
๐นHAPPY READING GUYS๐น
_______*_______*_______*_______*_______*______
Kian dan Febbry kembali ke kelas. Tentu saja Febbry memasang wajah cerianya di sepanjang jalan yang ia lalui, sebab Kian berucap akan pergi dengannya. Membuatnya begitu senang.
'Kadang gw heran ama nih bocah. Bilang gak mau terus kesel juga sama Bimo, tapi kok dia mau mau aja di mintai tolong sama Bimo.'
Jam pelajaran sudah dimulai kembali namun lagi lagi kelas tak ada gurunya. Membuat siswa siswi kelas itu begitu senang. Dan memilih untuk merumpi atau sekedar bermain ponsel.
Drttt... Drttt...
Ponsel salah satu siswa berbunyi.
Gludak....
Kian yang sedari tadi menahan kantuk karna semalaman tak tidur mencoba mencari posisi terenak dan ternyaman. Namun sangat susah, karna ia tak pernah sebelumnya tidur di kelas. Ditambah lagi kelas yang sangat berisik membuatnya benar benar tak bisa memejamkan mata untuk sesaat saja.
Saat ia sudah bertemu posisi yang enak, ia malah keterusan sehingga kepalanya tersentuk meja, seperti tadi.
Devan yang sadar melihat Kian yang seperti itu malah ingin tertawa. Di satu sisi Kian tetap mencari posisi ternyaman yang bisa ia temukan walaupun matanya sudah hampir tak mau terbuka.
"Lo kenapa Ki?" Suara dingin itu bertanya.
"He? Gak gw gak apa apa kok." Dengan mata yang setengah terpejam.
"Lo ngantuk?"
"Hmm..." Ia yang tak sanggup lagi untuk bersuara.
Krek....
Devan bangkit dari kursinya, dan memegang tangan Kian yang tergeletak lunglai tak berdaya di atas meja.
"Ikut gw." Titahnya
"Ha? Kemana? Gw ngantuk oon. Ngapain lo ngajak gw." Dengan suara malas.
"Cerewet banget sih lo. Ikut atau gw gendong?!" Ancamnya. Membuat Kian langsung berdiri dengan wajah yang seperti orang bingung.
Devan sedikit menarik Kian, membuat seisi kelas itu terkaget-kaget. Kian yang matanya tak terbuka sempurna itu pasrah saja ditarik oleh Devan yang ntah ingin pergi kemana.
Setelah berjalan cukup jauh bahkan sempat menaiki beberapa tangga akhirnya mereka sampai di tujuan Devan. Kian memencarkan pandangannya. Melihat tempat yang dituju oleh Devan, sampai menyeret dirinya.
__ADS_1
"Lo ngapain sih Van ngajak gw ke rooftop, udah tau panas. Emang lo gak pernah bener ngajak gw ya. Lo mah tambah mau siksa gw kalo gini nih. Lo mau jemurin gw disini, iya? gara gara gw ngantuk. Atau mau gantung gw juga. Aduh Van, gw cuma ngantuk loh ya ngantuk doang. Gak ganggu lo. Kalo lo merasa terganggu biar gw ke toilet buat cuci nih muka." Kian yang hampir beranjak pergi.
"Iisshhh... Lo berisik banget ya."
Devan kembali menarik tangan Kian membuat Kian yang hendak pergi malah pindah haluan.
Hingga mereka sampai di sudut roof top yang bersebelahan dengan pohon yang tinggi melebihi bangunan sekolah mereka, begitu besar dan rindang. Sehingga di bagian sudut itu lebih teduh dari bagian lainnya. Disana juga terdapat meja tenis yang besar, yang bisa digunakan untuk bersandar dan juga tumpukan kursi serta meja yang lumayan banyak. Sehingga siapa pun yang berada di sana tak akan ketahuan karena ditutupi oleh kursi, meja belajar dan meja tenis yang rata rata sudah tak terpakai lagi.
Devan membuka hoodienya, meletakkan hoodie itu di lantai dan menyuruh Kian duduk disana.
"Jaket lo bakal kotor Devan kalo lo taruh di situ."
"Udah gpp. Duduk aja, ntar rok lo yang malah kotor."
"Tap... tap..."
"Aelah, banyak tapi lo."
Sret....
Devan menarik Kian untuk duduk di sana sedangkan ia sudah lebih dulu duduk.
Mereka berdua duduk bersandar di meja tenis yang tegak itu dengan pohon rindang yang menjadi peneduh rooftop yang begitu panas itu.
"Tapi gw...."
