Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)

Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)
#90


__ADS_3

Flash back_ beberapa jam lalu


"Om, tante, Kian dengan teramat sangat minta maaf sebesar besarnya atas keputusan ini. Tapi Kian gak bisa nerima perjodohan ini." Ucap Kian mantap, yang tentu saja membuat ke empat orang itu membulatkan mata tak percaya. Tak bisa bicara dan hanya menatap Kian dengan tatapan marah.


"Kian!!!!" Teriak seorang laki laki yang kini bangkit dari kursinya, kemudian menghampiri Kian dan


Plak


Satu tamparan mendarat di pipi Kian, di muka umum itu. Semua orang yang ada di restoran kini menatap Kian dan ayahnya, menatap aneh dan mulai membicarakan mereka.


Sedangkan ketiga orang yang ada di meja itu langsung bangkit, seperti tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.


"Bram, Apa yang kau lakukan pada Kian. Sudahlah, hentikan itu. Semua orang menatap kalian." Ucap Tasya, "Aku yakin Kian tidak benar-benar serius mengatakan itu." Lanjutnya lagi.


Dengan menahan tangis, Kian tetap menatap semua orang seolah sekarang dia baik-baik saja dan memang itu adalah keputusannya. Tak ada kata bercanda atau main-main dalam kalimatnya. Jika pun ayahnya marah saat ini sudah pasti karena dirinya yang menolak, maka Kian bisa menerima itu. Ayahnya memang tak sepenuhnya salah dalam hal ini.


"Tante, Kian serius. Kian minta maaf soal ini. Tapi Kian bener-bener gak bisa." Ucapnya dengan mata yang susah merah. Malu, sakit, dan marah menjadi satu. Namun Kian berusaha untuk menahannya.


"Aku yakin Kian memiliki alasan dengan hal itu. Iya kan nak?" Ucap Tasya lagi meyakinkan pada ketiga orang yang menatap serius Kian.


"Apa-apaan ini Bram! Ada apa dengan anakmu? Apa sesuatu terjadi?" Tanya Rio membuka suara.


"Aku minta maaf Roy. Tapi akan aku selesaikan masalah ini segera."


"Baiklah, pulanglah dulu. Selesaikan masalahmu dengan anakmu itu." Ucap Roy dengan sudut mata yang terlihat aneh.


Kian diseret oleh ayahnya pergi meninggalkan restoran itu, tanpa memperdulikan siapa pun yang melihat mereka. Kian yang merintih kesakitan karena genggaman itu pun tak di perdulikan oleh Bram. Ia tetap menyeret Kian sampai mobil dan langsung tancap gas pulang, tak lupa dengan Intan yang juga ikut.


Flash back_off


Kini Kian berjalan dengan menyandang tas di punggungnya, masih memakai gaun dongker tadi. Menyusuri jalan raya, tak tau arah dan tujuan.


Sejenak ia kembali teringat dengan ucapan ayahnya tadi, "Ya, tapi jika kamu mau menikah maka urusan malam ini selesai. Pikirkan lagi itu Kian, kehidupan diluar sana lebih mengerikan di saat kamu tidak punya siapa pun!"


Kian tau kehidupan ini tidaklah mudah, hanya saja jalan untuk bahagia bukan satu-satunya menjadi orang kaya bukan? Lagi pula ia tak bisa menikah dengan Jerry yang memiliki sikap segila itu.


Ntah kenapa, saat di restoran ataupun di rumah ia tak bisa menjelaskan kenapa ia menolak Jerry dengan pasti. Lidahnya terasa kelu, saat hendak mengatakan hal itu. Hal yang menjijikan jika harus diceritakan, apalagi di depan para orang tua. Kian rasa itu hal tidak benar, lagi pula jika hanya Kian yang bicara apa peduli mereka? Apa mereka akan percaya? Sedangkan Jerry sudah membuat reflika yang begitu bagus tanpa goresan sedikit pun. Jadi jika Kian hanya bicara mengenai apa yang diketahui dirinya sendiri tentang Jerry tanpa ada bukti, mungkin mereka akan menanggap itu hanya bualan atau bahkan pencemaran nama baik.


