Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)

Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)
#53


__ADS_3

"Yang bicara masalah ini kau bukan aku. Lagipula kita bukan lagi satu keluarga. Kau memiliki keluarga sendiri. Dan tetaplah akui bahwa Sarah anakmu!" Suara Devan meninggi.


Devan yang sudah lelah dan muak mendengar Daren yang selalu berucap seperti itu, membuat dirinya tak lagi bisa menahan emosi.


Cafe saat ini tidak terlalu ramai, sehingga hanya ada beberapa pengunjung yang melihat kejadian itu. Sedari awal Devan sudah menahan berbicara dengan nada yang bisa dibilang rendah namun tidak lemah juga. Sebenarnya bukan untuk menghargainya hanya saja takut para pengunjung cafe merasa terganggu.


Namun Daren yang ntah secara sadar atau tidak malah membuat Devan tersulut emosi. Bahkan suaranya menjadi meninggi. Membuat pengunjung cafe tersentak terkejut. Dan mulailah lebah-lebah berkerumun terdengar (suara bisikan dan omongan mereka).


"Tapi Sarah bukan anak kandung papa nak." Bantah Daren.


Brakh....


Beberapa saat yang lalu......


Hari Minggu pagi membuat Sarah begitu bersemangat. Ia turun ke dapur dan berencana untuk membuat sarapan. Pagi ini juga bik Sumi yang bekerja di rumahnya izin tak bekerja karena orang tuanya masuk rumah sakit.


Sarah turun dan melihat dapur yang sedikit berantakan. Ia langsung membersihkannya, dan mulai menyiapkan bahan. Tapi ternyata bahan di kulkas sudah banyak habis. Ia pun memutuskan untuk berbelanja di pagi hari ini.


Karna ia jarang sekali masuk dapur apalagi untuk masak, hingga membuatnya kesulitan untuk memilih bahan makanan di market.


Ia menghabiskan waktu yang sangat lama untuk memilih milih bahan tersebut. Menimbang nimbang mana yang bagus dan tidak.


'Akh... Sarah. Lo bodoh banget sih, milih ini aja gak bisa. Udah tau gak bisa malah sok sok an mau belanja. Jam segini belum pulang juga, keduluan papa bangun mah kalo ini.'


"Apa gw tanya bik Sumi aja ya? Eh tapi jangan deh dia aja masih sibuk. Tapi kalo gini sih gak bakal kelar kelar gw nya." Roceh Sarah sendiri di sela belanjanya.


"Sarah?" Panggilan seseorang, membuat Sarah menoleh.


"Eh Jerry? Ngapain lo di sini?"


"Biasa beli cemilan doang. Lo sendiri?"


'Malu banget gw kalo jujur belanja disini cuma beli bahan makanan doang tapi gak tau harus yang mana.'


"Sar....?"


"Eh iya. Gw lagi mau belanja bahan dapur doang sih."


Jerry melihat keranjang yang di bawa oleh Sarah. Bahkan di dalamnya tak terdapat bahan dapur melainkan hanya berbagai macam snek yang banyak.


Sarah mengikuti arah pandang Jerry.


"Hehehe... Sebenarnya gw baru mau milih sih." Dengan senyum canggungnya.


"Oh ya udah sekalian aja. Gw juga mau milih sih."

__ADS_1


Lima belas menit mereka berbelanja, akhirnya selesai juga. Setelah mereka membayar, mereka beranjak untuk pulang.


"Thanks Jer. Udah bantuin gw."


"Santai aja kali. Gw antar pulang yuk."


"Gak ngerepotin emang?"


"Gak. Yuk.." Ajaknya.


"Gw denger waktu itu lo berantem ya sama Kian? Kenapa Sar?" Tanya Jerry memecahkan keheningan di dalam mobil.


Sarah yang awalnya santai menikmati perjalanan walaupun di hatinya sudah dag... dig... dug... ser tak karuan. Namun setelah ditanya oleh Jerry raut wajahnya berubah. Yah tentunya sedikit kesal.


"Oh itu. Biasa kalo dalam pertemanan pasti ada salah paham. Dan sekarang udah baik baik aja kok."


