
"Sayang mau kemana kau?" Tanya seorang wanita yang kini tengah duduk di kursi roda memegang majalah kesayangannya, berada di ruang utama.
Seorang laki laki tua, yang baru saja turun dari tangga melewati wanita itu sambil membawa senapan menjadi berhenti dan ikut menyapanya.
"Emm... Kau tau kan akhir akhir ini aku selalu di rumah. Aku ingin keluar sebentar dan mencoba alat baru ini. Ku lihat akhir akhir ini kebun kita sudah banyak pencurinya, hahaha" Tawa garingnya sambil menunjukkan benda yang ada di tangannya.
"Apa itu? Dari mana mau mendapatkannya?"
"Ini senapan keluaran terbaru. Aku membelinya setelah melihat iklan di pinggir jalan dan baru sampai pagi tadi. Dan aku juga ingin mencobanya apakah benar seperti yang ada di iklan waktu itu. Aku akan mencobanya untuk berburu hewan di sekitar kebun kita."
"Apa kau akan pergi bersama para teman bodoh mu itu?" Tanya nya dengan alis terangkat sebelah.
"Oh ayolah Claudia. Mencari teman yang menyenangkan itu susah. Lagi pula kau kenal mereka. Mereka pengawal di rumah ini. Mereka juga tak bodoh seperti yang kau katakan."
Sebenarnya Claudia mengatakan bodoh bukan karena mereka benar benar bodoh hanya saja mereka mau saja menuruti dan mengikuti apa yang dikatakan suaminya yang begitu kekanakan menurut Claudia.
Yah mereka berdua adalah Claudia dan Sam. Pemilik rumah besar dengan begitu banyak pengawal yang sama sekali tak memiliki kesibukan sama sekali. Claudia selalu menghabiskan waktu bersantai dengan membaca majalah, kadang tentu saja ia merasakan bosan yang teramat. Apalagi rumah sebesar itu hanya dia dan suaminya yang menempati. Anak anaknya? Tentu saja sudah memiliki tempat tinggal sendiri. Cucu? sudah jangan ditanya lagi. Anaknya saja jauh apalagi cucu.
Sedangkan Sam menghabiskan waktu bersantai dengan pengawal pengawal nya yang ada di rumah seperti bermain dan berolah raga. Yang kadang membuat Claudia sakit kepala melihatnya. Mereka hanya bersantai di rumah namun uang selalu mengalir. Prinsip Sam ada memperkerjakan seseorang yang benar benar handal dan bisa di percaya dengan gaji yang orang itu mau untuk mengelola perusahannya, sedangkan ia bersantai saja di rumah. Lagi pula di usianya saat ini, memang harus beristirahat di rumah bukan?
"Terserah kau saja. Kau selalu menghabiskan waktu bersama mereka." Senyum kecut
"Apa kau cemburu sayang?" Tanya nya dengan memainkan alisnya naik turun.
"Tidak untuk apa. Lagi pula kau sudah tua. Tak ada yang perlu ku cemburui. Lagi pula apa kau yakin ingin berburu dengan mata mu yang sudah mulai rabun itu?" Remehnya
"Hey, claudia kau tidak bisa meremehkan ku seperti itu!" Kesalnya, "Tapi, kenapa dengan aku yang sudah tua ini? Apa kau tidak menyayangiku lagi? Apa kau akan mencari yang baru?" Lanjutnya lagi dengan wajah yang khawatir.
"Hahaha.... menurutmu? Berikan padaku." Titahnya
"U.. untuk apa sayang?" Tentu saja keringat dingin menutupi dahi laki laki itu.
"Berikan padaku." Sam belum juga memberikannya. "Sam, berikan padaku atau aku paksa?!" Lanjutnya.
Dengan terpaksa Sam memberikan benda itu pada Claudia meski dirinya sedikit takut. Claudia adalah wanita yang sangat tak terduga. Ia takut kalau benda itu di salah gunakannya.
"Bagaimana cara memakainya?" Tanya Claudia dengan membolak balikkan benda itu.
