
Panas yang begitu terik mengiring kepulangan siswa siswi menuju rumah masing-masing. Ada sebagian berkendara sepeda, motor dan mobil. Ada juga menunggu di halte bus, dan bahkan ada yang sudah mendapat jemputan. Kian dan Devan berjalan beriringan, setelah debat panjang di roof top tadi siang, membuat keduanya terdiam hanyut dalam pikiran masing-masing.
Seperti biasa, Kian akan standby di halte. Namun tidak dengan Devan. Ia pikir kalau Devan memang sedang tidak mau menaiki bus hingga melewati bus begitu saja. Dan ia tak mau ambil pusing karena Devan punya pikirannya sendiri. Akan bertambah sakit kepala jika memikirkan hal itu.
Namun siapa sangka kalau Devan malah berbalik dan menarik tangan Kian dari halte bus itu. Tentu saja membuat si mpu terheran, hendak bertanya namun ia ragu. Hingga di detik kemudian Devan membuka suara seolah tau apa yang ada di pikiran Kian.
"Gue udah izin sama bos. Jadi kita bisa telat dateng kerja." Dengan masih menggenggam tangan Kian yang berada di belakangnya.
"Emang kita mau kemana?"
"Cari bahan materi buat ujian lo."
Kian mendadak berhenti, yang seketika juga membuat Devan berhenti berjalan dan menariknya. Mata Kian menyipit mendengar hal tersebut dari Devan. Ujian apalagi pikirnya, padahal mereka semua sudah selesai ujian dan bahkan sudah mendapatkan nilainya. Dan sekarang hanya akan menunggu kelulusannya saja.
Tuk!
Satu jitakan telunjuk di kepala Kian berhasil mendarat. Membuat Kian sendiri meringis.
"Kita masih harus rebut beasiswa buat masuk ke universitas favorit lo."
"Kita lulus aja belum. Kan baru nilai yang keluar. Terus ijazah juga belum di kasih. Belum lagi siapa yang bakal jadi perwakilan di acara kelulusan?"
"Tenang aja, masalah itu gampang. Gue punya banyak solusi. Yang penting sekarang, lo mau ke perpustakaan atau toko buku aja?"
"Gampang apanya? Inget ya kelulusan masih tinggal beberapa hari lagi."
"Lo mau perwakilan itu dihadiri orang tua lo apa bukan?"
"Ya gilak ya lo Van. Gimana caranya orang tua gue yang ambil? Gue aja lagi di usir. Terus itu kalo tau nilai gue kayak gitu pasti deh bakal di hukum habis-habisan gue. Kalo sodara? Sodara orang tua gue jauh semua. Terus gimana??" Wajah Kian nampak frustasi.
"Berarti jawabannya bukan? Ijazah masih lama keluarnya, acara kelulusan itu cuma fasilitas, paling cuma di bagi surat keterangan sementara doang. Jadi lebij baik pikirin sesuatu yang berguna. Gue tanya lagi ke lo, ke perpustakaan apa toko buku? Buat dapet bahan ajar."
"Ya ke perpustakaan aja lah. Kalo ke toko buku kan pasti disuruh beli. Mana punya duit gue."
"Hm.. Serah lo. Ayo!" Devan kembali menyeret Kian di sepanjang trotoar. Hingga mereka menemukan salah satu bus yang tujuannya ke pusat perpustakaan kota dan menaikinya.
Selama perjalanan, Devan berdiri di depan Kian. Bus yang lumayan penuh memaksanya untuk terus berdiri dan mengalah. Setiap kali ada penumpang yang turun akan ada penumpang yang naik yang lebih layak mendapatkan kursi penumpang di bus. Kalau tidak orang tua yang renta pasti wanita yang sedang hamil. Membuat Devan hanya menarik nafas panjang, yang kadang membuat Kian menahan tawa di sana.
Sesampai di perpustakaan kota, Devan dan Kian langsung masuk. Bahkan Devan sudah menyambar beberapa buku di sana yang pasti akan di berikan pada Kian.
Dari luas perpustakaan yang ada, Devan sudah mengumpulkan hampir sepuluh buku ditangannya yang kemudian berjalan ke arah meja dimana Kian duduk.
