
Kring.... Kring....
Bel sekolah berbunyi, menandakan setiap siswa siswi yang di sekolah harus masuk kelas menunggu guru mereka dan belajar. Begitu pun dengan anak kelas 12 yang sebentar lagi akan menghadapi ujian dan lulus.
Karena sebagian besar bahkan delapan puluh persen siswa kelas 12 ikut study tour dan camping, maka hanya terlintas beberapa siswa saja yang belajar di kelas, termasuk Kian.
Kini ia sudah mendudukan bokongnya di kursi tempatnya duduk. Merebahkan kepalanya yang sedikit pusing di meja beralaskan kedua tangan. Menurutnya beberapa hari ini akan membosankan sebab tak ada sahabatnya, apalagi dengan kondisi kelas yang sepi hanya di hadiri oleh lima orang siswa termasuk dia saat ini.
Rata-rata yang tidak ikut study tour dan camping adalah anak-anak ambis ujian. Mereka tak akan mau ketinggalan pelajaran sedikit pun untuk menghadapi ujian yang sebentar lagi akan diadakan. Berbeda dengan Kian yang tak ikut, yang memang punya alasan tersendiri untuk itu.
Brakh...
Seseorang melemparkan tasnya di atas meja, Kian tersentak kaget membuat rasa kantuknya menghilang seketika. Kian menoleh ke arahnya, melihat dengan tatapan malas, dan kembali lagi membelakangi dirinya, merebahkan kepala di atas meja.
"Sakit lo?"
Pertanyaan yang membuat Kian menoleh kembali dan segera menggeleng malas.
"Terus?"
"Bosen liat lo." Ketus Kian asal, karena malas.
Ia menatap tajam Kian, "Ngomong lagi!"
"Gue bosen liat lo Devan! Puas lo!" Kian sedikit berteriak, membuat anak-anak yang ada di bangku depan menoleh ke arahnya.
Sret....
Devan menarik bangku Kian hingga mereka duduk bersebelahan saat ini, bahkan tak ada jarak.
"Wah, kurang ajar. Modus lo ya!!" Kian sudah mengangkat tangan kirinya hendak memukul Devan, namun langsung di tangkisnya.
"Jadi cewek gak boleh kasar." Sedikit berbisik ke telinga Kian, hingga membuat bulu kuduknya meremang.
Kini tangan Kian malah dipegang dan ditahan oleh Devan. Si mpu memberontak meminta tangannya dilepas. Namun dia adalah Devan bukan orang lain yang bisa menerima perintah begitu saja.
"Diem!!" Ucapnya dingin.
Tak lama guru pun masuk, dan melihat Kian serta Devan yang duduk begitu dekat. Kian merasa risih dan juga takut kalau guru itu akan memarahinya, sedangkan Devan dengan wajah santainya masih memegang tangan Kian agar anak itu tidak kabur.
"Kian, Devan? Ada apa dengan kalian?" Guru yang ada di depan itu memicing melihat keduanya, namun tak melihat pegangan itu sebab tertutup dengan meja. Kian gelagapan dan hendak membalas ucapan sang guru, namun sayang tak sesuai keinginannya.
"Hari ini Kian akan bantu saya bu, agar lebih paham sama materinya." Santai Devan mendahului Kian, dan tentu saja membuat Kian melotot.
"Ya sudah, itu lebih baik. Kalian sebentar lagi akan ujian, jadi belajarlah dengan rajin. Bahkan ibu sangat senang kalau kamu ada niat belajar Devan."
Bukannya marah, guru itu malah bersyukur dan menyunggingkan senyuman pada Kian dan Devan. Padahal Kian sudah berharap jika mereka akan di tegur, dan Devan akan melepaskan tangannya.
Sepanjang pelajaran Devan selalu melihat keluar jendela dan sesekali melihat Kian, sedangkan tangannya masih kukuh memegang tangan kiri Kian. Bukan berarti Kian senang, kadang tangan itu memberontak paksa saat si mpu terlihat begitu santai. Namun tetap saja tangan itu tak bisa lepas.
Jam pelajaran habis, catatan selesai dan Kian pun ingin memakan bekalnya. Secara otomatis sekali tangan Devan pun terlepas dengan masih menatap ke luar jendela. Kian yang melihat itu, malah bersungut-sungut mengatai Devan. Ia juga sedikit kesal, sebab sepanjang pelajaran tangannya selalu di tahan, bak tawanan saja.
