Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)

Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)
#118


__ADS_3

"Sarah!!"


Perempuan itu pun langsung menoleh ke belakang.


"Lo!!!" Melihat Kian dengan tatapan tajam.


Sarah sedikit terkejut mendapati Kian berada di belakangnya, masuk ke dalam toilet juga. Sebenarnya saat sedang makan bersama Devan, Kian tak sengaja melihat Sarah secara sekilas. Untuk memastikan itu Sarah atau bukan, ia membuntutinya dan meninggalkan Devan tanpa bicara sepatah kata pun. Hingga akhirnya ia bertemu dan benar memastikan bahwa itu adalah Sarah.


"Huh! Udah lama gue gak liat lo. Lo baik-baik aja kan? Kenapa lo gak pernah masuk sekolah lagi? Bahkan absen lo selalu merah? Kenapa? Oh ya lo sama siapa ke sini?"


Duakh!!!


"Bisa gak lo gak usah sok akrab!! Gue muak Kian dengan tingkah sok baik dan sok polos lo! Sia* Banget hidup gue harus ketemu lo!"


Kian sedikit merintih kesakitan karena hantaman kedua tulang belikatnya yang begitu keras pada dinding toilet. Ia beranjak hendak melontarkan kalimat balasan dari kalimat sebelumnya, namun belum sempat ia berucap orang tersebut sudah lebih dulu pergi tanpa memberikan kebebasan pada nya sedikit pun.


"Sarah... tunggu...."


Kian menyusul paksa dan menahan tangan Sarah, agar gadis itu tidak pergi lagi.


"Mau lo apa sih hah!! Lepas!!"


"Gue cuma mau tanya lo sama siapa ke sini?"


"Peduli apa ha?! Ganggu aja!" Ia mengibas tangan Kian demgan kuat yang menggenggam tangannya.


"Jangan bilang, lo masih deket sama Jerry?"


"Terus kalo iya, kenapa? Lo keberatan? Gue ingetin ya, cukup lo campur kehidupan gue! Jangan rebut orang lain lagi dari hidup gue Kian! Atau lo tau akibatnya!"


"Gue gak pernah rebut orang lain dari hidup lo, Sarah. Gue cuma mau lo jauhin Jerry. Dia gak sebaik yang lo kira. Tolong dengerin gue sekali ini...."


"Gue gak butuh omongan dan nasehat lo!" Ucapnya sambil menjambak rambut Kian hingga membuat Kian sedikit merintih.


Brukh!!


"Gue benci lo Kian!!" Kalimat terakhir yang dilontarkannya, lalu menghilang di balik dinding bercat putih bersih itu.


______


Terlihat Kian yang begitu banyak diam sepanjang perjalanan pulang membuat Devan terus melirik ke arah Kian.


Melihat hal itu juga membuat Devan berpikir apa yang telah terjadi pada Kian hingga ia seperti itu. Apakah Kian lelah? Atau makanan restoran itu yang tak enak? Atau bahkan Kian merasa tak enak badan? Pertanyaan yang terus berdatangan di otak itu membuatnya menatap jengah Kian sampai pada detik kemudian,,,


Brukh!!


"Jalan tuh jangan sambil bengong? Liat kaki lo sekarang." Marah Devan ketika Kian udah terduduk di trotoar karena tak sengaja menginjak lubang di sana.


Terlalu asik dengan pikirannya, Hingga membuat Kian berjalan tak memperhatikan sekitar. Alhasil dia menginjak lubang yang disebabkan conblok trotoar yang sudah pecah. Kaki sebelah kanannya masuk ke dalam lubang dan terpelintir, hingga membuat ia terduduk di sana dan kaki yang terkilir.


"Hehe... gue gak apa-apa kok Van."


Devan yang berjongkok di depannya kini menatap tajam Kian, dengan tangan yang tak tinggal diam.


Kltak!!


Ia memutar sedikit pergelangan kaki Kian yang terjerumus ke dalam lubang untuk meluruskan kaki itu. Di liriknya Kian tak bergumam ataupun menjerit setelah urat itu kembali benar, hanya mata yang sudah berkaca namun tak kunjung mengalir.


Dia berbalik arah, menyerahkan punggungnya di depan Kian.


"Naik"


"Gak usah, gue bisa jalan....."


"Naik!!" Suara dingin nan kaku itu sudah menyeruak di telinga Kian yang tentu saja memaksanya untuk menuruti Devan.


Kini kedua telapak tangan mungil itu sudah menggenggam erat bahu Devan yang berlapis hoodie coklat. Kedua kaki yang menjuntai dan masih terasa sedikit sakit di salah satunya. Walaupun tak bisa ia pungkiri, setelah di putar Devan kaki itu terasa lebih baik.


