
Sesampai di sekolah Devan udah berjalan duluan, membuat Kian berada beberapa langkah di belakangnya. Sengaja? Tentu saja iya. Devan sengaja meninggalkan Kian, sebab ia masih kesal dengan Kian.
"Woy Devan!!! Tungguin gue!" Namun teriakan Kian tak diindahkan oleh Devan sendiri. Ia masih fokus berjalan memasuki halaman sekolah yang baru dihadiri beberapa siswa dan siswi saja.
Geram Kian melihatnya, ia langsung berlari dan menghadang Devan yang hendak berjalan.
"Apa! Minggir gak?!" Ketus Devan melihat Kian yang merentangkan kedua tangan dengan memegang dua ikat sayur hijau yang masih segar ditangannya.
Ada rasa ingin tertawa oleh Devan ketika melihat Kian yang seperti itu. Namun ia terlalu gengsi dan tetap berwajah datar.
"Lo mau kemana sih! Aelah lo selain lemot juga ngambekan ya Van." Dan lagi, kalimat itu sukses membuat Devan yang semula berwajah datar menjadi seperti seekor serigala yang lapar.
Raut wajah yang berubah membuat Kian sedikit bergidik takut namun tetap memberanikan diri menatap Devan dengan bola mata yang pekat.
"Apa lo liat-liat gue? Gak seneng? Kan emang kenyataannya! Lo pikir dengan wajah lo yang serem gitu bisa buat gue takut apa? Gak sama sekali Devan!" Sinis Kian.
"Emang wajah gue serem kayak apa?" Dengan mengangkat sebelah alisnya, dan tersenyum miring membuat giginya terlihat sedikit.
"Wajah lo tuh serem kayak serigala dengan taring yang tajam! Stop kayak gitu! Mungkin gue gak akan takut, tapi orang lain? Orang lain pasti takut banget liat lo kayak gini. Rubah kek tuh wajah lebih manis, pagi-pagi dah seringai serigala aja." Roceh Kian.
"Lo gak takut gangguin serigala yang lagi laper? Ck, kalo diliat liat lo mirip kelinci. Enak ya kalo jadi serigala dapet mangsa pagi-pagi. Daging kelinci tuh enak dan empuk banget iya kan?" Tanyanya dengan seringai yang sama.
"Kelinci? Kelinci kepala lo. Gue tendang juga lo, van!"
"Serah lo bocah. Mau sampai kapan lo nentengin sayuran? Gak malu diliatin sama anak-anak? Makin mirip lo sama kelinci."
"Heh!! Lo pikir gue ngehadang lo buat apa? Ya buat kasih nih sayuran ke elo lah. Inget tuh ibu-ibu kasih ini buat lo, Devan bukan buat gue. Jadi lo harus ambil nih sayuran. Ayo cepet!!!"
Bukan menjawab, Devan malah menghindari Kian hendak melangkah menuju koridor, namun lagi-lagi ditahan oleh Kian. "Devan, lo gak boleh nolak rezeki. Mau lo ditutup pintu rezekinya sama allah, gara-gara nolak ini?"
"Ck," Devan berdecak, "Lo punya otak tapi kayak gak punya ya! Ini masih pagi, kalo lo kasih ke gue sampe pulang nanti udah gak enak tuh sayuran."
"Terus?"
"Harusnya itu sayuran di rendam dalam air biar seger."
"Iya juga ya Van. Woah... Ya udah gue mau pegi dulu deh."
Tanpa mereka sadari perdebatan mereka sedari tadi itu, membuat seseorang di balik pohon mengeraskan rahang, dan mengepalkan tangannya. Bahkan batang pohon di hadapannya tersebut malah menjadi pelampiasan atas amarah yang ia rasakan.
Setelah menitipkan sayuran itu di suatu tempat, Kian kembali ke kelas dan ternyata...
"Wah Devan, bagus kamu hari ini tidak telat sama sekali." Ucap Pak Samsul yang merupakan guru BK di sekolah, Kian sedikit bingung harusnya Devan sudah berada dalam kelas saat ini. Namun ia malah di depan kelas bersamaan dengan dirinya.
