
"Nih pake" ucapnya sambil memberikan jaket pada Kian. Kian masih diam seperti orang bingung.
"Kenapa perempuan geraknya selalu lama sih. Kamu ambil atau paha kamu bakal diliat sama orang orang ha?"
"Eh iya bang iya." Kian dengan sigap meletakkan jaket itu di pahanya. Dan benar saja jaket sebesar itu bisa menutupi sampai bawah dengkulnya.
Tak perlu waktu lama, Kian sudah sampai di rumah. Betapa terkejutnya Kian melihat hal tersebut. Ia merasa belum memberitahukan alamat rumahnya namun ojek tersebut malah mengantar Kian ke tempat yang benar. Kian merasa curiga dan sedikit takut.
"Bang, ini uangnya. Kok abang bisa tau alamat rumah saya? padahal saya belum bilang loh sedari tadi waktu abang bonceng. Dan saya juga pesan bukan lewat online." pertanyaan Kian yang panjang lebar sambil menatap curiga.
"E...itu, sebenarnya saya pernah mengantarkan seorang penumpang di daerah sini. Dan saya juga pernah liat kamu. Jadi saya pikir itu alamat rumah kamu. Dan jika benar ini alamat rumahnya syukur deh. Kalo begitu saya pergi dulu."
setelah menjelaskan hal tersebut dan mendapatkan yang dari Kian orang itu pun langsung melesat pergi jauh.
'astaga, bego banget sih gw. Bisa bisanya hal ini terjadi. Mudah mudahan aja dia gak curiga. huh....'
setelah sampai rumah, Kian tak ingin membebani otaknya memikirkan si tukang ojek misterius itu. Ia masuk ke dalam dan langsung mandi. Tak lama kemudian ada notifikasi dari temannya yang tentu saja itu sarah untuk meminta alamat rumah Kian.
Berselang waktu cukup lama mereka pun sampai di rumah Kian.
"Assalamualaikum Ki" heboh Febbry
"Waalaikumsalam. Ayo masuk. Gw baru aja mau masak. Kalian mau dibuat cemilan apa?"
"Em...gw mau sayur capcay kuah." pinta Febbry
"Emang gak ada ahlak emang nih orang. Tuan rumah disuruh kayak pembantu"
"Udah biasa Sar. Oh itu lo bawa apa?"
"Ini ada jagung popcorn sama buah juga."
"Aelah, padahal gak usah repot repot bawa begituan Sar. Btw thanks ya"
"Sama sama. Kan gw juga ikut makan. Em gw bisa bantu apa ni?"
"Kalian udah makan?"
"belum" jawab mereka serentak.
"Ya udah, kalian cuci buahnya, panggang jagungnya, terus tolong potong potong sayur nya. Gw mau potong daging buat isian capcaynya." titah Kian yang diangguki teman temannya.
lima belas menit berlalu, makanan yang mereka buat sudah siap. Dan mereka melanjutkan untuk makan.
"Sumpah Ki, masakan lo enak banget." Ucap sarah
"Ya iyalah. Makanya gw sering makan disini" ucap Febbry bangga sambil tertawa.
__ADS_1
"Hmm..... Abis makan mau ngapain?"
"Nonton aja di kamar lo"
"Oke."
Di dalam kamar.
"Lu kpopers ya Ki?"
"Hehe iya"
"Banyak banget album lo, btw bias lo siapa nih?"
"Jae sih"
Disaat Sarah dan Kian asik mengobrol, tiba tiba Febbry datang dengan kecurigaannya.
"Waw.... sekarang sahabat gw udah mulai liar ya."
"Maksud lo Feb?"
"Nih jaket punya saha he? jaket cowok di kamar cewek. Apa tidak mencurigakan ini?"
"Heh tu mulut ya lemes banget. Nih jaket bang ojek tadi. Gw naik ojek pulang tadi tapi rok gw..... Jadi dia pinjemin tuh jaket terus pas gw mau balikin eh dianya buru buru banget. Mungkin besok gw bakal balikin."
"Hehehe...mangap mangap"
"Kebiasaan."
Setelah obrolan yang lumayan panjang, mereka memutuskan untuk menonton film sambil memakai popcorn yang dibuat tadi. Sampai jam menunjukkan pukul setengah enam sore. Dan mereka berdua pun pulang.
____
Pagi menjelang, Kian sudah sampai di sekolah dan tentu saja membawa jaket tukang ojek.