"Hmm... Kau tidak tau kan cara memakainya? Berikan saja padaku. Aku akan keluar dan memakainya."
"Apakah seperti ini?" Tanya Claudia dengan mengarahkan senapan itu pada Sam.
"Hey, Claudia senapan itu bukan mainan. Kau tidak bisa asal memegang dan mengarahkannya pada orang lain." Bujuk Sam.
'Jangan sampai kau menarik pelatuk itu Clau. Apa kau mau menjadi janda di usia yang seperti ini?'
"Kenapa? Apa kau takut? Aku saja belum menarik pelatuknya."
"Apa kau tau pelatuk itu apa? Dan dimana?" Tanya Sam yang tau jika memang Claudia adalah wanita yang bagaikan kucing garong namun juga sangat polos.
"Ntah lah. Tapi akan ku coba mencari dan menebaknya"
"Hey... hey... Wanita manis, benda itu tak baik jika di pegang lama lama oleh perempuan. Kembalikan padaku yah, nanti aku akan mengajarkan mu. Tapi tidak di sini." Rayu nya lagi.
'Aku tidak akan mau mengajarimu memakai benda itu Clau, walaupun nanti kau memohon. Jika aku lakukan itu sama saja aku membahayakan nyawaku dan nyawa orang yang ada di rumah ini.' Cibir batin seseorang yang kembali menjerit.
Claudia menatap sekilas Sam, lalu menoleh kembali pada senapan itu. Tentu saja ia tak kan terbuai oleh ucapan manis pria tua itu. Ia mencoba membidik sasaran dengan melihat scope senapan itu.
Tap... Tap...
Dor...
"Claudia!!!" Teriakan dengan suara yang lantang.
"Aaaaaaaaaa...." Teriakan melengking yang begitu ramai.
__ADS_1
Teriakan pertama tentu saja dari Sam, sedangkan teriakan kedua yang begitu melambai jangan di tanya lagi. Yah, itu adalah teriakan dari para pengawal yang ada di sana. Mereka semua frustasi melihat nyonya nya itu hampir menembak seseorang. Teriakan itu tentu sangat mengganggu Claudia. Itulah kenapa dia kesal dengan pengawal yang ada di rumahnya. Badannya memang seperti pengawal sejati, namun untuk suara itu seperti pelayan rumahan yang takut kecoa.
Sedangkan Claudia stay dengan tatapan datarnya. Lalu dengan orang yang hampir tertembak?
"Mom... Apa itu tadi?" Ucap seseorang yang baru saja selamat dari maut.
"Geor apa kau baik baik saja?" Teriak Sam khawatir.
Geor baru saja masuk ke dalam rumah itu, namun saat masuk bukan orang tua atau pengawal yang menyambut melainkan peluru yang lewat begitu saja di bawah selangkangannya. Tentu hal itu bukan tidak membuatnya begitu jantungan. Jika lengah sedikit mungkin harta berharganya, atau bahkan kakinya yang akan terkena.
Selama beberapa hari ini George memang pulang dan pergi ke rumah orang tuanya. Walaupun ia pernah bertekad untuk pulang saat sudah menemukan perempuan yang ia cari, namun tidak untuk sekarang. Karna melihat cinta dan kasih sayang dari seorang anak pada ibunya beberapa waktu lalu, membuat nya juga merasakan rindu yang teramat pada Mom nya.
Yang awalnya ia hanya ingin menanyakan kabar mom nya lewat telepon namun ia tak cukup siap waktu itu dan merasa tak begitu sopan. Hingga ia pun memilih langsung menemui orang taunya di rumah. Walaupun saat itu ia benar benar merasakan gugup dan takut tapi ia mencoba untuk tetap tenang.
Dan betapa terkejutnya ia, melihat mom nya sudah duduk di kursi roda tak seperti dulu. Membuat George tak tega melihatnya. Mom nya ingin George kembali tinggal di rumah itu, namun Geor tampak berfikir kembali. Hari itu saja ia sudah ditanya soal keluarga apalagi jika ia lama lama di rumah itu. Mungkin topik pembicaraan mom nya hanya akan itu itu saja. Dan ia pun memutuskan untuk pulang pergi berkunjung ke sana.
