
Kini Kian dan Devan berada di sebuah market kecil yang tak jauh dari adegan perkelahian Devan dengan Refan tadi. Devan duduk di salah satu kursi yang berada di meja panjang dalam mini market itu, dan Kian datang dengan beberapa barang, seperti satu bungkus kapas, satu botol alkohol, satu botol Iodin povidon, dan plester serta tak lupa es batu bersama kain juga.
Kian mulai mengobati beberapa luka yang terdapat di wajah Devan, di sudut bibir, alis mata kiri pipi serta pelipisnya. Berusaha selembut mungkin agar Devan tak kesakitan. Devan bukanlah orang yang sering mengeluh, sampai ia mendapat luka pun jarang ia obati. Namun karena merasa bersalah, sebab ulahnya lah Devan seperti ini, hingga Kian memaksa untuk mengobati luka itu.
Di sela-sela itu Kian kembali merocehi kebodohan Devan yang diam saja ketika di pukuli sehingga meninggalkan bekas yang cukup serius seperti ini. Kian ingin membawanya ke rumah sakit, namun Devan tak mengindahkannya. Ia menolak mentah-mentah ajakan itu, yang kemudian di paksa Kian untuk datang kesana agar mendapatkan perawatan atas lukanya. Dan Devan pun mengiyakannya.
"Kenapa lo gak lawan aja sih atau ngehindar?!!" Kesal Kian yang masih sibuk menarikan jari-jemarinya di wajah Devan
Namun Devan malah diam, tak menanggapi omongan Kian yang begitu membuatnya terusik.
"Kalo ngehindar kan gak bakal jadi gini. Ini malah diem, abis itu mukul balik. Harusnya kalo emang gak mau mukul atau dipukul mending ngehindar aja."
"Gue juga gak mau mukul dia kalo dia gak kelewatan. Gue gak suka liat dia ..." Devan tak melanjutkan kalimatnya, hanya diam dan menikmati sakit yang ada di wajahnya
"Gue tau. Lo gak suka kan liat cewek disakitin dan makasih karena udah nolongin gue. Tapi lo nyadar gak sih, lo juga udah nyakitin Sarah waktu itu?" Tanya Kian dengan beraninya, ia pun terkejut kenapa pertanyaan itu bisa keluar dari mulutnya. Walaupun dengan kemungkinan besar ia akan dimarahi mungkin ia akan terima karena begitu lancangnya ia menanyakan hal itu.
"Gue udah berusaha buat dia sadar supaya gak deket-deket gue, tapi sikapnya masih aja. Lo tau gue gak suka ada orang yang terlalu ikut campur dalam hidup gue. Jadi, itu sekedar peringatan buat dia." Datar Devan.
"Tapi waktu itu juga lo kasar. Lagian wajar aja sih Sarah ngejar lo, karena dia suka sama lo Van."
"Gue gak. Gue gak suka deket sama cewek." Kian sedikit tertenggu mendengar kalimat itu, bagaimana bisa Devan berucap seperti itu sedangkan saat ini dia bersama dirinya bahkan begitu dekat.
"Terus apa kabarnya sama gue, bahkan udah tau tentang hidup lo? Dan sekarang kita deket." Tanya Kian, yang lama tak dijawab oleh Devan
"Lo deket sama almarhumah mama gue dan Gio juga. Dan gue gak ngerasa kita deket lebih dari itu."
"Hanya karena itu?" Yakin Kian.
"Hmm." Dengan anggukan, tapi sorot mata mengarah ke lain.
"Btw, dia cowok yang waktu itu juga berantem sama lo kan Van? Maksud lo ngomong dendam itu ke dia tuh apa ya? Emang kalian punya masalah sebelumnya?" Tanya Kian memasang plester di batang hidung Devan
"Gak tau. Dia keliatan gak suka banget sama gue, jadi gue reflek aja ngomong gitu." Eneteng Devan.
