
Di perjalanan pulang Kian berhenti di salah satu apotek yang masih buka pada jam itu. Memberhentikan supir taksi dan memintanya untuk menunggu sebentar. Kian berjalan masuk ke dalam, dan ia sangat senang sebab begitu sepi. Terlihat jajaran obat yang begitu penuh di rak yang ada di belakang apoteker itu.
"Permisi mbak."
"Iya, ada yang bisa dibantu?"
Kian mengeluarkan botol kosong tempat obatnya itu dan beberapa bungkus kaplet obat lain.
"Saya mencari obat obat ini mbak."
Apoteker itu pun mengambil botol dan beberapa bungkus kaplet kosong itu. Menatap Kian sebentar seperti ada yang aneh. Lalu ia masuk ke dalam untuk mengambil obat obat tersebut. Dan setelahnya memberikan obat obat itu pada Kian.
"Terima kasih mbak. Berapa?" Tanya Kian yang hendak mengambil beberapa obat yang ada di meja.
Namun malah di tahan oleh apoteker itu.
Kian mengerinyitkan dahi dan menatap bingung apoteker itu.
"Sudah berapa lama kamu mengonsumsi obat obat ini?" Tanya nya
"Oh... Belum lama mbak." Ucap nya agak ragu.
"Saran ku. Jika dengan obat obat ini kamu masih saja seperti itu, maka lebih baik kau periksakan ke dokter. Obat obat ini tidak terlalu baik jika dikonsumsi dalam jangka waktu yang lama. Apalagi sampai tidak memberi perubahan sedikit pun padamu."
"I... Iya mbak." Ucap Kian dengan anggukan.
Taksi itu sampai di depan rumah. Kian membayar lalu beranjak masuk ke dalam rumah. Terlihat begitu gelap dari luar karna memang lampu-lampu di rumah itu belum sempat ia hidupkan.
Krak..... (Pintu dibuka oleh Kian)
Tak.... (Lampu dinyalakan)
Plak....
"Akhh..." Keluh Kian.
"Ayah.....!" Teriak seseorang dari arah dapur.
__ADS_1
Kian mengaduh sakit. Baru lah ia masuk ke dalam rumah dan memencet steaker yang ada di samping pintu untuk menghidupkan lampu, namun ternyata malah di sambut dengan sebuah tamparan dari seseorang. Dan tamparan itu tidaklah pelan, terasa begitu perih di pipinya.
"Dari mana kamu hah!!!" Teriaknya
Kian membulatkan mata, melihat seseorang yang ada di depannya. Berdiri tegap, dengan wajah yang merah dan garang. Ia bahkan tak tau jika kedua orang tuanya sudah kembali. Ia benar benar terkejut.
"Ayah.... Kian baru pulang kenapa langsung dimarah dan ditampar?" Tentu itu adalah suara bundanya yang membela Kian bahkan tak suka dengan perlakuan dari suaminya itu.
Intan yang merupakan bunda Kian, hendak meraih Kian kepelukannya, namun langsung di tarik oleh Bram, ayah Kian. Agar Intan menjauh dari Kian.
"Tak usah kau ikut campur intan!! Anakmu ini semakin hari semakin nakal dan tak tau diri.!"
Kian mengelus-elus pipinya yang begitu terasa sakit. Dan air mata pun tak bisa di dipungkiri, meluncur begitu saja.
"Sekarang jawab ayah Kian! Dari mana kamu?!"
"Kian dari rumah temen yah. Kerjain tugas." Bohongnya
"Temen yang mana?!"
"Oke. Tiga hari kamu bolos kemana?! Ngerjain tugas juga? iya?! Sama temen? Temen yang sama?!"
Plak.....
"Ayah.... Marah marah sama Kian. Tapi jangan di tampar juga yah." Teriak bunda Kian yang hanya bisa menangis tanpa bisa menolong.
Satu tamparan mendarat di pipi sebelahnya. Membuat kedua pipi itu sudah merah dan bercap tangan ayahnya.
"Kamu liat ini Intan!! Didikan kamu gak ada yang bener. Ayah muak liat kamu Kian!!! Jawab ayah?! Ayah dapet laporan kalo kamu bolos? Kemana kamu hah?! Kemana mana gak pernah bilang, dan pulang selalu saja malam. Ini sudah yang kedua kalinya Kian. Katakan sesuatu! Jangan diam saja!!! Dan siapa temanmu itu?!"
