Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)

Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)
#91


__ADS_3

Perlahan pelukan itu mulai merenggang dan lepas. Menampakkan wajah Kian yang sebab, kedua mata dan hidungnya memerah dan kedua pipi yang tembam itu juga ikut merah. Terlihat sekali kalau ia menangis tidak hanya beberapa menit saja melainkan sudah berjam-jam.


"Ma.. maaf. Gue gak sengaja." Ucapnya pelan mengusap kasar kedua matanya yang masih menyisakan bulir-bulir air. Devan hanya mengangkat sebelah alisnya mengiyakan hal itu, "Van gue bener-bener gak sengaja. Tadi ada sesuatu di balik semak-semak itu. Gue gak tau di sana ada apa." Ucapnya memburu dengan tubuh yang masih terseguk dan berdiri sudah lebih jauh dari Devan, menunjuk ke arah semak-semak yang ada di belakangnya.


Devan mengikuti arah tunjuknya, namun semuanya tampak baik-baik saja. Tatapan dingin itu mengedarkan pandangannya, dalam hatinya juga takut kalau ada seseorang yang akan menjahati perempuan mungil di depannya ini.


"Mana?" Tanyanya, membuat Kian langsung ikut menoleh. Dan benar saja semak-semak itu tak lagi bergoyang. Hanya sunyi menyapa, "Gue gak tau. Tapi tadi sumpah bener-bener ada Van. Gue gak boong. Gue juga gak sengaja...." Belum selesai Kian bicara kini telunjuk Devan sudah berada di depan bibirnya.


"Sstt!! Jangan berisik. Lo tau, disini tuh sering terjadi penculikan dan hewan-hewan liar juga sering berkeliaran di daerah ini." Ucapnya dengan dingin menatap Kian, membuat Kian sedikit bergidik ngeri menatap ke sekitarnya.


Grep


Kian mencengkeram baju dibagian pinggang Devan, namun tanpa disadarinya si mpu merasa kesakitan, sebab ia mencengkeram baju Devan beserta dengan kulitnya juga. Kian mengedarkan pandangannya, takut apa yang dikatakan Devan benar adanya.


Cengkraman itu lumayan kuat membuat Devan sampai meringis kesakitan. "Akhh! Sakit! Lo gila ya!" Devan menampar lembut tangan itu beberapa kali, agar cengkeraman itu bisa terlepas sebelum kulit pinggangnya juga ikut lepas nantinya.


Mendapat tamparan lembut dan mendengar kalimat itu, membuat Kian menoleh ke arah Devan dan langsung melepas cengkramannya. "Kenapa Van?" Dengan wajah bingung tanpa merasa bersalah sedikit pun.


Devan yang tadinya memasang mimik kesakitan kini sudah datar kembali. Seperti kesal dan meroceh dalam hatinya, karena perlakuan Kian.


"Ikut gue!" Pintanya langsung menaiki motor matic modifikasi itu. Namun Kian belum juga beranjak, menatap Devan dengan keadaan sebelah tangan yang masih menggenggam tisu yang ada bercak darahnya.


Di satu sisi ia heran kenapa Devan ada di sini. Namun di sisi lain ia sangat bersyukur karena ada Devan. Dan ia sedikit lega sebab saat Devan tiba sumpelan tisu yang ada di hidungnya sudah terlepas, mungkin karena ia bangkit dari duduknya tadi dengan terburu-buru. Ia juga bersyukur sebab kini darah itu sudah berhenti.


Tapi tidak bisa dipungkiri kalau hatinya juga merasa gelisah dan takut, apakah Devan melihat kejadian tadi atau tidak. Namun otaknya seolah bicara kalau itu semua tak dilihat oleh Devan. Hatinya kembali meroceh, jika hal itu terjadi maka ia sangat lega, namun kalau tidak....


Devan yang sudah memakai helm di kepalanya menatap Kian yang masih tak kunjung bergerak.


"Woy! Lo gak ikut?" Tanyanya dengan mengibas-ibaskan tangan di depan wajah Kian agar ia tersadar.


"Eh... Emang mau kemana?"


