Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)

Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)
#129


__ADS_3

Author POV


Tiga hari setelah kejadian dimana Kian menumpahkan begitu saja rasa marah, benci, sakit, kecewa dan menyesal pada Devan, membuat dirinya sedikit membaik. Setidaknya walaupun perasaannya tak di balas oleh Devan, ia sudah mengatakan hal itu. Sedikit bisa membuat ia lebih lega walaupun juga kecewa yang masih meradang dalam hatinya. Namun sebisa mungkin untuk ia ikhlaskan rasa itu.


Dan mulai dari malam itu juga, ia tak lagi melihat batang hidung Devan muncul. Bahkan untuk pesan juga, walaupun sudah lama memang Devan tidak lagi mengirimkannya pesan. Sepertinya Devan benar-benar mengabulkan keinginannya. Apa yang bisa ia buat? Seharusnya memang seperti itulah yang terjadi. Ia tidak ingin perasaan suka ini akan menyesatkan dirinya hingga memiliki ambisi seperti Jerry terhadap dirinya. Baginya Devan juga berhak bahagia, walaupun tidak dengannya.


Ia juga ingin fokus dengan apa yang ingin ia raih walaupun itu begitu sulit. Setidaknya ia tak ingin menyia-nyiakan usaha Devan yang mengantarkan- nya pada pintu beasiswa universitas favoritnya.


Ia berharap, ia bisa masuk dan memberikan hal itu sebagai hadiah dan mengucapkan terima kasih yang sangat banyak pada Devan. Dan setelah hari itu, mungkin mereka benar-benar tidak akan bertemu lagi walau tak saling melupakan satu sama lain. Ia akan fokus pada tujuannya, dan begitu juga Devan.


Kian hanya bisa menarik nafas berat memikirkan hal itu, di sela-sela kepulangannya dari bekerja. Jam tangan yang sudah menunjukkan pukul 23.00, membuat ia sedikit beringsut mengusap kedua lengan atasnya.


Seperti biasa, ia diantarkan oleh Refan. Ternyata yang anak itu katakan tidaklah main-main. Selama tiga hari ini pula ia selalu mengantarkan Kian pulang, menurunkan gadis itu tepat di halte bus.


Di malam ini juga begitu, tapi Kian sedikit merasa lebih aneh dari malam sebelumnya. Ia beringsut bukan karena dinginnya angin malam yang menusuk malainkan seperti ada sesuatu.


Karena gelapnya malam, tidak diiringi dengan cahaya rembulan membuat bayangnnya kadang hilang ditelan kegelapan. Namun juga sesekali muncul saat melewati rumah warga yang menyalakan lampu teras.


Perasaan tak nyaman seketika menyeruak dari dirinya. Mungkin sekarang atmosfer yang ada di sekitarnya sudah berubah. Ia melewati jalan yang sama di tiap malamnya tanpa adanya rasa khawatir, namun tidak dengan malam ini. Rasanya berbeda, seperti ada seseorang. Saat ia menoleh ke belakang, yang tampak hanyalah kegelapan semata. Ia melanjutkan jalannya, dan tetap berusaha tenang walau degup jantungnya sudah mulai tak karuan.


Srak


Srak


Srak


Ia melangkah dan berhenti pada saat itu juga. Ia berusaha menepis semua perasaan itu, dengan mencoba sedikit trik. Dimana ia berjalan cepat, dan berhenti secara mendadak.


Srak


Suara langkah lagi. Padahal ia sudah berhenti, lalu langkah siapa lagi itu? Sepertinya dugannya benar. Ia sedang diikuti oleh seseorang. Walau lagi dan lagi saat ia menoleh tak ada satu orang pun ada di belakang.


Haaah.... Kenapa semuanya terjadi seolah pas saja. Malam ini juga gang yang biasa ia lalui terasa sangat sunyi. Kini ia mulai berfikir bagaimana caranya ia bisa lolos dari orang ini. Sedangkan kontarkannya masih lumayan jauh. Hingga di detik selanjutnya ia memutuskan untuk langsung saja berlari.

__ADS_1


Terdengar derap langkah juga mengikutinya di belakang. Tidak hanya satu, melainkan ada banyak. Apa benar ia akan di begal sekarang? Di gang nya sendiri? seperti yang dikatakan oleh Refan. Ia begitu takut dan khawatir, tanpa di sadari air matanya sudah keluar dari kedua pelupuk mata sayu itu. Ia tak tau harus apa sekarang, haruskah Ia berteriak? sedangkan mulutnya saja seperti terkunci rapat. Ingin melawan? Apa dia bisa jika orang sebanyak itu?


Di satu sisi mulutnya membantu memasok udara yang masuk dari hidung. Dan kini ia memiliki dua kali lipat pasokan udara yang membantunya agar mendapat oksigen yang cukup memadai untuk berlari.


Ia terus berlari dengan memburu, hingga tak memiliki rem untuk berhenti. Sedangkan tanpa aba-aba di depannya muncul lima orang berjejer menghadang. Dan salah satunya langsung melayangkan satu kayu yang lumayan besar ke arah Kian.


Namun dengan tiba-tiba ada seseorang yang menarik tangannya dari belakang hingga ia bisa mengelak ayunan kayu itu hingga berganti posisi ia berada di belakang orang itu sedangkan orang itu di depan dan langsung menangkis ayunan kayunya.


