Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)

Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)
#78


__ADS_3

Mentari menyambut Kian, dengan sinarnya yang masuk dari celah-celah ventilasi kamar. Efek terang itu membuat si mpu menjadi terusik hingga ia membuka mata. Tak lupa menghalangi sinar yang menyilaukan itu dengan tangannya.


Ia meraih jam weker di nakas dekat tempat tidurnya. Dilihat jam sudah menunjukkan pukul enam tiga puluh. Artinya ia kesiangan pagi ini. Dengan segenap jiwa kemalasannya ia bangkit dengan terburu-buru, mandi dan langsung bersiap. Untung saja pagi ini tak ada tugas rumah yang harus di kumpul hingga membuatnya sedikit tenang.


Ia begitu kesal dengan dirinya sendiri, karena keteledorannya bangun kesiangan. Padahal semalam ia tak sedikit pun merasa susah tidur, bahkan setelah Devan mengantarnya pulang, ia langsung berganti pakaian dan pergi tidur. Ntahlah, mungkin karena lelah hingga membuatnya tidur dalam porsi banyak.


Karena waktu yang sudah mepet, membuatnya tak sempat untuk membuatkan sarapan, bahkan untuk meneguk satu gelas susu pagi ini pun tidak. Dengan berjalan terburu-buru ia mengunci rumah dan langsung berlari ke luar komplek untuk menunggu angkutan umum.


Ia melirik jam di tangan kirinya yang sudah menujukkan lima belas menit sebelum masuk. Kian sudah tak tahan untuk menunggu hingga ia memilih untuk berjalan terlebih dahulu, siapa tau ada angkutan umum yang bisa ia naiki sekarang.


Di sela ia berlari, ia melihat satu angkutan umum yang berada di seberang. Ia pun harus menyeberang untuk kesana, dan tanpa pikir panjang ....


Ckit..


"Woy lo gila ya! Mau mati gak usah nyusahin gue!!" Pekiknya setelah mengerem motor yang hampir menabrak Kian.


Kian hanya diam tak bergeming, merasakan jantungnya yang berdebar dua kali lipat, sedikit membuatnya sakit. Tapi untung saja motor itu tak menabrak dirinya. Hanya saja umum terjadi si pengemudi marah-marah terhadap calon korban. Kian tak menyalahkannya juga, sebab dirinya lah yang salah.


Kian menelan ludah kasar, melihat orang itu yang hanya terlihat matanya saja dari balik helm. Mata yang sama dengan seseorang, namun Kian lupa. Mata yang hampir sama tajamnya, dengan warna coklat muda.


Setelah detak jantungnya kembali normal, barulah ia bisa berpikir dan berucap, hendak mengatakan maaf pada pengendara itu, namun....


Brum...


Brum...


Motor itu langsung melesat melewati Kian yang masih mematung di sana dengan kecepatan tinggi. Menatap kepergian motor itu dengan kepulan asap tebal.


Huh...


Kian yang tersadar hampir telat langsung berlari ke arah angkutan umum yang ada di seberang dan masuk ke dalamnya. Sedangkan acara minta maaf nya, ia simpan untuk nanti siapa tau ia bisa bertemu lagi dengan pengemudi itu.


Lima belas menit ia habiskan di jalanan, untung saja hari ini tidak macet. Biasanya jalanan kota yang sudah sesiang ini akan sangat di padati oleh kendaraan roda empat ataupun dua. Begitu panas dan berisik sebab satu persatu kendaraan akan saling bersautan untuk menyerobot lebih dulu. Sungguh pemandangan yang kurang menyenangkan, belum lagi polusi udara dari knalpot kendaraan-kendaraan itu yang bisa membuat sesak.


Sampai di sekolah, Kian sedikit gugup dan takut apa lagi melihat gerbang yang sudah tertutup. Namun untung saja ada pak ujang selaku satpam sekolah, membiarkan Kian masuk. Sebab Kian merupakan anak baik-baik yang bahkan tak pernah telat ataupun membuat masalah di sekolah. Untuk pertama kalinya ia telat, dan pak Ujang mentolerir hal tersebut.