"Bentar." Devan membuka baju kemeja sekolahnya.
"Wah... parah lo. Lo mau ngapain gw Devan?!!!" Teriak Kian yang berusaha menghentikan Devan.
Srep...
Baju kemeja sekolahnya itu ia lempar ke betis Kian, karna Kian terus memberontak. Padahal Devan tak menyentuhnya sedikit pun. Lagi pula Devan masih memakai baju kaos di dalam nya.
Devan yang sering pulang sekolah dan langsung bekerja itu, membuatnya malas untuk berganti pakaian dan pulang ke rumah. Sehingga ia akan langsung memakai baju kaos itu dan nanti pas pulang barulah ia akan membuka kemejanya berganti baju kaos itu. Tanpa harus pergi ke toilet terlebih dahulu.
"Tutupin tuh rok lo yang pendek. Dan gak usah mikir yang macem macem. Gw cuma mau balas kebaikan lo semalem karna udah ngajarin Gio. Sampai lo begadang gitu." Dinginnya yang kemudian menjauh dari Kian takut perempuan itu berpikir yang macam macam lagi.
Sebenarnya ia sudah memperhatikan Kian dari Kian datang ke kelas. Matanya yang bagaikan mata panda itu di tambah lagi wajahnya yang begitu pucat menurut Devan.
Membuat Dirinya tau kalau Kian sedang tak baik baik saja. Ia ingin bertanya pada Kian, namun terlalu gengsi. Apalagi sampai melakukan hal hal yang berbau perhatian. Ia takut Kian akan berfikir yang tidak tidak tentang dirinya.
Padahal tanpa ia sadari ia sudah melakukannya.
__ADS_1
"Ya kan bukan salah gw. Lo yang biasa gak pernah peduli dan cuek juga jadi gini, gw nya jadi takut." Cicit Kian.
"Gak usah ke PD an lo. Tipe gw bukan lo. Dah tidur sana. Gw biasa kalo mau tidur juga disini, adem dan gak berisik. Lo tidur aja gw yang jagain. Ntar kalo dah masuk jam pelajaran lain gw bakal bangunin lo."
Yah bisa dikatakan tempat yang mereka tempati sekarang adalah bascame pribadi Devan. Yang apabila ia ingin tidur dan membolos maka ia akan pergi kesana. Menikmati angin sepoi sepoi dan memandangi langit yang begitu indah baginya.
Saat ini jarak mereka berdua benar benar jauh, sekitar empat langkah. Devan sengaja menjauh dari Kian agar Kian bisa nyaman dan tak berpikir bahwa dirinya akan memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.
"Bener ya lo gak bakal ninggalin gw. Awas aja lo boong." Tuding Kian, yang memang saat ini ia butuh sekali tidur.
"Gak Kian. Suer." Ucapnya mengangkat kedua jarinya dengan wajah yang malas.
Kian pun menarik baju Devan yang ada di betisnya menutupi rok pendek itu. Menyandar di meja tenis yang masih kokoh itu dan mulai terpejam dengan posisi duduk selonjor.
"Van, lo gak jemput adek lo emang?"
Mendengar pertanyaan itu membuat Devan menoleh pada Kian, namun si mpu masih dalam keadaan mata tertutup. Membuat Devan berpikir bahwa ia belum sepenuhnya tidur.
"Gak. Tadi sahabat gw udah jemput dia." Jawab Devan tapi tak sahutan dari Kian.
Lama berselang tiba tiba Kian kembali berucap.
"Bund... Yah.... Udah gak usah berantem.... Kian sayang kalian. Jangan tinggalin Ki....." Roceh Kian
Membuat Devan menyilip datar ke arah Kian. Namun lagi lagi terlihat Kian yang masih terpejam.
"Gila, nih cewek capek banget kali ya. Sampe ngigo gak jelas gitu." Mengoceh sendiri melihat Kian yang seperti itu.
Devan benar benar menunggu Kian dengan tak beranjak sedikit pun dari tempatnya. Duduk dengan kaki selonjor sebelah dan sebelahnya lagi ditekuk untuk menopang tangannya. Menatap Kian sesekali dan kembali menatap langit.
Hingga jam pelajaran berganti, membuat Devan harus membangunkan Kian. Dan barulah mereka masuk ke kelas. Bukan tak terjadi masalah sebelumnya. Ketika Devan yang hendak membangunkan Kian tapi ia bingung harus bagaimana. Hingga kejadian di rumah sakit waktu itu kembali terjadi.
.
.
.
.
.
๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ
__ADS_1
......Terima Kasih ๐๐๐๐๐๐......