
Keduanya telah selesai, dan pamit untuk pergi. Tak lupa kian menyalami Zanna begitu pun dengan Devan. Mereka keluar dari ruangan itu dan berjalan sepanjang koridor seperti orang yang tak kenal. Namun sesekali saling melirik satu sama lain. Orang yang melihatnya hanya bingung. Bagimana tidak keduanya jalan beriringan namun saling membuang pandang. Ditambah lagi hari yang sudah malam kian yang masih memakai baju sekolah, terlihat begitu berantakan sedangkan Devan seperti gayangnya. Jaket kulit hitam, kaos hitam, sepanjang hitam dan sepatu converse hitam putih.
Sesampai di depan rumah sakit, kian tak tau Devan parkir dimana. Karena merasa tak diajak bicara kian pun memilih untuk diam. Dan saat berada di depan pintu kian pun asal belok. Ia belok kanan karena posisinya juga berada di sebelah kanan, sedangkan Devan kebalikannya. Karna mereka saling membuang pandang maka satu sama lain pun tak tau.
Kian pikir ia mengambil jalan yang benar, sedangkan Devan pikir kian ada di belakang mengikutinya. Namun setelah beberapa langkah Devan tak lagi mendengar suara langkah kian. Karna penasaran ia pun menoleh, dan benar saja Kian tak ada di belakangnya. Namun dari kejauhan ia melihat Kian berjalan lurus sesuai arahnya. Ia kembali dan mengejar kian.
Srettt.....
"Eehhh......" ucap Kian yang kagek, ia menoleh kebelakang dan ternyata Devan menarik tas punggungnya hingga ia tertarik.
"Woyyy lepasin woy. Susah jalan mundur gini." berontaknya namun Devan tak melepaskankannya. Sepanjang jalan di depan rumah sakit Devan menyeret kian seperti itu. Hingga membuat mereka yang ada di depan rumah sakit terheran. Karna tak mau menjadi pusat perhatian dan salah sangka dari mereka kian hanya bisa tersenyum garing pada mereka yang melihat Kian.
Sesampai di parkiran motor barulah Devan melepaskannya. Devan menatap tajam kian dan kian pun sama.
"Gw heran, kenapa bisa ada manusia kayak lo. Kayak anak ayam kehilangan induknya. Kenapa lo kesana hn? mau pulang sendiri?"
"Ya kan gw gak tau parkiran motor lo dimana."
"Ada mulut tu fungsinya buat ngomong, tanya kalo gak tau!!"
"Ya lo juga bisa kali langsung bilang dimana. Gak usah seret seret gw kayak tadi. Malu bego" kesal kian
"Salah lo sendiri😒. Ayo cepet naik!"
Kian pun menaiki motor Devan. Dengan risih ia menarik rok nya agar lebih turun ke bawah. Tak enak pahanya yang terlihat sedikit. Devan yang paham pun lagi lagi harus mengorbankan jaketnya.
Ia langsung memberi jaket itu pada Kian, dan Kian pun tanpa banyak tanya langsungletakkan jaket itu di roknya.
__ADS_1
"Langsung pulang aja." cuek kian.
"Heh!! kepedean banget lo. Emang mau gw anter kemana lo hah!" sindir Devan
Tak lama kemudian...
grrhrgrrrrr......gergghhhhh....
'Ahh... ni perut emang gak bisa diajak kompromi yak! kesel gw. Huh malu banget gw, pasti diledekin nih manusia. Tercoreng sudah nama baik kian gara gara nih perut.'
Sedangkan Devan tak memberi reaksi apapun terhadap kian. Jujur saja Devan mendengar suara perut kian itu, dia hanya menahan tawa agar kian tak melihatnya tertawa.
Devan mulai melajukan motornya dengan kecepatan sedang, takut kian yang ada di belakang kedinginan. Sepanjang perjalanan mereka berdua hanya diam, dan Kian yang selalu berdoa agar perutnya tak berbunyi lagi.