"Kau lihat Claudia.. Kau hampir menembak putra mu sendiri. Apa kau sudah tak waras he?!" Suara Sam yang sedikit meninggi.
"Jangan membentakku Sam." Penuh dengan penekanan
"Hey!! Aku tidak membentakmu Clau, hanya saja kau...." Sam yang sudah tak bisa berkata kata lagi.
"Tenang dad. Aku baik baik saja. Mom lebih baik kau kembalikan itu pada daddy. Jangan menembak sembarangan."
"Dari mana kau Geor?" Tatapan Claudia mengintimidasi
"Maaf mom. Aku baru bisa datang sekarang. Aku sibuk tadi."
"Sibuk apa? Mencari seorang perempuan? Pantas saja kau tak mau ku jodohkan kemarin. Siapa perempuan itu Geor? Sudah ku katakan jika kau memang menyukai seseorang kau bisa bawa dia kemari. Senang atau tidak, aku akan mencoba menerimanya. Kau tau aku sudah mulai menua Geor. Aku ingin sekali melihat kalian bahagia, aku juga ingin menimang cucu dan bermain dengan mereka. Aku iri dengan teman temanku yang sudah memiliki cucu, Hiks... hiks... Kenapa kalian tega sekali pada Mom he?" Isak tangisnya sambil memeluk benda berbahaya itu.
"Sorry mom."
"Katakan son, dimana mereka?"
"Bagaimana aku tau? he... Aku mendengarkanmu bicara dengan seseorang dari ponsel menyebutkan anak dan seorang perempuan waktu itu."
Flash back
Sore hari beberapa hari lalu, George yang masih berada di kediaman Wilson. Di sana akan diadakan makan malam bersama keluarga Banner. Claudia yang sudah menanyakan beberapa kali pada George apakah dia sudah berkeluarga atau belum tapi di jawab tidak oleh George.
Tentu saja Claudia tak tinggal diam. Tak mungkin anaknya yang berusia 38 tahun itu belum bisa menikah juga. Hingga ia berniat untuk menjodohkannya dengan anak temannya. Dia yang berinisiatif seperti meminta pendapat Geor namun di tolak mentah mentah oleh Geor. Tapi dia adalah Claudia, yang tentu saja sedikit memaksa. Ia tak mau jika anaknya akan menjadi perja** tua nantinya.
Dan perjodohan itu di mulai dengan makan malam bersama. Namun saat acara berlangsung George menolak secara halus perjodohan itu.
"Bagaimana Geor apa kau menyukai Cellyn?" Tanya Claudia dengan senyum lebar begitu juga dengan mereka yang ada di sana.
"Hmm.. Itu. Maaf untuk itu mom, dad, om, tante dan Cellyn. Aku rasa Cellyn bisa menemukan laki laki yang baik lainnya bahkan jauh lebih baik dariku. Umurku juga terlalu jauh terpaut dengan Cellyn. Lagi pula aku sangat sibuk berkerja, aku tak mungkin bisa...."
"Tapi Geor...."
Drttt... Drttt...
Ponsel George berbunyi membuatnya tak bisa menyelesaikan ucapannya dan memohon undur diri untuk menjawab telpon itu.
Tanpa sepengetahuan Geor, Claudia mengikutinya dan mendengarkan percakapan Geor dengan orang seberang walaupun sedikit tak jelas. Bahkan setelah menerima panggilan itu ia langsung pergi tanpa pamit pada dua keluarga itu. Membuat Claudia menaruh curiga sebesar mungkin pada Gior.
Off~
"Mom, maaf kan Geor. Maafkan Geor yang lalai ini. Bahkan kejadian 18 tahun lalu itu benar benar terjadi."
"Astagfirullah Geor!!!! Kenapa?! Kenapa kau melakukan itu. Kau bahkan mom anggap pria yang paling baik dalam keluarga ini.!!" Claudia tersulut emosi. Bahkan ia tak menyangka hal itu akan terjadi pada anaknya sulungnya.