'Haduh, kalo ke toilet dulu pasti tambah telat, lagian gue juga belum sarapan. Mana bisa minum obat.'


Tap


Tap


Kian berjalan hendak memasuki kelas,


"Kian!!!!" membuat si mpu menjadi terkejut


Grep


"Gue kangen banget sama lo Ki. Astaga..." Seseorang langsung memeluk Kian secara gamblang di depan kelas itu.


"Feb, lepas! Malu di liatin orang."


"Aish.. Lo gak asik banget sih. Lo gak kangen apa sama gue. Tiga hari gak liat lo, aduh... sepi idup gue. Mana ngebosenin lagi di sana." Memasang wajah sedihnya setelah pelukan itu lepas.


"Bo'ong banget lo. Gue liat dari grup chet kelas kita, lo lagi deket sama Bimo ya? Jelaskan kalo lo seneng banget." Bantah Kian.


"Sttttt!!! Gue punya alasan buat itu."


"Alasannya?" Tanya Kian, mengangkat sebelah alisnya.


Bukan menjawab, Febbry malah menarik Kian sedikit menepi ke tempat yang tak ada orangnya. Membuat Kian sedikit merasa bingung sekaligus penasaran.


"Jadi Ki, semua itu berawal dari........" Febbry menceritakan apa yang terjadi sebenarnya pada Bimo dan dirinya secara rinci. Ia sengaja tak memberitahu orang lain, karena Bimo saja tak memberitahukan pada teman-temannya apa yang terjadi padanya.


"Jadi pacar Bimo selama ini tuh sepupu lo? Dan kado buku itu tertukar sama orang yang ngejar lo di bookstore waktu itu?"


"He'em. Si** banget kan gue ketemu tuh manusia. Andai waktu itu dia gak dateng gak bakal gue kayak gini. Gue ngerasa bersalah banget Ki. Sekarang lo percayakan gue gak ada apa-apa sama Bimo. Lagian gue juga gak bisa kasih tau orang lain, nanti malah merasa tersinggung dianya."


Puk


Puk


Kian mempuk-puk kepala Febbry, dan mengusapnya, "Udah, gue ngerti kok. Semangat bantu Bimo-nya. Tapi menurut gue Bimo gak jelek kok walaupun bantet kayak gitu. Dia tetep cool kok."


"Gue juga mikir gitu. Tapi gue mau si Noni sadar kalo dia tuh salah. Bimo juga bisa kurus kok."


"Hmm... Ya udah. Mending kita ke kelas aja dari pada di sini terus."


"Eh, btw lo telat ya?"


"Iya beberapa detik doang. Untung pak Ujang baik mau bukain pintu buat gue. Oh ya nanti temenin gue ke sana ya." Febbry pun mengangguk.


________


Bel pulang berbunyi, semua berhamburan ke luar kelas. Karena Kian sudah kelas tiga yang sebentar lagi akan menghadapi ujian nasional, maka segala bentuk kegiatan keorganisasian di sekolah semuanya di hentikan, berlaku untuk semua kelas tiga. Agar mereka bisa lebih fokus dengan ujian nasional.


"Dor!!" Kejut seseorang ketika Kian baru keluar kelas. Hal itu sukses membuatnya terkejut, dan merasakan nyeri di satu tempat.


Kian diam, sambil memegang dada kirinya. Berbeda dengan orang itu yang malah tertawa.


"Astagfirullah haladzim, Jerry!!" Pekik Kian.


"Hehe... Kaget ya Ki?"


"Gak kok, cuma hampir mati aja." Santai Kian, yang sudah pasti akan dianggap candaan olehnya. Padahal setengah daei kalimat itu mengandung kenyataan.


"Haha... Sorry sorry. Pulang bareng gue yuk." Ucapnya yang sudah menggandeng tangan Kian.

__ADS_1


"Eh... Main gandeng-gandeng aja lo. Tau Sarah gue bakal di tuduh apa lagi ama tuh anak nantinya."


"Emang dia ada di sini? Perasaan dia ngilang deh. Kemana sih Ki?"