"Van, lo gak ke kantin?" Kian berbasa-basi, dan sudah mengeluarkan kotak makan siang. Kian tak bisa menganggap seseorang yang ada di depannya bagai tak ada. Walaupun masih sedikit kesal ia pun mencoba mencairkan suasana yang begitu senyap.
"Gak." ketusnya
"Gak makan?"
"Gak."
"Gak laper?"
"Gak."
"Gak hidup?"
"Gak... Eh..." Langsung ia menoleh ke arah Kian dengan tatapan yang tajam dan wajah datarnya.
"Hahahaha... Becanda kali Van. Hidup lo serius banget sih. Dah ah, males banget gue liat tuh ekspresi." Devan hanya menatap malas Kian.
"Nih." Kian memberikan kotak bekalnya pada Devan. Pagi tadi Kian bangun sedikit kesiangan, sehingga ia hanya bisa membuat empat buah sandwich segitiga dengan isian telur.
Devan dengan kebiasaannya selalu menolak apapun itu, "Gak, makan aja."
"Ya, padahal gue sengaja buat ini banyak biar bisa makan sama lo." Kian yang sadar dengan bunyi perut Devan saat jam pelajaran tadi memilih mengalah dan merendah sedikit pada manusia yang egonya begitu tinggi itu.
"Gak ada yang suruh juga."
"Huh..." Kian menarik tangan Devan, menyelipkan satu sandwich di sana. "Inget harus makan. Gue udah capek-capek buatin, dan jangan di buang juga." Ucap Kian yang tau kalau Devan begitu keras kepala. Jika ia tak mau pasti akan ia buang.
"Gak baik buang-buang makanan Van." Lanjutnya.
Devan terpaksa memakan makanan itu, ia juga paham bagaimana susahnya mendapatkan makanan hingga ia melahap makanan itu sampai habis.
"Gimana Van? Enak gak?" Tanya Kian berbinar, berharap akan mendapat pujian baik dari Devan.
"Gak, biasa aja."
"Biasa aja tapi habis juga." Cibir Kian.
"Lo sendiri kan yang bilang makanan jangan di buang."
"Iya juga sih." Kian merasa ia terjebak dalam kalimatnya sendiri.
__ADS_1
Kini ruangan itu kembali sepi, Devan juga tak terlihat ingin memanjangkan percakapan yang di buat Kian. Membuatnya begitu malas melihat Devan.
"Oh ya Van, thanks buat kadonya. Bukunya bagus, tapi gak ada garisnya, kemana ya kira-kira? Apa ketinggalan pas di percetakan?"
"Sengaja, biar lo sekalian bisa gambar di sana."
"Ha? Gimana maksudnya?"
"Lo gak inget?" Tanya Devan yang kini melihat ke arah Kian. Kian hanya menggeleng dan memasang wajah bingung nya.
"Tiap lo nyatat di buku gue, gue selalu dapet oleh-oleh umpatan sama coretan gak jelas di buku bagian paling belakang. Buku bagian belakang lo juga penuh coretanya kayak anak SD. Lo udah mubazirin kertas bukunya. Lain kali kalo mau curhat jangan di belakang buku, bikin malu."
Mendengar penuturan dari Devan tentang kebiasaannya mencoret buku saat sedang gabut membuatnya menepuk jidat dengan keras. Ia benar-benar merutuki keteledorannya. Bahkan ia tak bisa membedakan mana bukunya dan mana buku Devan. Ia tak tau apa saja yang telah ia tulis dan gambar di buku Devan. Dan tentu saja si mpu pasti sudah membaca dan melihatnya.
'Oh astaga, gw pengen tenggelam aja deh rasanya. Bisa bisa nya gw seteledor itu. Akhh....!'
Karena malu, malu untuk mengingat dan malu juga terhadap Devan, Kian langsung mengubah topik pembicaraan. Ia melihat kotak besar yang terbalut dengan keras kado berwarna pink bergambar beruang. Ya, itu kado yang kemarin sempat ia tinggal. Kado dari teman seorganisasinya.
"Wah.. Gede banget nih kado. Kira-kira apa ya isinya?" Kian bermonolog sendiri sambil memutar mutari kado itu.
Krak... krak...
Kian membuka dengan seenaknya, dan....
"Hah.. Ternyata lo masih bocah ya. Masih aja main sama boneka." Cibir Devan, yang melihat isi kado itu ternyata Boneka beruang besar berwarna pink.
Sedikit info, Kian sama sekali tak menyukai warna pink. Yang ia sukai warna gelap, seperti hitam atau dark coklat atau warna warna pastel, kecuali PINK, perlu di garis bawahi. Ia juga tak suka dengan boneka, yang ia suka adalah barang barang berbau seni seperti foto, lukisan atau buku.
