
"Tante Zanna...." panggil Kian
Seorang perempuan yang berbaring diatas tempat tidur, dengan kondisi lemah dan beberapa selang terpasang di tubuhnya itu pun menoleh pada Kian. Air mata kian mengalir tambah deras setelah melihat sosok itu. Sosok yang selama ini ia cari dan ia rindukan bahkan sudah ia anggap sebagai ibunya.
"Siapa?" tanya nya dengan suara yang lemah
"Ini kakak cantik ma" celetuk Gio.
Kian mendekat ke arah perempuan itu sampai disampingnya baru ia bersuara lagi.
"Ini Kian tante. Yang sering ngadu ke rumah tante kalo ayah sama bunda lagi tengkar" ucapnya sambil terisak.
"Ki...kian Zeline Zakeisya anak Bram sama intan?"
"Iya tante itu Kian."
Tanpa di duga duga Zanna langsung mengulurkan tangan dan memeluk Kian. Tangis keduanya pun pecah, mereka berpelukan lama saling menyalurkan rasa rindu satu sama lain. Sudah bertahun tahun tak bertemu tentu rasa rindu sangat memuncak.
"Mama sama kakak cantik emang udah saling kenal?" tanya Gio yang melihat keakraban mereka. Mereka pun mengangguk dan tersenyum.
"Apa kabar kamu nak? gimana kabar keluarga?" ucap Zanna melepaskan pelukannya namun masih menangis
"Alhamdulillah Kian sama keluarga baik baik aja tante."
"Apa mereka masih seperti dulu?"
"Emm...gak kok tante. Mereka udah baik sekarang. Nanti kian pasti bilang sama mereka kalo mereka dh pulang. Soalnya mereka lagi di luar kota."
"Oh gitu. Syukur lah kalau mereka udah baik baik saja."
"Tante, sakit apa? maafin kian yang gak tau ya tante" masih berderai air mata
"Sssttt.... namanya takdir Kian. Kita gak bisa ubah. Tante mengidap penyakit Leukemia, hiks..."
"Sejak kapan?"
"Beberapa tahun lalu. Dan ini sudah yang kesekian kalinya tante masuk rumah sakit Dan belum sembuh juga."
"Kenapa gak ke rumah sakit luar negeri aja tante. Kan biar cepet sembuh."
__ADS_1
"Tante bahkan sudah coba itu, udah segala cara namun hasilnya tetap aja. Lagian kasian Gio sama kakaknya. Yang selalu berusaha buat sembuhin tante. Tapi hasilnya nihil. Jadi tante gak mau lagi Ki. Ini juga mungkin tinggal hitung hari." ucapnya sambil menekankan senyum agar terlihat tegar.
"Ih...tante ngomong apasih. Gak boleh ngomong gitu. Kian sayang tante, pokoknya kian mau tante sehat. Kian bakal telpon ayah sama bunda sekarang buat bantu." ucap Kian yang sudah merogoh hp nya di kantong sepan.
"Gak kamu gak boleh gitu (mencegah tangan kian agar tak mengambil hpnya). Tante gak mau ngerepotin siapa siapa lagi. Cukup liat orang orang yang tante sayang selalu ada disini tante juga udah seneng banget."
"Tapi tante harus janji ya buat sembuh" ucap Kian sambil memeluk Zanna. Sungguh ia benar benar takut kehilangan Zanna. Zanna adalah sosok perempuan yang sabar bahkan lebih sabar dari bundanya. Jika dulu bunda nya sedikit kasar terhadap kian berbeda dengan Zanna yang sangat lembut. Zanna dan intan hanya tetangga yang tak memiliki hubungan darah sama sekali. Namun Zanna begitu dekat dengan Kian.
Tak lama kemudian....
"Huwaaa.......Mama sama kakak cantik udah sibuk berdua. Aku malah dicuekin." rengek Gio. Dua perempuan tersebut malah tertawa melihatnya. Gio yang sedari tadi berdiri memperhatikan dua perempuan yang selalu banyak bicara dengan sesekali saling berpelukan.
"Haduh, Gionya kakak ngambek. Sini kakak peluk."
"Gak mau peluk. Maunya di gendong." ucapnya sambil cemberut.
"Ih katanya Gio udah besar. Masa masih minta gendong kakak. Gio kan berat, gak boleh gitu ya dek. Mama gak ajarin gitu lho."
"Huwaaa...... Mama gak sayang Gio lagi. Mama lebih sayang kakak cantik."
"Gio nama kakak itu kak Kian. Bukan kakak cantik. Jangan manja ya dek."
"Ya udah sini, kakak gendong."
Kian pun menggendong Gio dan tak lama ia malah tertidur.