Kian hanya memutar bola mata malas, mendengar ucapan itu seolah semuanya hanya masalah kecil. Hingga ia tak sengaja melempar pandangan ke luar mini market dan melihat seseorang yang sedang berjalan bersama seorang laki-laki. Laki-laki bertumbuh tinggi dengan sedikit berantakan.
"Akh!!" Pekik Devan, karna Kian tak sengaja menekan hidungnya terlalu kuat.
__ADS_1
Kian langsung menarik tangannya dari wajah Devan, tanpa minta maaf ia langsung berlari keluar mengejar seseorang yang tentunya ia kenal. Tak ada pikiran lain di otaknya selain menghampiri orang itu. Khawatir menyeruak dalam dirinya melihat orang itu bersama laki-laki yang keliatan sangat berantakan seperti seorang berandalan. Memakai kaos putih oblong tanpa lengan, sepatu berwarna hitam, jeans bolong di kedua lututnya, rambut yang berantakan, sebelah tangan menentengkan jaketnya di bahu, dan satu tangan lagi memeluk bahu seseorang yang Kian kenal.
"Sarah!!!!" Teriak Kian memanggil seseorang itu.
Jujur saja Kian dan Devan mencari Sarah masih mengenakan baju sekolah, tanpa pulang ke rumah dan belum makan siang sedikit pun. Ia menunda semua itu karena ingin cepat menemukan Sarah.
Seseorang yang di panggil Kian itu langsung berhenti dan menoleh ke arah Kian.
"Gurl, who is she?" Tanyanya dengan mengangkat sebelah alis.
"Gak kenal. Jalan aja." Mereka melangkah lagi membuat Kian mengejar dan menarik tangan Sarah.
"Hey, gurl what are you doing? Sarah ada apa dengan gadis kecil ini? Apa kalian saling mengenal? Sepertinya ada sesuatu yang ingin ia sampaikan. Bicaralah padanya, aku akan menunggumu sebentar di sini." Ucap laki-laki itu pada Sarah.
"And for you little gurl, jangan terlalu kasar ya." Ucapnya lagi lalu mempuk-puk kepala Kian lembut. Kian hanya melotot melihatnya, menandakan ia tak suka diperlakukan seperti itu.
"Hn, Apa?" Acuh Sarah.
"Gue mohon lo pulang Sar."
"Haha..." Tawa kecutnya sambil melipat kedua tangan di depan dada, "Lo siapa gue yang bisa nyuruh gue gitu hn?! Lo tau hidup gue tuh gak guna sama sekali!"
"Hah? Papa? Lo gak tau Ki. Gue sendiri aja bukan anaknya dia. Gue bukan anak dia Kian! Buat apa lo cariin dan suruh gue pulang, sementara dia mengharapkan orang lain yang jelas dia anak kandungnya." Sinis Sarah dengan memandang Devan bergantian.
"Lo salah paham Sarah sama om Daren."
"Salah paham dimana hah? Jelas-jelas dia yang bilang sendiri kalo gue bukan anaknya, dan dia mengharapkan Devan buat pulang!! Kalo gue bukan anak dia, terus gue anak siapa hah? Jawab Kian!!!"
"Lo sama Devan sama sama anak om Daren Sar, dia sayang sama kalian. Oke gini deh, kalo lo pikir om Daren emang bukan orang tua lo, tapi dia sayang sama lo Sarah. Dan dia juga udah rawat lo selama ini. Anak atau bukan itu gak terlalu penting di samping rasa sayang yang begitu besar." Yakin Kian pada Sarah yang terlihat sedikit melunak.
Tapi, bukannya ia malah meng-iya, ia malah berbalik meraih tangan laki-laki tadi dan berjalan pergi dari sana.
Kian terlihat mulai frustasi dengan sikap Sarah, sampai ia berbalik dan melihat Devan hanya mematung seolah tak ada peduli sedikit pun.
"Devan!!!! Kejar dia! Lo selalu aja ngancem gue kalo gak nurut. Sekarang gue mau lo juga gitu ke dia! Ayo!!!" Titah Kian yang hanya dibalas tatapan datar oleh Devan.