Itu adalah pertanyaan bodoh menurut Devan yang dikeluarkan oleh Kian saat ini. "Lo mau tidur di sini?" Kian langsung menggeleng cepat. Dan berjalan ke arah Devan namun belum juga naik. Masih berdiri di samping motor itu dengan wajah bingungnya.


"Lo mau anter gue kemana?" Tanya Kian ragu.


"Yang jelas bukan ke rumah lo. Ayo cepet naik! Kalo gak, gue tinggal nih. Biar lo diculik, dimutilasi sama penunggu jalan ini, terus tubuh lo bakal di kasih sama hewan liar yang ada di sini." Ucapnya dengan suara dingin.


Grep


Kini Kian sudah naik di jok belakang motor. Memegang besi pembatas yang ada di belakang. "Lo kalo jatoh gak usah nyusahin gue ya!" Ancamnya, membuat Kian memindahkan pegangan itu ke pundak Devan. Devan hanya menghembuskan nafas kasar, lalu menarik kedua tangan yang ada di pundaknya untuk pindah ke pinggang, dan menautkan kedua tangan Kian yang kini sudah memeluk pinggang dirinya.


Kian terkejut, namun tetap diam. Takut jika Devan akan marah dan menurunkannya kembali. Ia ingin bertanya di sela perjalanan itu, namun sepertinya akan percuma sebab Devan sangat fokus dengan jalannya. Hingga...


"Loh, Van lo mau bawa gue kemana? Ini kan bukan jalan...."


"Iya emang ini bukan jalan ke rumah gue. Lagian gila aja lo mau tinggal di rumah yang isinya dua orang remaja normal dan satu anak kecil yang ketiga berjenis kelamin cowok. Walaupun kita bisa tahan nafsu atau jaga diri supaya gak khilaf, tapi apa kata tetangga. Lo mau dapet gunjingan dari ibu-ibu gang gue? Terus nanti disuruh nikah karena ketahuan tinggal satu rumah." Rocehnya sambil tetap mengendarai motor matic itu. Tak lupa juga ikut memeluk lengan Kian yang masih terpaut di perutnya agar Kian tak terlalu dingin.


Karena ia memakai baju panjang saat ini, hingga membuatnya tak membawa jaket yang biasa ia kenakan. Yang tentu saja apabila dia bawa, jaket itu akan lagi dan lagi ia berikan pada Kian.


Kian kembali terdiam. Ia menyetujui apa yang dikatakan oleh Devan, walau sebenarnya ia tak berpikir sampai sejauh itu.


Dua puluh menit mereka berkendara, akhirnya mereka sampai di satu deretan kontrakan. Lebih tepatnya satu lahan yang semuanya berisi kontrakan. Mungkin ada sekitar enam pintu dan satu rumah lumayan besar yang sepertinya itu adalah rumah pemilik kontrakan.


"Lo tunggu sini!" Titah Devan pada Kian, setibanya mereka di tempat itu.


Devan berjalan ke rumah yang lumayan besar, sedangkan Kian berdiri di samping motor dengan memandangi sekitaran tempat itu.


Tak lama, dari kejauhan terlihat seorang ibu-ibu keluar dari rumah. Namun Kian tak terlalu jelas melihatnya sebab di tutupi punggung Devan yang menjulang tinggi nan lebar.


Lama Devan bicara dengan ibu itu, yang tentunya si pemilik kontrakan, Devan melambaikan tangan memberikan isyarat untuk Kian mendekat. Kian langsung berjalan ke sana dengan tetap melihat sekelilingnya.


"Loh bu Eti?" Ujar Kian yang tak percaya, yang ternyata ibu itu adalah ibu kantin di sekolahnya.


"Oh jadi neng Kian toh. Iya ini ibu neng." Ucapnya yang kemudian disalami oleh Kian.


"Bu, saya titip teman saya disini ya." Ujar Devan, yang mendapat anggukan dari Bu Eti, lalu berlalu pergi begitu saja tanpa berucap sepatah katapun.


Sedangkan di lain sisi ada beberapa penghuni kontrakan yang melihat kedatangan Devan dan Kian, yang tentu nya menjadi heboh.


"Eh... itu tadi Devan kan ya?"


"Iya..."


"Gue udah cakep belom? Untung aja sempet luluran tadi."