Brakh!
Kian melihat tumpukan buku itu dari atas sampai bawah. Memang bukan suatu hal yang mengejutkan baginya melihat semua buku itu, tapi yang jadi pertanyaannya adalah, bagaimana Devan bisa memilih buku-buku itu sesuai dengan jurusan yang hendak di ambil oleh Kian. Jujur saja awalnya Kian sedikit ragu dengan perolehan nilai Devan yang begitu menakjubkan. Bukan karna ia menilai sebelah mata, hanya saja Devan punya akal yang banyak dan sulit ditebak. Ia takut jika Devan tak ingin kalah dari Andre dan melakukan hal negatif lainnya.
"Sekarang lo bisa mulai dari buku ini." Tunjuk Devan lalu memberikannya pada Kian. Kian hanya menerima dan mulai membaca buku itu.
Di sela-sela bacanya, Kian menatap Devan yang tampak sibuk dengan ponsel. Menatap serius seperti tak teralihkan.
Tak ingin membuat ribut apalagi suara berisik, Kian hanya memberi kode pada Devan agar melihat dirinya dengan menendang kaki Devan di bawah meja. Hingga membuat si mpu tersentak kaget dan langsung menoleh pada Kian.
Ia hanya mengangkat sebelah alis matanya tanpa bicara, seolah berkata ada apa pada Kian. "Lo ngapain?"
"Lanjutin belajar aja. Gak usah perduliin gue."
"Nilai lo kan bagus, kenapa gak sama-sama ikut bea..."
"Gue gak tertarik buat belajar. Mending lo aja."
"Tapi kok nilai..."
"Itu keberuntungan aja. Gak usah ambil pusing." Ucap Devan yang selalu saja memotong ucapan Kian yang belum selesai. Dan masih fokus juga dengan benda kecil di tangannya. Hingga Kian menyerah dan melanjutkan membaca.
___________
"Jer, bentar lagi kelulusan. Lo mau lanjut kemana?"
Dua orang yang sedang sibuk duduk di kursi panjang di balkon mansion yang tampak begitu luas. Bersantai dan menikmati senja sore yang begitu indah. Sesekali menyeruputi secangkir kopi yang ada di depan mereka.
"Lo sendiri?" Ia mendelik ke seseorang yang duduk di sebelahnya.
"Gue gak tau. Gue mau ikut lo aja."
"Kenapa?"
"Lo tau, gue punya keluarga tapi kayak gak ada. Rumah itu bukan tempat pulang lagi bagi gue, tapi udah jadi tempat terasing yang pernah gue singgah. Gue ada tapi gue gak pernah dianggap Jer. Gue cuma punya satu papa dan sodara tiri, tapi papa gue lebih sayang ke anak tirinya. Dan lo tau gue pernah gak di akui sama papa gue sendiri. Gue gak tau sebenarnya gue siapa?! Gue selalu ngerasa dunia itu gak adil banget sama gue! Semua orang punya kasih sayang, semua orang punya segalanya, gue? Gak gue gak punya apa-apa." Air matanya mulai berderai sembari kalimat-kalimat itu keluar.
"Lo gak punya siapa-siapa?"
"Gak, tapi semuanya berubah waktu lo dateng. Lo selalu ada buat gue dan selalu ngelindungi gue. Keberadaan lo lebih dari sahabat bagi gue Jer."
"Jadi karena itu lo mau ikut gue? Lo percaya sama gue?"
__ADS_1
"Hubungan kita udah sedekat ini, gak mungkin kalo gue gak percaya sama lo. Dan gue rasa lo juga gak bakal kecewain gue." Tangannya mulai menggenggam kedua tangan yang berada di lutut seseorang disampingnya. Bermaksud meyakinkan baik dirinya maupun orang tersebut.
"Lo tau snowball kaca?"
"Tau lah. Itukan benda kesayangan gue, sekaligus hadiah dari lo juga."
"Indah?"
"Banget."
"Bikin lo seneng?"
"Ya iyalah. Bahkan lo tau gue sampe peluk tuh snowball kaca sampe ketiduran... hahaha....."