Kian tak mau memperpanjang masalah itu, namun ayahnya malah berkata yang tida-tidak, bahkan sampai membawa Devan dalam masalah ini. Membuatnya begitu kesal, apalagi mendengar cacian yang tak ada habisnya pada Devan. Sampai sekarang Kian sudah mengumpulkan empat orang laki-laki yang tak menyukai Devan. Dan itu bukan lah orang biasa.


Apa mereka juga tau tentang masalah Devan? Seketika kalimat anak haram terlintas di otaknya. Apakah benar begitu? Tapi mamanya tak pernah menceritakan itu pada Kian. Pikiran-pikiran itu malah memenuhi isi kepalanya, membuatnya tersadar dan langsung menggeleng cepat. Bukannya memikirkan keadaannya sekarang, ia malah terpikir tentang Devan yang sepertinya orang lain lebih banyak tau dari dirinya. Ia langsung menepis kasar permasalahan yang tak ada hubungannya sama sekali dengan dirinya itu.


Setelah bergelut dengan dirinya, kini Kian kembali fokus pada keadaannya. Hari sudah semakin larut, Bahkan ia tak tau harus kemana. Ia ingin mencari sebuah kontrakan, namun hal pertama yang tak bisa ia lakukan adalah mencari dengan cepat dimana kontrakan itu. Dengan berjalan kaki akan memakan waktu yang lama. Lagi pula jalan raya ini terlihat begitu sepi malam ini hingga membuat Kian tak bisa menaiki angkutan umum.


"Gimana gue bisa naik angkutan umum, kalo gue aja gak punya uang."


Kedua, ia tak tau harus dimana mencari kontrakan itu, disekitaran kompleknya ia tak pernah melihat ada kontrakan yang menyempil. Adapun kontrakan yang ia temukan belum tentu juga ada yang kosong yang bisa ia tempati. Ketiga, lagi dan lagi kenyataan yang pahit, ia tak memiliki uang. Bagaimana ia bisa menjamin untuk bisa mengontrak tanpa uang. Apakah masih ada yang percaya dengan seorang anak yang masih duduk di bangku sekolah ini. Sudah pasti mereka akan tau jika Kian belum memiliki perkerjaan. Bagaimana mau membayar kontrakan kalau begitu.


"Hiks... hiks... hiks.. Maafin Kian ayah bunda....."


Kian lagi-lagi menangis, nyatanya memang benar apa yang dikatakan oleh ayahnya. Baru saja ia keluar dari rumah beberapa jam yang lalu, namun sudah terasa begitu berat. Bagaimana ia bisa menjalani hidup selama lima bulan ke depan dan harus mengumpulkan uang untuk mengembalikan uang ayahnya? Jika malam ini saja sudah sangat kesusahan. Mungkin inilah point pentingnya, karena ujung akhir dari semua ini adalah dirinya akan tetap menikah dengan Jerry.

__ADS_1


Jalan terakhir ia mengeluarkan ponsel dalam tasnya. Melihat nomor yang ada di kontaknya untuk dimintai bantuan, tapi apakah ia harus menelepon sahabatnya saat ini? Apakah ia harus menyusahkannya sekarang? Ini sudah terlalu malam untuk menggangu orang lain. Lagi pula ia keluar dari rumah bukan ingin menyusahkan orang lain, melainkan harus membuktikan bahwa ia memang bisa hidup tanpa harus menikahi pria kaya dalam hidupnya.


Hingga niatan itu terkurungkan. Ia kembali menyimpan ponsel itu ke dalam tasnya, dan lanjut berjalan. Ia berjalan lurus dengan otak yang masih berkecamuk. Ada rasa takut, dan rasa sesal juga. Namun semua itu sia-sia untuk sekarang. Kembali hatinya bertanya apakah keputusannya saat ini salah? Apakah memilih jalan untuk tidak menikahi pria itu adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya? Andaikan ayahnya bisa memberi pilihan lain tanpa harus menikah selain jalan yang ia tempuh, mungkin ia akan menempuh jalan itu sekarang ini.


Kembali air mata itu mengucur mengingat semua perkataan dan perlakuan ayahnya.


"Ternyata begini rasanya di usir secara tidak langsung.. hiks... hiks..."


