Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)

Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)
#17


__ADS_3

Pagi ini Kian bangun sangat pagi dan langsung bergegas menyiapkan sarapan..Setelah berkutik di dapur cukup lama, akhirnya selesai. Ia kembali ke kamarnya untuk mandi dan bersiap untuk pergi ke suatu tempat.


Setelah bersiap ia langsung memberhentikan angkutan umum yang ada dan melaju ke arah rumah sakit. Pagi yang lumayan dingin tak menyurutkan kian untuk pergi. Yah pagi ini terlihat begitu mendung dengan rintik air yang sudah menghiasi suasana.


Sesampai di rumah sakit, Kian langsung menuju kamar siapa lagi kalau bukan Zanna. Terlihat bahwa perempuan itu sudah bangun namun terdiam seperti menyembunyikan sesuatu.


krak... pintu terbuka. Zanna langsung melihat ke arah Kian.


"Pagi Ma... eh tante Zanna maksudnya. Udah sarapan belum?" tanya Kian ramah baik dan mengambil posisi duduk di samping Zanna.


"Pagi juga kian. Belum, tumben pagi banget ke sini? emang kamu gak sekolah nak?"


"Kan masih pagi tante, pasti sekolah aja masih sepi. Ini Kian bawa bubur spesial buat tante. Oh ya Gio mana?"


"Gio udah pulang sama kakaknya. Dia harus bersiap buat sekolah."


"Oh gitu. Ya udah kita sarapan dulu ya. Kian yang bakal suapin." ucap Kian yang sudah mengambil satu sendok bubur dari mangkuk.


"Maafin tante ya udah nyusahin kamu Ki."


"Gak kok tante. Kian malah seneng bisa ngerawat tante."


"Kian, tante punya permintaan. Kamu mau ngabulinnya sayang?"


"Kalo kian bisa, pasti kian wujudkan tante." ucap Kian dengan senyum.


"Panggil tante mama. Bisa?"


Kian sedikit terbelak kaget, padahal sebelumnya ia benar benar tak sengaja memanggil Zanna dengan sebutan Ma.


"I..i.iya Tante."


"Kian..."


"Eh iya Ma.. Mama Zanna."


"Makasih ya sayang. Mama, gak tau berapa kali lagi mama bisa ngehirup oksigen ini. Jadi mama mau orang orang yang mama sayang ada di sini."


ucapnya sambil mengeluarkan air mata.

__ADS_1


Senyum kian tadi tersemat di bibirnya mendadak hilang dan berubah khawatir.


"Mama ngomong apasih. Kian gak suka mama ngomong gitu. Pokoknya kian mau mama sembuh ya. Biar kian selalu bisa cerita sama mama, hiks...hiks.."


"Kian... semua orang pasti pergi, dan begitu pun mama. Mama gak mau lagi nyusahin kalian. Mama titip Kavindra sama gio ya. Kalo suatu hari nanti mama pergi mama pengen kamu bisa jaga mereka berdua. Kavindra memang sedikit keras kepala seperti ayahnya, sedangkan Gio anak polos yang selalu mencari kasih sayang. Kamu bisa kan nak?"


"Kian gak mungkin bisa ma. Dan Kavindra?"


"Kavindra anak mama yang pertama. Usianya sekarang sama seperti kamu. Tapi dia memiliki sifat yang buruk. Kalo kamu bisa jaga mereka berdua mama bakal sangat senang dan bisa tenang."


"Ma... cukup ngomong kayak gitu. Ayo sekarang kita makan. Biar cepet sembuh dan sehat. Kian bakal selalu di sini buat semangatin mama. Ayo" ucap Kian lagi yang menahan derai air matanya. Namun Zanna nampak berpikir.


"Kalo mama gak mau makan, Kian pastiin kian gak bakal ke sini lagi." ancam kian, sebenarnya ia pun tak mau melakukan hal itu. Namun kian mau jika mamanya itu bisa memiliki semangat untuk sembuh.


Dan akhirnya Zanna pun makan, walapun hanya beberapa suap.


Sebenarnya bukan tanpa alasan sikap Zanna pagi ini berubah. Yah, semalam anaknya itu di panggil pihak rumah sakit. Saat itu ada seorang suster yang datang ke kamarnya.


