
Malam menjelang, tepat pukul 18.00 Kian usai mengajar anak anak. Namun bukan berarti hari ini telah usai. Ia masih punya agenda lain di tiap hari dan pembagian rata dari satu harinya.
Sore yang lancar walaupun sebelumnya mendapat kendala berakhir alhamdulillah. Semua anak berpamitan pulang, dan begitu juga dengan Kian yang berpamitan pada guru-guru komunitas untuk segera pulang.
Kian masih punya waktu satu jam setengah lagi untuk kembali ke tempat dimana ia memeras keringat seperti hari-hari sebelumnya. Percayalah satu jam setengah itu hanya lewat bagai angin bagi Kian. Kenapa? Jawaban itu cukup simple, pulang bekerja ia memerlukan sekitar lima belas menit. Belum lagi ia harus mandi, makan, dan menunaikan kewajibannya di rumah. Itu cukup menghabiskan waktu sekitar satu jam yang sudah berbarengan dengan istirahat. Ia masih mempunyai waktu setengah jam lagi.
Waktu setengah jam itu akan di potong sekitar dua puluh menit menuju tempat bekerjanya. Ia masih mempunyai waktu sepuluh menit. Baiklah, cukup kemana waktu secepat itu?
"Huh..." Terdengar helaan nafas dari manusia yang sedang mengaduk teh hangat di cangkir cream bergaris coklat pekat di bibir gelas. Mata sayu itu seolah bicara bahwa tubuhnya sangat lelah. Semua yang ia lakukan tidak hanya melibatkan raga saja melainkan otak dan mental.
Oh... Kian harimu benar-benar sibuk dan melelahkan. Ia membuka kembali layar handphone yang tergeletak di atas meja makan. Memeriksa apakah ada pesan atau telpon yang masuk.
Tapi ternyata zonk. Hanya ada sebuah pesan lumayan rinci dari operator, agar si mpu handphone segera mengisi kembali pulsa untuk perpanjangan masa kartu. Jujur saja Kian seperti anak rantau saat ini, ia harus berhemat dalam segala hal. Termasuk dalam hal pulsa. Ia hanya mengandalkan paket internetan yang memberikan gratis telpon hanya untuk beberapa menit saja.
"Miris banget ya sekarang..." Keluhnya di saat melihat isi pesan itu. Sebenarnya bukan itu yang membuat dia sedikit kecewa atau sedih, melainkan ada sebuah nama yang ia harapkan memberi kabar padanya. Sudah beberapa lama ini nama itu tak lagi tersemat menjadi yang pertama bahkan bisa mengalahkan seringnya pesan operator masuk. Namun sekarang sangat berbeda.
Ia ingin, tapi takut mengganggu. Apalah dirinya sekarang, sangat cocok di sebut sebagai kutu. Bahkan sekarang ia berpikir, wajar saja Devan tak menghubunginya, mungkin ia baru merasa tenang saat dirinya tak berada di dekat Devan.
Apa dia benar-benar pengganggu? Atau benar-benar menyusahkan mahkluk bernama Devan itu? Tapi jujur saja selama ia bersama Devan ia begitu nyaman, dan saat Devan tak kunjung terlihat seperti ada yang kurang dalam hidupnya. Perasaan apa itu? Apakah Devan merasakan hal yang sama? Atau sebaliknya? Oh dengan tak tau dirinya semua pikiran itu melayang di otak Kian sekarang.
Plak!
__ADS_1
Ia menampar pipinya dengan lumayan berasa, "Sadar Kian!! Lo udah banyak ngerugiin Devan! Gak tau diri banget lo jadi manusia!"
Tak mau larut dalam lamunan yang menjerumuskannya dalam pikiran negatif, ia memutuskan untuk segera berangkat bekerja.
Angin malam yang begitu menusuk tak membuat sedikit pun semangat gadis itu luntur. Ia menaiki bus yang biasa mengantarkannya ke tempat kerja. Perlu dua puluh menit memang untuk sampai ke tempat itu. Ya, cukup jauh dari tempat tinggalnya sekarang.