"Pagi Ki." sapa Febbry ketika Kian berada di kelas
"Pagi juga Feb. Tumben ada apa nih?" Tanya Kian yang merasa aneh dengan tingkah laku Febbry 44
pagi ini.
Hari ini Kian tidak melaksanakan piket. Dengan otomatis ia pergi bahkan sampai disekolah tepat dengan suara bel masuk berbunyi.
Tak lama kemudian Sarah pun masuk kelas. Dan mulailah tingkah aneh dari Febbry.
"Ekhhem...ekkhemm..." Febbry, sedangkan Sarah hanya melihat sekilas dan merasa canggung.
__ADS_1
"Haduh, yang pagi-pagi udah bikin adegan romance lagi. Kemarin cuma satu kelas yang liat tapi pagi ini malah satu antero yang liat,hahaha......"
"Maksudnya apasih lambe turah, gw gak ngerti apa- apa nih." kesal Kian yang tak kunjung dapat jawaban.
"Makanya Ki, pergi sekolah tuh harus pagi. Biar bisa liat juga. Tadi pagi itu hampir aja sarah ketimpa pot bunga anak kelas sebelas yang ada di tingkat dua. Terus tiba tiba pangerannya dateng buat nolongin, alhasil tuh pot bunga malah kena tangannya."
"Hah, tapi lo gpp kan Sar?"
"Tenang aja gw gpp kok. Lo apaan sih Febbry, gak usah nyebar gosip yang aneh aneh ya."
"Aneh gimana? kan udah jelas tadi pagi Sar."
"Yang nyelametin lo gimana?" tanya Kian
"Itu dia, si Devan kayaknya kesakitan deh"
"Oalah jadi Devan yang nolongin lo. Tapi syukur deh kalo lo gpp. Terus Devannya?"
"Pas gw mau tolongin, Devan kayak marah banget sama gw. Bahkan tangannya yang kena timpa pot pun gak boleh buat gw sentuh. Padahal niat gw kan cuma nolongin. Terus juga ya kalo gak mau nolongin gak usah ditolongin lah, gw juga gak minta. So gak usah marah marah gitu juga kali. Mana keliatan kesel dan gak ikhlas gitu lagi." kesal Sarah.
"Hmm... Biasalah Sar tuh anak. Dinginnya gak ilang- ilang. Ya udah nanti lo liatin aja lagi si Devannya."
"Hmm Iya deh."
Drama pagi itu pun selesai dilanjutkan dengan belajar dan lanjut istirahat pertama. Benar saja Devan kembali ke kelas dengan sikut kiri yang terbalut perban. Sedangkan ketiga siswi itu baru selesai dari kantin dan hendak masuk. Melihat Devan duduk sendiri dan keadaan kelas yang sedikit penghuni, Sarah memberanikan diri mendekati Devan dengan maksud ingin berterima kasih serta meminta maaf. Sebab karenanya lah Devan menjadi terluka.
Setelah mendapat semangat dari kedua temannya sarah berjalan masuk dan mendekati Devan.
"Van..." panggil sarah yang sudah berada di samping meja Devan.
Devan yang bersandar di kursi dan hanya melihat perban ditangannya menatap kilas pada Sarah.
"Gw mau makasih sama minta maaf juga. Gara gara gw lo jadi kayak gini." Ucap Sarah lirih sambil menunduk. Yah, menunduk takut kalau Devan akan marah marah padanya.
"Hn." jawaban singkat dari Devan
Tak puas dengan jawaban singkat dari Devan, Sarah memberikan satu kotak bekalnya pada Devan dengan ragu. Devan menatap aneh hal tersebut.
"Ini buat lo sebagai tanda ucapan terima kasih dan maaf." menyodorkan kotak bekal tersebut.
"Heh (tersenyum miring), ambil lagi tuh kotak gw gak perlu."
"Tapi gw bener bener gak enak sama lo yang selalu nolongin gw. Gw gak mau berhutang budi." alasannya.
"Kalo lo gak mau berhutang budi, maka gampang aja. Gak usah nyusahin orang disekitar lo. Bisa? dengan gitu lo gak bakal hutang budi." Ucap Devan datar dan dingin.
"Jadi menurut lo gw cuma nyusahin doang?"
__ADS_1
"Lo yang bilang bukan gw. sekarang lo bawa makanan lo nih pergi. Dan satu lagi, jaga diri baik baik." ucapnya, yang kemudian pergi lagi ntah kemana. Sedangkan Sarah hanya mematung melihatnya.