"Iya udah. Luluran pake apa lo??" Jawab satu orang dengan wajah malas.


"Lumpur lapindo...." ketusnya membuat teman temannya tertawa, "Ya pake sabun lulur lah, pake nanya segala lagi." sewotnya.


"Wes calm down dong. Lagian lo mau mandi susu aja Devan belum tentu mau ama lo, La!"


"Kalo gue kalo gue? udah cakep juga belom?" Tanya nya sambil membenarkan rambut mie yang tergerai sampai pinggang.


"Haduh, mana lupa dandan lagi gue."


"Apa bedanya lo dandan sama enggak Yul. Wajah lo tetep aja kayak rempeyek garing!!"


"Sembarang lo kalo ngomong!! Gak sadar diri emang si ubi jalar! Mana badannya kayak gentong minyak lagi."


"Mulut lo tuh kayak petasan banting. Koar koar aja kerjaannya."


"Woy!! Sadar wahai human-human wajah pas pas-an. Devan tuh muda dari kalian!! Ya kali Devan mau ama emak-emak rempong kayak kalian. Mending kan sama gue. Umur kita gak beda jauh. Dan gue juga lebih cantik."

__ADS_1


"Ye.... halu aja lu kanebo lecek!! Devan lebih suka cewek putih, tinggi, kurus, langsing kayak gue, apalagi kalo liat gue pasti bawaannya adem."


"Kipas angin maksud lo?? Hahah... Ya gak lah. Kulit yang eksotis tuh lebih cantik dan sulit buat di cari. Kayak gue contohnya."


"Gak gak. Devan lebih suka cewek yang rada berisi sedikit, kayak gue."


"Lu mah bukan dikit lagi cha, tapi kebanyakan udah. Kayak nangka di sarungin tuh cakep. Emang cocok kayak lo."


"Idih, gak ya. Dasar karung goni gak tau diri lu."


"Udah gak usah pada berantem. Devan suka sama cewek yang agresif deketin dia duluan. Dia gak bakal mau ngelirik duluan."


"Lah iya ya. Lu kan emang kayak kucing garong, agresif bener.. Hahahaha..."


Para perempuan yang ada di kontrakan itu, ramai membicarakan diri mereka dengan Devan. Sangat heboh bak lebah yang sedang melihat bunga. Bahkan omongan itu tak hanya berada dalam satu deret kontrakan, melainkan deretan kontrakan lainnya juga. Sedangkan untuk satu kontrakan terdiri dari dua pintu.


Kian hanya memperhatikan mereka dengan tatapan bingung. Bagaimana bisa Devan membuat satu lahan kontrakan ini heboh dengan kedatangannya. Padahal Devan bukan artis yang bisa diperbincangkan dengan begitu hebohnya.


Bu Eti yang melihat tatapan Kian ke arah mereka semua malah tersenyum hangat.


"Neng Kian, kalo liat pemandangan ini jangan heran. Nak Devan kalo ke sini dah kayak kembang desa yang selalu diomongin para warga." Ucapnya sambil tertawa.


Kian yang mendengarnya hanya menampakkan wajah bingung, "Ha?? Gimana maksudnya bu?"


"Ibu akan jelaskan, tapi sambil jalan ke arah kontrakanmu ya. Soalnya kontrakanmu ada di ujung. Agak jauhan, karena cuma itu yang masih kosong." Ucapnya lagi, yang Kian angguki.


Dan benar saja sepanjang jalan ke kontrakan itu bu Eti menceritakan semuanya, "Nak Devan tuh anak baik loh neng. Waktu ibu merantau pertama kali ke kota ini, ibu gak tau harus kemana. Ditambah lagi ibu itu janda anak tiga. Jadi agak sedikit susah. Tapi untung ibu ketemu nak Devan, yang baik nolongin ibu. Ibu kenal nak Devan udah sekitar lima tahunan. Awalnya dia bantu ibu buat cari rumah, terus bantu ibu buat cari pekerjaan juga. Sampai ibu jadi salah satu ibu kantin di sekolah kalian. Dan alhamdulillah, sekarang ibu bisa bangun kontrakan ini. Yah walaupun baru setahunan terbangun, alhamdulillah udah rame. Dan semuanya penuh." Ujar si Ibu, membuat Kian terbelak kaget mendengarnya.


