Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)

Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)
#37


__ADS_3

"Gimana? udah puas?" tanyanya sambil mengelus rambut putrinya itu dengan lembut.


"Hehe...Udah dong Pa. Kenyang banget malah sarah. Makasih yah Pa." Sarah yang tersenyum manis pada papanya itu.


"Iyah sayang."


"Kalo kayak tadi tuh, sarah keinget dulu. Waktu sarah sama papa makan di restoran China juga." sedetik kemudian senyum itu hilang, ia terlihat begitu murung dan menunduk. Wajah yang tadinya begitu bahagia seketika berubah sedih.


Papanya yang sadar dengan sarah yang seperti itu membuatnya sedikit bingung dan mencoba menghiburnya.


"Lho, anak papa kenapa? Kok cemberut. Ada masalah? Atau mau apa? cerita sama papa. Papa gak mau liat sarah gini." ucapnya dengan menggenggam tangan sarah.


"Pa, sarah mau nanya." Dengan mata yang sendu.


"Tanya aja sayang. Kenapa harus gitu sih?"


"Tapi papa jangan marah ya." ucapnya dengan lirih.


"Lho kenapa papa harus marah? Ayo tanya. Papa bakal siap buat dengerin putri papa yang cantik ini."


"Emm... itu...... Mam....."


Tring.....tring.....


Belum sempat sarah menyudahi pertanyaannya, handphone papa nya sudah lebih dulu berbunyi. Hingga membuat ia terdiam dan mengurungkan niatnya untuk bertanya.


Papanya yang tau hendak mengambil handphone tersebut di kantong sepannya.


"Bentar ya sayang. Papa mau jawab telpon dulu." ucapnya yang masih sibuk dan berusaha mengambil handphone itu dengan mata yang masih terfokus pada jalan.


Pukk....


Handphone itu malah jatuh ke lantai.


"Ck..." kesalnya.


Ia berusaha meraba raba lantai untuk mencari handphone itu dengan tetap memandang ke arah jalanan. Sarah yang melihat, ikut membantu mencari agar papanya bisa tetap fokus menyetir. Namun ternyata sangat sulit untuk di jangkau. Karena sulit untuk di raih, Papanya pun menunduk sebentar untuk melihat keberadaan handphone itu.

__ADS_1


Setelah ketemu ia hendak mengambilnya dengan tetap masih menunduk. Meminta bantuan sarah pun tak mungkin sebab handphone itu jatuh di bawah kakinya. Kan sangat sulit menjangkau handphone itu bagi sarah.


"Papa....awas di depan!!"


ckiittt....


Duakh...


Dengan segera papa nya keluar dari mobil untuk melihat orang yang tak sengaja ia tabrak itu. Tanpa mengenakan payung ia buru buru keluar takut jika orang tersebut terluka parah.


Yah.... pada saat ia hendak mengambil handphone yang terjatuh di pedal gas mobil itu, ia menunduk dan memegang kemudi mobil dengan tak seimbang. Hingga menyebabkan mobil itu melaju tak beraturan.


Karena melaju tanpa melihat jalan, mobil itu menabrak seseorang yang sedang berlari di jalan itu.


Untung saja mobil melaju tidak cepat, sehingga orang tersebut tak sampai tertabrak total. Hal ini karena sebelumnya sarah sudah berteriak hingga membuat dirinya mengerem tiba tiba.


"Ma...maaf kan saya. Apa anda terluka parah? Saya akan bertanggung jawab dan membawa anda ke rumah sakit sekarang." Ucap papa sarah. Yang membungkuk di hadapan orang tersebut sambil melihat orang itu apakah ada luka atau tidak.


Orang tersebut berusaha bangkit, dan tak terluka parah. Yang kemudian hendak di bantu oleh papa sarah, namun ia menolak dan menghempaskan tangan yang sudah merangkul tangannya itu. Sedikit rasa kesal tentu dirasakan oleh orang itu.


"Akh...." Rintihnya.


Tatapan mereka bertemu, membuat mereka terkejut dengan satu sama lain. Rasa tak percaya begitu mereka rasakan. Bahkan papa sarah hendak menangis melihatnya.


"Ka...kavin." tatapan hangat itu berucap. Namun Devan hanya mengerinyitkan dahi dan menatap tajam orang yang ada di hadapannya saat ini. Perasaan yang tadi hanya sedikit kesal kini berubah sangat benci dan marah.


"Kavinnn....." Panggilnya lagi yang hendak memeluk Devan dan sudah berjalan ke arah Devan. Namun langsung di dorong oleh Devan.


"Kesalahan apa lagi yang ku perbuat sebelumnya. Hingga membuat aku harus bertemu dengan manusia seperti mu sekarang!!! Menjauhlah!!!" bentaknya.


"Kavin, dengarkan papa. Semua ini memang salah papa. Papa minta maaf kavin. Tapi Papa tetap menyayangi kamu dan mama kamu."


