Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)

Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)
#110


__ADS_3

Kian Dan Devan memasuki sebuah hotel, menghampiri sang resepsionis dan lanjut masuk lagi setelah mendapatkan alamat dimana mereka harus mengantar pesanan itu.


Dan saat sampai, tampaklah ruangan yang begitu megah, dekorasi yang begitu indah, dengan beberapa orang yang sepertinya kolega bisnis dari sang punya acara yang sudah hadir di sana. Tak hanya ruangan dan orang orang yang ada di sana yang terlihat berkelas, ternyata makanan nya pun.


Bahkan beberapa disana Kian melihat ada makanan dari brand ternama. Lalu di sampingnya lah, makanan dan minuman dari Cafe tempat mereka bekerja dihidangkan. Tertata begitu rapi dan indahnya di meja panjang terbalut kain putih yang begitu bersih.


"Wah gila Van, lo liat dong makanannya enak enak banget. Sumpah sih ini, mana menu kita ada di samping brand terkenal lagi. Bangga gak lo?" Kian tak percaya sambil terus menyajikan makanan dan minuman itu di sana.


"Gak usah norak!" Tegas Devan yang hanya dibalas nyinyiran dari Kian.


Setelah selesai mereka langsung keluar lagi, sepintas Kian kembali melihat seisi ruangan itu dengan masih berjalan. Begitu elegan nan indahnya, ia sangat terkagum kagum. Hingga ia tak sadar ada seorang pelayan yang hendak lewat, dan hampir ditabraknya.


Huph


Devan menarik Kian, hingga seolah memeluknya. "Kian,,," Suara sedikit menggeram itu terdengar. Yah, kali ini Kian paham, pasti ia akan dimarahi oleh Devan. Sebab keteledoran nya, terdengar sekali dari nada panggilan yang tak biasa itu.


"Maaf Van, gue cuma liat ruangannya bagus banget. Lagian kalo cuma buat ketemu rekan bisnis, sampe kayak gitu banget. Kayak udah mau lamaran aja." Roceh Kian dengan begitu terkagumnya


"Tapi jangan segitunya juga, norak lo. Kayak gak pernah liat beginian"


"Emang gak sih. Gue gak pernah kemana mana, lagian yang kaya itu orang tua gue bukan gue." Cueknya, "Gak kebayang gue, kalo acara nikahan kayak gini beuh, keren pasti." Lanjutnya lagi


"Lo mau nikah? (Kian mengangguk), Emang udah ada calonnya?" Kian pun menggeleng. "Hah! Mimpi aja lo kutu buku!!" Kian melirik kedua kakinya, menunduk menatap lantai itu. Sudah lama ia tak mendengar julukan itu dari Devan, semenjak mereka dekat, Devan selalu memanggil namanya. Terasa begitu biasa.


"Lo masih inget gak Van, kakek dan nenek yang nyamperin kita malam itu?" Tanya Kian yang masih menunduk


"Hn, iya masih. Kenapa?"


"Kelihatan banget ya hidup mereka aman dan tentram. Penuh kehangatan dan harmonis banget. Gue pengen ngalamin itu juga Van, sama seseorang yang bisa di sebut sebagai jodoh gue. Cerita, canda, dan tawa kayak gak ada beban. Ngehabisin sisa hidup sama orang yang disayang, selalu di samping kita kalo lagi susah, senang, sedih bahkan duka. Tapi kapan? Masih lama kali ya? Kalo masih lama, gue mau liat orang tua gue aja yang gitu, hehehe.. Liat mereka tentram, adem ayem aja gue udah seneng." Mata Kian terasa begitu perih saat itu, membayangkan kehidupannya seperti mimpi yang ia rangkai satu per satu.


"Ki?" Tegur Devan, membuat Kian tersadar.


"Eh, iya. Gue mau ke toilet dulu bentar Van. Tunggu ya, gue kebelet. Bye" Kian segera pergi tanpa melihat wajah serta ekspresi Devan, ntah seperti apa itu ia tak tau. Ia berjalan menjauh dari Devan, tak mau jika ketahuan menangis saat ini yang ia mau hanya menyelamatkan diri ke toilet. Menumpahkan semunya di sana tanpa ada orang lain tau.