"Nah, selama ini juga dia masih bantu ibu kalo ibu pulang dari jualan di sekolah. Dan dia sering kemari buat antar ibu pulang. Anak-anak yang ngontrak disini rata rata anak kuliahan. Tapi yah gitu neng, pantang liat cowok ganteng lewat dikit aja. Semunya pada heboh. Semuanya pada suka sama Devan."


"Oh gitu ya bu, hehehe..."


"Tapi...."


"Tapi apa bu?"


"Ibu masih gak enak sama nak Devan. Dia udah baik banget sama ibu, tapi ibu gak bisa bantu dia apa-apa. Setiap kali ibu mau balas semua kebaikan dia, dia selalu nolak. Dan dia bilang ikhlas buat bantu ibu."


Kian diam sejenak mencerna kalimat itu, "Ibu punya tiga orang anak yang masih kecil ya waktu itu?"


"Iya, dulu waktu ketemu nak Devan paling besar anak ibu umurnya empat tahun. Sedangkan yang dunya kembar baru berumur tujuh bulan. Kok kamu tau Ki?"


"Hehehe.. Iya bu. Soalnya tuh anaknya nongol di depan pintu." Tunjuk Kian ke rumahnya yang masih terlihat sedikit jelas


"Oalah, ya sudah. Ini kuncinya dan ini kontrakanmu Ibu mau bikinin susu buat mereka berdua dulu." Ucap bu Eti ketika sudah sampai di depan kontrakan Kian.


Sekejap Kian mengangguk, namun kembali ia menahan bu Eti yang hendak melangkah itu. "Bu, emm... Kian bayarnya akhir bulan ya bu. Soalnya Kian gak punya..."


"Sssstt... Udah jangan omongin itu. Ibu tau rasanya waktu gak punya apa-apa Ki. Jadi jangan pikirin itu. Kamu cukup istirahat aja dan kalo ada apa-apa tinggal bilang ke ibu ya."


Sejenak ibu itu memegang tangan Kian dan menggeleng. Lalu ia beranjak pergi dari sana meninggalkan Kian yang masih berdiri di depan pintu.


Ceklek


Pintu terbuka dan Kian melangkah masuk. Walaupun kontrakan ini tak ada yang menepati, namun keadaannya masih bersih dan rapi, hingga Kian tak perlu repot untuk membersihkannya.


Setelah memeriksa semua ruangan yang ada, seperti kamar tidur, kamar mandi, dapur dan ruang tamu, ia melihat perabotan masih kosong. Namun terdapat meja dan kursi yang ada di ruang tamu, kasur tidur yang ada di kamar yang sudah lengkap dengan satu bantal dan selimut, dan keadaan kamar mandi yang baknya penuh dengan air.


Ia kembali ke ruang tamu hendak menutup pintu dan berlanjut istirahat tapi, ternyata ada seseorang yang berada di depan pintu dengan menenteng beberapa bungkusan plastik.


"Devan? Lo belum pulang?" Tanya Kian.


"Lo belom makan kan? Makan dulu. Gue juga beli beberapa keperluan alat mandi. Gue beli seadanya, karena gak tau merk apa yang biasa lo pakai atau benda apa aja buat cewek. Gue beli sesuai apa yang gue pake. Abis makan lo mandi, terus istirahat. Inget besok TO jadi jangan sampai telat." Ucapnya yang menata apa yang ia beli, di meja tamu.


Kian memandangi Devan yang sibuk, dan terus memperhatikannya. Senyum tersungging di bibir Kian, melihat Devan yang begitu cerewet dan perhatian seperti itu.


"Woy!" Serunya membuat Kian kaget. "Duduk! Makan dulu." Lanjutnya.


Dengan langkah sedikit ragu, akhirnya ia melangkah dan duduk di kursi yang ada di depan Devan. Melihat satu kotak makan yang sudah tersaji di atas meja. Dengan seporsi nasi, satu telur rebus, sayur sop dengan isian ayam dan kerupuk. Kian menatap makanan itu dan Devan bergantian.