Ia benar-benar bingung sekarang harus bagaimana. Ia kembali membenarkan apa yang dikatakan ayahnya. "Apakah mungkin gue bakal jadi orang yang terlunta-lunta di jalan tanpa sandaran?"


Drrtttt... Drrttt


Ponselnya bergetar, dengan cepat Kian langsung menyambar ponsel itu. Tertera nama seseorang di sana. Yang bahkan beberapa menit lalu dibayangkan oleh Kian. Tapi sedikit aneh bagi Kian, kenapa dia menelponnya saat ini. Apakah ada masalah? Atau ada sesuatu?? Atau jangan-jangan....


Pikiran Kian sudah melayang kemana-mana. Membayangkan sesuatu yang buruk terjadi. Ditambah lagi orang tuanya tak menyukai Devan.


Tut, telpon tersambung.


"Halo assalamulaikum."


"Waalaikumsalam, lo dimana?"


Pertanyaan dari sebrang itu sukses membuat Kian terdiam beberapa saat.


"Woy, lo masih disana kan?"


"Eh... iya-iya. Emang kenapa Van? Tumben banget lo nanyain gue?" Tanya Kian dnegan suara yang masih parau, sangat terlihat jelas kalau dia habis menangis.


"Buku lo ketinggalan, gue mau balikin. Dimana lo? Sekarang gue udah di depan rumah lo. Cepet keluar."


"Lo ngapain dirumah gue, pulang sekarang. Gue lagi gak ada di rumah. Pulang sana, buku masih bisa dikembalikan besok. Ngapain harus di anter kerumah sih."


"Lo dimana? Kenapa suara lo?"


"Gue gak apa-apa. Pokoknya lo pulang sekarang! soal bukunya urusan besok."


Tut


Telpon terputus, Kian berjongkok menyembunyikan wajahnya yang kini sudah sangat basah. Menenggelamkan semua masalah yang tak bisa ia ceritakan ke orang lain dalam pelukan lututnya. Menghancurkan tiap keping sesalnya dalam diri.


Tes


Tes


Sesuatu keluar dari hidungnya. Cairan kental nan merah itu meluncur dengan bebasnya dari hidung. Membuat Kian tersadar dan langsung mengambil tisu yang ada dalam tasnya.


Jika hal ini sudah terjadi, ntah kenapa ketakutan dalam dirinya menjadi bertambah. Tangannya kini mulai bergetar, dan kepala yang sudah terasa amat sakit.


Ia merutuki kebodohannya, harusnya ia tak boleh banyak memikirkan suatu hal sampai stres seperti ini. Sekarang pikirannya hanya terfokus, apakah ia akan pingsan disini sampai besok pagi, dan menunggu orang lain bisa menyelamatkannya.


Tidak!! Namun untuk berjalan pun rasanya sangat sulit dan susah. Ia mencoba duduk di pembatas jalan yang ada di trotoar. Duduk mengistirahatkan dirinya yang lelah. Mungkin karena sudah terlalu jauh berjalan.

__ADS_1


Tisu bersih itu kini sudah bercak merah semua, tak lupa ia menyumpali hidung itu agar cairan kental tak lagi dapat keluar dan lebih banyak menguras energinya saat ini.


Ia kembali melihat botol obatnya, bimbang antara harus minum atau tidak. Padahal ia baru saja minum ketika hendak pergi ke acara itu. Biasanya ia tak pernah minum obat itu dalam satu malam sampai dua kali. Kembali ia tatap botol itu. Namun...


Srekhh.... srekhh


Ntah apa itu, Kian hanya menoleh ke kanan dan ke kiri mencari sumber suara. Tapi ia tak menemukan apapun, membuatnya kini berjaga. Pikirannya melayang menerka apa itu. Rasa takut menyeruak menjalar ke seluruh inci tubuhnya.


Ia bangkit dari duduk menjauh dari semak-semak yang ada di belakangnya. Membayangkan ntah ada apa di belakang sana. Sepersekian detik bunyi itu kembali terdengar, dan benar saja. Suara itu bersumber dari semak-semak yang tak jauh dari dirinya.


