Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)

Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)
#68


__ADS_3

Sepulang sekolah Kian tak langsung pulang melainkan harus pergi ke rumah Sarah terlebih dahulu sesuai amanah dari Bu Bianca selaku wali kelas.


"Assalamualaikum, permisi." Ucap Kian setiba di rumah Sarah yang kini ia berada di depan pagar rumah yang begitu tinggi.


"Waalaikumsalam, eh non yang waktu itu kan?" Tanya satpam yang membuka pagar besi itu.


"Iya pak. Sarah ada?"


"Non Sarah udah berapa hari gak pulang non."


"Emang dia kemana pak, kalo boleh tau?"


"Saya sih gak tau non. Tapi non bisa tanyakan langsung aja ke tuan."


"Emang om Daren ada di rumah?"


"Ada kok non. Non tinggal masuk aja. Atau mau saya anter?"


"Eh gak usah kok pak. Kian bisa sendiri. Makasih ya pak."


Setelah pamit Kian masuk ke rumah itu. Rumah yang begitu besar dan rapi, Kian sampai berpikir rumah itu akan sepi jika di tinggali hanya dua orang saja. Berbeda dari rumahnya yang minimalis seperti di komplek komplek biasa. Yang hanya terdiri dari dua lantai, berbeda dengan yang ini.


"Assalamualaikum..." Kian yang kini sudah menginjak lantai ruang tamu karna pintu tak di tutup.


Tak lama ada seseorang lewat sana.


"Eh... Non Kian kan?" Tanyanya


"Iya bik. Bibi apa kabar?" Menyalami bik Surti yang merupakan pembantu di rumah itu.


"Baik non. Kalo non sendiri?"


"Alhamdulillah, Kian juga baik kok bik. Oh ya Sarah ada bik?"


"Eh... itu..." Ucapnya yang ragu.


Tiba tiba datang satu orang lagi di sana sambil membawa beberapa berkas ditangan.


"Siapa bik?" Tanya nya, yang kemudian menoleh pada Kian.


"Kian?"


"Siang om." Ucap Kian yang kemudian menyalami Daren.


"Ada apa Ki? Kok tumben ke sini?" Tanya nya yang masih dengan posisi berdiri.

__ADS_1


"Kian cuma mau kasih amanah bu Bianca wali kelas Kian sama Sarah. Ini buku sama kertas ulangan Kian om." Menyerahkan barang yang ada di tangannya.


"Oh begitu. Terima kasih ya." Dengan senyum simpul.


"Em... Om Sarah kemana ya? Berapa hari gak masuk sekolah. Apa dia sakit? Semua orang nanyain Sarah di sekolah. Dan kami semua khawatir om." Tanya Kian dengan hati hati.


"Huh..." Daren yang menarik nafas panjang yang seketika wajahnya berubah lesu dan khawatir, kemudian duduk di sofa yang ada di sana.


"Jangankan kamu dan teman teman sekolah mu Ki. Om saja khawatir sama Sarah. Dia udah gak pulang beberapa hari. Om juga udah cari dia kemana mana, tapi sampai hari ini belum juga ketemu." Mata nya yang sudah memerah.


"Ini semua salah om Ki. Andai waktu itu om gak ngomong kayak gitu, mungkin sekarang Sarah masih berada di sini." Lanjutnya.


Kian masih menatap Daren yang kini sudah menangis dan tertunduk. Kian bingung harus berbuat apa, apakah dia harus bicara atau tidak. Jika pun iya, ia tak tau harus bicara seperti apa. Ini keluarga mereka, sedangkan Kian tak tau apa apa soal keluarga ini.


"Ki,.."


"Eum... Memang apa yang sudah terjadi sebelumnya om? Sampai Sarah pergi dari rumah." Tanya Kian yang terlihat begitu kepo. Namun yang sebenarnya adalah ia tak tau harus mengatakan apa, hingga ia hanya bisa meneruskan kalimat yang Daren lontarkan.


"Ini semua gara gara......." Daren menjelaskan semuanya pada Kian apa yang terjadi selama ini pada Sarah dan dirinya.


Mendengar cerita itu pun membuat Kian kaget. Ia benar benar tak menyangka dengan hal itu terjadi pada Sarah, membuat Kian sadar kenapa selama ini Sarah begitu terlihat lugu bahkan lebih sepi darinya. Kian merasa begitu bersalah dengan apa yang terjadi beberapa hari lalu. Ia ingin sekali menjelaskan kesalah pahaman yang ada antara nya dan Sarah. Namun arah selalu menghindar, hingga sampai saat ini kesalahpahaman itu belum juga terselesaikan.


"Yang sabar om. Kian akan berusaha juga buat cari dimana Sarah berada." Yang saat ini Kian sudah berada di sofa satunya lagi dengan jarak yang tak begitu jauh. Berusaha menghibur pria yang sedang bersedih itu.


"Terima kasih Ki. Sarah dan Kavin beruntung memiliki sahabat seperti kamu."


