Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)

Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)
#30


__ADS_3

"Makasih makanannya. Sini tempatnya biar gw yang cuci."


"Emang udah kewajiban." ketusnya


"Iya. Keliatan banget gak ikhlas"


"Ya emang"


"Ya jangan gitu lah. Bisa bisa sakit perut gw nantinya makan makanan lo yang gak ikhlas itu."


...... bla....... bla....... (perdebatan antar keduanya).


Setelah selesai berdebat pagi itu mereka keluar dari kamar Zanna. Tak lupa juga berpamitan, salam dan cium pada Zanna secara bergantian. Tak lama suster masuk untuk mengontrol zanna, dan lagi lagi Devan menitipkan mamanya pada suster itu. Yah, padahal itu adalah memang tanggung jawab rumah sakit.


Mereka berjalan menuju lift sampai keluar rumah sakit. Devan langsung melajukan motornya ke sekolah. Sedangkan Kian menaiki taksi. Sebelumnya Devan sudah menawarkan untuk pergi sekolah bersama namun kian menolaknya. Ditambah Devan yang orangnya irit bicara, ia pun tidak mau terlalu banyak bicara yang terkesan memaksa kian. Lalu ia pun mengiyakannya dan meninggalkan kian.


Sesampai di sekolah Kian agak terlihat kaget karena ada banyak siswa siswi dari sekolah lain yang datang. Ia berjalan sepanjang koridor menatap orang orang yang ia lewati.


"Kiannnnnn.....akhirnya Lo dateng juga. " sambut febbry dengan teriakan sekaligus dengan berjalan yang masih sama seperti kemarin namun tak separah kemarin.


"Lo kenapa sih Feb. Kayak orang gila aja."


"Lo gak tau, pagi ini anak anak dari sekolah lain bakal lomba di sekolah kita." ucapnya senang


"La terus kenapa?"


"Ya kita bakal bisa liat anak anak dari sekolah lain lah."


"Oh."


"Oh doang gitu?!"


"Terus gw harus apa???"


"Ya seneng gitu. Atau apalah"


"Alasannya? terus itu sarah dimana?"


"Sarah?? Gak tau tadi. Dia bilang mau nemuin seseorang."


"Emm...."


Jangan bertanya kenapa Febbry sangat senang dengan adanya kegiatan seperti. Tentu karna kegiatan belajar akan tertunda. Mereka semua akan si suruh untuk menyaksikan lomba antar sekolah itu. Yang artinya febbry dan siswa siswi lainnya akan terbebas dari segala macam bentuk tugas.


"Ki....ayo kita liat anak anak pada tanding."


"Gak. Lo aja. Gw sibuk."

__ADS_1


"Kantin aja kalo gitu."


"Gak. Gw lagi mau catat materi dulu."


"KIIIIII......kita Gak belajar loh hari ini. Bisa gak sih lo berhenti buat belajar sehari aja. Plissss" ucapnya memohon di samping kian yang masih fokus pada buku dan pulpen.


Kian hanya menatap sekilas dan menggeleng kepala dengan artian dia tidak mau.


"Tapi nanti kelas kita ada yang main loh. Reza sama Devan bakal main basket sama anak basket lainnya. Lo gak mau liat?"


"Ayolah Ki....." lanjutnya.


Kian pun mengiyakannya, jika tidak pasti febbry akan begitu sangat cerewet sebelum keinginannya terpenuhi. Kian membereskan semua alat belajarnya. Dan kemudian langsung di seret febbry.


"Woy Ki...."


Teriak seseorang ketika febbry dan kian baru keluar kelas. Mereka berdua pun menoleh kebelakang.


"Weleh....Ada kapten basket."


"Ada apa Jer?"


"Lo gak ke ruang serba guna? Anak anak karil bentar lagi lomba. Lo bisa semangatin mereka nantinya."


"Oh iya. Ini gw juga mau ke sana."


"Tenang aja. Gw bakal yang paling depan semangatin kalian." ucap febbry


"Kian lo juga"


"Aelah, jadi kian doang nih yang diharapkan dateng."


"Gak gitu juga Feb. Alah ngambekan bener lu. Kalian semua lah. Sarah juga."


"Iya iya."


Jerry pun pergi dan tak lama malah digantikan sarah. Sarah menghampiri mereka berdua.


"Wah.... kembang sekolah udah tebar pesona duluan lho. Gak nunggu nungguin kita dulu lo ya!"