Brukh!!


Tak sengaja Kian menabrak bahu seseorang yang begitu kokoh dan lebar saat berada tak jauh dari toilet. Hal itu juga membuat sapu tangan orang tersebut tak sengaja terjatuh, membuat Kian menunduk dan mengambilnya, "Sorry.." Ucapnya


Kian mendongak dan tak lupa juga meminta maaf, karna ia yang salah karna sudah menabrak orang tersebut. Dilihatnya orang tersebut begitu tinggi, dan tak terlalu putih, dengan jambang yang menghiasi sekitaran dagunya. Tegap dan kekar, itulah yang tergambarkan oleh Kian.


"Maaf tuan saya yang salah." Kian menunduk beberapa kali serta meminta maaf.


"Oh, no problem. But, are you okey?" Tanya nya sambil menunjuk kearah hidung. Kian sempat memandang sebentar lalu mengikuti arah pandangnya. Tangannya reflek menyentuh bagian hidupnya, dan.... darah??


"Maaf Tuan, saya harus pergi. Sekali lagi maaf kan saya. Saya tak sengaja. Dan ini, sapu tangan anda tak sengaja terjatuh karena saya." Setelah memberikan satu tangan itu Kian buru buru berjalan menjauhi orang tersebut


"Hey, little girl. Don't you want to go to the hospital??" Tanya nya sedikit berteriak, dengan cepat Kian menggelengkan kepalanya.


Di sisi lain, ada Devan yang sudah menunggunya. Duduk dan berangkat, namun Kian tak kunjung kembali, hingga ia memilih menyusul Kian yang pamit pergi ke toilet itu.


___________


"Hey, kau! Dari mana saja kau? Sudah ada beberapa kolega yang datang ingin menemui mu." Seseorang menghampiri nya di sana.


"Maaf, aku baru saja pergi ke toilet."

__ADS_1


Tak lama ia melamun sebentar, melihat seseorang lewat. Seseorang yang ia kenal.


"Hey!! Ayolah. Ada apa denganmu? Apa ku baik baik saja?"


Lamunannya pun tersadar, "Yah, mungkin aku salah lihat saja. Ayo masuk."


__________


"Ki?" Panggilan itu langsung menyapa ketika Kian baru aja keluar dari toilet. Ia begitu terkejut mendapati Devan yang berdiri di samping pintu toilet.


"Eh Van, ngapain lo di sini? Buat orang kaget aja." Ucap Kian sambil merapikan kembali apron miliknya.


"Ngapain aja lo di dalem? Lama banget." Tanya nya menyelidik, melirik ke arah dalam toilet.


"Ha? Maksud lo nanya gitu apa? Perut gue sakit banget tadi, jadi harus pinjem wc dulu. Gak usah mikir yang macem macem. Ya udah yuk balik, kita pasti udah di tungguin sama kak Arya."


"Hn"


Mereka berdua berjalan ke arah lift yang mereka gunakan untuk naik ke lantai itu tadi. Tanpa berucap sepatah kata lagi, dan langsung masuk ke dalamnya. Namun saat Devan hendak memencet tombol, tiba tiba datang seseorang lagi yang masuk ke dalam lift tersebut.


Kini mereka berjejer, dengan Devan di sebelah kiri Kian dan orang tersebut berada di sebelah kanan Kian. Kian memandang sekilas orang tersebut, memiliki tinggi yang sama dengan Devan, memakai seperangkat kemeja dan jas dongker garis begitu licin dan rapi, kacamata hitam yang menutupi kedua matanya, dan rambut undercut pirang. Tunggu apa ini? Kian seperti mengenal orang ini, namun wajahnya tak terlalu jelas bagi Kian, sebab ia memakai kacamata.


