Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)

Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)
#11


__ADS_3

"Lo ngapain sih!!!"


"Nyatat. Kenapa?" Ucap sarah dengan wajah tanpa dosa.


"Itu buku gw. Balikin!"


"Sssttt.....Jangan berisik ntar ketahuan guru lho." Ucap Sarah yang suaranya kian diperkecil. "Iya gw tau. Gw gak bawa buku mapel ini. Jadi gw pinjem dulu. Ntar kalo udah lo tinggal foto aja kirim ke gw. Itung itung lo gak susah susah nulis gitu." lanjut Sarah panjang. Sedangkan Devan menatap malas ke arahnya.


"Lo pikir gw peduli. Kembaliin sekarang!!"


"Ntar, selesai gw nulis ya."


"Dasar cewek gila!"


Selesai pelajaran Kimia, maka disambut dengan mapel lainnya yaitu Biologi. Guru yang sudah masuk pun langsung menjelaskan materi yang ada. Dan di akhir pembelajaran sang guru memberikan tugas kelompok. Yang kemudian dibagi langsung oleh guru.


Dalam pembagian kelompok itu, terdapat dua orang dalam satu kelompok. Dimana Febbry dengan Bagas, Violet dengan Hilham, Sarah dengan Devan, Aska dengan Davin dan seterusnya. Karna jumlah siswa siswi itu dua puluh lima maka ada satu orang yang tak memiliki pasangan. Dan ternyata dia adalah kian.


Kian pun disuruh memilih kelompok mana yang ingin ia masuki. Dan dia memilih kelompok sarah. Hal ini tentu bukan karna tak ada sebab. Setelah jam usai saatnya istirahat dan setelah itu jam olahraga.


Devan bangkit dari kursinya dan hendak keluar namun ditahan oleh Sarah.


"Eits mau kemana? Nih gw udah catat semuanya. Dan gak perlu terima kasih sebab gw ikhlas." ucap Sarah sambil menyodorkan buku Devan yang ia tulis, di depan dada Devan.


Namun bukannya menjawab, Devan hanya menatap tajam Sarah dan berlalu pergi tanpa mengambil ataupun menyentuh bukunya. Ya sarah sedikit jengkel, namun tetap ia tahan. Ia melihat sekeliling, dan benar saja tak ada yang tau mengenai penolakan Devan secara tak langsung itu padanya. Sarah meletakkan buku itu diatas meja Devan. Selesai urusannya ia menghampiri dua temannya itu.


"Ciee... Yang satu kelompok sama crush" Goda Febbry.


"Seneng pasti.." Timpal Kian


"Haha... tau aja kalian. Ya seneng lah. Oh ya Ki ngerjain nya dimana dan kapan? Kalo hari ini gw gak bisa. Sepupu gw dateng soalnya."

__ADS_1


"Hmm...semangat banget yak. Kalo gw sih terserah kalian maunya kapan."


"Oke deh besok aja ya, dirumah lo. Sambil mau nyobain lagi masakan lo yang super duper enak itu."


"Aelah, ternyata sarah sama aja. Suka modus ke rumah Kian."


"Hehe... Oh ya Ki, Devan juga harus di kasih tau kan ya."


"Hnn"


Setelah berganti pakaian mereka semua menuju lapangan. Memulai pemanasan dan jogging mengelilingi lapangan. Febbry dan Kian berlari beriringan, sedangkan sarah jangan ditanya. Lagi lagi kerjanya hanya mendekati Devan. Terlihat sekali ia begitu banyak bicara sedangkan Devan tak menggubrisnya. Adegan itu tak luput dari pantauan Febbry si lambe turah.


"Ki, lo liat deh tuh anak manusia." ucap febbry sambil menunjuk mereka berdua. Kian pun menengok dan membalas dengan mengangkat alis sebelah pada Febbry.


"Kalo diliat liat mereka berdua tuh kayak cerita cerita novel gitu gak sih. Yang cewek murid pindahan yang cantik sampai digandrungi banyak siswa namun menyukai cowok sebad boy Devan. Kalo gw liat liat di novel sih biasanya akhir cerita mereka selalu jadian Ki. Apakah mereka berdua juga gitu? Soalnya Sarah keliatan semangat banget buat taklukin si Devan." rocehnya sambil berlari kecil.