Mereka pun sampai di salah satu kedai makan. Kian hanya bingung sekaligus malu, pasti karna perutnya tadi pikirnya. Devan memarkirkan motornya dan menyuruh kian turun.
"Lo kalo gak disuruh turun gak bakal turun ya dari motor gw. Gw rasa jok motor gw juga gak punya lem kan sampai lo udah nempel gitu." cibir Devan pedas pada Kian.
"Pinter sekolah doang, tapi oon kalo di luar sekolah. Lo udah tau di kedai makan, ya pasti mau makan lah. Dan satu lagi gw bukan ojek lo. Jadi terserah gw mau kemana." ucapnya yang langsung berjalan meninggalkan kian untuk masuk ke dalam.
"Lo gak mau masuk?" tanya yang sudah masuk dan duduk. Dengan wajah malas kian pun masuk dan duduk di depannya.
Devan memanggil si ibu pelayan dan memesan makanan mereka. Kian nampak diam tak berkutik sama sekali. Devan memperhatikannya dan mulai serius.
"Mama ada cerita apa sama lo? dari tadi siang sampe sekarang sikap lo agak beda? mama bilang apa aja?" tanya nya mengintrogasi.
Kian menatap balik Devan dengan tatapan yang sama.
__ADS_1
"Gak ada apa apa. Emang kenapa?"
"Mama pasti cerita banyak kan ke elo."
"Gak. Cuma apa yang dia tau dia bilang ke gw."
"Apa yang lo tau tentang gw?"
"Cih, kepedean banget lo. Gw gak tertarik sama apa yang ada di diri lu, Devan. Jadi gak usah nanya yang aneh aneh." ucapnya cuek.
Devan yang ingin membalas omongan kian malah terhenti, karena makanan yang dipesan sudah tiba. Nasi putih, soto, ayam goreng beserta lalapan dan teh manis panas, dengan porsi double tertata di meja makan itu. Kian hanya menatap Devan bergantian dengan makanan yang ada di meja makan. Dengan lahap Devan memakan makanan itu. Merasa tak ada pergerakan dari Kian Devan pun menoleh kearahnya.
"Kenapa? Gak suka? Gw gak bisa ajak lo ke kafe. Mama pasti udah cerita banyak kan ke elo. Jadi kalo lo gak mau ya gpp." ucapnya cuek.
"Gw masih bingung sama lo. Lo kan yang mau makan napa lo pesen porsi double? Lo bilang gw...." Kian belum selesai bicara
"Lo tadi laper kan? Ya udah makan aja. Kalo lo mau ya makan, kalo gak pun gak usah, biar gw suruh bu Ati buat bungkus tu makanan"
"Eh jangan.... Gw mau kok. Tapi gw mau minta es batu ya. Gw gak bisa minum yang panas."
Devan memberhentikan makannya dan menatap Kian.
"Lo gak buta kan. Ini udah malem gak usah minum yang dingin, ntar lo bisa flu. Sepanas apasih tuh minuman sampe lo gak bisa minum?"
Sedari tadi Devan memang belum minum, jadi ia tak tau panas atau tidaknya teh itu. Ia pun mencobanya dan pluah.....
"Gila panas banget ni teh." kesalnya. sedangkan kian yang menatapnya hanya mengangkat alis sebelah.
__ADS_1
"Mamanya kalo minum tuh di rasain dulu gelasnya panas atau gak. ngeyel sih lo"
Devan sempat protes pada penjualnya kenapa teh hangatnya begitu panas. Ternyata yang meracik teh tersebut itu adalah nak bu Ati sendiri, karna diminta panas maka teh itu pun benar benar semuanya air panas. Kian yang mendengarnya hanya bisa mengulum bibirnya agar tak tertawa. Sedangkan Devan sudah memasang wajah yang benar benar sangat kesal, apalagi melihat ekspresi kian benar benar membuatnya tak suka.