"Sorry, gue gak tau selera lo. Dan makanannya juga sesederhana itu." Ucapnya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


Kian hanya menatap dan terus menatap tanpa membuka suara. Membuat Devan sedikit berpikir dan beranjak dari duduknya.


Menggedor tetangga Kian yang pintunya masih tertutup. Kian pikir kontrakan sebelah tak ada orang namun ternyata tidak. Terdengar suara wanita yang menyapa Devan ramah. Seketika senyum yang tadinya sempat tersungging di bibir itu saat Devan beranjak menjadi pudar.


"Eh ada lo Van. Ada apa?"


"Kak Nari, gue boleh minta air minum satu gelas gak?"


"Ouhh minum doang. Ada kok, tapi tumben. Buat siapa? Lo ngontrak disini? Baru pindah?" Hujanan pertanyaan darinya.


"Gak kok. Temen Devan yang yang ngontrak disamping kakak. Baru pindah malam ini."


"Oh kirain lo. Cewek kan? Siapa lo tuh?"


"Temen kak."


"Temen apa temen? (Ucapnya membuat wajah Devan sedikit tertekan) Hahah... ya udah gak usah terlalu dipikirin. Gue ambil dulu."


"Kalo bisa yang gelas gede ya kak." Teriaknya ketika perempuan bernama Nari itu masuk ke dalam.


"Iya bawel."

__ADS_1


Semenit menit kemudian, Nari keluar membawakan pesanan Devan. "Nih!"


"Makasih kak."


"Iya sama-sama."


Setelah meminta air minum itu, ia kembali ke kontrakan Kian. Melihat Kian hanya menatap makanan itu tanpa menyentuhnya sedikit pun.


"Lo gak suka ya?" Tanyanya yang seperti tersemat nada kecewa.


Kian langsung menggeleng cepat. Namun masih terlihat di wajahnya seperti ada yang mengganggu dirinya. Hingga Devan yang tak tahan melihatnya menjadi berucap, "Kalo ada yang mau lo tanyain, tanya aja. Gue gak bisa baca pikiran lo. Jadi lebih baik lo ngomong."


Kian melihatnya, bahkan menatap Devan yang sedang memasang wajah datarnya.


"Makasih karena lo udah bantuin gue malem ini Van. Tapi..... gue bingung kenapa lo tiba-tiba ada di sana tadi?" Tanyanya dengan ragu.


"Kan gue udah bilang, gue mau kembaliin buku lo. Karena lo gak ada, ya gue balik lagi. Eh tau nya ketemu lo dijalan."


"Terus kenapa lo bisa lewat situ? Harusnya lo kalo pulang bukan lewat situ deh."


"Gue ada urusan tadinya."


"Oh, terus kenapa pas gue tanya kemana, lo langsung jawab yang pasti buka ke rumah gue, kok lo tau?"


"Orang bodoh aja tau, kalo lo yang sedang sandang tas itu pasti lagi diusir dari rumah kan?"


Kian mengangguk. "Lo udah tanya semuanya. Sekarang giliran gue. Kenapa bisa lo sampai diusir? Dan kenapa dengan baju lo?" Tanya Devan sebab melihat dandanan Kian yang tak biasa, namun malah membuat Kian mengeluarkan air mata.


Devan menjadi gelagapan dibuatnya, "Eehhh... gak usah nangis juga. Kalo lo emang gak mau cerita ya udah diem aja. Gue gak maksa." Bujuknya agar Kian tak lagi menangis.


"Ya udah sekarang, mending lo makan dulu. Nanti lo bisa kena maag kalo gak makan." Tapi lagi lagi Kian masih diam menatap makanan itu.


"Kenapa lagi sih? Gue udah gak bakal nanya lo lagi. Atau gue pulang aja biar lo lebih tenang." Devan yang frustasi melihat tingkah Kian, hendak bangkit dari duduknya, namun langsung di tahan sendiri oleh Kian.


"Maaf Van."


"To??" Devan mengerinyitkan dahi.


"Karena gue udah banyak nyusahin lo. Gue tau sekarang hutang gue udah banyak banget ke elo. Tapi gue janji bakal bayar semuanya." Yakin Kian.


