
Setelah mengantarkan Sarah dan menjenguk Daren, Kian berlalu pergi untuk pulang. Dilihatnya Devan tak lagi ada di depan ruangan, ntah kemana perginya manusia yang memiliki suasana hati yang selalu buruk itu. Ntahlah, Kian tak terlalu memikirkannya, lagi pula Devan hanya akan melakukan apa yang ia mau bukan yang orang lain mau.
Karena sekarang sudah larut, Kian sudah memesan taksi untuk pulang, hanya saja belum ada balasan dari si driver taksinya. Ia berjalan keluar rumah sakit sambil menunggu taksi itu datang. Jujur saja sekarang kepalanya sedikit pusing karena tak makan dari siang sampai malam. Ditambah kejadian demi kejadian yang dialaminya hari ini, membuatnya tambah pusing.
Tap
Tap
Kian melihat punggung seseorang yang memakai baju sama dengannya. Berdiri memunggunginya di depan kolam yang ada di halaman rumah sakit. Kian beranjak melangkah ke sana, ia pikir itu adalah Devan, ia hendak berpamitan ingin pulang.
"Kenapa gak masuk tadi?"
Seketika ia langsung menoleh ke belakang, hanya menatap dingin Kian yang mendekat.
"Woy, Devan! Gue nanya malah diem." Seraya menepuk bahu Devan, dengan suara yang sedikit lebih keras.
"Hn? Nanya apa?" Gluk, ia meminum minuman yang ada di tangannya.
"Gue nanya kenapa lo gak masuk. Lo udah sampai depan ruangan malah kabur. Kenapa? Gak gantle lo!" Cibir Kian, padahal waktu di sana ia sempat membujuk Devan untuk masuk. Namun ya, seperti itulah Devan, ketika ia bilang tidak maka hasilnya akan tidak pula.
"Buat apa gue masuk. Lagian sekarang dia udah ketemu sama orang yang dia mau. Lupain aja." Gluk!!
"Hm.. woylah!! Lo minum Van?!" Kian yang baru saja menarik nafas panjang, mencium bau alkohol. Seketika Kian melirik Devan yang sedang menenteng satu botol minuman.
"Kenapa? Biasa aja kali" Cueknya kembali meneguk minuman itu.
"Heh, lo masih sekolah gak boleh minum yang ginian!"
"Gak, gue udah pulang sekolah minumnya. Gak usah ribet jadi cewek."
Srakh
"Minuman ini tuh cuma bisa buat lo sakit dan gak sehat. Lo mau lupain masalah dengan minuman? Lo salah Van, lo tau sendiri kalo minuman cuma bisa buat lo lupa sebentar. Minuman gak bakal bisa selesaiin masalah, nambah masalah itu pasti!" Roceh Kian setelah mengambil paksa botol minum yang ada di tangan Devan, tanpa rasa takut si mpu akan marah padanya.
Jika di pikir, seseorang yang sedang minum pasti sedang banyak masalah dan tentunya tak ingin di ganggu walaupun hanya sekedar bertanya. Kian pun berpikir hal yang sama, tapi ia sudah terlanjur mengambil paksa minuman di tangan Devan. Mungkin sekarang dia bisa saja di dorong oleh Devan ke kolam yang ada di depan mereka saat ini, atau mengambil paksa lagi botol yang masih ada setengah air di dalamnya itu atau mungkin saja dimarahi oleh si mpu. Namun salah, Devan malah kelihatan santai tapi tetap meminta botol itu di kembalikan padanya.
"Gak usah cerewet! Lagian gue juga udah biasa." Jawabnya malas tetap ingin menggapai botol minum itu namun dijauhkan oleh Kian.
"Udah biasa? Jadi selama ini lo konsumsi nih minuman, iya?!"
"Hn.. Kalo pikiran lagi penuh. Males gue harus ngingetin sesuatu yang gak harus gue inget. Sini!" Pintanya, "Lagian siapa peduli kalo gue minum." Lanjutnya.
"Banyak yang peduli, tapi lo aja yang pura-pura gak tau. Lo gak lupain Gio yang ada di rumah kan? Kalo lo sampai sakit cuma karena hal ini gimana? Lo bilang sendiri ke gue kalo lo gak mau Gio diambil siapa pun."
"Banyak ya? Lo?" Dingin Devan menatap Kian dalam.
"Iya banyak. Ah udah, gue mau pulang. Ini udah malem. Thanks udah bantuin gue cari Sarah dan ini..." Kian menunjuk botol yang ada di tangannya, "Gak boleh lo minum lagi."
