
'Baik Kian!! Hari ini tidak boleh semembosankan hari kemarin. Banyak hal yang bisa lo lakuin!!'
Ia berjalan keluar rumah membawa dua buah kantong plastik besar di kedua tangannya. Sebelum itu ia sudah menyisihkan beberapa helai kertas merah dalam amplop putih yang di selipnya di bawah kasur.
Hmm... ntahlah, menurutnya itu tempat terbaik menyimpan barang berharga. Tak lupa kaktus kecil yang berada di meja belajarnya ia semprot sedikit agar bisa lebih tegar menghadapi panasnya hari ini.
"Yang kasih lo (kaktus) ke gue emang bukan orang yang romantis. Tapi setidaknya dia tau kalau gue termasuk orang yang pelupa dan sedikit malas, hahaha. Baik-baik Tuska." Monolog Kian pagi ini pada tumbuhan kesayangannya yang ada di meja. Tak lupa ia juga mengganti air di vas bunga akasia yang ada meja yang sama.
Bunga yang jauh dari ekspektasi keromantisan memang ~Kian
Tak
Tak
Tak
"Mau kemana nih pagi-pagi Ki? Banyak banget bawaan lo?" Seseorang menghampirinya,
"Hehehe... Kak Nari. Iya Kian mau nabung pagi ini."
"Buset banyak banget duit lo sampe dua kantong plastik gede gitu."
"Ini bukan uang, tapi hasil tabungannya gak kalah gede kok kak nantinya sama uang." Cengiran khas beserta lesung pipi di kedua pipi bakpaunya terukir.
"Ha??"
"Ya udah kak, Kian pergi dulu. Assalamulaikum."
Setelah berpamitan, Kian melangkah pergi meninggalkan pekarangan kontrakan beserta Nari yang masih menampakkan wajah cengok serta bingungnya.
"Waalaikumsalam. Heran gue, tuh anak emang gak pernah santai di rumah. Senin sampe minggu cuma berapa jam doang gue liat dia di rumah. Sesibuk itu ya hidup tuh anak? Ah tau lah gue. Mending ngurus revisi gue yang Gak pernah kelar-kelar gara-gara nih dosen." Giliran Nari yang bermonolog, lalu melangkah masuk kedalam kontrakannya lagi setelah selesai menjemuri semua pakaian.
Pagi ini Kian menuju suatu tempat yang memang sudah beberapa hari ini ia tunjuk menjadi lokasi penghasil cuan. Ya, namanya hidup di daerah metropolitan, maka tiada hari tanpa memerlukan uang.
Untuk itulah seperti yang Nari katakan bahwa Kian benar-benar sibuk. Jarang sekali terlihat di kontrakan bahkan bisa dibilang pergi pagi pulang tengah malam. Biasa anak remaja yang sedang di mabuk tuntutan hidup dan keuangan.
Biaya hidup yang semakin hari semakin mahal menuntut dirinya agar aktif dan tidak terlalu banyak bergantung pada orang lain.
'Devan? gak!! Gue udah banyak ngerepotin dia, masa biaya hidup gue dia juga yang nanggung. Sama aja bohong kan kalo gitu.'
__ADS_1
Setelah menaiki angkutan umum bercat warna biru selama lima belas menit, akhirnya ia sampai di suatu tempat. Tempat yang bisa dibilang tidak terlalu bersih dan tidak terlalu kumuh pula. Terdapat beberapa orang bapak dan ibu di sana.
Sibuk? Jelas. Mereka seperti mempersiapkan sesuatu seperti seragam begitulah. Kian yang datang tak lupa menyapa mereka satu persatu sampai akhirnya ia juga mengambil satu seragam di sana.
"Bu, udah sarapan?" Tanya nya di sela mengambil seragam itu
"Apa itu sarapan Ki? Ibu udah tua gak perlu lagi sarapan yang penting bisa cari uang buat makan anak itu udah cukup." Ia duduk di atas kursi kecil yang ada dalam sebuah rumah beralaskan tanah. Merapikan seragamnya yang terlihat sudah lumayan lusuh.
"Tua ataupun muda harus sama-sama tetep sarapan bu, biar kerja semakin semangat. Ini buat ibu." Kian memberikan satu buah kotak makanan yang berada di plastik yang ia bawa tadi.
Sang ibu pun menerima dengan senang hati, yang kemudian lanjut berucap, "Makasih Ki, ibu jadi gak terlalu khawatir sama Andrea bisa makan apa enggak siang ini." Senyum sumringah itu terpancar di sana.
Mendengar hal itu, Kian kembali memberi satu kotak lagi. "Ini buat ibu, dan yang ini buat Andrea. Maaf Kian baru tau kalo ibu punya anak."