"Ya allah, febbry telinga gw bakal budek kalo lo teriak teriak mulu." keluh Kian


"Hehe mangap Ki mangap."


"Gw tadi nemuin sepupu gw dulu tadi. Oh ya kantin yuk. Laper nih gw."


"Weh...ganteng Gak? masih pagi juga sar, perut lo tuh ya."

__ADS_1


"Ganteng lah feb. Gw yang traktir, tadi dia kasih duit ke gw buat jajan."


"Enak banget lo. Gw boleh minta juga gak ke dia."


"Malu feb malu." ucap Kian sampai tepok jidat melihat tingkah febbry yang seperti itu.


"Boleh sih. Tapi lo langsung aja minta ke dia."


Mereka bertiga asik mengobrol sepanjang jalan menuju kantin. Sampai di tengah jalan kian malah ingin pergi ke toilet dan memberitahu mereka berdua. Mereka mengiyakannya. Kian merasa dirinya seperti ada yang tidak beres. Namun ia berusaha untuk tetap tenang agar orang lain tak tau.


Kian terlihat sangat terburu buru ke toilet dan ketika sampai terlihat ada beberapa siswi dari sekolah lain yang juga ada di sana. Kian menyapa ramah dan begitu pun mereka. Namun ada juga yang terlihat cuek dan sibuk berdandan.


Kian langsung masuk ke salah satu kamar yang ada. Mengeluarkan botol putih dan air minum botol kecil yang selalu ia taruh di kantong sepan maupun roknya. Botol kecil itu selalu ia bawa kemana pun. Bahkan ia sampai mengatongi botol itu kemana pun ia pergi. Sebab ia takut kalau suatu ketika ada razia tiba tiba dan obat itu ia simpan dalam tasnya, belum sempat ia ambil mungkin akan diambil terlebih dahulu oleh guru.


Setelah meminumnya, mata kian kembali membaik dan tangannya tak lagi gemetar. Ia keluar dari toilet dan berniat menyusul kembali temannya. Namun ia malah mendengar suara ke ributan.


Ia mencari sumber suara itu.


"Hahaha.... ternyata anak lugu, dungu dan miskin itu sekarang sudah sebesar ini yah. Apa masih bekerja seperti dulu hn?" tanya seseorang itu


Kian melihat ada beberapa anak dari sekolah lain yang mengerumuni satu orang, namun kian tak bisa melihatnya. Dikarenakan mereka semua terlalu tinggi.


"Dulu masih terlihat begitu kecil. Apa kabar kawan, sudah lama tidak bertemu ya." ucap salah satunya sambil memperbaiki kerah baju dan membersihkan jasnya.


Orang itu pun menghempas tangan yang menyentuh jasanya dengan kasar.


"Wah wah...sekarang sudah tambah galak ya." remeh satunya.


"Kenapa lo dari tadi diem aja hn?! Bisu lo hah!"


Satu tangan melayang hendak mengenai perut seseorang itu, namun ia bisa menangkapnya dan sedikit meremak tangan orang tersebut sampai ia mengaduh kesakitan. Melihat hal tersebut teman temannya yang lain tak tinggal diam. Mereka hendak mengeroyok seseorang tersebut dan begitu pun orang tersebut sudah siap ingin menangkisnya.


Hal tersebut terjadi di belakang sekolah, sedangkan Kian tak sengaja lewat sana. Karna ia menghindari dari ramainya orang yang berada di sepanjang koridor sekolah membuatnya memutuskan untuk lewat belakang menuju kantin. Namun malah orang berkelahi yang ia jumpai di sana.


Karna ia melihat jas yang di pakai salah satu siswa itu adalah SMA mereka, untuk itu kian langsung turun tangan menghentikannya.


"STOOOOP" pinta kian melihat mereka sudah menarik baju satu sama lain. Siswa dari sekolah lain itu terdiri dari tiga orang dan satu lagi dari sekolah kian.


Kian menarik siswa dari sekolahnya. Dan tanpa dia duga siswa tersebut adalah Devan.


"Jauh jauh dari sekolah kalian cuma mau berantem ke sini? iya!"


"Minggir lo." Devan yang berusaha menyingkirkan kian dari hadapannya. Namun kian terus menghadangnya.


"Bubar kalian!! atau gw bakal bilang ke sekolah kalian biar kalian di panggil."


Mereka pun akhirnya bubar. Kian menatap tajam Devan dan begitu pula sebaliknya.

__ADS_1


Karna kesal Devan memilih untuk pergi tanpa mengucapkan sepatah kata.


__ADS_2