Brakh
Kian membuang botol itu ke tempat sampah yang tak jauh dari mereka. Lalu buru-buru berlari ke arah taksi yang sudah menunggunya. Takut kalau Devan akan mengejar dan memarahinya karena membuang minuman berharganya.
"Van, gue pulang dulu. Jangan lupa lo harus belajar, lo masih ada hutang sama anak-anak IPA satu." Teriak Kian lalu menutup kaca mobil taksi yang melaju itu.
Padahal di sisi lain, seseorang yang ditinggalkan Kian hanya tersenyum simpul sebab melihat kelakuan Kian yang menurutnya begitu menggemaskan. Wajah kaku dan datar itu sekarang sedikit memerah mungkin karena efek minuman atau malah salting dengan Kian yang seperti itu.
____________
Di ruangan luas nan megah, bercorak simetri dengan warna coklat hazel bergaris putih. Ruangan yang begitu lengkap dengan aksesoris yang unik, mulai dari guci kaca yang berderet di nakas berbagai ukuran, patung patung kecil berbentuk hewan berwarna putih yang ada di meja kerjanya, serta rak buku penuh dengan box file yang berjejer rapi. Tak lupa dengan katana dan kepala rusa yang menjadi hiasan dinding ruangan itu.
Ada dua orang yang sedang menatap lekat laptop yang ada di meja. Bahkan tak teralihkan sedikit pun. Jari-jari yang terus menari di keyboard dengan begitu cekatan, seperti mencari sesuatu yang memang harus di temukan saat itu juga.
Rasa penasaran yang kian menyeruak, membuat mereka beradu opini sesekali kemudian mencari lagi dan terus mencari. Hingga sampai di satu waktu,....
"Kau yakin dengan semua ini Arnold?" Tanyanya dengan memijat-mijat dagunya yang panjang. Berdiri di sebelah Arnold dengan sedikit membungkukkan badan melihat layar laptop itu.
__ADS_1
"Oh ayolah paman. Bahkan kita sudah mencari tahu hal ini dua hari dua malam. Kau tau bagaimana susahnya menemukan identitas anak ini. Pencarian inii saja ku rasa masih belum sempurna." Keluh Arnold membanting tubuhnya di sandaran kursi yang ada di meja kerja.
"Yah kau benar juga. Kita sudah membuka beberapa akun dan blog rahasia dengan sandi yang begitu rumit mengenai anak ini. Sebenarnya siapa anak ini? Kenapa identitasnya sangat sulit di cari." Wajahnya tampak berfikir, terheran dan sedikit juga merasa aneh.
"Ya, aku rasa keluarganya bukan sembarangan paman. Dan apa kau kenal wanita ini?" Arnold mengklik dua kali foto seorang perempuan yang ada dalam paparan blog tersebut.
"Ntahlah. Namun sepertinya tak asing. Cepatlah cetak data ini. Aku akan bertanya pada Geor langsung mengenai hal ini." Titah Theo, yang berjalan menjauhi Arnold. Memasukkan kedua tangannya di kantong sepan, dengan otak yang masih berfikir keras.
'Apa ini ada hubungannya dengan masa lalu Geor? Tapi siapa dia yang bisa bermain seperti ini? Tapi aku juga tak tau banyak mengenai masa lalu dirinya. Apalagi keluarganya? Aku benar benar tidak paham dia.' Theo membatin keras dalam dirinya.
"Apa kau yakin paman Geor tak akan marah paman Theo? Sebab pencarian ini seperti belum ada ujungnya." Pertanyaan yang berhasil membuat Theo berhenti dan berbalik melihat Arnold
"Apa lagi yang ingin kau cari? Kita sudah mentok di blog terakhir ini. Lagi pula, aku yakin kalau Geor sedikitnya tau mengenai hal ini. Mungkin saja, tapi semoga saja begitu." Ucapnya penuh harap.
__________
Kini Kian sudah berada di depan rumahnya. Melangkah masuk dengan wajah yang sedikit pucat. Di sela-sela langkahnya, ia merencanakan sesuatu di otaknya. Rencana yang ia susun dan akan ia lakukan setelah masuk nanti.
Klak
Pintu yang di kunci itu pun terbuka, menampakkan ruangan yang begitu gelap. Dengan segera Kian langsung menghidupkan lampu seperti biasa. Dilihatnya jam menujukkan pukul delapan malam, pantas saja jika ia susah merasa sangat lapar.
