
Sedangkan Sarah yang melihat hanya bisa diam seribu bahasa dengan wajah bingungnya. Kian yang sadar pun langsung menjelaskan pada Sarah.
"Jadi Sarah, Bimo itu anak kelas 12 IPS 1. Dia sama Febbry emang gitu kalo ketemu. Mereka punya masalah kemarin jadi sampai sekarang belum baikkan juga."
"Oh gitu. Emang masalah apa? Kok gak bisa baikkan?"
"Dah lah Sar. Ntar gw ceritain kalo gw dah mood. Mending kita lanjut jalan aja ya. Kita langsung ke Perpustakaan aja ya." Ucap Febbry sambil menggandeng tangan Sarah dan Kian. Mereka berdua hanya pasrah.
Sarah mandang Kian seakan ingin meminta penjelasan sesuatu. Tapi Kian langsung menganggukkan kepala, agar Sarah diam.
"Eits, mau kemana kalian?" Belum juga mereka bertiga melangkah, sudah ada tiga orang yang berdiri tegap di hadapan mereka. Mengadang ketiganya, saling berhadapan.
"Haduh... Nenek lampir dateng lagi" Ketus Febbry
"Mulut lo dijaga ya! Oh jadi ini anak baru, yang bikin heboh seantero. Cakep sih..." Ucapnya sambil mengelilingi Sarah, melipat kedua tangannya di depan dada sambil manggut manggut.
"Ya iyalah cantik. Gak bakal kayak lo Via. Ke sekolah dandan udah kayak emak emak mau kondangan. Orang tuh cantik natural bukan karna....."
"Bisa diem gak lo Feb! Gue gampar juga nih!!" Ucapnya marah
"Yang mulai duluan lo ya! Kita bahkan gak ganggu ganggu lo beserta kawanan lo. Mending jauh jauh, nanti Sarah yang polos ini bakal kena virus gak baik dari lo and the genk!"
Mendengar kalimat itu membuat Via menjadi murka hendak menampar Febbry, namun langsung ditahan oleh Kian.
"Maafin Febbry Vi. Gak harus juga lo nampar kan? Ntar lo malah masuk ruang BK, mau lo?" Ucap Kian pada Via yang kemudian langsung melepas tangan Kian. "Dan lo juga Feb. Mulut tuh jaga dong. Jangan mancing orang mulu."
"Ye, kok salah gue sih Ki. Ni anak nih, norak aja. Liatin Sarah sampe segitunya juga."
"Udah - Udah, gak usah pada berantem." Sarah membuka suara.
"Heh! Anak baru, gue kasih tawaran buat lo. Mending lo masuk ke geng kita aja. Dari pada sama anak sok pinter, sama lambe turah kayak mereka. Dari kriteria lo, lo bakal cocok kalo masuk geng kita." Ucapnya menatap Sarah, Namun Sarah hanya diam tak membalas ucapan itu.
"Gue kasih waktu sih. Kalo lo mau masuk geng kita, bakal lebih bagus. Dan kita bakal nerima lo kapan aja. Dan untuk kalian berdua kutu sekolah, suatu hari pasti gue bakal bisa nyingkirin kalian!" Via menunjuk Kian dan Sarah, lalu berlalu pergi.
Sarah masih diam, tak berkutik. "Jangan dipikirin Sar. Trio garong mah emang suka gitu. Selalu nyari ribut ama kita. Dan jangan mau juga gabung ama mereka. Lo malah diajarin gak bener nanti."
"Feb! Gak usah ngomporin Sarah napa? Tuh mulut ya gue lakban juga nanti!! Udah Sar mending kita lanjutin lagi, gak usah dengerin apa apa."
"Emang mereka siapa?"
"Mereka tuh, anak anak IPA yang..."
