Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)

Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)
#97


__ADS_3

Kian dan Devan sudah sampai di tempat yang tentu Kian tau, karena ia sudah pernah ke sana satu kali waktu itu.


"Loh Van, ini kan...?"


Devan meraih tangan Kian dan menariknya masuk, membuat ucapan Kian menjadi terhenti. Sengaja? Tentu. Devan adalah orang yang irit bicara ia juga mau orang lain juga begitu, agar tak menganggu pendengarannya.


Telinganya sedikit alergi jika mendengar cercaan pertanyaan beruntun, walaupun itu Kian sendiri. Apalagi orang lain? Mungkin bisa saja langsung dibekap atau ditinggalkan olehnya bahkan bisa saja ia menyumpal mulut orang itu.


"Weh, Van saha ni?" Tanya seseorang yang mereka temui di dalam.


"Lo bilang, cafe kekurangan pegawai kan? Gue bawain." Devan melepaskan genggaman tangannya.


"Cepet juga dapet nya lo. Eh nama lo siapa? tamatan apa?"


"Ck, banyak basa-basi lu Ar. Udah, lo langsung kerja hari ini." Tunjuk Devan pada Kian yang masih ada di sampingnya.


"Eh! Bocah. Bos disini siapa? Gue atau elo sih, heran. Gue sebagai CEO di sini harus interview calon pegawainya dulu lah. Sesuai apa gak."


"Kelamaan lo." Ketusnya.


"Van, lo gak boleh gitu sama bos lo. Hormati dia." Kian menatap tajam Devan.


Wajah Devan mencelos, karena Kian membela bosnya. Namun di satu sisi ia juga terpaksa menuruti ucapan Kian dengan mengangkat tangan kanannya dan memberi hormat kepada Arya.


"Ck, gak gitu juga Jamal!" Kesal Kian memaksa tangan itu turun. "Maafin Devan pak. Perkenalkan nama saya Kian Zeline Zakeisya, biasa di panggil Kian. Dan saya masih kelas 3 SMA, sama kayak Devan pak." Tutur Kian lemah lembut.


"Eh jangan panggil pak dong. Gue belum setua itu juga. Paling beda tipis la sama kalian. Oh ya siapa nama lo tadi?" Ulangnya


"Kian pak."


"Jangan panggil pak! Gue belum tua ya. Nama gue Arya, dan nama lo Kian??" Ucapnya sedikit terkejut mengulang nama Kian.


"Iya. Kenapa? kita pernah kenal sebelumnya atau ketemu?" Balas Kian


"Eh, gak kok. Gue cuma tau dari Devan doang. Asli lu cakep Ki." Senyum itu tersungging di sana.


"Ekhem!!" Seseorang berdehem membuat Arya yang sempat memandang kian menjadi terbuyarkan.


"Haish! Iya... iya. Ya udah Ki, lo gue terima kerja di sini. Kebetulan juga salah satu pegawai gue ada yang keluar, karena udah mau nikah."


"Eh, beneran ini pak? Makasih pak." Kian yang begitu senang langsung bersalaman dengan Arya dengan semangatnya.


"Iya... iya, udah lepasin tangan gue. Bisa patah kalo lo buat gitu. Dan gue udah bilang buat gak panggil gue pak!"


"Terus harus panggil apa dong?"


"Terserah, seenaknya lo. Panggil sayang juga boleh." Suara Arya sedikit melemah di akhir kalimatnya, namun masih bisa di dengar oleh mereka terutama Devan.


"Akhh!" Devan menyikut dada Arya, membuat si mpu menjadi merintih sakit. "Lo kenapa sih Van. Gue pecat baru tau rasa lo."


"Maksudnya tadi apa ya pak?"


"Hehehe... Bukan apa-apa Ki. Oh ya tugas lo jadi pelayan terus juga rangkep jadi tukang bakar roti ya. Bisakan?"


"Tenang aja, bisa kok."