"Saran gue jangan lo gituin lagi. Kalo lo terlalu genggam bola kacanya, nanti pecah. Kalo udah pecah, bakal lukain siapa? Lo juga kan? Gue gak mau nanti lo luka karena pecahan kacanya. Jangan genggam terlalu kuat, kalo lo gak mau terluka."
"Maksud lo apa sih Jer?" Mimik wajah yang diterpa surai hitam itu sudah mulai berubah seiring dengan kalimat yang di lontarkan Jerry.
"Gak, gue cuma mau bilang cara mainin snowball kaca yang bener supaya gak lukain lo nanti. Lo udah selesai? Ayo gue anter pulang."
Ia pun mengangguk, dan mengambil tas yang ada di lantai samping pintu kamar. Menyandang sebelah tas itu sambil menuruni anak tangga rumah yang megah namun sangat sepi.
________
20.30
Malam hari yang begitu dingin, Devan dan Kian baru saja pulang dari jam kerjanya. Walaupun tak pulang seperti biasanya, mereka berdua tetaplah pulang malam.
"Van, gue udah lama gak liat om Daren. Gimana kabarnya?"
"Baik."
"Udah keluar dari rumah sakit?" Tanya Kian lagi dengan sedikit berhati-hati. Taulah bagaimana Devan jika membahas tentang orang tuanya, sangat benar-benar tak bersahabat. Tapi rasa khawatir dan cemasnya sangat tinggi hingga memaksanya untuk bertanya pada Devan.
Si mpu yang di tanya hanya menganggukkan kepala tanpa berucap. "Syukur alhamdulillah kalo gitu. Gue boleh...."
"Gak." Satu kata yang keluar tak terbantahkan, seolah tau apa yang ingin ditanyakan oleh Kian.
Kian hanya menatap malas dan menghembuskan napas kasar, "Kalo Gio?"
"Dia juga baik."
"Gue mau nagih janji lo waktu itu. Lo bilang gue boleh ketemu Gio kalo udah ujian. Sekarang gue mau ketemu sama Gio!"
"Bener ya?! Ya?!"
"Hn."
"Awas lo boong lagi!"
"Laper gak?" Tanya nya yang langsung di angguki semangat Kian.
_________
Lima belas menit berlalu, Kian dan Devan sudah sampai di sebuah kafe besar yang begitu ramai pengunjung. Devan melangkah masuk ke kawasan itu, namun tidak dengan Kian.
"Kenapa?"
Bukannya menjawab, Kian hanya melongo tak percaya.
"Gue udah sering bilang jangan kayak orang..."
Tanpa bicara, Kian langsung menarik Devan menjauh dari sana. Tentu ada banyak sekali hal yang ditakutkan Kian dari sana.
Tapi Devan tetaplah Devan, ia juga bersikeras untuk tetap masuk dan menyeret Kian juga.
"Kita mau makan di tempat ini? Mending jangan deh Van. Kita makan di warung biasa aja, lagian mubazir uangnya. Mahal-mahal cuma dapet tuna dua potong. Gak ah...." Bujuk Kian sembari memelaskan wajahnya.
"Lo pikir gue gak mampu buat bayar lo makan?"
"Gak!! Bukan gitu. Cuma kan sayang aja"
"Apanya?"
"Sayang uangnya lah! Kita beli dua porsi makanan di sini udah bisa dapet empat porsi makanan di warung, bahkan lebih Van. Lagian Mikko sama Gio juga harus makan kan? Mending kita makan bareng mereka aja."
"Mereka udah makan jam segini." Ucapnya setelah melirik jam tangan hitam di pergelangannya.
"Ya masa lo tega sih, kita makan di sini mereka berdua makan makanan rumah..."
"Lo bisa pilih dan beli buat mereka juga nanti."
"Tapi...."
__ADS_1
"Ribet lo jadi cewek! Ikut atau gue tinggal!!"
Kian pun menurut, "Tapi kita duduk di luar aja ya..."
"Gak, dingin."
Huh.... Kian hanya bisa menarik napas panjang saat Devan sudah memutuskan sesuatu. Pastinya tidak akan terbantahkan.