"Yang pada suka tebar pesona. Dan dikenal sebagai geng cantik. Cowok cowok ganteng sekolah abis diembat mereka bertiga. Lo tau Sar, mereka juga pernah ngincer Devan. Tapi gak pernah dapet juga. Jadi kalo lo mau sama Devan, maka saingan ama mereka." Lanjut Febbry setelah memotong ucapan Kian. Kian hanya menatap malas Febbry
"Oh gitu." Polos Sarah
"Udah Sar, jangan di dengerin. Ayo!" Kian menarik Sarah pergi meninggalkan Febbry. Takut Febbry akan bicara yang lebih tak masuk akal lagi.
Dan akhirnya mereka sampai di Perpustakaan. Begitu rapi, indah dan bersih. Dan tentunya sangat sepi. Yah, wajar aja yang menjadi petugas di perpus adalah guru killer. Tak ada yang berani menentangnya. Mereka pun masuk ke dalam setelah membuka sepatu.
__ADS_1
"Nah, disini surganya buku Sar. Lo mau buku apa aja ada. Buku dongeng ada, novel ada, komik juga ada. kisah horor, romance, lucu bahkan yang diluar galaksi pun ada kok. Jadi terserah lo mau pilih yang mana." Jelas Febbry panjang lebar namun dengan suara yang sedikit berbisik takut ketahuan Bu Rachel.
"Haha, emang gak ada buku pelajaran Feb?" Tanya Sarah heran
"Ada kok Sar. Buku buku kayak gitu emang udah lumrah dan gak perlu di tanya lagi. Delapan puluh persen buku disini tuh isinya buku ensiklop semua. Nah kalo lu denger yang diomongin sama Febbry, itu tuh buku kesukaan dia. Dan buku kayak gitu ada di dalam etalase khusus." ucap Kian sambil menunjuk satu etalase yang cukup besar dan isinya yang diucapkan oleh Febbry.
"Oh khusus ya Ki?"
"He em. Dan yang kumpulan buku itu......" Belum selesai sudah dipotong oleh Febbry
"Sumbangan dari gw Sar." Dengan PD nya.
"Ouuhhhh.... berarti baik dong lo Feb."
"Halah Sar, gak usah terlalu percaya sama dia. Ya emang dari dia, tapi itu kan hukuman karna nilai dia gak cukup terus juga kadang gak kumpulin tugas. Jadi dari pada gak punya nilai disuruh kumpulin buku deh dia. Itu pun buku yang kayak gitu, kalo disuruh kumpul buku pelajaran tuh anak suka ngawur belinya. Lagian juga para guru pengen buat hiburan siswa siswi disini sama tuh buku. Jadi gak semua buku itu buku pelajaran sekolah. Dan lo harus tau satu etalase emang dia yang kumpulan dari kelas sampai naik kelas tiga. Jadi makanya banyak."
"Ouh pantesan kalo gitu."
"Kenapa lo bilang sih Ki. Malu maluin aja."
"Kalo lo malu ya berubah bege. Jangan gitu terus."
"Lo mau gw berubah kayak gimana? sillermoon gitu? Atau jadi peri?" Kesal Febbry
"HEH! KALIAN BERTIGA BISA TIDAK JANGAN BERISIK. INI ITU PERPUSTAKAAN BUKAN TAMAN BERMAIN."
plakkk...
"Lo ya, dimarahin malah nyaut (kesal Kian pada Febbry). Hehehe...maaf bu. Ya udah kita keluar aja ya."
"Ya sudah sana Kian. Bawa teman mu yang bersisik itu." titah Bu Rachel.
Mereka bertiga keluar perpustakaan dan menuju ruangan laboratorium. Satu persatu ruangan itu mereka berdua perkenalkan pada sarah. Hingga akhirnya kami selesai dan berjalan melewati samping lapangan basket. Terlihat disana Sarah kembali memandang seorang siswa dengan lekat. Yah siapa lagi kalau bukan Devan. Ia sedang bermain basket bersama anak basket dari kelas lainnya.
"Sarah lo kenapa sih liat Devan gitu banget?"
"Dari kantin juga Sarah liat Devan udah gitu Feb"
"Serius lo Ki. Haduh jangan bilang lo suka ama Devan Sar."