"Oh oke deh. Nanti Devan bakal tunjukin lo ruang gantinya. Gue masih ada urusan, kalo lo perlu sesuatu lo bisa tanya Devan. Dan satu lagi, abis ini gue gak mau lagi lo panggil gue dengan sebutan pak. Ngerti Kian?"


"Siap. Ngerti bos."


"Gue juga gak mau di panggil bos."


"Terus?"


"Pikir aja sendiri. Gue pergi dulu." Arya langsung berlalu pergi dengan kunci mobil di tangannya. Mengayunkan-ayunkan kunci itu sambil bersenandung ria.


Kian hanya menatap punggungnya pergi keluar dari pintu Cafe. Ia merasa beruntung bisa bertemu dengan bos yang begitu baik, walaupun itu dengan bantuan serta paksaan juga dari Devan. Tapi setidaknya ia masih bertemu dengan orang-orang baik dalam hidupnya.


"Mau sampai kapan di tatap mulu. Ayo ganti bajunya sama pake apron."


Kian pun mengangguk dan mengikuti Devan ke ruang ganti. Hingga beberapa menit kemudian mereka kembali ke ruang depan untuk mulai bekerja.


"Woy! Tuh ada pelanggan. Layanin sana!" Titah Devan ketika Kian sedang asik membersihkan meja kerjanya.

__ADS_1


Kian menoleh dan benar saja, "Oh oke."


Kian berjalan ke sana dengan note kecil dan pulpen. Senyum mengembang disana, layaknya seorang pelayanan yang memang harus memasang wajah manis. Ini merupakan coustemer pertamanya, tentu saja harus sangat berkesan. Ia tak mau mengecewakan pelanggan atau cafe di hari pertamanya bekerja.


"Mau pesan apa kak?" Sapa Kian pada mereka berdua, dua orang laki-laki yang sepertinya setingkatan kuliah.


"Em.. lo pelayan di sini?" Tanya salah satunya, yang memperhatikan Kian dari atas sampai bawah.


Kian tersenyum dan mengangguk, "Baru?" Tanya satunya lagi.


Kian lagi-lagi mengangguk dan tersenyum, "Jadi kak mau pesan apa?" Tanya Kian lagi dengan ramah.


"Oh pantes, kita gak pernah liat lo. Siapa nama lo?"


Kian mulai sedikit risih dengan kedua orang itu karena terlalu banyak basa-basi, bahkan belum memesan sama sekali.


"Nama saya Kian kak. Saya memang pelayan baru di sini, Baru hari ini kerja. Jadi kakak-kakak sekalian mau pesen apa?"


"Kayak biasa aja." Ucap mereka serentak.


Kian membelakkan mata tak percaya dengan kedua orang laki-laki itu. Bagaimana ia bisa menerjemahkan kata biasa di sini? sedangkan dia saja baru bekerja hari ini. Dan baru bertemu mereka berdua hari ini.


"Kita berdua udah langganan di sini. Biasanya pelayan di sini juga udah tau apa yang kami pesen dan pengen." Santainya.


"Tapi maaf kak, saya kan baru kerja. Jadi belum tau Apa yang biasa kakak pesan? Menu yang di pesan apa?" Ucap Kian sopan, walaupun hatinya sudah menjerit ingin menghajar kedua orang ini.


"Gimana sih lo! Harusnya lo tau dong. Lo bisa tanya sama senior lo atau pelayan yang lain!"


"Baik kak, saya akan tanya dulu." Kian hendak pergi meninggalkan meja itu, namun salah satunya kembali berucap membuat langkah itu terhenti dengan hati yang cemas.


"Ya udahlah kita udah gak mood lagi!"


Ucap mereka yang bersaut-sautan membuat Kian merasa terpojok dan bersalah. Apalagi dengan baik hati bosnya sudah menerima dirinya bekerja hari ini tanpa ada syarat khusu. Bagimana dia bisa mengacau di hari pertamanya kerja?


"Eh, maaf kak. Saya minta maaf sebesar-besarnya atas kesalahan saya. Saya akan menghafal menu pesanan kakak, tapi untuk kali ini kakak bisa sebutkan itu apa." Pintanya.