Tak ada percakapan disana, hanya ada angin dingin yang menusuk tulang, mengantarkan kedua anak manusia itu pulang di tengah keramaian dan kerlap kerlip kota.


Beberapa kendaraan yang lewat membuat keheningan di antara mereka sedikit tersamarkan. Ramainya kota membuat Kian sedikit tersipu karena keadaannya sekarang. Bak seorang adik kecil yang sedang di gendong oleh kakaknya.


Bahkan beberapa dari mereka menatap tak biasa ke arah Kian, membuatnya membuang pandang ke arah lain. Dan menyembunyikan wajahnya di punggung Devan yang lebar.


"Kenapa?"


"Gue malu, bisa lo turunin gak? Gue bisa jalan sendiri Van." Bisik Kian yang masih menyembunyikan wajahnya dan menggenggam erat bahu itu.


Sadar akan hal itu membuat Devan malah membenarkan posisi gendongan yang sudah agak merosot, bukannya menurunkan Kian.


"Van....."


"Hn."


"Gue minta turunin kok malah...."


"Stttt, diem atau gue jatohin?!" Membuat Kian seketika menjadi diam. "Sekarang lo bilang kenapa lo jadi aneh tadi? Makanannya gak enak? Lo kecapean? Atau ada yang sakitin lo? Jawab gue!"


Tak ada jawaban di sana, Kian hanya menggelengkan kepala yang tentu bisa dirasakan oleh Devan. "Gak usah bohong sama gue."


"Gak apa-apa." Suara yang begitu kecil namun masih jelas terdengar di telinga Devan.


Tak lagi Devan bersikeras, ia hanya berjalan dalam diam. Sampai Kian kembali berucap, "Van, lo pernah sayang sama seseorang?"


Tanya Kian yang ntah bagaimana ekspresinya Devan pun tak tau, namun ia merasa sedikit aneh dengan pertanyaan itu.


"Kenapa lo tanya jawaban yang bahkan lo sendiri tau jawabannya apa."

__ADS_1


"Hehehe... benar juga. Salah gak sih kalo kita sayang terus gak mau dia terluka? Walaupun kenyataan kita gak sedekat itu, tapi kayak ada suatu ikatan aja yang bikin kita gak mau dia sakit bahkan kehilangan dia?"


"Wajar aja kalo lo sayang dan gak mau dia terluka apalagi kehilangan dia, artinya sayang lo tulus."


"Tapi di satu sisi gue maksa dia buat jauhin suatu hal yang dia suka?"


"Kalo demi kebaikan gak apa-apa. Emang siapa?"


"Sarah, Van."


Seketika langkah itu jadi berhenti. Membuat Kian yang berada di gendongan itu langsung terkesiap. Tak pernah terbesit di otak Devan, jika Kian akan mengatakan nama itu. Bahkan yang ia pikirkan jika sekarang Kian sedang menyukai seseorang atau paling tidak bicara masalah keluarga nya. Ia berubah pikiran dan ingin pulang. Hanya itu! Tapi ternyata dia salah, salah besar.


"Van, dia sodara lo. Gue gak mau dia deket-deket sama Jerry. Gue udah kasih tau dia, tapi dia gak mau denger. Tolong gue yakinin dia buat jauh-jauh dari Jerry. Itu demi...."


"Gue gak mau. Lagian kalo emang dia mau ya terserah dia."


"Tapi masalahnya dia...."


Brumm!!! Brummm!!!


Sebuah motor sport berhenti di samping mereka. Pengendara yang lengkap dengan helm hitam, jaket kulit hitam dan sepatu putih itu memandang ke arah mereka berdua yang masih berdiri di trotoar.


Klak!


"Lo gak modal banget ya cupu, sini kasih Kian ke gue. Bakal gue anter Kian ke rumahnya." Ucap orang tersebut setelah membuka kaca helm nya, "Jaman sekarang, nganter cewek pake jalan kaki, gak modal banget lu! hahaha..."


"Bukan urusan lo!"


"Ya pasti urusan gue lah. Sesuatu yang menyangkut Kian, gue juga harus tau. Lo lupa ya? Hah!"


"Udah gak usah berantem. Gue gak apa-apa kok. Lagian gue jalan kaki atau naik angkot pun gak apa-apa. Van turunin gue."


Kian beringsut untuk turun dari punggung itu, bahkan beberapa kali ia mengayunkan kakinya memberi isyarat pada Devan untuk menurunkan dirinya. Namun pegangan itu bukannya kendor malah tambah erat. Membuat Kian tak bisa berkutik.


"Dia pulang sama gue!"