Di dalam bus ia kembali termenung, namun dengan pikiran yang berbeda. Jika di hitung seharusnya renov kafe sudah selesai kemarin. Namun belum ada pemberitahuan dari pihak kafe pada para karyawan jika mereka kembali masuk berkerja.
Apa kak Arya sudah tak memerlukan dirinya lagi? Yang bisa dikatakan pemecatan secara halus? Atau ada masalah lain.
Kian sungguh seperti seorang perempuan yang baru saja ditinggal oleh suaminya yang meninggalkan sejumlah hutang yang cukup besar. Pikirannya hanya uang dan pekerjaan. Tanpa ia sadari hal itu menambah buruk kondisinya saat ini.
Tentu saja seharusnya dalam kondisinya yang sekarang, perhatian dan kasih sayang orang tua harusnya berlimpah ruah, bukan malah ia harus memikirkan bagaimana caranya mendapatkan makan untuk besok.
Ntah ini kebetulan atau takdir, nasib Kian begitu membingungkan. Ia selalu terjerat dengan yang nanya kostum badut. Ya, di pagi hari menjadi badut, dan ketika malam datang ia akan kembali menjadi badut lagi. Bahkan terbesit dalam benaknya, jika kehidupannya mungkin bernasib sama dengan badut, hanya bisa menghibur diri orang lain tanpa mengikutsertakan dirinya terhibur.
Di kota itu sekarang memang sudah di bangun sebuah taman yang luasnya mencapai dua puluh hektar. Taman baru yang berdiri beberapa minggu lalu. Sebuah taman swasta dengan pemilik yang pesohor. Jujur saja taman itu memang luas, indah dan begitu spektakuler.
Jika menghitung luas lahan itu, sangat tidak mungkin Kian harus mengelilingi satu taman sendiri Untuk menghibur para pengunjung. Ya, pada kenyataannya tentu banyak rekan yang juga bekerja di sana. Kian begitu tertarik bekerja di sana bukan tanpa alasan. Bahkan saat pembangunan itu hampir selesai, Kian diam-diam mencari tau informasinya. Dan boom, usahanya tidak sia-sia. Lagi pula gaji yang di tawarkan bukan lah nominal sedikit bagi Kian yang tak memiliki harta apa pun.
Dengan segala nilai plus-nya taman itu di kunjungi oleh banyak orang. Ntah itu memang karena ia masih baru atau memang karena apa yang menjadi daya tarik dari taman itu sendiri. Tapi jujur saja, taman seluas itu memiliki fasilitas yang cukup lengkap. Wajar saja banyak yang menyukainya.
__ADS_1
"Hey, bangunlah sekarang waktunya bekerja bukan tidur." Ucap seorang perempuan yang mungkin usianya sekarang dua kali lipat Kian.
Kian yang sedari tadi duduk bersandar di dinding di kursi besi dalam ruangan tersebut terbangun. Mencoba rileks sambil mengumpulkan sejumlah nyawa yang rasanya baru menghilang.
Waktu sepuluh menit yang ia gunakan untuk tidur itu sedikit meringankan lelahnya yang begitu kentara dari mata sayu cantiknya.
"Hidup itu memang melelahkan, namun akan lebih melelahkan lagi jika kau hanya duduk tanpa bergerak." Cibirnya lagi, sambil mengambil salah satu kostum yang ada di gantungan.
Kian masih stay duduk di kursi besi sambil mendengarkan orang itu bicara. Ntahlah Kian tak terlalu mengerti apa yang ia katakan, mungkin karena otaknya sekarang belum berfungsi dengan sebagaimana mestinya.
"Cepatlah bekerja! Atau bos akan marah lalu memecatmu!" Tegasnya, yang hendak keluar ruangan melewati Kian yang masih duduk. Terlihat wajahnya begitu tak suka melihat Kian.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
#tbc, dan terima kasih yang masih mau membaca cerita iniππππ. Minalaidin walfaidzin readers dan author lainnya.