Ya, selama beberapa hari ia bekerja memang ia jarang bertegur sapa dengan orang orang di sana. Kenapa? Karena Kian memikiki sifat pemalu, berbicara pun hanya pada saat ditanya. Dan satu lagi, saat ia datang orang-orang yang ada di rumah itu akan silih berganti atau selalu berbeda.
Setelah selesai membagi kotak makanan kepada para pekerja yang memang bisa dihitung pakai jari itu, Kian lanjut memakai seragam kebesaran yang sudah menemaninya beberapa hari ini.
Seragam yang memiliki bagian hampir sama dengan manusia, seperti kepala, badan, kaki, tangan, mulut, mata dan telinga. Hanya saja tidak akan pernah bergerak jika tak ada orang di dalamnya.
Seragam kebesaran berbentuk tikus dengan celana merah itu, mengantarkan Kian ke jalanan lepas untuk menawarkan barang dagangannya. Seperti makanan ringan, minuman, beberapa cemilan, permen dan balon.
Aneh bukan? Dia bekerja untuk mendapatkan uang, menjajakan dan menawarkan dagangannya pada orang lain, di lain sisi ia juga membagikan makanan pada mereka yang seharusnya mendapatkan hal itu.
Kini Kotak makanan itu masih tersisa tiga kotak. Ia masih terus berjalan mencari siapa yang pantas mendapatkan kotak itu. Sampai di suatu pandangan, ia melihat beberapa orang anak yang tentu ia kenal.
"Marcel, Tara, Nando.." Gumam Kian yang hendak berjalan menghampiri anak anak itu, namun...
Huphh!!
Kian berhasil menghindari seorang pemuda yang sedang asik berskyboard di trotoar dengan bebasnya. Ia sedikit marah akan hal itu, bagimana tidak jika ingin menggunakan alat itu seharusnya bisa lebih berhati-hati. Trotoar merupakan tempat para pejalan kaki yang artinya sesama pejalan kaki harus saling berbagi, lagi pula jika ingin berseluncur bebas bisa pada tempatnya seperti lapangan khusus bermain benda itu.
Namun siapa sangka setelah adegan yang mengesalkan itu ia berbalik dan malah menabrak seseorang. Bahkan perempuan itu sampai terjatuh.
"WOY!!! DASAR BADUT JELEK, BAU, DEKIL!! GAK PUNYA MATA LO SAMPE NABRAK GUE HA?!! LO LIAT SEKARANG BAJU GUE JADI KOTOR KARENA LO. GAK TAU DIRI BANGET SIH!!!"
"Ih Vi lo gak apa-apa?"
"Mata lo buta apa emang katarak sih!! Liat nih baju gue kotor, Alen!! Lo masih nanya lagi!!"
__ADS_1
"Tau nih Alen. Otak lo emang rada-rada kali ya."
"Maaf kak maaf, saya gak sengaja." Mohon Kian hendak membantu Via bangkit.
"Gak usah pegang-pegang, jijik gue!!! Tangan kotor gitu, iweuh!!" Bentaknya lagi, membuat Kian beringsut mundur tapi mengeluarkan sapu tangan bermaksud mengelap pakaian perempuan yang kotor itu.
Crash!
Merasa tak terima dan kesal salah satu dari mereka merebut paksa bungkusan yang berada di tangan Kian saat itu juga.
"Kak itu makanannya mau di apain?!" Kian sedikit berteriak dan ingin merebut kembali plastik tersebut.
Brakh!
Crash!!
Cresh!!
Makanan itu di lempar ke tanah dan berakhir diinjak-injak oleh mereka bertiga dengan begitu gemasnya. Kian yang berusaha menyelamatkan makanan tersebut malah ikut terinjak tangannya.
"Nah, sekarang baru sepadan badut sial*n!!" Ejeknya enteng meninggalkan Kian. Ditambah dengan kedua temannya yang juga melakukan hal yang sama, terlihat dengan tampang tanpa dosa. Meninggalkan Kian dengan makanan yang sudah berhamburan di trotoar setelah di injak ketiga gadis remaja itu.
"Makan tuh makanan kotor, cocok emang buat lo yang gak punya mata dan kotor itu."
"Eh Alen, kan bagus gak susah di kunyah lagi kalo dimakan udah kayak bubur gitu."
"Ovi.... Lo emang bener. Hahah" Tawa nan mengejek itu menggelegar di sana.
Isakan tangis terdengar dari balik kostum badut itu, sambil memunguti makanan yang sudah berhamburan. Ia sedikit kesal dengan dirinya, dan merutuki kebodohannya siang ini. Kalau saja ia tak ceroboh seperti itu sebelumnya, pasti makanan ini masih utuh.
.
.
.
.
.
__ADS_1
#tbc