___Flash back.


"Permisi, anda perwakilan dari ibu Zanna kan?" tanya suster itu. Dan Kavindra pun mengangguk.


Tapi yang terjadi adalah, mamanya belum tidur sama sekali. Dan mendengar semua perkataan suster itu.


Kavindra berjalan ke meja administrasi yang pasti ia tau bahwa tagihan rumah sakit sudah menunggunya. Setelah menjelaskan pada suster tersebut ia berlanjut ke ruangan dokter dan bertemu dokternya. Dokter itu pun menjelaskan bahwa perawatan yang dilakukan selama ini tidak begitu banyak memberikan dampak pada mamanya. Ditambah lagi obat obat yang dikonsumsi mamanya itu semakin mahal, dan Kavindra belum bisa membayar itu semua.


Kavindra hanya mengangguk ketika dokter itu menjelaskannya. Wajahnya terlihat tegar sekali mendengar pernyataan keadaan mamanya yang buruk itu. Namun hatinya sudah terenyuh sakit bahkan menangis mendengar itu.


Setelah selesai Ia pun kembali ke kamar mamanya. Terlihat mamanya masih mantap dengan posisi tadi, mata terpejam dengan napas yang kian lama. Ia berjalan ke arah mamanya dan berbisik,...


"Ma, Vindra keluar sebentar ya. Nanti Vindra ke sini lagi." ucapnya samnil mengusap lembut pipi mamanya dan mengecup keningnya. Dan begitu pun dengan Gio yang sudah tertidur do sofa dengan nyenyaknya.


Sehabis Kavindra keluar, Zanna pun terbangun dan kembali menangis. Betapa ia sudah menyusahkan anak kandungnya itu. Di mana ia yang harusnya fokus sekolah malah harus bekerja untuk biaya rumah sakitnya.


end___


Setelah selesai, tak lama suster masuk ke dalam ruangan Zanna. Di sana Kian disuruh keluar sebab Zanna harus istirahat. Zanna di berikan satu suntikan hingga membuatnya tertidur.


Kian pun keluar, tak lupa memeluk Zanna sebentar lalu pergi.

__ADS_1


Sesampai di sekolah, Kian masih fokus dengan pikirannya sampai ia menabrak punggung seseorang. Begitu keras dan lebar. Membuat si mpu mengandung dan orang tersebut langsung menoleh.


"Maaf gw gak sengaja" ucap Kian yang masih mengusap usap dahinya yang sedikit sakit.


Namun orang tersebut berjalan pergi meninggalkan kian. Kian mengangkat kepalanya namun...


"Pagi Cantikkkk"


"Akhh...Lo apa apain sih Jerry."


"Lah emang kenapa? Gw gak ngapa ngapain juga. Lo aja yang kenapa? sakit?"


"Itu orang yang di depan gw mana?"


"Orang? gak ada tuh. Lo tadi sendiri disini. Yah, masih ngantuk ya lo.?"


"Apa sih. Gak lah."


"Ya udah masuk kelas sana. Jangan diem aja disini."


ucap jerry sambil mengacak acak rambut kian. Dan langsung pergi. Sontak hal itu menjadi perhatian siswa siswi disana. Yah mereka sekarang ada di tengah koridor kelas yang tentunya banyak sekali siswa siswi yang berlalu lalang.


"Woyy jerry kurang ajar banget lo. Awas aja lo nanti."


kesal kian melihat jerry yang berlari meninggalkannya.


Kian berjalan menuju kelasnya dan duduk seperti biasa di bangku sarah. Hari ini dia agak sedikit sepi bahkan ketika febbry mengajaknya bicara ia pun tak menggubris.


Sampai pada menit berikutnya sebelum guru masuk semua siswa siswi sudah duduk di bangkunya masing masing.


"Pagi teman-teman. Wah wajah kalian hari ini segar berseri ya." ucap seseorang di depan kelas.


"Gw punya firasat buruk kalo si Siti udah kayak gitu." Bisik febbry pada Kian.


Namun kian hanya memandang saja.


"Hmm pasti nih ada mau nya. Napa lagi sih Ti" ucap salah satu siswa di kelas.


"Jadi....."

__ADS_1


__ADS_2