Di detik selanjutnya, ia melepaskan genggaman tangannya pada lengan Kian dan langsung menghadapi kelima laki-laki dewasa yang hampir mencelakai Kian.


Kian mundur beberapa langkah, memberikan ruang pada laki-laki itu untuk berkelahi dengan kelimanya. Ia membelakangi Kian, dan asik beradu tinju tanpa mengucapkan satu patah katapun pada gadis itu.


Kian masih menerka siapa dia, jika dilihat sesosok laki-laki ini mirip antara dua orang. Namun wangi dari pakaiannya begitu khas.


"Devan!"


"Tapi bagaimana bisa?"


Pergelutan itu masih berlanjut hingga menumbangkan mereka berlima. Tanpa basa-basi Devan menarik lengan Kian untuk berlari menjauhi daerah itu. Kian hanya diam dan menurut, mengikuti arah larinya kemana pun laki-laki itu membawanya. Hingga di persimpangan di ujung gang mereka berhenti.


Nampak dirinya dan Devan sendiri ngos-ngosan. Dada mereka naik turun dangat cepat. Kian melihat Devan yang tengah membungkuk memegang kedua lututnya.


Kian melihat keringat itu mengucur dengan deras, belum lagi beberapa lebam yang meninggalkan jejak di wajahnya, serta sudut bibir yang juga berdarah.


"Lo kenal mereka?" Devan menggeleng sambil menatap Kian yang ada di hadapannya.


"Terus kenapa kita ke sini? Harusnya gue pulang ke kontrakan. Luka lo harus diobatin." Ketus Kian namun masih menampakkan wajah khawatirnya.


"Lo sama aja mau bahayain orang-orang di kontrakan."


"Loh kenapa? Harusnya kan ---"


"Lo lupa semua pintu kontrakan dihuni sama perempuan? Kalo lo bawa penjahat itu ke sana sama aja lo mau mereka terluka."

__ADS_1


"Terus gue harus apa? Barang-barang gue di sana Devan."


Tin


Tin


Klakson motor berbunyi di depan mereka. Terlihat satu orang mengendarai motor hitam yang pasti Kian kenal siapa dia. Kian melihat mereka berdua bergantian. Ada apa ini?? Pikirnya.


"Naik! Lo bakal aman. Refan akan bawa lo ke tempat yang lebih aman." Titah Devan pada Kian.


Kian hendak berbicara lagi, namun langsung di potong oleh Devan. "Gue yang jaminin lo gak akan kenapa-napa."


"C'mon princess, kita gak punya banyak waktu." Ucap Refan yang sudah membuka kaca helmnya.


Dengan di tuntunan Devan dan stengah dipaksa akhirnya ia naik. "Tapi gimana sama lo?"


"Gue akan baik-baik aja." Ucap Devan tersenyum. "Gue titip Kian sama lo. Pastiin dia jangan tergores sedikit pun." Mata Devan menajam.


Baiklah, ada sejuta pertanyaan di otak Kian saat melihat adegan langka ini. Bagaimana dua orang musuh ini bisa baik dalam satu malam? Apa mereka mengerjainya selama ini?


"Heh! Gue akan pastiin Kian gak akan tergores sedikit pun. Tapi perlu lo tau, itu bukan karena gue nuruti ucapan lo. Itu karena gue emang gak mau Kiam terluka. Paham lo!" Sinis Refan.


Ia hanya berdecak lalu tersenyum. Tak lama kemudian segerombolan orang datang menyerbu. Membuat Refan langsung melajukan motornya. Devan pun mengacungkan jempolnya pada Refan sambil tersenyum lagi. Yang kemudian di detik selanjutnya ia berbalik hingga punggung itu tak lagi Kian lihat.


Kecepatan motor yang di naiki Kian semakin bertambah. Terasa saat angin dingin dengan tekanan yang hampir membuat dirinya terbang melayang karena tak kuasa dengan dorongan yang di timbulkan. Sadar dengan apa yang dilakukannya, Refan sesekali membuka kaca helm dan menegur Kian agar berpegangan padanya.


Kian tak punya pilihan selain menurut, di tambah lagi ada beberapa motor yang sempat mengikuti mereka. Sepertinya Kian harus menjilat atau menelan bulat-bulat kalimatnya beberapa hari lalu yang tak akan pernah menyentuh punggung itu.


Ia memang tak memeluknya, hanya memegang kedua bahu Refan yang lebih lebar. Kian akui, jika sekarang ia seperti buronan. Karena di kejar-kejar ntah siapa orang itu dan Refan yang mengendarai motor dengan sangat cepat. Bahkan beberapa pengendara lain yang kendaraannya lebih besar mampu ia salip dengan mudah.


Ia melewati beberapa gang sempit bahkan jalan setapak diantara dua ruko yang sudah tutup berharap bisa menghilangkan jejak dari para pengendara yang sedang mengejar mereka. Tak hanya itu, Refan juga sempat berkelahi dengan mereka walau berada di masing-masing motor.


Ia berbalik, dan sengaja seperti ingin menabrak mereka padahal tidak sama sekali. Kian yang berada di jok belakang hanya bisa menunduk dan mengencangkan genggaman di bahu Refan.

__ADS_1


__ADS_2