"A... a.. Ada apa om?"


"Ki, om punya satu pertanyaan sama kamu. Tolong kamu jawab Ki. Om sangat ingin tau dan perlu jawaban. Dan cuma kamu yang bisa jawab."


"Eh? Emang apa yang sampe cuma Kian yang tau om?" Bingung Kian


"Kamu kan sudah kenal lama almarhumah istri om Ki. Pasti dia juga banyak cerita kan sama kamu kan? Om mau tanya apa almarhumah menikah lagi? Dan apakah Gio itu anak dengan suaminya? Tapi kenapa om tidak melihat suaminya kemarin?" Tanya Daren yang begitu lirih dengan tangan yang masih mencekal tangan Kian.


"Ee... Kalo itu...."


"Kian..!" Panggil seseorang yang saat ini berdiri di tengah pintu rumah itu. Yang kemudian merebut sebelah tangan Kian dan melepaskan cekalan tangan itu dengan paksa.


"Apa yang kau lakukan di sini hm? Apa kau terluka?" Sambil memutar mutar badan Kian dan melihat bekas cekalan itu dengan posesif.


"Gw gak apa apa Devan. Lo kenapa ada di sini? Lo juga gak sopan banget sih. Dateng tuh assalamulaikum kek, ini malah teriakin nama orang. Hormati yang...."


"Udah diem." Ketusnya. Yang kemudian Devan menatap tajam ke arah Daren.


"Sudah ku katakan jangan tanyakan apa apa lagi tentang keluarga ku. Apa kau tidak mengerti hah?!" Teriak Devan lagi.

__ADS_1


"Vin, papa cuma mau...."


"Mau apa hah?!"


"Devan!! Bisa gak lebih sopan sama orang tua. Jangan teriak teriak gitu." Marah Kian, yang tidak diindahkan oleh Devan. Ia tetap memandang Daren bagai singa kelaparan.


Devan yang sudah geram dengan Daren hendak melangkah mendekatinya,....


"Huh... Huh ... maaf tuan, tuan muda memberontak untuk masuk." Ucap satpam yang tiba tiba muncul di depan pintu tanpa melihat ke depan, terlihat kesakitan dan kelelahan.


Seketika setelah melihat keadaan rumah itu, satpam yang tadi berucap malah diam seribu bahasa.


Menerka apa yang akan di lakukan oleh Devan, membuat Kian langsung menahan tangannya dan membawa Devan keluar dari rumah dari pada masalah tambah riweh.


Tanpa bantuan satpam Kian menyeret Devan sampai ke luar pagar. Tentu saja si mpu memberontak ketika sudah sampai.


"Lo apa apaan sih Ki. Gw belum selesai ngomong ama tuh pak tua." Wajah Devan yang benar benar terlihat kesal


"Lo tuh yang apa apaan! Dateng dateng ke rumah orang malah ngajak ribut. Sampe satpam aja lo pukul. Iya kan?!!"


"Ya salah dia sendiri ikut campur. Gw cuma...."


"Cuma apa?!" Sergah Kian, "Terus lo kok tau gw disini?!"


"Em... em..... Firasat aja. Lagian gw gak bakal biarin lo masuk ke kandang macan ini. Lo ngapain ke sini?!"


"Gw cuma anter titipan Bu Bianca buat Sarah. Tapi belum selesai gw ngomong elo dah masuk aja. Bikin ribut juga. Lo mau ngapain ke sini hn?" Kesal Kian


Bukannya menjawab Devan malah mengusir Kian untuk pulang, sedangkan dia? Dia mungkin akan kembali masuk ke sana. "Ribet lo. Udah pulang sana. Lagian urusan lo juga udah selesai kan?!."


"Belum. Gw belum pamit sama om Daren. Minggir lo." Ucap Kian menyingkirkan Devan yang di depannya. Namun buka tersingkir Kian malah di tarik oleh Devan, mencegah nya agar tak masuk lagi.


"Udah gw selametin, lo mau kembali ke sana lagi. Dasar aneh lo. Gak ada! Pulang sekarang Kian."


"Kalo gw pulang, terus lo mau masuk kan? Mau ngajak berantem lagi. Inget Devan, om Daren tuh papa lo, lo gak boleh gitu sama dia."


"Terus dia aja gitu yang kayak gini ke gw? Iya?!" Ucap Devan yang kembali hendak melangkah masuk, namun juga di tarik oleh Kian.


"Apaan sih lo!"


"Dari pada lo ribut lagi mending lo juga ikut pulang sama gw. Ayok!!" Kian menarik Devan menjauh dari sana. Dan ntah kenapa si mpu hanya diam dengan tangan kanannya di genggam dan di tarik oleh Kian, tak ada penolakan sedikit pun. Yang Kini terlihat wajah Devan yang lucu, antara ada rasa senang namun di tutupi dengan wajah datar itu.


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa komentar🤗🤗🤗💬


__ADS_2