Seteleh menekan tombol, lift pun berjalan. Suasana hening di dalam sana, terlihat Devan yang memnadang lurus ke depan, Kian yang sibuk dengan pikirannya dan sesekali melihat orang itu yang seperti dikenalnya namun ia lupa siapa, serta orang tersebut yang asik memainkan ponselnya, hingga tak menggubris sekitar.


Karena orang tersebut sedikit terganggu, mungkin ia juga merasa sedikit diperhatikan oleh Kian. Membuatnya menoleh ke samping kirinya. Kian langsung pura pura sibuk dan tak memperhatikannya.


Ia menoleh bahkan memandang wajah Kian dari depan, "Kian??" Tebaknya dengan senyum begitu lebar dan manis, membuat Kian sedikit kaget kalau orang ini bisa tau dirinya.


Tak ada balasan dari Kian, orang tersebut langsung membuka kacamatanya. "Ini aku. Gak mungkin kan kalo kamu lupa gitu aja?"


Kian tercekak ketika melihat orang tersebut, "Kak?" Kian merasa benar benar berbeda. Bagaimana tidak, biasanya saat Kian bertemu dengannya, ia hanya menggunakan style santai, seperti levis panjang atau pendek, kaos oblong, tas selempang, dan topi buket hitam, dan tak lupa earphone yang selalu melekat di telinganya. Namun saat ini semua itu berbeda, style berdasi dan jas yang begitu rapi.


"Kian kerja kak."


Dia melihat Kian dari atas sampai bawah, memperhatikan apron yang masih melekat di tubuh Kian. "Selain cantik dan pintar, kau juga mandiri." Ucap tersenyum manis membuat kedua mata itu hampir tertutup sempurna.


Lalu ia mengulurkan tangannya, berniat ingin berjabat tangan dengan Kian, "Ini pertemuan kita yang ketiga. Namun kita belum sempat berkenalan dengan benar. Namaku Arnold."


Baru saja Kian hendak menjabat balik tangan itu langsung di tepis oleh Devan yang sedari tadi diam memperhatikan kedua manusia yang asik berdua. Kian menoleh kearah Devan yang memang wajah flat-nya, merasa tak bersalah sama sekali.


"Hehehe... Maafin dia kak." Kian merasa tak enak hati dengan perlakuan Devan barusan.


"It's okey. Tapi kenapa dia selalu bersama denganmu? Hari itu juga, siapa dia sebenarnya?"


"Selain teman kelas, Devan juga teman kerja Kian kak. Jadi kemana mana juga sering berdua."


"Ouh.." Arnold mengangguk anggukan kepalanya seolah paham dengan situasi.


"Btw, kak Arnold tinggal di sini?"


"Haha... enggak. Aku hanya menghadiri acara bisnis paman-paman ku disini. Biaya tinggal di hotel sangat mahal, lebih baik mengontrak saja. Harga satu bulan kontrakan setara dengan satu malam di hotel. Itu pemborosan. Lagi pula mencari pekerjaan susah sekarang, jadi harus hemat. Hanya para bos yang bisa menghamburkan uang seperti ini."


"Jadi acara yang ada di dalam itu, acara paman-paman kakak?"


"Hn. Menyewa aula yang begitu besar hanya untuk rekan bisnis? Apa itu tidak pemborosan? Mungkin mereka bingung bagaimana menghabiskan uang." Cibirnya

__ADS_1


"Jika itu paman kakak, berarti kak Arnold juga termasuk bagian dari mereka? Lalu kenapa malah turun dari ruangan itu?"


"Hahaha, aku hanya karyawan biasa, yang memimpin perusahaan cabang, Ki. Dan sekarang harus turun ke basement untuk mengambil beberapa berkas untuk keperluan acara."


"Ohh, tapi itu juga jabatan yang sangat tinggi."


"Tidak, biasa saja. Kau terlalu berlebihan ki. Oh ya bagaimana kalau kita mengobrol? Disini ada cafe, kita bisa mengobrol di sana. Lagi pula ini sebentar lagi akan istirahat makan siang. Kita bisa lunch bareng sambil ngobrol di sana, bagaimana?" Tanya nya, yang hanya dibalas senyum tipis oleh Kian.