Kian yang kesal lalu berlari menyusul kedua orang itu. Merentangkan kedua tangannya menghalangi Sarah dan laki-laki itu, agar mereka berdua tak berjalan lagi.
__ADS_1
"Lo apa-apaan sih Ki. Minggir gak lo!!" Bentak Sarah.
"Gue gak akan minggir. Lo (tunjuk Kian pada laki-laki itu) siapanya Sarah hn?!"
Laki-laki itu melepaskan genggaman Sarah dan beralih mendekati Kian, "why? Kamu mau tau aku siapa nya?"
Kian memicing kesal melihat gelagat laki-laki itu. Seperti laki-laki yang hanya memanfaatkan perempuan saja. Otaknya kini berfikir bahwa dia tidaklah baik, bisa saja dia mengambil keuntungan dari keadaan Sarah yang saat ini sedang down. Namun ia kembali menepis pikiran jahat itu, sebab tidak baik jika langsung mengjudge hanya karna penampilannya.
"Aku adalah orang yang menampung Sarah beberapa hari ini saat dia di usir dari rumah. Apa kamu keberatan? Lagi pula kamu ini siapa?"
"Kau!!!! Apa kalian tinggal bersama?" Tanya Kian tak percaya, namun laki-laki itu malah mengangguk, seperti membenarkan pertanyaan Kian.
"Sahabat Sarah, gue sahabat Sarah! Sarah lo diapain aja ama nih cowok?" Khawatir Kian.
"Gak usah ikut campur Kian! Lo bukan siapa-siapa gue. Gak usah berlagak peduli. Kalo emang lo sahabat gue, pasti lo gak nusuk gue dari belakang kan? Dasar munafik!" Sarah mengungkit kejadian beberapa waktu lalu, sebelum ia pergi.
"Hei bung! Lebih baik kau pergi sekarang. Biarkan Sarah pulang ke rumah. Sarah tak pernah di usir, jadi ku harap kau mengerti." Ucap seseorang yang kini sudah berdiri tegap di sana.
"Kau juga! Siapa lagi kau ini!"
"Saudaranya. Aku datang untuk menjemput Sarah. Apa kau perlu sesuatu untuk menebus biaya kehidupan Sarah yang kau tanggung? Tenang saja nanti akan ku kembalikan kerugiannya." Begitu dingin dan khas nada sarkasenya.
Laki-laki itu menarik kerah baju Devan, hendak menghajar Devan sebab kalimat yang diucapkan Devan seperti menginjak harga dirinya. Seperti ia tak mampu untuk menghidupi seorang perempuan saja. Namun langsung di tengahi oleh Kian agar Devan tak lagi dapet bogeman mentah dari orang lain. Di sisi lain, Kian juga marah dengan Devan yang mengatakan hal seperti itu. Devan yang dimarahi oleh Kian hanya diam dengan tatapan datar, dan membatin merutuki kekesalannya pada Kian. Yang beberapa saat lalu meminta bantuannya untuk menarik Sarah dari laki-laki yang ntah siapa itu.
Karena kesal, laki-laki itu langsung pergi dengan tatapan yang sinis yang diarahkan pada mereka bertiga termasuk Sarah. Sedangkan Sarah hanya diam tak mau membuka suara, hanya memandang Kian dan Devan dengan tatapan malas. Mungkin dalam hatinya ia benar-benar mengutuk kedua orang yang ada di hadapannya saat ini.
Devan memberhentikan sebuah taksi, dan hendak mengantarkan Sarah pulang ke rumah. Namun Sarah menolaknya, ia beralasan ingin langsung pergi ke rumah sakit menjenguk papanya. Sepanjang perjalanan Kian banyak bicara pada Sarah mengenai Daren yang terus menerus mencarinya dan tak lupa juga ia meminta maaf serta menjelaskan tentang dirinya dan Devan agar Sarah tak lagi salah paham. Namun si mpu tak menanggapi sedikit pun ucapan Kian. Hanya memandang keluar jendela taksi dengan tatapan kosong.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah baca, salam damai dari penulis✌
Jangan lupa like dan komen ya readers💬❤