"Maaf ya Kian. Gio memang rada manja. Sejak kecil tante jarang memperhatikan dia. Soalnya sakit tante yang makin hari makin parah. Jadi jarang bisa kasih perhatian ke dia. Sampai sampai kakaknya harus kerja buat biaya pengobatan tante. Kamu tau lah biaya pengobatan leukemia itu gak sedikit. Tante emang sangat menyusahkan mereka ki." lagi lagi Zanna menangis sesungguknya.
"Tante, yang namanya penyakit emang harus disembuhin. Kian bakal selalu berdoa buat kesembuhan tante dan Kian juga bakal bantu tante. Terus om Daren kemana tante? oh ya Gio punya kakak? kok aku gak pernah liat ya dulunya"
"Hiks....hikss.... panjang ceritanya kian."
"Maafin Kian tante malah buat nangis tante. Ya udah kalo belum bisa nanti aja. Kian siap selalu buat denger keluh kesah tante. Pokoknya tante harus sembuh dulu. Karna sekarang Kian udah tau tante disini, Kian bakal sering sering dateng ke sini. Terus masalah Gio, tante tenang aja Kian bakal ikut jagain terus kasih sayang juga sama dia." ucap Kian tersenyum walaupun dalam hatinya juga ikut bersedih melihat keadaan tante tersayangnya seperti itu.
"Terima kasih Kian. Tante jadi nambah ngerepotin kamu."
"Ya gak dong. Tante aja udah aku anggap kayak orang tua aku juga, selain itu apa tante lupa dulu dalam keadaan terpuruk tante selalu ada buat Kian. Kian sangat bersyukur dengan hal itu. Bahkan setelah kepindahan kami, Kian pernah berkunjung ke rumah lama. Tapi mereka bilang tante juga ikut pindah. Kian tanya kemana gak ada yang tau🥺. Maafin Kian ya tante baru bisa jenguk tante sekarang."
"Kamu ada juga tante udah sangat senang kian." ucap Zanna sambil mengelus kepala Kian.
__ADS_1
"Tante, kayaknya Kian harus pulang dulu. Mungkin besok kian baru kesini lagi. Gio kian tidurin di sofa ya tante." Zanna mengangguk.
Setelah selesai beres beres kian pun pamit pulang dan menyalami Zanna serta tak lupa juga memelukanya.
"Kian pulang dulu tante. Jaga kesehatan ya, pokoknya tante harus sembuh biar kita bisa kumpul kayak dulu lagi. assalamualaikum."
"Iya, waalaikumsalam."
________
Kian yang sudah sampai di rumah pun langsung mengobrak abrik tabungannya. Berniat untuk mengumpulkan semua isi tabungan itu dan diberikan kepada Zanna. Empat celengan yang berjajar di atas meja belajarnya itu ia bongkar dan ternyata hasilnya tak seberapa. Ia merasa sedikit kecewa namun ia akan berusaha untuk mendapatkan uang lebih dan tidak mau meminta pada kedua orang tuanya yang selalu sibuk itu.
Sedangkan kembali di Rumah Sakit. Seorang laki laki baru sampai dan langsung masuk ruang pasien dengan terengah engah.
"Ma, Gio ada?"
"Eh kamu. Ada tuh dia lagi tidur."
"Huh....kenapa sih Gio kamu selalu kabur kayak gini! kakak jadi khawatir tau" ucapnya sambil memijat keningnya karena pusing tak habis pikir dengan kelakuan Gio yang akhir akhir ini sering pergi tanpa izinnya.
"Engh..." merasa terganggu dan akhirnya membuka mata. "Ma, kak cantik mana? udah pulang ya?" racaunya namun sadar
"I..iya sayang. Tapi nanti dia kesini lagi kok."
"Emm... Ya udah Gio mau tidur lagi. Kalo dia dateng bangunin Gio ya ma." ucapnya yang kemudian kembali terlelap di sofa panjang itu. Sedangkan laki laki tadi hanya menatap bingung dan heran.
"Kakak cantik....kakak cantik terus. Ma siapa sih nih manusia?" kesalnya
"Ntar kamu juga bakal tau kok."
"Huh.....jangan sampai aja suruhan bedeb** itu. Atau dia akan habis ditanganku" ucapnya sambil mengepalkan tangan.
"Sudah....sudah Kamu gak perlu pikirkan itu. Dia tidak seperti itu kok."
"Hmm...baiklah. Mama udah makan?"
"Belum."
Laki laki itu langsung mengambil makanan yang ada di nakas, yang baru saja diberikan oleh suster disana. Ia menyuapi mamanya dengan telaten bahkan sangat lembut.
__ADS_1