dengan dua orang pembalap tergelincir. Satu orang tergelincir di jalanan hampir di tabrak oleh pembalap lain dan satu lagi menabrak pembatas yang ada di samping jalan sampai motor itu terpental dan meledak.


Membuat Devan sedikit menelan saliva, begitu brutalnya balapan ini bahkan sangat berisiko. Ia melihat papan layar yang begitu besar menampakkan mereka yang sedang balapan, dan terlihat di sudut kanan putaran yang terhitung menyisakan 2 putaran terakhir dari sepuluh putaran menuju finish.


Ia sedikit gugup dengan kenyataan ia masih berada di posisi ketujuh dari delapan pembalap tersisa. Dengan penuh resiko ia menginjak Porsneling dan menarik gas motor penuh keyakinan, hingga akhirnya ia bisa menyusul pembalap keenam dan kelima. Semua orang yang menonton sedikit terkejut dengan Devan yang bisa menyusul pembalap senior di depannya.


Balapan berlanjut dengan adegan saling salip menyalip antara mereka. Hingga pada Last Lap Devan menerobos menyalip dua pembalap di depannya. Dan....


Pritttt......


Balapan selesai dengan juara pertama adalah juara bertahan dalam balap itu sedangkan yang kedua adalah Devan yang membuat sebagian orang terpukau bahkan melongo.


Mereka yang juara di suruh naik ke atas panggung. Dan menerima hadiah yang seharusnya diterima. Devan yang mendapat juara dua, tentu tidak akan mendapat uang lima ratus juta itu. Namun hanya menerima seratus juta kurang dari itu.


Walaupun menang, Devan masih tampak dengan wajah datarnya bahkan otaknya harus berpikir bagaimana ia harus mendapatkan uang yang kurang itu.


"Gila Van. Lo hebat banget, bangga gw. Selamat ya bro." ucap Mikko yang menyambut Devan turun dari atas panggung dan langsung berjabat tangan ala mereka sambil berpelukan singkat.

__ADS_1


Devan berjalan sedikit terburu buru karena harus pulang dan diiringi dengan Mikko juga. Namun mereka berdua terhenti ketika ada suara bass yang memanggil mereka.


"Hei Nak. Kau mau kemana?" tanya seseorang itu dengan suara yang sedikit menakutkan. Membuat kedua remaja itu berhenti dan berbalik.


"Apa kau tidak tertarik untuk merayakan kemenangan mu ini bersama kami hn?"


Mikko sedikit gemetar melihatnya, namun berbeda dengan Devan yang terlihat datar. Bagaimana tidak, orang itu bertubuh tinggi dan gagah. Ditambah lagi dengan kumis, jenggot serta jambang yang melekat di sekitar dagunya terlihat begitu garang dan seriusnya wajah orang itu. Orang itu juga seperti sudah berumur kepala tiga. Otot otot lengannya yang begitu besar dan kekar lebih terlihat seperti seorang petinju dari pembalap liar kelas atas. Belum lagi pakaian yang serba hitam bahkan sangat berbeda dari yang mereka pakai.


"Tidak, terima kasih." ketusnya.


"Apa yang menbuatmu menolak? ada hal pentingkah. Oh Ayolah uang yang ada di tangan mu itu senilai empat ratus juta. Itu bukan sedikit untuk dihabiskan sendiri. Dan aku juga sedikit tertarik dengan dirimu. Kau bahkan baru masuk hari ini, namun sudah bisa mengalahkan pembalap lain yang jauh lebih senior dari mu. Bahkan kau bisa merebut nomor dua malam ini. Tidak kah kau tertarik berbicara padaku?" ucap orang tersebut sambil berjalan mendekati Devan dan Mikko.


Ia mengulurkan tangan di depan Devan. "Kenalkan aku George Govanie. Dikenal sebagai GG, pemilik dari area balap ini..."


Namun bukannya membalas atau menerima uluran tangan itu, Devan hanya menatap tangan dan wajah George secara bergantian. "Devan Kavindra Bagaskhara." ucap nya tanpa mengulurkan tangan.


"Hei!! Kau remaja yang tidak ada sopan santun sama sekali pada orang yang lebih tua di tambah lagi pada tuan George. Kau tau?! bahkan kau saja mampu ia beli, bocah ingusan." ucap bawahan George. Bahkan para bawahannya ingin menangkap Devan. Namun ditahan oleh George.


George yang sudah menarik kembali tangannya, kembali berucap,


"Seperti tak asing dengan nama itu. Tapi sudah lah. Sepertinya kau amat terburu buru, padahal aku ingin sekali menawarimu kerja sama. Apa kau tak tertarik?" tanya dengan wajah yang sedikit remeh.


"Apa benar kau sekaya yang dibilang oleh bawahanmu itu?" tanya Devan, sontak hal itu bukan hanya membuat orang lain membulatkan mata begitu juga dengan Mikko temannya. Tentu dia sangat takut dengan hal yang ditanyakan oleh Devan. Terlihat begitu meremehkan George yang ada di hadapannya.


"Van, lo gila ya nanya gitu ke dia?" kesal Mikko yang pada Devan. Namun Devan tak menggubrsinya sama sekali.

__ADS_1


Mendengar pertanyaan itu George tersenyum miring.


"Yah tentu. Ada hal yang ingin kau tau lebih lagi?!"


"Tidak. Kalau begitu kau tentu bisa membeli motor ini bukan?" tanya nya dengan menepuk tepuk jok motor tersebut.


"Hmm... Hanya motor? Bahkan di gudang rumahku juga banyak yang seperti ini. Untuk apa aku membelinya bocah.?!"


"Kau bilang kau kagum padaku karna bisa memenangkan balap ini walaupun hanya berada di posisi ke dua. (Tampak George mengangkat sebelah alisnya untuk menyetujui yang dikatakan Devan). Asal kau tau saja yang berlomba sebenarnya bukan aku melainkan motor ini. Jadi jika kau kagum dan tertarik maka seharusnya pada motor ini bukan padaku." tatapan antara George dan Devan bertemu. Sama sama dingin bahkan mata itu hampir memiliki kesamaan.


"Bukankah begitu Tuan George?" lanjutnya dengan nada seperti mengejek.


"Hen... bocah kau tidak takut sama sekali padaku hm? Bahkan aku bisa memotong kepala seseorang di depanku saat ini juga."


"Untuk apa aku takut? kau hanyalah manusia biasa yang memiliki banyak uang. Jadi kutanyakan satu kali lagi. Mau atau tidak kau membeli motor ini? jika tidak maka aku akan pergi. Jangan membuang waktu ku tuan George."


"Sangat sombong. Berapa harga yang kau mau?"


"Dua ratus juta."


"Hei apa kau gila bocah. Barang rongsokan itu tidak sebanding dengan harganya." jawab bawahan george kesal.


"Kenapa? aku rasa tidak akan membuat jatuh miskin seorang Tuan George Govanie bukan?" tanya nya dengan wajah tanpa dosa.


"HEH BOCAH SUDAH CUKUP OMONG KOSONGMU ITU!!! KAU BISA MASUK NAMUN KAU TIDAK AKAN BISA KELUAR DARI SINI.!!" Ucap bawahannya meninggi.

__ADS_1


__ADS_2