
🌹HAPPY READING GUYS🌹
_______*_______*_______*_______*_______*______
Tap.... Tap.... Tap....
Seseorang masuk ke dalam toko yang begitu besar dan mewah itu.
Dengan kacamata hitam, jas navy di padu dengan sweter turtleneck abu-abu, celana panjang senada dengan jas, dan sepatu hitam yang mengkilap. Berjalan tegap dan gagah membuat semua orang yang ada di sana terpukau melihatnya.
"Se... se... selamat siang tu..... tuan Theo." Ucap salah satu pelayan toko itu.
Saat ini ada dua orang pelayan perempuan cantik yang berdiri di dekat pintu masuk, dan tentu saja menyambut semua pembeli yang masuk termasuk juga Theo.
"Apa teman mu ini gagap? Sehingga berbicara seperti itu?" Tanya Theo pada pelayan perempuan satunya lagi sambil membuka kacamatanya. Sedangkan pelayan yang baru saja menyapa Theo itu sudah gemetar tak bisa bicara dengan jelas karena melihatnya.
"Maaf kan dia tuan Theo. Sepertinya dia sangat....."
"Sangat terpesona dengan ku?"
"Iya tuan." Saut nya
"Tentu saja Tuan. Kau begitu tampan secara asli dari majalah yang sering ku lihat." Ucap pelayan perempuan yang gemetar tadi dalam satu tarikan nafas.
"Hahaha.... Jelas saja (Tawanya puas). Hmm.... aku sedikit terhibur dengan datang kemari. Catat nomor ini!! Karna kalian sudah membuatku senang hari ini. Ha.. Ha.. " Ucap Theo dengan bangga.
Tentu saja saat Theo mengucapkan digit-digit angka itu, kedua pelayan itu langsung mencatatnya dengan semangat dan serius agar tak tertinggal ataupun salah dalam penulisannya. Bagaimana tidak? Walaupun Theo baru pertama kali datang ke toko itu, semua orang tau dengannya. Pengusaha kaya itu sangat di kenali oleh orang orang. Penampilan yang selalu memukau, wajah yang tampan dan senyum tengil itu, membuat semua perempuan menggilainya.
"Tu... tuan Theo. Apa kau tidak salah memberikan kami nomor ponselmu?" Satu pelayan yang dari awal terlihat tenang namun dalam hatinya sudah begitu bahagia dan hampir pingsan.
"Tentu saja tidak. Jika kalian ingin pekerjaan, kalian bisa menghubungi nomor itu atau datang ke rumahku." Ucapnya dengan mengedipkan salah satu matanya yang sedikit berbisik pada mereka berdua.
Membuat teman pelayan perempuan itu seperti orang kesurupan. Berteriak histeris dan senyum senyum tak jelas, sampai ia tak memandang ke arah lain lagi selain Theo.
"Oh ya.... Aku dengar di sini banyak sekali novel terbaru dan terbagus. Aku ingin membelinya untuk keponakan ku."
"Oh tentu saja Tuan. Mari kami antar." Ucap pelayan itu.
Kedua pelayan itu membuntuti kemana pun Theo pergi. Dan mengenalkan Theo dengan buku buku yang ada di sana.
"Waw... buku-buku yang ada di rak ini sangat bagus untuk di baca."
"Ya tuan seperti yang kau bilang. Buku buku ini keluaran terbaru dan masih menjadi perbincangan hangat di kalangan readers novel." Jelasnya.
"Hmmm.... sangat menarik. Lebih menarik dari para perempuan yang ada di sini." Gumamnya.
"Tuan, apakah kau senang membaca novel? Uh berati kau adalah pria yang romantis bukan."
"Diam lah. Apa kau tuli tadi, aku bilang ini untuk keponakan ku. Aku akan memborong ini. Tapi biarkan dulu dia disini. Aku masih ingin mencari satu buku lagi. Dan kalian kembalilah bekerja, jangan mengikuti ku terus." Ketus Theo yang merasa terusik saat ia sedang memuji novel novel itu.
Seketika dua orang pelayan tadi langsung berjalan kembali ke tempat mereka karna takut dengan ucapan Theo. Nada sedikit sinis dan tajam itu membuat mereka merasakan aura yang berbeda.