"Tapi kak..." Kian berusaha ingin menolak ajakan baik itu.


"Udah ayo. Katanya gak baik loh nolak ajakan baik dari orang lain. Sekalian ajak juga teman kamu tuh." Arnold memandang Devan dengan wajah cueknya. Begitu juga dengan Devan yang menampilkan wajah flat andalannya.


Ting!!


Lift sudah berhenti dan pintu pun terbuka. Mereka bertiga keluar dari lift dengan langkah yang sama namun, Kian sedikit tersentak kaget, sebab kedua tangannya di genggam masing masing orang yang ada di samping kanan dan kirinya.


"Bisa kau lepaskan tangan Kian?!"


"Hey bung. Aku perlu sedikit waktu bersama Kian. Biarkan kamu mengobrol sebentar di cafe sana. Tak akan lama." Ucap Arnold menunjuk cafe yang memang disediakan pihak hotel dengan sistem outdoor.


"Gak! Anda tau ini jam kerja. Dan karyawan tidak boleh kemana mana jika jam kerjanya belum habis." Tekan Devan dengan menarik tangan Kian.


"Aku hanya perlu sedikit waktu dengannya. Jika kau mau pulang, maka pulanglah. Dia akan aku antar ke sana nanti." Arnold menarik sedikit tangan Kian.


Meski tarikan tangan itu tidak kuat, namun Kian begitu risih, apalagi saat ini mereka berada di depan lift lantai pertama. Tentu banyak orang yang berlalu lalang di sana. Dan sekarang posisi nya seperti boneka yang diperebutkan oleh kedua orang yang tak mau mengalah sedikit pun.


Geram Kian melihat tingkah kedua manusia itu, hingga ia menghempaskan kedua tangan mereka, "Bisa gak sih jangan berantem! Malu diliatin orang!" Bentak Kian, "Maaf kak, Kian harus kerja, mungkin lain kali kita bisa bicara lagi." Lanjutnya melihat ke arah Arnold.


"Huh, ya sudahlah. Tapi apa boleh aku minta nomor mu? Kau ingat waktu di bus waktu itu, kau belum sempat memberikannya namun bus sudah berhenti. Dan langsung begitu saja keluar dari bus tanpa memberikan nomor itu."


"Gak ada. Ayo Ki, kita udah telat. Bisa di marahi oleh bos, jika terlambat kembali." Devan menggenggam erat tangan Kian, menyeretnya menjauh dan keluar dari sana.


Kian pasrah di tarik oleh Devan, memberontak pun percuma. Ia tak mau jadi tontonan orang lain yang ada di hotel tesebut.


"Dimana topi yang gue beli kemaren?" Tanya Devan ketika mereka sudah berada di parkiran motor.


Bebrapa detik Kian diam mengingat tentang hal itu, "Oh topi itu, ada di rumah Van. kenapa? Lo mau minta kembaliin? Ya udah besok gue bakal kasih ke elo. Atau pulang ini lk bisa mampir ke kontrakan buat ambil tuh topi."


"Gak! Mulai sekarang kalo lo keluar lo harus pake itu topi."


"Kenapa? Panas ya? Tapi kan gue kerja di bawah atap Van. Jadi gak bakal panas. Dapet giliran bagian ini juga jarang jarang."


"Lo tau...!!!" Mulut Devan seketika terkunci rapat, tak bisa melanjutkan kata selanjutnya. "Pokonya lo pake aja." Titahnya


Kian memutar bola mata malas, rasanya ia begitu jengah dengan sikap Devan yang selalu berbau ubah setiap harinya. "Lo kenapa sih, aneh banget. Gue mau kenalan gak dibolehin, ngomong juga gak boleh. Gue tau ini lagi jam kerja, ya setidaknya nolak ajakan orang baik itu ya jangan gitu juga Van. Gak sopan banget."


Devan melirik sebentar, ke arah Kian. Tanpa menjawab, langsung menunggangi motor tersebut.


.


.


.


.

__ADS_1


.


tbc


__ADS_2