Bayang-bayang makanan yang ia ingin masak berputar putar di otaknya. Membuat dirinya ngiler saat ini juga, dan ingin segera masak. Namun,
Tap
Tap
Tap
Langkah seseorang menuruni anak tangga dengan tenang, membuat Kian terperanjat kaget. Bagaimana bisa ada seseorang di rumahnya, sedangkan pintu masih terkunci. Jantungnya kini berdetak dua kali lebih cepat, hal ini biasa bukan ketika seseorang merasa takut dan terancam?
Karena Kian hanya menghidupkan lampu di ruangan itu saja, belum sempat untuk menghidupkan yang lain. Sehingga seseorang itu tak terlihat jelas, hanya samar-samar terkena sedikit cahaya dari ruangan itu.
Dukh
"Darimana Kian?" Pertanyaan yang membuat Kian sadar sesuatu. Suara? Ya suara itu Kian paham dan hafal betul jika itu adalah suara ayahnya.
Namun benaknya masih bertanya, kenapa ayahnya pulang masih dalam keadaan pintu terkunci? Apa sengaja? Jika tidak, mereka lewat mana? Oh tentu saja mereka punya kunci cadangan, lalu...?
"A.. ayah..."
Ctak
Ayahnya menghidupkan semua lampu yang ada di rumah, membuat dirinya terpampang jelas dengan wajah yang begitu marah.
"Kian, ayah tanya kamu dari mana?!" Suara yang sedikit meninggi dengan kedua tangan di lipat depan dada.
"Ki... Ki.. Kian..." Kian semakin terbata-bata. Ia tak tau harus beralasan apa. Jika jujur pun ia harus siap menghadapi murka ayahnya yang tak terbendung lagi itu.
"Jawab!!! Alasan apa lagi kali ini hm? Ini sudah yang ketiga kalinya Kian. Pertama kamu bilang bocah, kedua tugas dan sekarang apa lagi?!!! Kamu tau semakin hari kamu semakin melawan sama ayah!!! Apa kamu bertemu dengan laki-laki itu lagi hah!!!"
Kini jarak mereka tidak lah jauh hanya sekitar tujuh langkah saja. Bentakan suara itu membuat dirinya sedikit terperanjat, menunduk dan memang kini ia juga merasa bersalah. Bersalah karena harusnya ia tak pulang selarut ini.
"Maaf yah. Kian keluar menjenguk om Daren di rumah sakit." Posisi masih menunduk, takut ayahnya akan menampar atau melakukan kekerasan fisik lain. Dan ia sangat berharap ayahnya bisa mengerti.
"Keluarga itu lagi!!!! Apa hubunganmu dengan keluarga itu Kian hn?!! Kemarin istrinya, sekarang suaminya, dan hal ini pasti membuatmu dekat dengan anaknya kan?!!!! Jawab Kian." Suara itu kian meninggi.
"Maaf yah. Tapi kami hanya teman satu kelas. Lagipula Kian hanya menjenguk om Daren yah, gak lebih."
"Pulang selarut ini?!"
"Maaf." Tak ada kata lain yang bisa ia ucapkan selain kata maaf.
"Hmm... Baiklah. Lalu kemana kamu tiga hari kemarin? Disaat teman temanmu sibuk dengan study tour, jangan-jangan kau sibuk dengan laki-laki itu?! Iyakan??!!"
__ADS_1
Pertanyaan itu sukses membuat Kian sedikit terkejut, bagaimana ayahnya bisa tau kalau ia tak ikut. Padahal ia sendiri tak pernah memberitahu, apakah gurunya? Tapi ia sudah memberitahu alasan ia tak pergi pada gurunya.
Tap
Tap
Seseorang turun juga dari tangga, dengan wajah yang terlihat habis menangis. Tentu Kian yang melihatnya menjadi panik, "Bunda... Bunda kenapa? Siapa yang menyakiti bunda?" Kian hendak menghampiri bundanya namun dihadang oleh ayahnya.
"Jangan mengalihkan topik Kian! Jawab pertanyaan ayah!!!!!"
Kian langsung menatap ayahnya dengan tatapan marah juga, "Kian emang gak ikut study tour yah, karna tugas Kian banyak. Kian cuma mau belajar di sekolah. Lagian guru Kian gak pernah masalahin itu yah."
Plak
Benar saja, satu tamparan itu melayang lagi ke pipi chubby-nya yang tentu saja membuat pipi itu langsung memerah.
"Lihat Intan!! Buka matamu lebar-lebar!! Anakmu berbohong lagi. Dia berbohong hanya untuk bertemu laki-laki itu. Aku sudah muak untuk mengingatkanmu dengan baik Kian!! Dasar anak pembangkang!! Ayah sudah katakan jangan dekat dengan anak tidak benar itu!!" Emosi ayahnya benar-benar meluap.
