Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)

Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)
#44


__ADS_3

"Argh... Kepala gw sakit banget lagi."


Krakk....


Pintu kamar terbuka.


"Kak Kavin, ayo bangun. Gio udah siap buat berangkat ke sekolah." Ajak Gio yang berada dalam kamar Devan. Gio memperhatikan Devan dari ujung kaki sampai kepala.


"Kak Kavin kenapa? Sakit ya?" tanya Gio dengan wajah polosnya.


Bagaimana tidak, keadaan Devan benar benar berantakan. Pakaian yang terbuka, rambut yang urakan, tempat tidur yang sangat berantakan, dan wajah yang sembab bahkan beberapa bekas pukulan.


Gio yang melihat Devan seperti itu, hendak mendekatinya namun di cegah oleh Devan.


"Kamu tunggu kakak di bawah aja ya dek. Kakak mau mandi dulu." ucapnya pada Gio yang kemudian diangguki bocah itu.


Selesai membersihkan diri Devan langsung menuju dapur hendak memasak sarapan untuk Gio. Sedangakn kamarnya ia biarkan seperti itu karna hari yang sudah siang takut Gio terlambat berangkat sekolah.


Namun sampai di dapur ia malah terkejut melihat meja yang penuh dengan makanan.


"Loh Gi. Kok banyak makanan, siapa yang masak?" tanya nya bingung.


"Mungkin kak Kian kali kak." Ucap Gio yang sedang memakan makanannya di piring.


"Ayo kakak duduk, sarapan sama Gio."


Devan pun menurut dan ikut sarapan bersama Gio.


Setelah selesai Devan membungkus bekal Gio untuk ke sekolah. Namun lagi lagi semuanya sudah di sediakan.

__ADS_1


"Kak, semalem kak Kavin kemana? Kok lama banget pulangnya?" tanya Gio, yang saat ini ia sedang berada di samping Devan yang berdiri memasukkan bekal tersebut ke tasnya.


Mendengar pernyataan bocah itu, Devan melirik kebawah kemudian berjongkok di depannya.


Devan memegang kedua bahu Gio dengan lembut sambil berucap,


"Maafin kakak ya. Harusnya kakak gak tinggalin Gio semalem. Hari ini kakak janji gak bakal pulang malem lagi."


"Em... Untung aja semalam kak Kian jaga Gio sampai malam. Kalo gak Gio bakal sendiri lagi di rumah." ucapnya dengan nada lirih.


"Maafin kakak ya. Kakak gak bakal gitu lagi deh. Ya udah sekarang ayo kita berangkat. Nanti kamu telat."


Devan yang sambil menggendong Gio.


_________


Kian keluar toilet menuju ruang kelasnya. Saat ia sampai di sekolah ia belum melihat Devan namun saat kembali dari toilet Devan sudah duduk manis di bangkunya. Seperti biasa menatap jendela luar.


Kian pun duduk di bangkunya tanpa melihat ke arah Devan sedikit pun.


Tak lama kemudian seseorang datang ke kelas menghampiri meja Sarah. Kian melihat dari kejauhan, melihat keduanya yang terlihat sangat akrab. Ntah apa yang dibicarakannya. Febbry yang awalnya sibuk menulis menjadi terhenti karna melihat keduanya. Dan bergantian menatap Kian juga.


Bel istirahat berbunyi, kedua sohib itu hendak pergi ke kantin. Siapa lagi kalau bukan Kian dan Febbry. Sarah? Ia tak pernah lagi bersama mereka berdua. Febbry sering bertanya pada Kian ada apa dengan anak itu. Namun Kian hanya menggelengkan kepala. Bukan berarti ia tak tau. Hanya saja ia tak mau memberitahukan masalahnya, jika ia beritahu pasti akan sangat panjang ceritanya hingga privasi mereka berdua menjadi terbongkar. Kian tak mau nantinya malah tambah marah dan tak suka. Apalagi keduanya bersikap seolah memang tak punya hubungan apa apa walaupun sudah tau.