"Mana gue tau, malah nanya ke gue. Lo sebagai pacarnya dong yang harusnya tau. Kenapa lo gak cari aja? Harusnya lo cari si Sarah, bentar lagi mau ujian. Ntar ketinggalan banyak pelajaran rugi loh." Roceh Kian.


"Eits, dia bukan pacar gue."


"Maksud lo?! Selama ini lo jalan sama dia, makan malem sama dia, tapi gak jadian?!!!"


"He em." entengnya yang tentu saja membuat Kian berapi-api.


"Lo deketin temen gue tapi lo gak kasih kepastian sama dia?!! Lo jangan macem-macem ya Jer! Gue gak pernah peduli sama sekali lo suka sama orang lain atau mau mainin cewek mana pun, karena itu emang kebiasaan buruk lo. Tapi gue ingetin ya dia sahabat gue! Sahabat!! Sampe lo nyakitin dia, gue bakal buat lo babak belur!" Mata Kian sudah memecing melihat Jerry.


"Uhh... santai dong. Kok lo makin cantik aja sih Ki kalo lagi marah. Suka gue, ha.. ha.. Ya udah yuk pulang gue anterin." Bukannya menganggap omongan Kian dengan serius ia malah membuatnya bak lelucon, lalu menggandeng Kian lagi setelah tangan itu dipaksa Kian lepas.


"Gue serius Jerry. Gue mau lo jadi cowok yang bertanggung jawab!" Kian menghempaskan tangan Jerry kasar.


"Iya, gue juga serius mau ajak lo pulang. Ayo." Tangan Kian sudah di cekal oleh Jerry hendak berjalan namun cekalan tangan itu malah ditahan oleh seseorang.


"Apasih lo! Lepas gak! Gak usah ikut campur urusan gue!" Bentak Jerry padanya.


"Sorry. Hari ini kita ada tugas bareng. Jadi dia pulang sama gue. Ayo!" Ucap Devan dingin yang sudah melepaskan cekalan itu, beralih ia yang menggenggam tangan Kian.


"Emang iya Ki?" Tanyanya tak percaya.


"I.. Iya." Ucap Kian mengangguk. Sebenarnya bukan Jerry yang ia takutkan, melainkan pada laki-laki yang ada di sampingnya saat ini. Aura yang menyeramkan seketika keluar dari dirinya.


Dengan memandang Devan sinis, Jerry berjalan duluan meninggalkan mereka berdua yang masih setia berdiri dengan Devan masih menggenggam tangan Kian.


Setelah punggung itu sudah tak terlihat lagi, Devan langsung melepaskan tangan Kian.


"Ayo." Singkatnya langsung melangkah, Kian pikir ia sudah menghentikan dramanya itu namun sepertinya masih berlanjut.


"Mau kemana?"


Devan berhenti, dan menoleh kebelakang.


"Lo lupa sama omongan gue semalem? Kita mau lanjut cari siang ini."


"Eh.. Gak usah Van. Lo harus kerja, gue gak apa-apa cari sendiri. Gue gak mau ngerepotin..."


"Satu!"


"Ha?" Kian tak mengerti dengan Devan yang kini sedang berhitung


"Gue hitung sampai tiga. Lo jalan atau gue seret?! Dua!" Mendengar kalimat Devan itu, Kian pun langsung berjalan ke sampingnya untuk mensejajarkan jalan mereka. Ia takut jika ancaman Devan akan benar-benar dilakukan olehnya. Bisa remuk badannya.


_________


Sesampai di lokasi mereka mulai berjalan, mencari dan mencari. Mereka memulai dari tempat terakhir yang mereka kunjungi semalam, dan meneruskan pencarian itu. Kian memang belum berteman dengan Sarah begitu lama. Bahkan mungkin baru beberapa bulan saja. Tentu Sarah belum menceritakan banyak hal. Di tambah lagi Kian yang jarang bisa keluar rumah, membuat mereka juga jarang bertemu selain di sekolah. Sehingga Kian tak tau banyak mengenai tempat yang sering Sarah kunjungi.


"Nih."


"Apa?" Tanya Devan bingung.


"Keringat lo tuh banyak banget, lap dulu gih." Ucap Kian memberikan sapu tangan putih polos pada Devan. Devan hanya menatap sekilas lalu mengambilnya.