"Memangnya kapan ayah mengingatkan Kian baik-baik? Ayah selalu saja menampar Kian, memarahi Kian. Bahkan ayah tak pernah sekedar bicara sama Kian. Hiks... hiks..."
"Anak tak tau di untung!!" Bram sudah mengangkat tangannya hendak menampar Kian lagi.
"Ayah!!" Teriak Intan menghentikan Bram, "Jangan tampar Kian lagi yah!" Mohon Intan.
"Huh!! (Nafas Bram tersengal sengal sebab menahan marah) Baik, kapan kamu ujian hm?"
"Satu bulan lagi."
"Bersiap-siaplah, setelah itu kau akan langsung menikah."
Bak di sambar petir, Kian terdiam, kaku, lemas dan tak menyangka dengan kalimat yang di lontarkan ayahnya. Ia tak pernah berfikir sejauh itu, bahkan mungkin saat ayahnya marah, hal yang akan di dapatnya adalah sebuah tamparan atau dorongan yang kuat hingga ia terhempas ke lantai.
Kian tak pernah berfikir jika ayahnya akan memikirkan hal itu, menikahkannya? Dengan siapa? Bahkan dirinya saja tak pernah membawa seorang lelaki mana pun datang ke rumah. Atau melihat teman ayahnya membawa anak. Tentu saja itu tak akan terjadi, toh kehidupan mereka jauh dari Kian. Kian selalu ditinggal dan ditinggal. Pernah juga hampir satu semester orang tuanya tak pernah kembali. Membuat dirinya cemas dan gelisah. Tapi untungnya mereka pulang dengan keadaan baik-baik saja.
"Apa yah? Nikah? Yah, ayah boleh tampar Kian, ayah boleh maki Kian bahkan mau ayah apakan Kian juga gak apa-apa yah. Tapi Kian mohon jangan yang satu itu yah. Kian cuma pengen belajar, dan habis tamat sekolah Kian mau kuliah. Bisa dapet gelar dan kerja ...." Belum selesai bicara Bram susah memotongnya lebih dulu.
"Kerja yang mendapatkan gaji lebih dari suami kamu. Lalu nanti kamu seenaknya bisa kemana-mana tanpa memperdulikan suami kamu, iya? Bahkan tak menghargai dan menghormati suami kamu sedikit pun, seperti itu yang kamu mau Kian? Ingat Kian, tugas seorang perempuan itu mengurus keluarganya bukan bekerja!! Ayah tidak mau kamu mengikuti jejak bunda kamu itu! Pokoknya ayah tidak mau tau, jauhi laki-laki itu dan dalam waktu dekat ini kamu akan bertemu dengan calon suami kamu! Jangan berharap untuk mendapatkan pendidikan setelah lulus SMA. Paham kamu!!!"
Kian hanya terduduk lemas mendengar ucapan dari ayahnya. Ia benar-benar tak menyangka pulang selarut ini membuatnya berakhir akan menikah setelah lulus nanti. Padahal ia sudah mempersiapkan diri untuk mendapatkan beasiswa untuk kuliah di Universitas luar negeri. Namun kini semua itu musnah. Ia tak akan mewujudkan apa yang ia cita-citakan selama ini.
Ia pikir dengan bisa mendapatkan hal itu, ayahnya akan sedikit melunak padanya dan begitu pun dengan bundanya yang akan selalu memperhatikannya. Tapi semua itu salah, rasanya ia sangat hancur saat ini.
"Bund... tolong yakinkan Kian kalo semua ini mimpi kan? Tolong bangunin Kian bund. Bilang sama ayah jangan bunuh mimpi Kian bund. Kian gak mau, hiks... hiks... " Air mata yang sudah banjir dari kedua matanya.
Bundanya merengkuh tubuh itu dengan kuat sambil menangis. Memeluk Kian yang terduduk dengan wajah sendu dan putus asa. Bagai hilang sudah tujuan hidupnya. Kian benar-benar merasa syok, dadanya tambah terenyuh sakit yang begitu ngilu. Yang hanya bisa ia lakukan memegang dadanya kirinya sambil terus mengatur nafas agar ia tak pingsan sekarang. Atau semuanya akan berakhir.
'Kenapa dengan dada gue akhir-akhir ini begitu sakit dan ngilu ya, bahkan gue gak bisa berpikir baik dengan keadaan ini.'
.
.
.
.
.
Selamat malam minggu guys🤗😂
Jangan lupa like dan komen juga ya❤💬
Biar ak semangat lanjutin ceritanya📝
Terima kasih kepada yang sudah baca🙏, buat yang nggak, gak terima kasih😂
__ADS_1