Disaat yang bersamaan ada seseorang lagi yang masuk ke dalam toko itu..
Tap.... Tap...
"Siang Feb." Sapa resepsionis yang tak jauh dari pintu masuk. Karna kedua pelayan yang bertugas menyambut tamu malah menghilang, alih alih ia yang ganti menyambut.
__ADS_1
"Siang juga kak Aulens."
Febbry yang datang ke pusat toko buku itu sudah kenal dengan mereka yang bekerja di sana. Bagaimana tidak, Febbry adalah langganan tetap di sana. Dan apabila Febbry ke sana maka tak main main dalam membeli buku. Hampir ia borong semua buku yang baru dan terbagus yang ada di sana. Membuat para orang yang bekerja di sana memandang Febbry seperti ATM berjalan yang selalu saja membayar mahal ke toko buku itu.
"Mau cari buku buat nilai kamu lagi ya?"
"Iya kak. Tau aja." Febbry yang tertawa renyah.
"Tau lah. Berkat kamu lagi beberapa hari lalu banyak sekali orang orang yang mencari buku yang waktu itu kamu beli. Kami sebagai pihak toko sangat berterima kasih Feb. Dan untuk itu kami akan memberikan diskon untuk mu kali ini."
"Wah... Benarkah? Tapi tak usah kak. Berikan saja pada seseorang yang layak menerimanya. Dan aku mau itu harus benar benar diterimanya." Ucap Febbry. Mungkin akan sedikit terlihat sombong dengan ia yang berucap seperti itu. Namun ia benar benar merasa begitu, baginya diskon itu tak memiliki fungsi untuknya. Lagi pula kedua orang tuanya masih sanggup untuk membeli buku buku yang ia mau tanpa harus diskon. Jika tak dihabiskan maka untuk siapa lagi uang yang dihasilkan oleh kedua orang tuanya itu. Seperti itulah pikiran dari Febbry.
Febbry langsung melangkah menuju rak yang biasa tersusun buku buku best seller yang ia suka dan mau. Dan harus digaris bawahi ia harus mencari buku pesanan pacar Bimo. Sedikit kesal baginya namun tak apa lah, berbaik hati pada orang lain.
"Huh... untung buku bukunya masih ada." Dengan senang hati Febbry mengambil sembilan buku yang ada di sana. Lima untuk dikumpulkan, dan empatnya untuk ia baca sendiri sebagai koleksi. Lalu tersisa satu buku lagi yang harus ia dapat.
Sepuluh menit ia berdiri disana untuk mencari buku pesanan pacar Bimo yang lumayan sulit itu. Yang akhirnya ketemu juga.
Ia langsung membawa semua buku yang ia pilih ke meja kasir.
"Wah.... banyak sekali Feb. Apa kau punya perpustakaan pribadi di rumah untuk menampung semua buku buku ini?"
"Tentu saja ia. Dan yang ini kak tolong di bungkus ya. Soalnya itu buat kado seseorang."
"Oh buat pacar kamu ya?"
"Febbry mana punya pacar kak. Punya temen tuh."
"Oh oke. Kirain udah punya. Cantik cantik gini masa belum sih?"
"Hmm... Iya deh. Eh itu, kertas kado nya tinggal warna coklat Feb? mau?"
"Gpp. Bungkus aja kak."
'Kan bukan buat gw juga. Bodo amatlah yang penting di bungkus."
Lama Febbry menunggu buku itu di depan meja kasir, tiba-tiba......
"CLARA!!! DARLA!!!!" Teriak seorang laki laki dari jejeran rak buku di sana. Membuat kedua wanita yang di panggil itu berlari pontang panting, buru buru menghampirinya.
Sontak satu toko buku langsung terkejut dengan teriakan itu.
"Ke mana buku buku yang ku pilih di rak ini?!"
"Maaf tuan. Kami tidak tau. Kan tuan tadi menyuruh kami untuk kembali ke tempat."
"Argghhh .... Tidak berguna kalian!"
Orang itu terus marah marah pada kedua pelayan itu dan tak ada yang berani menentangnya.
Mendengar keributan dari seorang laki laki itu membuat sang manajer langsung ikut keluar untuk menghampiri dan menyelesaikan masalah yang terjadi.
