Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)

Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)
#38


__ADS_3

Devan masuk ke dalam lift menuju lantai dua dengan terengah-engah. Pakaian yang basah membuat lantai yang dilaluinya juga ikut basah, air terus saja menetes dari pakaiannya itu. Penampilan yang benar benar sudah urakan dan berjalannya yang sedikit agak pincang karena tertabrak tadi, membuat semua orang yang ada di sana menatap Devan aneh. Pandangan semua orang tertuju padanya, namun ia tak memperdulikan itu. Baginya menuju kamar mamanya adalah hal yang terpenting. Tak peduli bagaimana penampilannya atau pun pandangan orang terhadap dirinya.


Keluar dari lift ia memandang jauh lorong tersebut dan tertuju pada Kian dan Gio yang ada di depan kamar Zanna. Ia berlari secepat mungkin walaupun kakinya juga terasa sakit. Gio yang melihat kedatangan kakaknya itu, langsung berlari dan memeluk kakaknya. Devan berusaha menepis kemungkinan terburuk yang terjadi, dalam pikirannya.


Masih dalam posisi berdiri, Gio memeluk kedua kaki jenjang Devan dan menangis tersedu-sedu. Devan menunduk melihat Gio dan beralih menatap Kian yang berada tak jauh di depannya. Wajah Devan menampakkan minta penjelasan pada Kian namun tidak dengan kabar buruk. Ia hanya ingin mendengar kabar baik. Tapi sayangnya kian hanya menatapnya dengan mata yang sudah berlinang air. Raut wajahnya yang begitu memelas dan sedih membuat Devan tampak tambah frustasi.


Wajahnya yang juga sudah memerah sejak tadi begitu pun dengan air mata yang selalu keluar. Ia menatap Kian dengan nanar dan menggelengkan kepala, meminta kian bicara kalau memang yang di pikirannya saat ini tidaklah benar benar terjadi.


Tak berapa lama dokter keluar dari kamar Zanna. Gio yang sempat memeluk kaki Devan tadinya, melepaskan pelukan itu ketika mendengar dokter itu keluar. Kian langsung bertanya pada dokter, namun wajah dokter yang keluar dari kamar Zanna menampakkan raut wajah yang benar benar sedih dan tidak bisa berbuat apa apa lagi. Ia hanya menggelengkan kepala dan memejamkan matanya menandakan bahwa yang ada hanyalah kabar buruk.


Devan yang melihat itu, langsung melepas dua amplop coklat yang berisi uang dari tangannya ke lantai. Ia menghampiri dokter, untuk menanyakan dengan jelas.


"Dok... mama saya kenapa?? mama baik baik aja kan dok? Tadi siang aja dia masih baik baik aja. Gak mungkin kan sekarang.... Gak kan dok???" tanyanya dengan nafas yang terengah-engah, berusaha untuk tidak menangis. Namun matanya tak bisa melakukan itu. Ia tersenyum seolah ingin menghibur dirinya sendiri dan menepis kemungkinan buruk itu, namun kenyataan tidaklah begitu.


"Maaf Devan kami sudah berusaha." ucapnya sambil menepuk pundak Devan agar ia bisa lebih tegar. Lalu bersama dengan suster itu ia pergi.

__ADS_1


"GAK..... GAK MUNGKIN. MAMA PASTI.... PASTI...." Ucap Devan mengamuk dan langsung masuk ke kamar Zanna. Dilihat mamanya yang sudah tertutup selimut dari ujung kaki sampai ujung kepala.


Ia mendekat kearah seseorang yang berada di tempat tidur, membuka selimut yang menutup tubuh orang itu. Tertampaklan wajah pucat yang tak lagi bernafas. Dilihatnya semua alat yang menempel di tubuh mamanya tak lagi ada. Semuanya sudah di lepas.


Tubuhnya gemetar melihat apa yang ada di depannya saat ini. Sedangkan air mata sudah banjir dari kedua pelupuk matanya. Menelan saliva pun rasanya sudah sangat sulit baginya. Betapa tak berdaya dirinya saat ini. Melihat seseorang yang ia perjuangkan selama ini menghembuskan nafas terakhir, yang bahkan pada saat itu ia tak ada di sampingnya.