Sebenarnya Kian sedikit syok dengan hal itu, namun bagaimana pun itu adalah kado dari temannya.
"Terus masalah buat lo he? Gak apa-apa juga sih boneka nya gede. Enak banget nih kalo dipeluk." Bangga Kian. "Lagian boneka nya juga lucu bikin gemes."
"Bocah banget!"
"Bodo amat. Toh sebagian besar perempuan juga pasti suka sama boneka."
"Norak."
"Ye, bilang aja lo iri. Lo gak punya kan? hu..." Kian mengejek Devan. Sedangkan si mpu hanya memasang wajah datar seperti jalan aspal.
Drttt... Drttt....
Ponsel Kian bergetar menandakan ada panggilan masuk. Kian segera menjawabnya, siapa tau itu dari orang yang selama ini tunggu.
Ia melihat layar ponsel itu bertuliskan Jerry , 'Huh, kirain bunda atau ayah. Hmm.'
"Assalamulaikum, kenapa?"
"Kenapa apanya?"
"Kenapa kamu gak ikut cantik? Kalo gini kan males banget jadinya. Kamu gak bayar uang kas? Atau ortu kamu gak izinin?"
"Gak kok. Emang gue aja yang males, dan pengen belajar aja."
"Hmm... otak tuh gak baik selalu dipaksain buat belajar cantik. Sekali-kali ajak refreshing lah. Ya udah deh kalo kamu gak ikut. Maaf ya aku telpon kamu sekarang. Oh ya inikan masih jam istirahat, udah makan?"
Sejujurnya Kian malas dengan obrolan itu. Obrolan yang terlalu banyak kata romans yang sedikit menggelikan bagi Kian.
"Udah."
"Syukur deh kalo gitu. Oh ya, udah buka kado dari aku kan? Gimana suka gak?"
Mendengar pertanyaan itu, Kian melirik boneka beruang berwarna pink yang ada di pojokan. Pita berwarna emas yang begitu besar menggantung di lehernya. Benar benar membuat Kian sedikit frustasi.
"Iya udah kok. Maksih ya, gue suka kok."
"Bagus deh."
Tanpa Kian sadari Devan mendengar percakapan nya dengan Jerry. Mendengar setiap ucapan yang ada, sebab Kian berada di belakang Devan.
"Ya udah, jangan terlalu maksa buat belajar ya. Nanti malah sakit, gue gak mau nanti....."
Belum selesai kalimat itu, sudah ada suara orang lain dari pihak Kian, "Ki, ayo belajar lagi. Lo bilang mau ngajarin gue sampai gue paham."
Kian langsung menoleh ke arah Devan dengan tatapan tajam namun juga bingung.
"Loh Ki, itu siapa? Lo lagi sama siapa?"
Sret...
Devan mengambil paksa ponsel Kian yang melekat di telinga kanannya.
"Udah dulu ya. Gue sama Kian masih ada tugas buat dikerjain."
Tut...
Sambungan telpon terputus secara sepihak oleh Devan.
"Lo kenapa sih Van?!"
"Gue dari tadi liat wajah lo kusut amat balas tuh omongan orang. Harusnya lo bersyukur gue udah nolongin lo tadi."
"Gak tau lah gue. Serah lo aja." Kian yang terlihat begitu pusing.
__ADS_1
"Ayo sini ajarin gue!"
"Lah emang beneran mau belajar?" Kian tak percaya.
"Kalo gue gak belajar ngapain gue sekolah!"
"Wah tumben otak lo bener."
Sret...
Brukh....
Devan menarik lagi kursi Kian dan memaksanya duduk di kursi itu yang saat ini ada di sisi kanan meja Devan. Devan memajukan dagunya, dengan isyarat agar Kian cepat memulainya.
"Mapel apa aja yang lo gak ngerti?"
"Semua."
"Gilak kali Van. Masa gue harus jelasin semuanya dalam satu hari." Keluh Kian, ia juga termasuk manusia yang tak mau serakah akan ilmu. Baginya berbagi adalah hal yang sangat bagus apabila memiliki sesuatu yang di butuhkan orang lain. Namun jika permintaannya seperti Devan, maka tentu ia akan merasa sedikit kesulitan.
"Mapel yang bener-bener lo gak ngerti aja, apa? Kita mulai dari yang itu aja."
"Ada sih yang paling gue gak ngerti."
"Iya apa?!"
"Nih, depan gue." Ucap nya singkat namun membuat Kian malah melihat bola mata itu, yang di dalamnya ada pantulan dirinya.