"Tapi kita udah gak mood." Entengnya.


"Gini aja deh. Kasih nomor whatsapp lo aja. Baru kita maafin dan bakal pesen makanan. Gimana?"


Melihat tak ada pilihan lain, ia pun terpaksa mengeluarkan handphone. Dalam hidupnya, Kian tak pernah hafal sama sekali dengan nomor telpon dirinya sendiri. Selama itu masih ada handphone maka nomor itu akan tersimpan di sana.


"Kenapa?" Kian terlonjak kaget ketika satu tangan menepuk bahunya.


"Devan itu... Maaf, gue..."


Devan langsung menatap kedua laki-laki itu dengan mata hitamnya yang pekat.


Clap


Buku menu itu tergeletak di meja mereka untuk yang keduanya. "Kalian berdua baru menjadi pelanggan selama seminggu ini. Itu pun dengan dua hari tidak datang ke Cafe, tepatnya hari selasa dan kamis. Kalian juga tiap datang kemari memesan menu yang berbeda. Bahkan yang melayani kalian saja selalu orang berbeda. Tidak ada menu biasa yang kalian pesan. Sekarang buku menu ini sudah ada di atas meja, silahkan pesan apa yang kalian inginkan!" Ucap Devan tenang tanpa jeda, dan tentu saja dengan tatapan mata yang menuntut.


Kedua orang itu tampak sedikit takut, ketika Devan menatap dengan mata bak serigala itu. Menelan saliva dengan susah payah, sepertinya apa yang dikatakan Devan memang benar begitu.


"Jika kalian memesan sekarang maka, kalian bisa menjadi pelanggan Cafe ini dan mendapatkan diskon 10 persen. Jika tidak pun, kalian bisa dilaporkan karena telah mengancam seorang perempuan dan berbuat semena-mena. Silahkan!"


"Baik... baik.. Kami akan pesan. 2 porsi roti bakar Moza, dan 2 americano coffe 3 shoot." Ucap salah satunya setelah melihat daftar menu.


"Baik. Jadilah pelanggan sesungguhnya, yang tau daftar menu tanpa melihat buku menu." Tegas Devan, yang kemudian menarik Kian menjauh dari kedua orang tersebut.


Saat berada di dapur, Kian melihat Devan yang begitu cekatan dalam mengerjakan tugasnya. Hingga sedikit mengabaikan kerjaannya. Tempat Kian dan Devan memang bersebelahan. Hingga bisa dilihat hanya dengan melirik saja.


"Kerjain tugas lo. Jangan liat gue terus!" Ucapnya dengan gaya seperti biasa, tak melirik pada Kian sedikit pun.


Kian sedikit tertenggu, kemudian kembali mengerjakan tugasnya. Untung saja roti yang ia panggang tak gosong.


Setelah siap, Devan pun mengantarkan pesanan itu ke meja dua laki-laki tadi. Kenapa tidak Kian? Sebab Devan tak mau kalau Kian mendapatkan perlakuan buruk lagi dari mereka.


_________


"Lo dari mana sih? Gue udah nungguin dari tadi loh Sar."


"Ya maaf. Dapet izin buat keluar tuh susah kali Jer. Btw, kenapa lo ngajak gue ketemuan di bukit sih? Mana malem-malem lagi." Rocehnya yang baru duduk di bangku panjang yang di sebelahnya ada Jerry.

__ADS_1


Ya, mereka adalah Jerry dan Sarah. Yang sedang duduk di bangku panjang di atas bukit.


"Gak, gue mau ketemu lo aja. Lo gak kangen sama gue, hm?"


"Kangen apaan, tiap hari ketemu aja di sekolah... hahaha."


"Ya siapa tau."


"Males banget gue kangenin orang yang bukan siapa-siapa gue." Kecutnya.


"Kan udah dibilang, gue bukannya gak mau memperjelas hubungan kita Sarah, cuma gue lagi gak mau pacaran. Emang lo udah pernah pacaran?"