"Oh gitu. Syukur deh."


Tringg.....


Satu pesan masuk ke ponsel Sarah.


*Room Chet*


Me : Maaf pa. Sarah keluar gak izin. Ini baru pulang dari market. (09.46)


Papa : Ya sudah. Kita sarapan di luar aja ya. Ini papa ada di cafe Batholit. Kamu ke sini aja ya. (09.48)


Me : Oke Pa. (09.48)


End~


Setelah menerima pesan singkat dari papanya, Sarah meminta Jerry untuk menurunkannya di tepi jalan. Karna cafe itu berbeda arah dari rumahnya. Ia tak mau merepotkan Jerry untuk mengantarkannya. Namun Jerry malah bersikeras untuk mengantarkan Sarah meski harus ke cafe.


.......kembali ke saat ini........


Suara kantong belanjaan jatuh itu membuat Daren dan Devan menoleh ke sumber suara. Betapa terkejutnya Daren melihat Sarah yang sudah berada di sana. Begitu pun dengan Sarah yang syok mendengar apa yang dikatakan oleh papanya barusan. Baru beberapa hari lalu ia merasakan dikhianati temannya dan sekarang oleh papanya sendiri.


"Maksud papa??"


"Sa... Sarah... Itu..." Daren yang mendadak menjadi gagap karena tak tau harus mengatakan apalagi.


"Huh... (Sarah menarik napas agar lebih rileks). Beberapa waktu lalu papa bilang kalo Sarah anak papa, sedangkan mama udah gak ada lagi. Dan sarah percaya gitu aja. Tapi hari ini bahkan papa bilang kalo Sarah bukan anak papa di depan orang lain. Maksud papa apasih?!" Sarah yang tak kuat lagi menahan tangis lebih memilih untuk pergi dari sana.


"Kau lihat pak tua, apa yang baru saja kau perbuat? Jika kau selalu seperti ini maka aku yakin kau akan kehilangan semuanya." Devan yang tak mau mengurusi masalah antara Daren dan Sarah.

__ADS_1


Baginya apapun hubungan mereka saat ini, ntah itu antara anak kandung atau pun anak tiri. Tak ada bedanya bagi dirinya. Selama ia tau bahwa surat perceraian itu sudah di tanda tangani maka mereka berdua tak ada lagi hubungan.


Yang Devan takutkan sekarang hanyalah...


'Bagaimana jika ia tau kalau Gio adalah anak Dewi. Apa yang akan di lakukannya. Bahkan kenapa dia selalu mengejarku, disaat harusnya ia lebih memikirkan dan mencari Gio yang waktu itu ia buang.'


Tok... Tok.....


Krak....


"Bunda...." Panggil Kian yang masuk ke dalam kamar orang tuanya.


Terlihat bundanya di depan jendela memandangi luasnya langit yang terlihat sedikit mendung. Bahkan Kian yang masuk ke kamar itu tak di gubris oleh Intan yang menatap lekat langit.


Kian memegang pundak Intan, hingga si mpu terkejut.


"Maaf bunda."


"Ada apa Kian? Kau perlu sesuatu?" Tanya Intan dengan nada biasa dan wajah yang datar.


"Bunda kenapa? Kok di kamar. Bunda sakit? Oh ya tadi taman depan sama belakang juga udah Kian beresin. Jadi bunda gak usah capek capek buat ke sana."


"Astaga... Maafin bunda ya. Haduh bunda lupa. Kamu pasti capek, maafin bunda ya nak."


"Gak, santai aja. Oh ya bund, itu wanita maung tadi bener sekretaris ayah?" Tanya Kian dengan wajah serius.


"Wanita maung? Haha... iya, dia sekretaris ayah." Ucapnya dengan senyum paksa.


"Berarti dia juga orang yang selalu....."


"Ki, bunda mau masak bantu bunda yuk." Ucap nya


yang tentu saja membuat Kian bingung.


'Kenapa bunda gini? Atau jangan jangan ada yang di simpen sama bunda lagi. Harus cari tau nih..."


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2