Ia meraba wajah itu dengan lembut walaupun tangannya gemetar hebat. Membelai, bahkan menempelkan keningnya di kening mamanya itu. Terasa dingin dan tak ada hembusan nafas di sana. Sampai air matanya menetes ke pipi Zanna.


"Ma... bangun yok. Kavin udah di sini lho, mama bangun ya. Jangan tidur terus, bangun ya. Kavin... Kavin sayang mama. Jangan tinggalin kavin. Kalo mama gak ada Kavin sama Gio siapa yang bakal urus?" ucapnya yang berada di samping Zanna, menempelkan wajahnya di pipi Zanna. Tangannya memegang erat tangan Zanna yang dingin itu. Ia terus merengek meminta mamanya itu bangun dan air mata yang tak henti mengalir. Ia sangat berharap mamanya itu akan bangun. Namun mata itu tak kunjung juga bisa terbuka. Bahkan ia berharap ada sebuah keajaiban saat ini yang bisa membuat mamanya bisa terbangun. Ia benar benar belum siap kehilangan orang yang sangat disayanginya itu.


"Mama....." Panggilnya. Membuat Devan bangun dari posisinya saat ini dan melihat Gio. Gio berlari menghampiri mamanya yang terbaring. Merangkul apa yang bisa di gapainya dan kembali menangis tersedu.


Devan mengelus rambut Gio dengan sayang. Melihat anak itu merangkul tangan mamanya dan merebahkan kepalanya di sana walaupun dengan sedikit meninjit. Ia tau jika Gio bahkan lebih terpukul dari dirinya. Tak beberapa lama kian baru masuk ke dalam dengan tatapan yang sedih. Ia sengaja terlambat masuk, sebab ia merasa sangat terpukul di tambah lagi ia ingin memberikan waktu Devan dan mamanya.


Melihat kian yang masuk membuat Devan langsung menghampirinya.

__ADS_1


"Apa yang terjadi sampai mama seperti ini ha? Gw kan tadi suruh lo buat jaga. Kenapa sampai kayak gini heh! Lo apain mama gw kian!!!" teriaknya memekik di telinga Kian.


"Gw....gw tadi...." Ucap kian yang gemetar takut. Devan yang jika sudah di mode seperti ini membuatnya tak bisa berkutik. Bahkan mulutnya yang ingin bicara malah kelu.


"Tadi apa kian?!!" bentaknya lagi sambil mencengkeram kedua pundak Kian dengan kuat.


"Kakak jangan marahin kak Kian. Kak Kian gak salah. Mama sendiri bilang kalo dia mau pergi." Ucap Gio yang berusaha menghentikan kakaknya itu.


Devan menatap tajam kian. Mata mereka saling bertemu. Dengan terbata bata kian menjelaskan pada Devan.


Flash back.


Ketika kian ingin menggenggam tangan di depannya itu. Terlihat begitu sangat pucat dengan selang infus masih melekat di sana. Belum sempat tangan kian meraih, jari jari itu sudah bergerak membuat Kian senang melihatnya. Begitu juga dengan kelopak matanya, yang mulai bergerak perlahan. Kian yang senang langsung membangunkan Gio dan hendak pergi untuk memanggil dokter. Namun Zanna sudah memanggilnya terlebih dulu. Membuat kian berhenti dan menggenggam tangan rapuh itu penuh sayang dan berhati hati.


"Ma...Mama perlu apa? ada yang sakit atau mama mau apa? Biar kian panggil dokter dulu ya." mohon kian agar Zanna melepaskan genggaman tangannya.

__ADS_1


"Gak perlu kian. Mama udah gak butuh lagi dokter. Biarin mama istirahat ya, mama udah capek tahan semua ini." ucapnya terbata bata.... Kian yang mendengarnya langsung menggelengkan kepala.


__ADS_2