Bukannya menjawab, Devan hanya mengangguk dan tak lama kemudian Sarah dan Febbry keluar bersamaan dari kelas.
Kian sedikit terkejut melihat Sarah yang ada di sekolah namun juga ada rasa senang dalam hatinya. Ia hendak menyapa namun Pak Samsul berucap duluan.
"Sering-sering berangkat bareng Kian ya, supaya kamu tidak telat. Jujur saja bapak sudah lelah menuliskan nama kamu di buku catatan guru BK. Kamu tuh gak pernah absen tiap harinya." Jelas Pak Samsul.
"Weh... weh... Ada apa nih? Devan berangkat sama Kian pak?" Tanya Febbry dengan suara cemprengnya sedikit menatap tak percaya.
"Eh.. Gak kok. Tadi gak sengaja aja ketemu di depan gerbang, dan jalan ke kelas bareng deh, itu pun gak sengaja soalnya satu tujuan." Ucap Kian yang berusaha meluruskan kesalah pahaman pagi ini. Ntah kenapa pak Samsul sampai berpikir seperti demikian walaupun memang kenyataannya benar. Hanya saja, Kian tak mau orang lain salah paham dengan Devan dan dirinya. Kian juga merasa kalau Devan pasti tak akan suka jika ada gosipan tentang dirinya di sekolah karena kejadian pagi ini.
"Ouh, bapak kira kalian berangkat bersama. Sebab barengan gini."
__ADS_1
"Hehehe... Gak kok pak. Gak gitu ceritanya."
"Ya sudahlah. Berarti Devan sudah berubah sekarang, bisa berangkat sekolah tidak telat. Pertahankan Devan, dan kalo bisa nilai-nilai kamu juga dinaikkan. Tak ada kata terlambat untuk berubah nak. Sebentar lagi kalian akan ujian, belajar yang rajin supaya lulus dengan nilai yang bagus. Oh ya dan untuk kamu Sarah, ikut bapak. Karena bapak perlu keterangan dari kamu. Selama satu minggu lebih ini kamu tidak masuk tanpa keterangan."
"Hn." Jawab singkat Devan lalu berlalu masuk ke dalam kelas.
Sarah yang diperintah seperti itu langsung menganggukkan kepala. Guru itu pun berlalu dengan diikuti Sarah di belakangnya, yang tentu saja berpapasan dengan Kian.
"Akhirnya lo sekolah juga Sar."
"Gak usah sok akrab sama gue!" Ucapnya dengan sinis langsung berlalu.
Febbry yang melihatnya seperti melihat seorang mangsa. Begitu kesal dan marah, "Heh, dasar perempuan gak tau diri emang. Lo lupa yang temenan sama lo kemarin siapa ha!! Gila emang!!" Teriak Febbry.
"Udah Feb udah. Malu diliatin orang. Mungkin dia belum sabar aja kali. Yuk ke kelas." Kian mengelus-elus tangan Febbry agar ia sabar dan tidak teriak-teriak tak jelas hingga mengundang mata memandang.
__________
Kring.... kring....
Bel istirahat berbunyi, membuat seisi kelas keluar untuk mengisi perut yang sudah keroncongan. Selama jam pelajaran berlangsung Kian akan seperti biasa mengajarkan Devan mata pelajaran yang tak ia pahami.
Kian sendiri sudah mendapatkan izin, bahkan guru mapel sendiri yang meminta Kian untuk mengajarkan Devan. Berat? Tentu saja, walaupun mereka sudah berbaikan namun tidak mudah untuk mengajarkan Devan yang selalu saja tak serius mendengarkan Kian itu. Lebih banyak memperhatikan sekeliling dari pada materi. Dan hal itu cukup membuat kesabaran Kian diuji.
Febbry mengajak Kian untuk langsung ke kantin, ia menurut dengan mengajak Devan ikut juga. Namun si mpu tak akan pernah ikut, ntah apa itu alasannya. Sehingga Kian hanya memberikan latihan soal padanya untuk dikerjakan di jam istirahat ini. Ia pun mengangguk menurut pada Kian.