"Hahaha....Omong kosong apalagi ini. Jangan berlagak baik di depanku. Lebih baik kau enyah!!!"


"Pa, gimana sama orang....."


Sarah yang tiba tiba keluar dari mobil sambil memegang payung begitu terkejut dengan apa yang ia lihat.

__ADS_1


Devan pun menoleh ke arah sarah yang baru keluar.


"Hah!!! Kesalahan? Maaf? Baru saja beberapa detik lalu kau bilang, namun kenyataan muncul. Sungguh menyedihkan hidupmu ini!!!!"


"Devan, lo yang di tabrak. Ada yang luka? Ayo kita ke rumah sakit sekarang." ajaknya yang tak menggubris apa yang sedang mereka katakan. Ia pun tak mengerti bahkan tak tau apa apa dengan ucapan mereka dan tak mau ambil pusing. Yang ia penting kan sekarang keadaan Devan.


Sarah mendekat ke arah Devan namun dengan cepat Devan menjauh.


"Yang lo bawa ke rumah sakit harusnya dia! (Tunjuk Devan pada papa sarah) Manusia yang tak punya otak sama sekali. Lebih baik kau perbaiki otaknya!" ucap Devan pada sarah yang masih menatap papa sarah dengan tajam.


"Kavin maafkan papa nak. Papa bahkan memang benar benar telah membuat kesalahan yang besar. Maaf nak" ucapnya lirih, membuat Sarah yang mendengarnya mengerinyitkan dahi, bingung bahkan tak tau maksud dari kalimat itu.


"Kau memang membuat kesalahan besar pak tua!!!"


Drttt....Drttt...


Handphone yang ada di saku celana bergetar. Awalnya Devan tak menggubris itu, namun getaran itu terus berlanjut dengan artian orang yang menelpon tak hanya sekali.


Devan pun mengambil dan melihat nama di Layar handphonenya, yang bertuliskan 'Kutu Buku'.


Dengan segera ia langsung menjawab. Ia tau jika orang itu sudah menelpon maka pasti ada yang tidak beres.


Setelah menjawab telpon itu wajah Devan yang tadinya marah malah berubah khawatir dan hendak menangis. Tanpa memperdulikan sarah dan papanya ia berlari lagi di bawah hujan deras itu. Walaupun kakinya sedikit sakit, ia tetap memaksakan untuk berlari.


"Kav...kavin....kamu mau kemana?"


"Kavinnnnn!!" teriaknya.


Ia terus lari dan berlari tanpa memperdulikan apapun lagi. Bahkan uang yang ia bawa tadi sempat sedikit berceceran keluar karena tabrakan itu. Namun ia tak peduli, matanya pun sudah merah menahan sesuatu yang hendak keluar dari sana.


Hingga ia sampai di deretan mobil yang sedang terparkir dengan antrian yang begitu panjang, ia ingin menaiki mobil itu namun setelah ia lihat jalanan di depannya malah macet. Ntah apa yang terjadi hingga menyebabkan macet.


Devan yang berniat ingin menaiki mobil itu pun malah tak jadi. Sebab jika menunggu mobil itu sampai berjalan maka tentu ia akan telat sampai rumah sakit. Sebab jarak dari tempatnya sekarang ke rumah sakit sangatlah jauh. Dan ia pun memilih untuk menerobos kemacetan itu dengan berlari. Hingga ia bertemu dengan polisi dan yang menjadi penyebab kemacetan itu adalah sebuah kecelakaan. Beberapa Polisi sedang menertibkan jalan itu dan mengevaluasi korban.


Melihat motor polisi yang terparkir Devan pun meminjam motor itu. Namun tak diindahkan oleh polisi itu, bahkan dengan Devan yang sudah memberikan alasan yang sebenarnya. Geram Devan melihatnya, hingga ia memakai paksa motor itu. Tentu saja para polisi itu tidak diam. Bahkan beberapa dari mereka mengejar Devan.


Dengan cekatan Devan mengemudikan motor itu bahkan di jalanan yang licin. Devan yang mengemudikan motor itu dengan kecepatan yang tinggi membuat para polisi sedikit kesulitan mengejarnya namun tak membuat mereka lengah. Aksi kejar kejaran antara Devan dan polisi pun terjadi.

__ADS_1


Tak lama kemudian ia sampai di rumah sakit. Ia berlari seperti orang yang sedang dikejar zombie bahkan sepanjang jalan orang melihatnya begitu aneh. Wajah yang begitu muram dengan mata merah, baju yang basah dan berantakan ditambah lagi dengan dua kantong Amplop coklat yang saat ini sedang ia gendong.


Motor? Motor itu ia parkir sembarangan di depan pintu rumah sakit. Bahkan kunci motor pun ia tinggalkan di sana.


__ADS_2