Devan mulai membuka buku menu dan memilih beberapa porsi makanan, nampak Kian saat di tanya oleh Devan begitu ragu dan enggan untuk menyebutkan nama makanan di buku menu. Namun setelah mendapat plototan dan ancaman dari Devan, akhirnya Kian memilih menu yang terbilang cukup sederhana dan tak lupa dengan dua manusia yang menunggu kepulangan sahabatnya itu di rumah.
"Makan aja, lagian buat Mikko sama Gio udah lo pesen. Jadi adil kan sekarang?"
"Iya sih... Ta..."
Belum selsai Kian bicara, ia sudah mendapat tatapan tajam dari Devan. Membuatnya hanya bisa menunduk dan makan dengan tenang, tanda kutip sementara waktu. Sebab di detik kemudian...
"Van...."
"Hn."
Ia merasa tak enak hati, karena permintaan dan ucapannya yang begitu banyak hingga membuat Devan tak berselera makan.
"Maaf."
"Buat?"
"Karena sikap gue barusan."
"Hn."
"Ikhlas?"
"Hn."
"Liat gue Van. Gue ngomong malah liat yang lain!" Devan pun menurut dengan melihat Kian di depannya.
"Selamat ya." Kian mengulurkan tangan kanannya sambil tersenyum lebar. Dan membuat Devan mengerinyitkan dahi. "Selamat karna keberhasilan lo. Dari tadi gue gak sempet-sempet buat bilang itu. Dan maaf harusnya gue yang traktir lo bukan malah lo yang traktir."
"Oh, karena keberhasilan lo juga udah ngajar gue."
"Gak deh. Perasaan kita udah jarang belajar bareng. Jadi ini murni kerja keras lo. Dan makasih juga atas traktiran sama usaha lo."
Lama tak ada uluran balik dari si mpu, membuat Kian meraih tangan di meja itu untuk menjabat balik tangannya. Devan yang merasa risih langsung menarik tangannya.
"Permisi, ini desserts nya kak." Ucap seseorang memberikan dua mangkuk puding pada Kian dan Devan. Dia yang ber-name tag Diana itu melihat ke arah Devan dengan pandangan yang begitu bersemu. Namun seseorang yang dilihatnya malah tak acuh sama sekali, dan tetap menikmati makanannya sambil melihat sekeliling.
"Makasih kak." Ucap Kian tersenyum manis dan hanya di balas anggukan oleh nya.
Tuk!
Kian mengetuk meja makan mereka, hingga membuat Devan kembali menoleh.
"Liat apa sih! Lo gak liat tadi mbak pelayannya liat lo terus?"
"Gak, gak penting juga."
"Ish! Jangan gitu lah. Harusnya sesama mahkluk hidup tuh saling ramah. Senyum Devan senyum, ini wajahnya kaku, datar, asem mulu. Gak ada manis-manisnya, cewek aja kabur kalo lo gitu terus."
"Oh."
Kian menatap Devan lamat, berdiri dari duduknya, dan memajukan tubuhnya agar dapat menggapai wajah Devan.
Kedua jari telunjuknya kini berada di samping kanan dan kiri sudut bibir Devan. Ditariknya kedua sudut bibir itu agar bisa membentuk lengkungan manis di sana.
"Senyum itu bagian dari ibadah. Gak boleh pelit-pelit senyum, nah kalo gini kan inner handsomenya keluarkan. Lagian gue gak pernah lagi liat senyum lo sejak di kelas waktu itu. Kenapa? Sering-sering senyum Van, biar hidup gak suram." Kian hampir saja terkikik melihat ekspresi Devan saat ini. Walaupun di satu sisi Devan sangat tampan dengan senyum itu, namun bagi Kian ia malah terlihat begitu lucu.
"Lo gak malu diliatin orang?" Satu kalimat, dan satu alis terangkat sukses membuat Kian tersadar. Kini senyum itu tak lagi terkikis di bibir Kian. Melainkan gugup dan sejumlah rasa lainnya. Bahkan sorot matanya pun sudah berubah aneh.
Segera ia jauhkan kedua jarinya dari sudut bibir Devan, dan berlalu pergi begitu saja. Membuat Devan menatap aneh punggung Kian.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
#tbc