
Mentari bersinar begitu terang hari ini, mengantarkan para orang tua dan anaknya memasuki pekarangan sekolah yang begitu luas dan menikmati beberapa sambutan dari para osis. Suasana yang begitu ramai dan meriah yang juga menjadi pengiring mereka yang masuk.
Mereka yang masuk langsung dipersilahkan duduk di tempat yang sudah disediakan. Kian melihat itu dari kejauhan tersenyum tipis, dari banyaknya orang yang datang bahkan tak ada satu pun yang akan mendampinginya. Sedangkan orang tua dari siswa siswi lain begitu antusias bahkan sampai datang keduanya.
Seulas senyum itu tambah mengembang kala ia berpapasan dengan sahabatnya Febbry dan mamanya, sedangkan papanya lebih memilih untuk mengobrol dengan kepala sekolah. Ya, tidak heran orang tua Febbry merupakan donatur di sekolah itu. Akan sangat lumrah jika dua orang bersahabat, maka orang tuanya juga bersahabat. Namun hal itu tak berlaku bagi Kian dan Febbry.
Orang tua Febbry sangat ramah bagi Kian, berbeda dengan orang tuanya yang bahkan ketika Febbry datang ke rumah saja tak banyak bicara di sana. Orang tua Kian sangatlah dingin sampai beberapa kali berpapasan tak ada pembicaraan di sana. Jangankan untuk bicara panjang lebar, berbasa-basi saja rasanya sangat sulit.
"Hai Kian. Bagaimana kabar mu? Sudah lama kita tak berjumpa. Lalu dimana orang tuamu? Mereka datang berdua atau sendiri?" Cerca wanita yang berpakaian sangat modis nan glamor, seolah memberitahukan bahwa ia berada di kelas atas. Tak lupa dengan kacamata hitam yang melekat di batang hidungnya.
"Alhamdulillah Kian baik kok tante. Tante sendiri bagaimana?"
"Yah, seperti yang kamu lihat. Saya sangat sehat. Dimana orang tuamu?"
Kian nampak ragu untuk menjawab, namun ia tau kenyataannya juga bahwa berharap pun tak mungkin. Kadang ia menertawai dirinya sendiri, yang terus berharap bahwa orang tuanya akan datang, tapi ia sendiri tak pernah mengatakan itu pada orang tuanya. Ia bahkan terlalu takut untuk pulang dan mengatakannya.
"Mereka gak dateng tante."
"Kenapa? Apa mereka terlalu malu karena anak kesayangannya sudah tak lagi berprestasi seperti dulu?" Tanyanya enteng, membuat Kian menunduk dan menelan senyum pahit saat itu.
"Ma.. Febbry ngajak mama ketemu Kian cuma buat nyapa Sahabat Febbry ya bukan buat ngomong gitu." Kesal Febbry yang berada di sampingnya. "Ki, maafin mama gue ya.."
"Buat apa kamu minta maaf sih sayang. Kan memang bener. Lalu kenapa nilaimu seperti itu Kian? Apa kalian punya masalah hingga kamu tak sebaik dulu? Ahhh ya.. Mungkin orang tua mu terlalu banyak menuntut dan mengekangmu ya? Atau bahkan ada faktor lain? Seperti mereka tak lagi memperhatikanmu?"
Kian tetap diam dan tersenyum tipis, mendengar semua ocehan dari mamanya Febbry. Ia tau bahkan setengah dari pernyataan itu benar, namun apa yang bisa dikatakannya.
__ADS_1
"Mama udah cukup!! Bisa gak kalo ketemu Kian gak usah bahas orang tuanya." Febbry menggerang marah.
Ia juga tau sebenarnya hubungan di antara orang tuanya dan Kian tak terlalu baik, tapi menurutnya apa ada yang salah dengan Kian? Ketidaksukaan orang tuanya terhadap orang tua Kian tidak harus berikut dengan pandangan yang sama terhadap Kian pula, bukan? Tapi sepertinya dia salah, mamanya terlalu memotong rata pandangan hingga Kian terkena imbas pula.