Srekhh.... srekhh


Lagi dan lagi semak-semak itu saling bergesek satu sama lain membuat bunyi itu kembali berbunyi. Membuat Kian termundur berapa langkah. Kini ketakutannya sudah dua kali lipat, keringatnya sudah mengucur di sepanjang dahi.


Mungkin ia takut dengan manusia seperti pscyo atau pencuri, namun itu akan lebih parah jika bagaimana kalau dibalik semak-semak itu hewan liar? Bisa saja ntah itu anjing atau serigala yang bisa saja menerkamnya sekarang juga. Ditambah lagi jalanan yang begitu sepi dan gelap, bahkan Kian tak tau harus meminta bantuan pada siapa jika itu benar-benar terjadi padanya.


Jika pun ia berlari apakah ia akan lolos saat ini? Rata rata kecepatan lari anjing saja bisa mencapai 40 km/jam sedangkan serigala bisa mencapai 50-60 km/jam. Dan dirinya? Dia adalah manusia terlemah yang pernah ia temui. Bahkan untuk lari pun, terasa begitu berat. Ia yang mudah lelah dan dengan keadaan seperti, sepertinya tidak mudah untuk melakukan hal itu.


Srekhh.... srekhh


Suara itu semakin mendekat ke arahnya, membuatnya memeluk erat tas yang di dekapnya saat ini. Terus berjalan mundur tanpa memperhatikan sekitar. Menelan saliva dengan susah payah, keringat sudah membasahi tisu yang ada di genggamannya. Ingin berteriak? Siapa yang akan mendengar di tempat sesepi ini. Hanya bisa pasrah, karena saat ini ia sudah begitu lemas dan tak kuat lagi untuk melakukan apapun.


Dukh


Kian tersadar, membuka matanya dan berhenti ditempatnya sekarang. Ia merasakan ada seseorang dibelakangnya. Ia yang berjalan mundur menjauhi semak-semak yang ada, kini malah di belakangnya tak sengaja menabrak tubuh seseorang yang begitu kokoh bahkan tak bergerak sedikit pun karna ditabraknya. Ia sedikit lega karena ia bisa menemukan seseorang, namun di sisi lain ia juga takut.


Lagi-lagi Kian menelan saliva dengan susah payah. Ia merasakan jika kepalanya saat ini berada di depan dada bidang seseorang yang ntah siapa itu. Apakah mungkin dia adalah hal pertama yang Kian bayangkan? Seperti pencuri atau seorang yang.... Pikiran aneh itu kembali menyeruak dalam pikirannya. Membuatnya terpejam lebih lama tanpa ingin berbalik melihat orang itu. Bisa ia katakan sekarang, ia terlepas dari kandang singa namun malah masuk ke kandang buaya.


"Kian?" Panggilnya.


Suara yang Kian kenal, ya sangat ia kenal. Tapi bagaimana bisa? Apakah ia salah orang atau... Kian mencoba membalikkan tubuhnya, walaupun masih bergetar cukup hebat.


Ia mendongak dan ternyata.....


Zrukh


Kian langsung memeluk erat tubuh itu seperti meminta pertolongan tanpa berucap hanya dengan bahasa tubuh. Orang yang dipeluk pun merasakan sesuatu yang aneh. Tubuh Kian yang gemetar membuatnya sedikit bingung.


Tanpa disadarinya, kini baju kaos yang dikenakannya sudah basah. Ulah dari seseorang yang berada di depannya yang tanpa permisi menangis tanpa suara. Menyembunyikan wajah itu di dada bidang miliknya, dengan sesekali tubuh itu terangkat, sebab sudah tersedu-sedu.


Hanya itu yang ia tau. Pelukan itu semakin kuat namun ia tak berani untuk membalas pelukan itu. Tangannya hanya menggantung, dengan tubuh yang sudah di dekap seseorang. Membuatnya bisa merasakan dinginnya tubuh itu sekarang.


Ia ingin sekali balas mendekap tubuh itu, namun ia takut, seperti memanfaatkan suatu kesempatan. Dan jujur untuk pertama kali ia merasakan pelukan lagi dari seorang wanita setelah sekian lama. Setelah wanita yang ia sayangi meninggalkannya untuk selamanya.


.


.


.


.

__ADS_1


.


tbc


__ADS_2