"Ya belum sih."


"Gue beruntung banget Kalo gitu, bisa deket sama orang yang belum pernah pacaran kayak lo. Pacaran tuh gak enak Sar, lo bakal banyak sakit hatinya. Contohnya gue sendiri, gue sering banget di selingkuhin pacar-pacar gue dulu." Sendunya.


"Ha?! Seriusan lo Jer? Cowok sebaik lo, ada yang nyelingkuhin?!" Teriak Sarah tak percaya.


"Iya. Mantan gue juga banyak Sar. Lo gak ilfiel deket sama gue yang banyak mantan gini?" Raut wajahnya yang begitu sedih tertampak di sana.


"Gue gak peduli orang bilang apa tentang lo Jer. Menurut gue lo adalah cowok yang paling baik yang pernah gue temuin. Lagi pula yang jahat kan mantan lo bukan lo."


"Makasih ya, lo yang paling pengertian sama gue. Maka dari itu gue gak mau pacaran sama lo Sar. Sebab gue gak mau ada kata putus lagi. Kalo bisa sih, tamat sekolah kita langsung keep halal aja gimana? Males gue kalo harus ngulang ke proses awal."


"Ha? Serius lo Jer. Ih tapi kan kita harus kuliah dulu, lo juga harus kerja. Ya kali lo mau kasih gue makan apa kalo gitu?"


"Gue sih serius. Lo tenang aja Sarah. Abis lulus gue bakal langsung pegang perusahaan papa. Kalo kuliah mungkin gak deh. Prioritas gue pokonya lo abis tamat sekolah."


"Lo gak lagi bercanda kan Jer. Gue baper elah." Ucapnya dengan mata yang sudah berkaca.


"Astaga, buat apa gue bercanda dan bohong sih Sar. Gue serius lah." Jerry lalu memeluk Sarah dengan erat, agar anak itu tidak lagi menangis.


"Hiks.. hiks.."


"Sar, udah nangis nya. Gue nyakitin lo ya? Maaf."


"Lo gak nyakitin gue Jer. Bahkan lo adalah cowok yang buat gue bahagia dan bisa nangis haru kayak gini. Kenapa cowo sebaik lo bisa banyak yang benci? Hiks.. hiks.."


Mendengar penuturan dari Sarah membuat Jerry merenggangkan pelukannya, memberi ruang antara mereka berdua.


Jerry mengusap kedua mata basah itu, memandangi sendu seolah dia juga merasakannya, "Jangan nangis Sar. Gue juga ikut sedih nanti. Lagian siapa yang benci gue? Tapi wajar sih, gue gak sebaik itu, sampai semua orang suka."


"Ngomong apa lo barusan? Lo tuh baik banget Jer, bahkan dari keluarga gue sekali pun. Lo selalu hibur gue saat sedih, bahkan lo adalah orang yang dateng di saat semua orang ninggalin gue."


"Sssttt, udah gue lakuin itu karna gue sayang sama lo. Bukan karena ada apanya."


"Makasih karna lo udah sayang sama gue. Tapi tetep aja gue benci orang yang ngebenci lo!!"


"Emang siapa?"


"Kian!! Tadi siang dia ngomong kalo lo gak baik itu lah inilah. Bahkan dari yang gue tau lo sama dia kan temenan. Apa karna dia suka lo ya Jer, jadi nyuruh gue buat jauhin lo, bilang nya lo gak baik buat gue?"


"Huh... Kian ya? Gue gak tau. Terserah dia aja, gue sih gak ada perasaan apa-apa sama dia. Karena gue lebih suka lo dari pada dia."


"Ya tapi tetep aja. Gue gak suka sama dia!!"


"Sttt! Udah. Gak usah bahas dia. Ntar lo jadi badmood lagi, mending kita tancap gas ke restoran. Laper gak?"


"Gue gak laper. Tapi gue pengen nonton bioskop."


"Uhh.. Siap cantik. Kita meluncur..."


_______


.


.


.


.


.

__ADS_1


tbc


__ADS_2