"Geor mengaku salah. Dan itulah kenapa Geor tak pulang 18 tahun lalu. Aku mencarinya dan terus mencari. Namun.... Sampai sekarang aku belum menemukannya."
"Apa otakmu kini menjadi tak berfungsi hm? Mencari satu orang perempuan dan anak saja kau tak bisa!"
__ADS_1
"Clau, tenang lah dulu. Kita dengarkan penjelasan dari Geor terlebih dahulu." Ucap Sam yang hendak menenangkan claudia.
"Apa tenang?! Selama dua puluh tahun aku mengajarkan anakku dengan hal hal yang baik. Dan jangan bilang aku tak pernah mengingatkan mereka tentang tanggung jawab seorang laki laki. Tapi? Kau tetap saja melakukan hal itu Geor." Claudia yang sudah terengah engah.
"Baiklah. Jika dulu kau tak kembali karna perempuan itu, maka sekarang pun begitu. Jangan pernah kembali sampai kau menemukan cucu dan menantuku." Teriaknya
Dor....
Semua pengawal yang ada malah tiarap sedangkan George dan Sam melotot menatap Claudia.
Tanpa sengaja Claudia yang berteriak sambil menarik pelatuk senapan yang menghadap ke atas itu. Membuat plafon rumah itu berlubang.
Geor buru buru mendekat ke arah Claudia, namun langsung dihentikannya.
"Stop there son. Lebih baik kau pergi cari mereka!!"
Sam yang melihat ke arah Geor pun mengangguk mengisyaratkan Geor untuk menuruti perintah Claudia.
Brak..
Semua pengawal yang ada di sana langsung berdiri kembali.
"Petter!!"
"Ya nyonya."
"Aku punya tugas tambahan untukmu!" Ucap Claudia pada tangan kanannya itu. "Ambil benda berbahaya ini. Buang saja jauh jauh atau kau bisa membakarnya." Claudia menyerahkan benda itu pada Petter dengan tangan yang masih gemetar.
Sebenarnya ia juga takut dengan benda itu bahkan terkejut juga saat peluru yang ada di dalamnya nyaris melukai putra nya itu. Bahkan ia tak sengaja merusak plafon rumah dengan benda itu.
"Perbaiki plafon rumah yang rusak ini, dan buat grup vokal secepatnya!"
"U... U... Untuk apa nyonya?" Bingung Petter dengan kalimat terakhir yang di ucapkan oleh Claudia yang tentu saja mereka juga.
"Apa kau tidak dengar suara anak buahmu ha? Lebih bagus masuk paduan suara dari pada menjadi pengawal." Percayalah saat ini para pengawal itu sedang tidak baik baik saja. Petter langsung menatap tajam ke arah mereka. Membuat mereka beringsut takut.
Sedangkan masih ada seseorang yang beringsut di pojokan menangis melihat benda yang baru di belinya dengan harga yang lumayan fantastis tadi pagi malah di bawa kabur Petter untuk di buang dan di bakar.
"Sam! Kenapa kau menatap Petter seperti itu?!"
"Sayang benda itu kan..." Tunjuk Sam
"Kau memilih benda itu dari pada aku? Baiklah sekarang kau antarkan aku ke panti asuhan biasa dan malam ini kau tidur di luar!!" Ucap Claudia tak terbantahkan.
"Sayang... Claudia... Kau salah paham... hey sayang..." Panggil Sam merayu istrinya itu.
'Oh astaga claudia. Kenapa kau begitu jahat padaku... Aku tak mau tidur di luar dan bergadang bersama para pengawal itu.... huwaa'
.
.
.
.
.
.
Maaf ya eps kali ini lumayan panjang. Aku niatnya mau end ini cerita gak lebih dari 100 eps. Jadi setiap bab nya agak di panjangin.
Terima kasih yang udah baca๐๐๐
Salam Damai dari Chi___
__ADS_1