"Jalan kaki? Atau malah sempit sempitan dalam angkot? Ini udah malem, angin malem gak bagus buat Kian."


Ia beranjak turun dari motornya, namun Kian malah mengeratkan cengkeraman di bahu Devan. Bukan apa apa, hanya saja akan lebih gawat situasi kalau orang tersebut tau tempat tinggal dirinya.


"Fan, gue bisa pulang sama Devan."


Devan menatapnya dengan tatapan santai dan sedikit sunggingan bibir yang miring. Seperti menampakkan bahwa ia lah yang menang saat ini. Tentu saja hal itu membuat kesal orang yang sedang berada di hadapannya. Terlihat dari tatapan mata serta alis yang menukik seperti ingin mengadaķan ada gulat untuk sekarang.


____________


"Maaf, gue udah banyak nyusahin lo Van." Ucap Kian setiba mereka di rumah.


"Hn." Jawab si mpu, yang sedang berlutut di depan Kian. Mereka berada dalam kama Kian, dengan Devan yang mendudukkan gadis itu di pinggiran ranjang sedangkan dia berlutut di lantai. Membuka sepatu itu satu per satu tanpa melihat Kian.


Kian tampak ingin mengatakan sesuatu namun terasa begitu berat dan ragu, sampai pada akhirnya Devan kembali membuka suara.


Terdengar beberapa suara dari luar yang sedang bercengkrama, membuat Kian hanya menguping sekilas tanpa bergerak seperti yang dikatakan Devan.


"Ki, lo kenapa?" Tanya seorang perempuan yang memasuki kamarnya yang sontak membuat Kian mendongak.


"Kak? ngapain ke sini?"


"Kata Devan kaki lo lagi sakit. Jadi lo kesusahan buat mandi. Jadi dia nyuruh gue buat bantuin lo."


"Ha?? Terus Devan-nya mana kak?"


"Itu di depan." Ucapnya sembari menunjuk ke pintu luar.


"Hehe... Kian gak apa-apa kok kak. Cuma keseleo aja. Ini udah mendingan dan paling juga bentar lagi udah sembuh. Kian juga bisa mandi sendiri kok. Beneran deh." Ekspresi Kian semakin bersemu malu kala tetangganya berucap seperti itu.


"Jadi beneran gak mau di bantu nih?"


"Beneran kak. Gak apa apa kok."


"Gue bantuin ke kamar mandi aja deh, ya.. Plis gue gak mau di marahin Devan Ki. Tuh anak kalo marah serem pake banget."


Kian hanya mengangguk pasrah, hingga acara mandi itu selesai dan ia kembali lagi ke kamar di tuntun oleh Nari tetangganya.


Yang tak lama kemudian Devan kembali masuk ke kamar itu setelah Nari keluar.


"Loh, gue pikir lo udah pulang." ucapnya setengah terkejut melihat sosok laki-laki itu datang dengan tiba-tiba. Untung saja dia sudah beres semua.


Kian yang sudah berbaring di ranjang itu, hendak kembali bangkit. Sampai Devan menahannya untuk tidak banyak bergerak.


Ia menempelkan satu kantong es batu di kaki Kian.


"Kalo masih kurang, lo bisa minta sama kak Nari. Besok gue jemput jam sembilan."


"Gak usah. Toh kita kan juga bakal ketemu di tempat kerja."


"Gak. Kita gak kerja besok."


"Tapi..."


Devan meninggalkan Kian setelah selimut itu menutupi dirinya sampai leher.


"Gue kunci pintunya, lo punya satu kuncinya lagi kan?" Tanya nya di balik pintu, yang kemudian di angguki oleh Kian.


______________


Plak!

__ADS_1


"Ngapain sih lo natap handphone mulu. Kayak ada yang chet aja."


Sementara di ruangan yang berbeda ada dua orang manusia juga yang sedang asik berdebat.


Ia menatap seseorang yang baru datang, yang kemudian duduk di sebelahnya itu sambil memberikan soda kaleng.


"Ya jelas ada dong. Emang situ, yang pepet aja gak ada."


Kletak


"Huwegh... Gila nih minuman apaan sih! Pait banget! Gak ada air putih aja apa?!"


"Heleh songong lu Bim. Gak ada, adanya air kolam. Mau lo? Kokop aja ikhlas gue. Lagian siapa sih yang mau ama biji jigong kayak lo." Ucapnya di akhiri dengan gelak tawa, "Emang siapa sih? Tu wajah kusut amat! Udah lecek ditambah kusut lagi!" Lanjutnya.


"Noni." Ucapnya lalu menaruh satu kaleng minuman yang ntah apa itu namanya yang jelas rasanya begitu tak enak menurutnya..