Sedangkan di meja kasir Febbry yang mendengarnya merasa risih.
"Kak, suara siapa sih?"
"Ohh itu mungkin tuan Theo yang marah."
__ADS_1
"Siapa dia? Pemilik toko ini?"
"Bukan Feb. Dia adalah pembeli di sini. Dia juga baru pertama kali datang kemari, membuat kami begitu senang dan sedikit terkejut juga. Bagaimana tidak, toko ini bisa di kunjungi oleh pengusaha muda nan sukses itu yang masuk kedalam salah satu jajaran pengusaha muda yang paling sering di sorot media dan publik. Tapi sepertinya kami juga akan mendapatkan masalah besar kali ini. Karna toko kami tidak memberikan kesan bagus sama sekali padanya."
"Ohh sayangnya aku tidak kenal itu. Sudahlah kak Aulens hanya dia. Kakak kan punya langganan tetap disini."
"Hmm... iya."
Setelah pertengkaran itu tak ada bunyi nya lagi, seseorang datang ke kasir menyerahkan satu buku yang hendak di bungkus kado juga. Dengan wajah yang kesal dan marah orang itu berdiri di depan kasir. Membuat Aulens sedikit takut, namun tidak dengan Febbry.
Orang itu terus menatap sekitar tak terkecuali dengan paper bag yang berada di meja itu. Tentu saja itu paper bag milik febbry.
"Hey kau!!! Sejak kapan kau berada di toko ini?"
Febbry yang mendengar lontaran pertanyaan itu membuatnya menoleh ke samping, melihat pada orang itu. Febbry menatap dari atas sampai bawah, menatap datar orang itu.
"Tuan bertanya pada saya?"
"Menurutmu? Apa ada orang lain lagi disini yang cocok dengan pertanyaan itu?"
Ya, saat ini yang ada di meja kasir hanya mereka bertiga. Febbry, Theo dan tentu saja Aulens yang menjadi kasirnya.
"Ohh... Iya. Saya berada disini sudah dari dua puluh menit yang lalu. Ada apa? Apa tuan keberatan?"
"Jadi kau yang sudah mengambil buku buku ku itu?!!! Kembalikan buku itu. Aku sudah melihatnya lebih dulu dari kau! Maka aku yang harusnya membeli buku-buku itu."
"Jika tuan yang melihatnya lebih dulu kenapa tuan tak langsung mengambilnya kalau tuan ingin? Dan masalahnya sekarang saya sudah mengambil dan membelinya. Jadi saya harap tuan tidak mempermasalahkannya! Sudah cukup saya mendengar ocehan dan teriakan tuan tadi."
"Baiklah baiklah. Saya akan membeli buku itu. Berapa harga yang kau inginkan? Dua kali lipat, lima kali lipat, oh tidak atau sepuluh kali lipat. Katakan saja..."
"Hahahaha.... Sungguh anda sangat lucu tuan. Menurut anda saya akan menjual buku ini pada anda dengan harga yang anda tawarkan tuan. Oh anda salah besar. Saya tidak peduli dengan harga itu. Bahkan harga buku ini lebih tinggi dari anda, tuan!"
Aulens yang mendengar kedua orang kaya itu berucap malah terpaku membisu. Memikirkan, buku saja diperebutkan bahkan dengan harga yang fantastis. Ia sampai tak habis pikir.
'Apakah begini cara orang kaya menghabiskan uang. Bahkan buku yang harganya tak setinggi itu ditawar begitu mahal. Dan hebatnya yang satunya lagi bisa menolak. Kalau begini aku mau pindah saja jadi novelis. Berharap buku buku ku akan diperebutkan juga oleh dua orang kaya ini.'
"Hey!! Bocah. Apa yang barusan kau katakan. Kau pikir aku tidak sanggup membelinya? Bahkan toko bersama pekerja yang ada disini saja bisa ku beli dalam sekejap. Dan kau berani berkata seperti itu!!"
"Lalu apa kau punya masalah tuan sombong dan angkuh!!"
"Kau tidak takut padaku he?!" Ucap Theo yang matanya sudah sebesar biji karet.
"Untuk apa aku takut dengan orang gila sepertimu!"
Duakh....
"YAKKK!!! Akhhhh"
.
.
.
.
.
__ADS_1