"Emang kenapa?" Tanya Sarah penasaran.
"Oh jadi lo suka beneran ama Devan Sar. Nih ya gw bilangin tuh anak misterius banget."
"Misterius gimana feb?"
"Yah lo liat aja kedepannya. Lu bakal liat seorang Devan, yang sering buat onar, jarang bergaul sama orang lain. Bergaul paling pas ada kegiatan doang. Kayak sekarang, dia lagi main basket sama yang lain. Dan orang orang gak tau seluk beluk keluarganya. Aneh banget gak sih."
"Tuh kan mulai lagi tuh mulut. Kalo belum dijahit atau di lem gak bakal diem. Netijen aja bakal kalah sama lo Feb."
__ADS_1
"Ya kan kenyataan. Inget lho gw udah satu tahun dan mau dua tahun gak tau apa apa soal tuh anak. Dan lu juga kan? Dari kelas satu sampai sekarang masih gak tau dia orangnya gimana."
"Tau kok Feb. Dia tuh orang yang keliatan cuek, dingin, tapi pasti ada sisi lembutnya juga. Yah kaya badboy di cerita cerita gitu tuh."
"Elah sotoy bener deh lo Ki"
Sarah POV
Disaat febbry dan Kian masih berdebat gw terus liat tuh orang. Gw ngerasa gak asing banget sama dia. Tapi gw gak tau sama dia. Tanpa diduga duga saat gw masih berkelut dengan otak gw dia menatap kearah kami, tepatnya ke gw. Tatapan tajam dan dingin itu mengerikan. Dan tentu saja itu ngebuat gw tersentak dan tersadar serta berhenti memperhatikannya.
Kian dan Febbry belum selesai berdebat sehingga mereka tak tau dengan hal itu. Gw coba melerai mereka berdua agar berhenti. Dan syukurlah hal itu bisa berhenti saat itu juga.
Author POV
"Kenapa Sar?"
"Mau sampai kapan kalian debat terus. Mending kita masuk kelas aja. Siapa tau udah ada tugas buat dikerjain."
"Bener kata lo sar. Ya udah ayok."
"Em itu, si Devan gak diajak masuk kelas juga?"
"Udah Sar, gak usah khawatirin Devan. Kalo udah bosen paling dia bakal masuk kelas sendiri kok. Lagian di kelas juga paling dia bakal tidur sambil dengerin musik."
"Lho Ki, emang dia gak pernah kerjain tugas?"
"Haduh Sarah. Lo gak tau temen tuh manusia kan sama dengan yang disamping kita. (Sarah melihat ke samping dan disana ada Febbry). Sama sama jarang buat tugas dan sering kena hukum juga. Cuma bedanya Febbry cewek sedangkan dia cowok. Dan dibandingkan dia Febbry lebih mudah diajak kerja sama dan lebih penurut. Kalo dia mah gak usah ditanya. Dia cuma mau ngelakuin apa yang dia mau bukan perintah atau permintaan dari orang lain."
"Tapi walaupun gitu gw yakin tuh orang bakal bucin juga suatu hari nanti" Celetuk Febbry disela penjelasan Kian.
"Yakin juga sih gw. Kan manusia diciptakan berpasangan pasangan. Jadi wajarlah kalo suatu hari dia bakal bucin." Ucap Kian ceplas ceplos.
"Kira kira cewek kurang beruntung mana yang bakal dapet dia ya?"
"Astaga, stop Febbry. Lo bisa gak sih jangan ngomong gitu. Lo yang bakal jadi masa depannya baru tau rasa lo."
"Ihhh kok gw sih. Eh Sarah mana?"
"Lah iya. (Mereka pun melihat samping kiri kanan depan belakang, dan ternyata dia sudah berjalan duluan. Dan itu sudah cukup jauh). Lah itu dia anaknya Feb. Ya udah yuk cepet susul"
.
.
.
.
.
__ADS_1