Kian sedikitnya merasa heran dengan Devan yang selalu menolak jika diajak ke kantin. Bahkan sedari dulu ia jarang sekali menemukan Devan duduk di kursi kantin, walaupun hanya seorang diri. Apa kantin begitu mengerikan untuk Devan? Atau ada masalah lain?
Setelah kejadian Febbry mengetahui kalau Kian setengah menjadi pembantu Devan yang selalu saja membantu menulis catatan Devan, ia tak lagi terkejut dengan hal seperti ini. Ia hanya menganggap angin lalu, tapi tidak untuk mengakrabkan diri pada Devan juga. Karena menurutnya akan percuma saja.
Saat sampai di kantin, dengan tiba-tiba kepala Kian terasa sangat sakit. Pandangannya sedikit gabur, namun dengan susah payah ia menahannya. "Feb, gue mau ke toilet dulu ya. Mau bab, Lo disini aja tungguin pesenan kita. Oke." Ucapnya dengan wajah memelas agar Febbry tak mengikutinya
"Hehehe.... Ya maaf Feb." Dengkuran khas itu ia tampakkan pada Febbry, agar dirinya tak curiga.
Dengan terburu-buru Kian langsung pergi ke toilet dengan sisa kesadarannya.
Sesampai di toilet ia langsung meneguk satu butir pill untuk meredakan sakit kepalanya yang begitu terasa nyeri membuatnya seperti berputar-putar.
Ia terduduk lemas di depan wastafel, dan menghabiskan waktu beberapa menit di sana. Dan untung lagi dan lagi keberuntungan ada di pihaknya, tak ada satu pun orang yang berada di sana. Membuatnya bisa sedikit bernafas lega.
Dengan hati-hati, ia keluar toilet dengan berpegangan pada dinding toilet.
Bukh
"Aaakh!!!"
Kian yang baru membuka pintu toiket, langsung kedatangan tamu dari luar toilet. Tangannya ditarik secara dadakan oleh seseorang, dan langsung di dorong ke tembok hingga ia sedikit tersentak dan merasakan sakit. Bagiamana tidak, ia baru saja bernafas lega sekarang sudah ada lagi yang mengganggunya bahkan memaksanya.
Sedangkan di tempat lain ada dua orang ditempat berbeda yang sedang mengkhawatirkan Kian yang tak kunjung kembali.
"Haduh, Kian kemana sih!! Kebiasaan kalo ke toilet gak balik-balik. Mana mie ayam dah dingin lagi. Mienya aja udah segede kelingking gini. Bikin gue gak mood lagi buat makan." Rocehnya yang bangkit dari kursi, keluar dari kantin setelah membayar makanan mereka, hendak menyusul Kian yang ada di toilet.
Tok... tok.. tok...
"Ki!!! Kian!!" Teriaknya ketika sudah sampai di depan toilet.
__ADS_1
Brakh
Febbry membuka paksa toilet itu dan ternyata kosong tak ada seorang pun. Dan sekarang tentu khawatirnya menjadi dua kali lipat dari sebelumnya. Ia panik dan berlari di koridor menuju ke kelas.
Dan saat berada di koridor ia berpapasan dengan siswa yang juga sepertinya sedang mencari seseorang.
"Van!! Hey!! Lo liat Kian di kelas gak?" Tanya dengan keringat yang sudah mengucur di dahi.
"Kian bukannya sama lo tadi?"
"Iya, tapi dia pamit ke toilet. Dan sampe sekarang belum juga balik. Gue udah susul ke sana, dia malah gak ada."
Mendengar hal itu, kini kekhawatiran Devan semakin bertambah. Ia langsung saja berjalan meninggalkan Febbry yang masih berdiri mematung.
"Woy Van!!! Lo mau kemana hah!!! Astaga, nih manusia bener kata Kian selalu aja berbuat sesuka dia. Arghh!!"
Di lain ruangan, Kian yang sedang di kungkung oleh seseorang di pojokkan dinding merasa takut. Ia berusaha lepas dan lari dari sana, namun seseorang itu tak memberikan akses pada Kian untuk kabur atau sekedar menjauh sedikit saja darinya.