"Ntah lah gw gak tau. Kalau pun jadi ya syukur deh."


"Tapi bentar deh, kok bisa ya Jerry makan bareng sama Sarah?"


"Ouh... Jadi Jerry suka sama Sarah gitu?" tanya Febbry tak percaya.


"Maybe. Gw juga gak tau. Udah lah gak usah urusin hubungan orang kenapa. Kalo lo kayak gini, mending ntar lo kerja jadi presenter gosip aja. Pas banget buat lo Feb." ucap Kian yang sudah malas mendengar semua celoteh Febbry yang berisi kecurigaan dan penasaran pada orang lain.


Setelah pemanasan mereka melakukan kegiatan. Yang laki laki bermain basket sedangkan perempuan bermain volley. Ketika hampir selesai, sarah mendekati Devan, dan meminta diajarkan bermain basket.


"Emang gak ada abis abis nya akal tuh bocah buat deketin Devan. hahaha....." ucap Febbry pada Kian yang melihat mereka berdua dari jauh.


Namun lagi lagi Devan menolak, dan malah menyuruh siswa lain mengajarkan Sarah.


Hingga pada akhirnya jam olahraga habis namun karna pelajaran terakhir mereka masih berleha leha di tepian lapangan.

__ADS_1


"Nih." Sarah menyodorkan air minum pada Devan yang masih duduk sendiri. Sedangkan ia duduk di samping Devan. Melihat tangan itu pun Devan menoleh pada sarah tapi tidak dengan sarah. Devan pun bangkit, Sarah mengira ia akan di acuhkan lagi oleh Devan. Namun dia salah Devan mengambil air minum yang ada di tangannya. Sontak membuat Sarah menoleh kegirangan.


"Gw pikir lo gak ba..." ucapan nya terhenti ketika Devan mencegat siswa lain yang lewat di sampingnya. Dan langsung memberikan air tersebut pada siswa itu. Karna memang sangat haus siswa itu pun langsung meminum air tersebut sampai tandas. Devan memandang remeh dan tersenyum puas pada sarah. Ia tau jika saat ini sarah pasti sangat kesal. Dan jika hal itu terjadi mungkin saja Sarah akan berhenti mengejarnya, kira kira seperti itulah pikir seorang Devan.


"Buahahaha..." Febbry tertawa keras melihat kejadian itu sambil menepuk pundak Kian.


"Lo kenapa sih Feb. Kayak orang gila aja."


"Itu tuh temen kita yang satu itu. Ditolak mulu sama Devan. Tapi tetep aja keras kepala. Gak habis pikir gw."


"Ya gpp lah. Namanya aja berjuang."


"Iya, perjuangan yang gak pernah dihargai."


"Mungkin saat ini belum. Tapi percayalah rasa itu bisa tumbuh karna terbiasa. Nantinya kalo si Sarah gak mau kejar dia lagi paling baru tau rasa. Rasa sepi gitu."


"Wehh... ternyata temen gw yang keliatan gak tau apa apa masalah perasaan bisa tau juga yah."


"Bacod lu Feb. Dah ah gw mau ke toilet dulu."


"Ya udah sono. Jangan sampai gak keluar lagi lo kayak waktu itu. Mandi atau ber*k ya lo di toilet sekolah..." tawanya.


Mendengar ocehan Febbry, Kian menatap malas dan berjalan pergi.


Sebelum ke toilet, ia sempat pergi ke kantin untuk membeli air minum dan tisu.


"Ki, wajah kamu merah banget. Demam ya?" tanya ibu kantin.


"Haha...gak kok bu. Kan kian abis olahraga ya biasalah kalo wajahnya merah."


"Oh... kirain."

__ADS_1


Setelah membayar ia pun langsung lanjut berjalan menuju toilet. Ketika ia sampai toilet begitu sepi dan sedikit membuatnya lega. Kian pun mulai membasuh wajahnya yang panas dan....


tes....tes....


__ADS_2