Kian menarik napas dalam, menatap mata ayahnya yang begitu membara, seperti ingin melahap Kian saat itu juga.
"Tiga hari Kian memang gak sekolah Ayah Bunda. Kian udah coba telpon ayah sama bunda tapi gak ada yang jawab. Dan Ayah sama Bunda mau kemana Kian selama tiga hari? Kian bantu bantu di rumah temen Kian yang orang taunya baru aja meninggal. Dan ayah sama Bunda tau siapa yang meninggal?!" Suara Kian sedikit meninggi di akhir kalimatnya, walaupun masih terisak.
"Tante Zanna, yang dulu jadi tetangga kita." Tangis Kian benar benar pecah ketika ia menyebutkan nama Zanna. Terbayang kembali saat Zanna masih hidup dan selalu membantunya. Bahkan ia meninggal dengan sakit yang ia derita selama bertahun tahun. Yang bahkan Kian merasa bersalah sebab belum menepati janjinya untuk mempertemukan Mamanya itu dengan Ayah dan Bundanya.
"Zanna, Kian?" Tanya bundanya lagi. Kian mengangguk, bahkan bundanya juga tak kuasa menahan air mata.
__ADS_1
"Ohh jadi selama ini kamu main sama anak di luar nikah itu?!" Ucap ayahnya dengan penuh penekanan.
"Maksud ayah?" Kian tak percaya jika ayahnya sangat benar benar kejam. Bahkan memanggil Devan dengan sebutan seperti itu.
"Kamu tidak tau? Jadi selama ini dia tak menceritakan apa pun? Ayah peringatkan jangan pernah dekati dia. Berandalan itu tidak baik untukmu.!"
"Ayah bisa gak sih gak nilai orang seperti itu. Itu masalah pribadinya ayah. Apa ayah tidak malu berucap seperti itu? Ayah hanya menilai orang dari masa lalu. Kian hanya ingin berteman tanpa memandang bagaimana keluarganya bahkan bagaimana masa lalunya." Ucap Kian yang memang sudah kesal.
"Tapi anak itu memang tak baik untukmu. Keluarganya saja berantakan."
"Apa berantakan? Apa Ayah pikir keluarga kita juga tidak begitu? Bahkan bunda terus berusaha untuk menjaga keutuhan keluarga ini. Dan ayah bicara seolah keluarga ini paling baik? Jika aku juga memandang ayah seperti itu bagaimana? Bisa ayah trima?"
Plak....
Satu tamparan lagi di pipi Kian. Membuat sudut bibir anak itu berdarah sudah.
"Ayah!!! Bisakah kau jangan menyakiti anakku hah?! Dia Kian ayah, anak kita bahkan darah dagingmu. Kenapa kau kejam sekali hah?" Bunda Kian yang sedari tadi melihat pertengkaran anak dan ayah itu sudah tak tahan. Ia merangkul Kian yang sudah kesakitan. Bahkan memelukanya erat. Enggan untuk melepaskan anak semata wayangnya itu.
"Minggir kamu Intan!!! Anak ini sudah berani melawan orang tua. Bahkan dia mengatai ayahnya sendiri. Pasti itu pengaruh dari berandalan itu kan!. Awas saja kau! Dan kau Kian, jika masih ingin menjadi bagian dari keluarga ini maka menurutlah, jangan kau berteman dengannya lagi!!"
Kian hendak melawan ayahnya lagi. Namun di cegah oleh bundanya. Ia tak mau lagi melihat Kian hanya di tampar dan dilukai oleh ayahnya itu.
Kian menatap bundanya, bundanya terus saja menggelengkan kepala sambil menangis. Dengan maksud agar Kian tak melakukan apapun lagi.
Kian bukanlah anak yang benar-benar penurut, jika bukan karena permohonan bundanya maka ia pun sudah lama pergi dari rumah itu.
.
.
.
.
.
"Terkadang tanpa sadar perlakuan yang kasar pada seorang anak bukanlah suatu cara yang baik untuk mendidik."
__ADS_1