Detak jantung Kian kini berdegup sangat kencang, hampir membuatnya lemas tak berarti. Nafasnya tersengal ditambah lagi dengan keringat yang mengucur begitu deras. Ia tak tau salahnya apa hingga laki-laki yang ada di depannya seperti ini. Seperti baru saja menangkap istrinya sedang berselingkuh dengan laki-laki lain. Mata yang mengambarkan kemarahan, menatap manik mata Kian.
"Jer!! Minggir gak lo! Lo gila ya!!" Bentak Kian yang tak melihat ada pergerakan sedikit pun dari orang yang ada di depannya saat ini.
"Iya gue udah gila, gila karena lo Kian! Dan gue gak akan minggir!!" Tegasnya. Kini jarak wajah mereka hanya menyisakan dua jengkal saja hingga bisa bersentuhan.
"Mau lo apa? Jangan buat orang lain salah paham dengan lo yang kayak gini. Gue gak mau Sarah tambah gak suka sama gue cuma gara-gara lo yang udah gila ini. Dia sahabat gue, dan lo temen gue. Gue gak mau ada hal-hal yang gak jelas kayak gini. Jadi gue...." Kian berusaha terlepas dari kungkungan Jerry namun masih sia-sia. Kekuatannya tak sebesar itu untuk melawan Jerry.
"Oh.. Gue cuma temen lo Ki? Selama ini gue baik sama lo, tapi lo cuma anggap gue temen gitu? Dan lo tau mau gue apa?" Ucapnya dengan nada tersengal marah. Wajahnya semakin dekat dengan Kian membuat Kian meronta-ronta. Hingga karena ketakutan menbuat air bening itu mengalir begitu saja. Terisak dalam diam.
______
"Wah... Mau kemana nih si anak pembangkang gak tau diri." Sinis seseorang mencegat Devan yang berjalan, bersama kedua temannya.
Devan menarik nafas dalam mencoba bersabar, "Minggir, gue gak punya urusan sama kalian!"
"Hmm... Cuma berani gini doang. Udah sampai mana belajarnya? Jangan buang-buang waktu Van, bentar lagi mau ujian. Lo yakin lo bisa lulus dan kalahin gue?" Nada mengejek itu masuk ke telinga Devan, disertai dengan ejekan dari teman sekawannya yang begitu menjengkelkan.
"Sampai mana gue belajar gak ada hubungannya sama lo. Urus aja diri lo, dan siapin otak lo buat ujian. Gak usah urusin gue. Dasar kurang kerjaan." Ucap Devan santai dengan senyuman khas nya.
Tentu itu membuat satu orang yang ada di depannya marah, dan tak segan untuk memukul Devan. Namun Devan berhasil menghindarinya.
"Kenapa lo menghindar? Takut? Selain pembangkang dan bodoh, lo juga cupu ya. Ha...ha..." Tawanya pecah.
"Lo gak malu sama predikat lo yang dikenal sebagai anak ambis, anak pintar, dan peringkat dua serta tau attitude. Masa cuma gara-gara berantem sama gue lo malah masuk ruang BK. Apa kata orang, Ndre?" Ucap Devan santai.
Andre pun merasa marah dengan tanggapan Devan yang terlihat santai bahkan tak terpancing emosi sama sekali. Bahkan ia berani membawa gelarnya sebagai sebagai anak teladan di sekolah.
Ia melayangkan satu pukulan ke wajah Devan, namun langsung di tangkap Devan dengan satu tangan. Menggenggam balik tangan itu dengan kuat. Kini mata keduanya saling bertemu dengan menampakkan kebencian satu sama lain.
"Gue gak biasa main kayak gini. Cuma ngotorin tangan gue aja. Lebih baik lo kembali ke kelas dan belajar. Tunggu aja hasil dari ujian nanti, gue yakin lo akan puas." Ucap Devan disela menurunkan genggaman tangan itu dan melepasnya dengan kasar.
"Lo tau, kalo berantem juga bisa dilakukan anak kecil. Jadi bukan ukuran buat ngetes lo cupu atau enggak lewat berantem, That's too childish dude!" Kalimat sinis itu diucapkan Devan di samping Andre, lalu menepuk bahu Andre beberapa kali, setelahnya berlalu pergi meninggalkan sekelompok orang itu.
.
.
__ADS_1
.
Tbc