"SERIUS DIKIT NAPA SIH VAN?!"
"Mata lo gak buta kan?! Nih!" Devan paling malas jika ada seseorang meneriakinya, hingga ia mengangkat dan menghempaskan kembali buku yang ada di mejanya itu. Buku fisika yang begitu mencolok.
Kian pun langsung menjelaskan tentang materi yang ada di buku itu, mulai dari bab pertama sampai bab saat ini. Sesekali ia bertanya pada Devan apakah ia sudah mengerti atau belum, dan si mpu pun mengangguk dan ber-oh ria.
"Jadi udah ngerti kan?"
"Hn.." Ucapnya manggut-manggut.
"Ya udah sekarang kita coba latihan ya"
"Hn.."
Singkat, padat namun memiliki arti yang dalam. Bahkan di saat Kian asik menjelaskan ia malah asik memandangi Kian dengan santainya tanpa di sadari oleh Kian. Dan menjawab sesuka hatinya saat ditanya oleh Kian, seperti itu lah Devan.
"Weh... Ada yang ngambis juga ternyata." Ucap salah satu dari tiga orang yang masuk ke kelas mereka dan merupakan siswa siswi kelas dua belas Ipa satu.
Namun Devan tak menggubris sama sekali, ia tau jika sindiran itu untuk dirinya, tak mungkin untuk Kian sebab perempuan itu jelas akan selalu menduduki peringkat pertama di papan pengumuman.
Ketiga orang itu berada di depan kelas sedangkan Kian dan Devan berada di bangku paling belakang kelas.
"Gue kira gak ikut study tour kenapa? ternyata ngambis juga." Sinisnya, ketiga orang itu terdiri dari dua orang laki-laki dan satu perempuan yang menduduki posisi nomor dua, tiga, dan lima di papan pengumuman. Selalu berambisi mengalahkan Kian namun belum juga berhasil.
"Terus? Gak mungkin kan lo takut karena gue belajar." Dibalas oleh Devan dengan senyum miring.
Sebenarnya ada banyak siswa yang tak suka dengan Devan. Entahlah mungkin karena sifat dan sikapnya yang selalu tak bisa berbaur bahkan lebih suka semaunya. Membuat orang merasa Devan terlalu aneh. Belum lagi ia merupakan siswa yang membuat guru BK sampai sakit kepala bahkan sampai tak mau mengurusi dirinya lagi.
Tapi karena Devan merupakan orang yang tak suka mencari masalah ataupun menantang, ia lebih suka cuek saja pada mereka yang selalu menatap aneh bahkan ia juga sering mendapat gunjingan dari mereka. Maka dari itulah Devan jarang bertengkar dengan mereka sebab tak terlalu peduli.
"Hah? Takut? Takut dengan si peringkat terakhir? Oh mungkin lo salah presepsi bro. Ki, dari pada lo capek ngajarin nih anak mending gabung sama kita."
"Hey dude, Maybe you're just too afraid of this last rank?" Ucap Devan dengan penuh penekanan dan sindiran, dan tak lupa dengan senyum miring itu. Ntah kenapa hari ini ia sedikit tersulut emosi, dan membalas kalimat tak berguna itu.
"Lo?! Kalo lo bisa singkirkan gue dari posisi itu, gue bakal akuin kalo lo emang pinter." Tantangnya sambil menunjuk Devan. Kalimat yang di lontarkan oleh Devan seperti sebuah penghinaan baginya hingga merasa sangat kesal dan marah.
"Apa artinya sebuah pengakuan hn? Gak asik lah..."
Kian menatap Devan dari samping, ia benar-benar tak habis pikir dengan manusia di sampingnya ini. Selalu saja senang membuat orang lain naik darah.
"Lo!!" Siswa itu hendak maju mau menghajar Devan namun ditahan oleh kedua orang di sampingnya, "Oke! Kalo lo bisa, apa aja yang lo mau bakal gue lakuin."
"Well, that's just a cool game." Senyum Devan puas.
Ketiga orang itu langsung ke luar dari kelas Kian dan Devan. Bisa dibilang ketiga manusia apalagi si ketua adalah musuh Devan secara sepihak.
Kian menempelkan telapak tangannya di kening Devan, yang kemudian dibalas dengan tatapan mata tajam oleh nya.
"Lo gak panas Van. Tapi kok gini ya?" Kian terheran-heran.
Devan menepis kasar tangan Kian, "Bantuin gue. Gak ada penolakan!" Serkasnya.
.
.
.
.
.
.
💬❤😭🙏
__ADS_1