Sarah dan Devan yang sudah mengetahui hubungan masing masing itu, tak ada niat untuk berbaikan sedikit pun. Sarah yang awalnya menyukai Devan malah sekarang begitu tak suka walaupun tak sampai benci. Kalau Devan lain lagi, ia benar benar membenci Sarah. Apalagi setelah ia tau papanya meninggalkannya dan hidup dengan keluarga baru. Sungguh menyakitkan pikirnya.


"Ki, bentar lagi study tour. Lo beneran gak ikut?" tanya Febbry pada Kian saat tiba di kelas. Kian memberitahukan pada Febbry jika ia memang tak mau ikut.


"Iya. Emang kenapa?"

__ADS_1


"Yah gak asik ah. Lo gak pergi, Sarah juga ngejauh gak tau sebabnya apa. Terus gw harus sama siapa? Padahal kan study nya cuma satu hari, dan sisanya bakal tour jalan jalan aja. Masa lo lewatin sih Ki? Ini juga kesempatan cuma tiga tahun sekali. Abis ini kita bakal ujian terus lulus, bubar deh. Gak ada lagi waktu sama sama." Rengeknya.


Kian mencoba memberi pengertian pada Febbry mengenai alasan ia tak pergi. Ia beralasan bahwa orang tuanya mengajaknya pergi ke luar kota sebab ada keperluan dan hari itu bertepatan dengan study tour mereka. Walaupun itu bukan alasan yang sebenarnya. Febbry hanya pasrah meng-iya kannya. Ia tak bisa berkutik jika itu sudah menyangkut orang tua Kian. Bahkan ia berpendapat jika orang tua Kian sangatlah menakutkan. Benar benar posesif terhadap Kian. Kadang ia juga berfikir kalau ia menjadi Kian ia mungkin akan gila dengan aturan yang mereka berikan.


"Ki, gw ke Perpustakaan dulu ya." bangkit dari kursinya.


"Mau ngapain Feb? tumben rajin lo." Kian mengerinyitkan dahi karena merasa aneh sebab Febbry yang tiba-tiba ingin pergi ke Perpustakaan.


"Biasa." ucapnya santai.


Kian melihat Febbry yang membuka tasnya dan mengeluarkan lima buku novel. Dan yah, hal itu pasti Kian mengerti. Lagi lagi sebabnya pasti Febbry tak mengumpulkan tugas hingga di suruh mengumpulkan buku. Kadang ia merasa aneh, Febbry lebih suka di suruh membeli dan mengumpulkan buku dari pada mengerjakan tugas secara gratis. Namun itulah kelebihan Febbry, yang selalu membuat toko buku menjadi lebih laris.


Sebab buku buku novel atau pun buku lainnya sangat berkelas bahkan best saller, membuat siswa siswi di sekolah selalu menginginkan buku yang ia sumbangkan ke Perpustakaan. Bagi yang menyukainya bahkan membeli ke toko buku langsung karna tak mau mengantri meminjam buku dari Febbry.


"Makasih." ucap seseorang singkat yang duduk di samping Kian. Kian mendelik ke arahnya dengan heran dan aneh.


"Lo ngomong sama gw Van?" yakin Kian. Devan menoleh ke arahnya dnegan tatapan yang berbeda lebih teduh dan sendu dari biasanya.


"Iya."


"Buat?"


"Gw mau bilang makasih ke elo karena udah jagain Gio semalem, makasih buat sarapannya. Dan maaf gw udah sering marah marah sama lo." Duduk santai di kursinya, kaki diluruskan dan kedua tangan dimasukkan dalam kantong hoodienya namun kepala menoleh kearah Kian.


"Iya sama sama. Semalem kenapa lo harus mabuk sih? untung aja ada Mikko yang anterin lo. Lo juga kenapa gak bilang ke Mikko kalo mama Zanna..." ucapnya terhenti sejenak, takut Devan merasa tersinggung.


Devan nampak diam menatap Kian dengan wajah yang sulit diartikan. Kian yang bingung harus berbuat apa sebab wajah Devan yang seperti itu membuatnya gelagapan, dan membuat topik baru. Ia takut jika Devan akan marah padanya.


"Oh iya.... Itu wajah lo kenapa?" tanyanya

__ADS_1


__ADS_2