Namun Kian? Kian tetap menatap Devan yang berdiri di sampingnya, membuang pandangan ke sembarangan arah dengan tangan masih mengelap keringat. Karena merasa dilihat, Devan kemudian menoleh pada seorang perempuan yang tingginya hanya sebahu dirinya.


"Kenapa? Capek? Mau minum? Atau pulang?" Tanya Devan dengan mata yang tak pernah berubah melihat Kian.


'Ish... kesel banget gue sama tuh tatapan. Pengen gue congkel rasanya. Kenapa sih gak kayak waktu itu aja, tatapan yang gak terlalu tajam kayak gini sama senyumannya.'


"Mikir apa?!" Suara Devan sedikit meninggi, kesal melihat Kian tak kunjung menjawabnya, ditambah lagi cuaca hari ini yang begitu panas membuatnya seperti naik darah.


"Em.. Gak. Kalo misalnya....." Ucap Kian menggantung, membuat Devan tampak berfikir dan terus menatap Kian.


"Lanjutin!"


"Iya... iya. Kalo misalnya kita gak temuin Sarah, lo mau gak Van, jenguk ...."


"Gak!" Belum selesai ia bicara Devan sudah mendahuluinya


"Tapi kan....."


"Sekali gue bilang gak, ya gak! Lagian lo bilang kemaren ada perempuan kan disana."


"Hmm.. Ya udah. Kita cari mencar aja, biar cepet ketemu." Kian menunjukkan arahnya lalu berjalan mendahului Devan.


Devan berjalan sesuai arahan dari Kian untuk berpencar. Namun, perasaannya tidaklah bisa dibohongi. Ada perasaan aneh ntah itu mungkin khawatir, tapi tak tau dengan siapa.


Kian terlihat sedikit lesu, bagimana tidak, ia tak bisa bohong jika ia sudah kelelahan. Sudah berjam-jam mencari namun tak dapat juga.


Ia merogoh saku rok nya untuk mengambil ponselnya. Membuka kontak whatsapp, mencoba menelpon Sarah siapa tau sudah bisa. Namun tetap tak ada jawaban. Ia beralih menelpon dengan telpon biasa namun juga sama.


Karena terlalu fokus dengan ponselnya ia tak menyadari jika di depannya ada seseorang,


Brukh...


"Akh!!!" Pekiknya, Kian langsung mendongak.


"Lo!!" Serentak mereka berdua. Kian tau jika seseorang yang tabrak ini adalah laki-laki yang membuat rusuh di sekolahnya waktu itu.


"Lo lagi lo lagi. Kenapa sih selalu aja si** gue kalo ketemu lo. Lo buta apa gimana sih cewek heh??!!!!"


"Maaf gue gak sengaja." Kian mengambil tisu di kantongnya hendak memberikan tisu itu padanya.

__ADS_1


Plak


Tangan Kian langsung di singkir kasar olehnya. Kian hanya diam tak mau melawan karena memang ia yang salah.


"Gue heran sama lo. Seneng banget cari masalah sama gue. Tadi pagi mau mati depan motor gue, sekarang lo malah tumpahin jus ke baju gue. Lo bener-bener cewek aneh!!" Bentaknya, yang membuat Kian sudah tak tahan lagi. Laki-laki itu memegang satu cangkir es ditangannya namun karena Kian tak sengaja menabraknya, membuat es itu malah tumpah ke bajunya dan lain juga.


'Jadi tadi pagi itu dia?! Lah bisa kebetulan gini.'


"Maaf juga buat yang tadi pagi. Gue gak liat kanan kiri langsung nyebrang gitu aja." Ucap Kian yang begitu tulus, memang pagi tadi ia berencana untuk minta maaf hanya saja ia mendapat sedikit kendala sehingga telat mengucapkannya.


"Maaf lo bilang?! Lo pikir segampang itu? Lo harusnya ganti tuh kerusakan motor gue gara-gara lo pagi tadi!!"


"Tapi kan, motor lo gak apa-apa. Jatoh aja gak, lecet juga gak." Kian merasa tak terima.