"Loh mama cuma mencoba ramah sama dia Febbry. Gak seperti orang tuanya yang selalu mengabaikan orang lain. Tante sangat berduka karena masalah yang kamu alami akhir-akhir ini Kian, dan tante juga turut bersedih karena prestasimu yang anjlok. Tapi tak apa kamu masih bisa memperbaikinya. Kamu bisa berusaha lebih keras lagi untuk dapat sesuatu yang kamu inginkan walaupun kemungkinan mendapatkannya sangatlah kecil." Senyum tipis itu terukir di sana.
"Mama, dari pada menghina Kian terus ayo kita pergi. Febbry yang malu karena mama ngomong gitu. Maaf ya Ki, maaf banget." Febbry mulai menyeret mamanya pergi dari hadapan Kian yang hanya tersenyum namun tidak bisa membalas satu kalimat pun yang terlontar pada dirinya.
"Hehe... Gak apa-apa kok Feb. Makasih Tante." Ucap Kian sendu.
Ya wajar saja orang tua Febbry marah padanya, ia tau jika orang tuanya juga sering berkata hal yang tidak baik juga pada orang tua Febbry. Ia juga merasa malu karena ucapan orang tuanya terlebih lagi ayahnya, ia bahkan sudah sering meminta agar hal tersebut tak terjadi lagi. Namun percuma saja....
Kian berjalan ke kelas, melirik kembali ke luar jendela melihat banyaknya para orang tua yang duduk di samping anak mereka. Senyum merekah, sangat menampakkan kasih sayang di sana.
Hampa ~Kian
"Kian!!!" Teriak seseorang dari luar kelas, membuat Kian terlonjak kaget dan berbalik.
"Kenapa?"
"Itu ada yang cariin lo!"
Seketika tubuhnya menjadi gemetar, takut itu orang tuanya yang akan menyeret dirinya pulang dan memaksakan pernikahan itu. Atau bahkan yang lebih parah itu adalah Jerry dan keluarganya. Selama di sekolah Kian terus saja menghindari Jerry, bahkan ia selalu berada di dekat Devan untuk berlindung. Namun bagaimana dengan sekarang? Bahkan Devan tak datang ke sekolah. Ntah apa yang bisa ia perbuat untuk menghindari Jerry saat ini.
Mungkin sangat terlalu jahat bagi Devan, jika Kian menganggapnya tameng agar Jerry tak mendekat. Tapi itulah kenyataannya. Di saat Kian berada di dekat Devan, Jerry juga selalu menghindar. Kian merasa terselamatkan akan hal itu. Dan satu hal lagi, kenyataannya bahwa Kian merasa nyaman saat berada di dekat Devan.
__ADS_1
"Ki!! Ngapain lo bengong?! Ayo!"
Teriakan itu berhasil membuyarkan lamunan Kian. Ia berjalan keluar kelas segera walaupun dengan perasaan yang ragu serta pikiran yang ntah sudah melalang buana kemana.
Saat ia tiba, sepasang suami istri tersenyum simpul ke arahnya. Wajah Kian nampak sedikit bingung dan terus bertanya. Kenapa mereka berada di sekolahnya? Bagaimana mereka tau? Dan untuk apa mereka datang?
Bahkan wajah itu sangat kentara akan kebingungannya, tapi Kian tetap terus melangkah mendekati mereka yang berdiri tegap di samping tiang koridor. Mata yang begitu memancarkan binar, dan genggaman yang seakan tak pernah ingin terlepas, membuat mereka terlihat begitu romantis.
Walaupun wajah Kian tampak kaku tapi ia tetap membalas senyum manis mereka. Senyum hangat bagai tanpa ada beban. Kian selalu ingin jika senyuman itu juga ada pada kedua orang tuanya.
Aku juga ingin melihat senyum ini suatu hari nanti dari mereka untukku ~Kian
.
.
.
.
.
.
#tbc*
__ADS_1