Satu kata yang membuat mata si mpu membulat sempurna. Tak lama kemudian kembali melengos ke sembarang arah.


"Dia kenapa?"


"Cuma nanya kabar gue doang."


"Kenapa, lo masih ada perasaan ama dia? Gue kira siapa, ternyata masih orang lama juga."


"Apaan sih Feb, dia kan cuma nanya kabar doang. Gak ada salahnya di jawab dan itung-itung silahturahmi."


"Lu oon atau bego sih? Mantan yang awalnya minta putus karena satu kekurangan, kalo lo udah sembuhin kekurangan itu dia bakal minta balik."


"Sotoy banget lo."


"Gue gak sotoy, tapi itu kenyataan jamal! Lo liat aja gelagat Noni waktu ketemu lo waktu itu. Percaya deh sama gue dia pasti cuma modus nanti minta balikkan ama lo. Sekarang gue tanya lo masih suka sama dia?!"


"Omongan lo aneh." Sambil mencipratkan air kolam ke wajah Febbry.


"Hah!! Basah Bemo!!"


"Makanya jangan kebanyakan overthinhking dah lu. Ah udah ah, udah malem gue mau pulang dulu. Dan inget, lain kali kalo pake pakaian tuh yang bener. Masa ada temen cowoknya maen ke rumah lo pake sepan pendek gitu, mana udah malem gini lagi."


"Napa? Napsu lo?!" Wajah nan sombong itu menantang.


"Napsu kagak, yang ada malah takut karena bentukan lo kayak begitu! Gue bilang gitu supaya lo jangan sampe sakit atau masuk angin pake celana kurang bahan kayak gitu. Dan jangan pake pakaian kayak gitu kalo ada temen cowok lu yang laen maen ke rumah. Bahaya!"


"Ciahhh!! perhatian banget ama gue. Hahaha..."


"Karena gue gak mau nantinya juga gue yang bakal kena imbasnya." Si lawan niagara hanya bisa melengos, walaupun kemungkinan 75%, pernyataan itu benar.


Febbry masih tetap berada di tepian kolam renang, dengan memasukkan kedua kakinya ke dalam kolam tersebut. "Ngapain lo masih di sini? Katanya mau pulang!" Sambar Febbry menoleh ke belakang, "Jangan-jangan lo mau ngerampok ya? Gitu bener liat rumah gue!"


Laki-laki itu berbalik dan menatap jengah Febbry, "Inget ya, gue kesini juga lo yang suruh. Lagian rumah sebesar ini lo tinggal sendirian?" Tanyanya setelah memperhatikan gedung besar itu lamat-lamat.


"Iya, makasih udah di tolongin nangkep kecoa di dapur tadi. Dan iya juga, gue emang tinggal sendiri di sini. Punya sih pembantu, cuma besok mereka baru masuk kerja lagi. Dan plis jangan tanya orang tua gue, mereka sibuk." Wajah itu sudah berubah masam.


"Ouh pantesan." Cueknya yang kembali lagi melangkah pergi.


"Bim!!!!"


"Paan?" Tolehnya.


"Besok traktir ya, hehehe..."


"Anak pejabat kok kere. Rumah aja gede makan malah minta traktir. Ini nih baru namanya perampokan."


"Gue gak ngerampok ya, itung-itung buat amal. Lagian bentar lagi kita lulus, gue bakal pergi ke London buat kuliah. Ya kayak acara perpisahan lah."


"Ngapain lo mau jauh-jauh kuliah, di tempat kita aja universitas banyak."


"Gue gak lulus."


"Terus di sana emang lulus? Lagian kesempatan banyak dan panjang juga." Tanyanya dengan berkacak pinggang.


"Enggak juga. Tapi univ nya punya kakek sama nenek. Dan gue males banget dengan hal yang gak pasti gitu." Ucapnya tanpa dosa.


"Hih! Masuk jalur orang dalem mah ini. Ya udah terserah lo."


"Udah gitu doang. Gak ada ucapan perpisahan gitu? Atau lo gak mau siapin acara buat gue?"


"Acara apaan? Buang-buang duit gue aja."


"Lamaran Bim. Gue lama di sana, lo gak kangen ama gue?"


Terdengar gelak tawa menggelegar di penjuru sudut daerah itu. "Apa? Lamaran? sama mahkluk kayak lo? Naji* Feb. Gila bin aneh lo!"


"Oh ya terus lo udah kasih tau Kian?" Lanjutnya lagi.


Febbry hanya menggeleng, "Mungkin nanti, Kian aja keliatan sibuk banget. Ya udah sono balik lo. Eneg banget gue liat lo gentong."


"Kurang ajar lo Feb!"


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


#tbc


__ADS_2