"Hutang?" Pengulangan kata oleh Devan membuktikan kalau ia bingung dengan kalimat itu.


"Iya. Gue juga pernah hutang sama lo sebelumnya, dan sampai sekarang lo belum nagih itu. Waktu lo nolongin gue di UKS. Lo bilang itu bakal jadi hutang gue. Dan sekarang lo lagi-lagi nolongin gue, gak cuma ngasih gue makanan doang tapi semuanya. Jadi sekarang hutang gue udah banyak banget sama lo."


Devan yang menyimak penuturan Kian hanya mengangguk dan mengiyakan. Walaupun sebenarnya ia tak menggubris hal itu. Hanya saja ia mau Kian cepat-cepat memakan makanannya.


"Kan udah gue iya-in. Sekarang cepet makan, keburu malem gak baik buat kesehatan makan larut malem."


"Tapi Van...?"


"Apalagi?" Devan yang frustasi naik level.


Kian seperti ragu lagi untuk mengatakannya, namun di lain sisi ada dorongan dalam dirinya yang menuntut untuk menanyakan hal tersebut.


"Tapi lo gak bakal minta harga diri gue kan untuk gantinya?" Tanya nya dalam satu tarikan nafas, dengan tangan yang menggenggam ujung roknya.


"Uhhuk..." Devan terbatuk, ia sedikit terkejut dengan pertanyaan Kian yang begitu aneh baginya. Kini wajahnya memandang wajah Kian dengan tatapan aneh, bingung, dan kesal juga ada.


"Otak lo terbuat dari apa sih? Sampe punya pemikiran kayak gitu? Gue udah hidup selama 18 tahun. Dan gue bukan mafia, pscyo atau orang gila yang bakal minta harga diri lo buat ganti rugi semuanya. Lagian kalo lo mau ganti, ganti aja. Kalo gak pun gak masalah. Lo lupa kita ini partner. Lo punya tugas buat bantu gue bisa berbaikan sama masa lalu. Gak mungkin gue biarin partner gue luntang-lantung gak jelas di jalanan kayak orang gila."


Kian diam sejenak, menghembuskan nafas lega. Setidaknya Devan bukan orang seperti Jerry atau ayahnya. Walaupun di satu sisi ia harus membantu Devan dalam hal mengontrol emosinya.


"Tapi tenang aja kok Van. Gue bakal tetap bayar semunya."


"Terserah. Sekarang gue mau lo makan. Dan habisan tuh makanan!" Tegasnya.


Kian segera menghabiskan makanan itu sampai tak bersisa. Hingga selesai, Devan pamit untuk pulang. Tak lupa juga ia berpamitan dengan Nari, tetangga Kian yang pintunya masih terbuka. Membuat si mpu keluar dan mengiyakannya.


"Kak, Devan titip teman Devan ya." Ujarnya berdiri di pembatas antar pintu itu.


"Iya tenang aja."


"Makasih ya kak. Gue pulang dulu."


Setelah punggung itu tak terlihat lagi, kini Kian berhadapan dengan Nari. Ia berusaha bersikap ramah walaupun ia tak tau apakah perempuan ini akan ramah padanya atau tidak.


"Emm.. Kak. Makasih buat air minumnya. Gelasnya besok ya Kian kembaliin, biar Kian cuci dulu."


"Hahaha santai aja kali Ki. Gak lo balikin juga gak apa-apa. Btw lo pacarnya Devan ya?" Tanya dengan senyum cerah.


"Eh, bukan kok kak. Kita cuma temen satu kelas aja."


"Oh kirain. Soalnya jarang aja liat dia akrab sama cewek. Lo liat tuh empat pintu kontrakan, isinya betina semua tapi gak ada yang bisa deketin Devan. Jadi keliatan aneh aja kalo dia bisa deket sama lo." Jedanya, "Ya udah kalo gitu lo masuk gih, udara di sini kalo udah malem bakalan dua kali lipat dinginnya. Gue juga mau masuk, masih ada tugas skripsi yang nunggu gue. Oh ya, kalo lo butuh bantuan, tinggal pencet bel ini aja. Gue bakal langsung buka kok."


"Iya kak maksih ya."


.


.


.


.

__ADS_1


.


tbc


__ADS_2