"Nyolot lu ya!!" Ia mengangkat tangan, hendak menampar Kian. Namun,


Plak


Satu tamparan melayang ke pipi seseorang, membuat Kian membulatkan mata tak percaya.


"Devan." Cicit Kian yang saat berada di sampingnya.


"Wah, ada pahlawan kesiangan! Rasain emang enak! Sakit kan!"


Devan nampak dengan wajah biasa saja walaupun pipinya memerah saat ini.


"Ternyata selain manja lo juga pengecut. Lo cowok tapi dengan mudah nampar cewek. Ck,...."


"Yang salah wajib kena hukuman. Salah pacar lo nyari gara-gara sama gue mulu!!"


"Iya Van, gue yang salah." Kian menunduk.


"Gue tau. Bukan berarti lo bisa nampar cewek juga kan?! Gue rasa juga nih cewek udah minta maaf sama lo. Gak malu lo diliatin sama orang-orang Pengecut!!" Sinis Devan melihat seseorang yang ada di depannya saat ini.


"Banyak omong lo ya! Lo pikir dengan minta maaf semua kelar? Lo gak tau harga baju gue yang ditumpahin minuman ama nih cewek lemot?! Gak bakal mampu kalian gantinya!"


"Oh ya emang berapa? Gue rasa gak lebih mahal dari harga diri lo kan?" Tanya Devan yang dengan nada biasanya, begitu sarkase.


Bukh


Bukh


Bukh


"Lo miskin aja sombong ya! Gak usah belagu lo, sekolah aja masih ngutang gayaan mau beli harga diri! Bangun lo kalo udah merasa hebat!!!"


"Woy stop! Lo apa-apaan sih hah?" Marah Kian.


"Apa lo cewek lemot! Mau belain cowok lo ini hah? Udah miskin gak tau diri!!"


Devan bangkit dari posisinya setelah mendapat beberapa bogeman dari laki-laki itu. Kini sudut bibirnya sudah berdarah, ia tak melawan sama sekali. Membuat Kian sedikit frustasi melihatnya.


Devan menarik Kian yang dekat dengan laki-laki itu agar menjauh darinya. Namun belum sempat itu terjadi, ia sudah dipukul lagi olehnya, dan tanpa perlawanan sedikit pun.


"Bangun lo anak haram!! Anak miskin!!! Gue muak liat lo!!! Bener-bener muak!!"


"Kenapa? Lo masih dendam sama gue? Lo mau pukul, ayo pukul lagi aja Refan!"


'Refan? Oh iya gue inget sama dia yang pernah ke sekolah gue waktu itu. Dia juga berantem sama Devan. Tapi apa ini, anak haram? Kenapa dia bilang gitu juga? Sebenarnya siapa dia ini?'


Mendengar kalimat Devan yang terlihat menantang, Refan mendekat dan hampir memukul Devan lagi, namun langsung ditahan oleh Kian.


"Minggir lo monster!! Lo pukul lagi gue bakal teriak dan lo tau akibatnya!!" Bentak Kian.


Namun bukannya minggir, Refan malah mendorong Kian sampai tersungkur, membuat lutut perempuan itu mencium trotoar


Sret...


Bukh


Bukh


"Akh!!"


"Lo denger ya, gue suruh lo mukul gue bukan tuh cewek. Dasar lemah!"


Bukh


Bukh


Devan yang geram, menghajar Refan membabi buta. Membuat laki-laki itu merintih kesakitan karena mendapat bogeman dari Devan. Kini posisinya berkebalikan. Semula Devan yang tak bergeming malah menjadi marah, sebab apa? Sebab Kian mendapat perlakuan seperti itu dari Refan.


"Sia*an lo Devan!!" Pekiknya yang kemudian kabur berlalu.


Devan menatap tajam Kian yang berdiri dengan lutut yang berdarah karena mencium trotoar bercampur pasir itu.


"Kenapa diem? Udah merasa hebat nantangin orang hm?!" Tanyanya yang berjalan ke arah Kian. Kian hanya melihat kearah lain. Sangat malas berdebat dengan Devan saat ini.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒณ๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


__ADS_2