
Dengan mengendarai motor hitamnya, Refan dan Kian mengarungi jalan raya yang lumayan padat malam ini. Tanpa mengurangi kecepatan biasanya, motor itu melesat dengan cepat. Namun tidak membuat Kian gentar dan memilih untuk berpegangan di pinggangnya.
Refan sudah beberapa kali menegur Kian untuk berpegangan, tapi ia sama sekali tidak mengindahkan hal tersebut. Bahkan saat Refan menancapkan gas secara dadakan, membuat Kian sedikit terhuyung ke belakang hingga akhirnya ia mengalah dan memegang jok bagian bawah motor itu untuk berpegangan. Tentu saja hal itu membuat Refan berdecak kesal.
Walaupun angin yang berlalu sangat kencang dan membawa suhu yang begitu dingin tak membuat Kian mencari benda yang bisa menghangatkan tangan itu. Bahkan untuk rasa dingin sangat dingin sekalipun ia tidak akan menyentuh punggung lelaki yang sedang memboncengnya saat ini. Tidak akan! Lebih baik ia mati kedinginan daripada harus melakukan hal tersebut.
Lima belas menit berlalu, akhirnya mereka sampai di depan gang. Refan menurunkannya tepat di halte biasa Kian menunggu bus.
"Gak sekalian gue anter depan rumah aja? Ntar lo dibegal lagi." Ucapnya setelah menerima helm dari Kian.
"Gak. Perjanjian awalnya kan udah gitu. Lagian gak ada yang bakal ngebegal gue di gang ini. Udah sana lo pulang! Makasih udah nganterin gue." Ketus Kian.
"Hn... Hati-hati Ki."
Kian berbalik setelah beberapa langkah yang ia ambil. Menghadap Refan yang masih belum melajukan motornya itu, namun memberikan pencahayaan ke arah jalan Kian.
"Lo kenapa aneh banget sih! Inget satu hal Fan. Kalo lo baik ke gue cuma buat manas-manasin Devan atau balas dendam ke dia, gue tekankan gak bakal berhasil! Daripada lo nyusahin diri berbuat baik sama gue, mending lo urusan hidup lo aja. Dan stop buat ngikutin gue!"
Setelah mengucapkan kalimat itu ia berlalu, tanpa mendengarkan balasan dari Refan sendiri. Ia melangkah pergi dan melesat cepat dengan berlari.
Refan yang mendengarkan serta melihat tingkahnya hanya tersenyum simpul, lalu langsung menancapkan gas setelah punggung itu tak terlihat lagi.
Kian sesekali menoleh ke belakang, untuk berjaga-jaga. Kadang Refan bisa bertindak sesuka hatinya seperti Devan. Tau-tau saja sudah di depan dirinya. Namun sepertinya kekhawatiran dirinya tak terjadi. Ia bisa bernafas lega setelah memastikan tubuh itu tak muncul saat ia sudah memasuki kawasan kontrakan.
Keadaan kontrakan sudah sangat sepi. Wajar saja, siapa yang masih terjaga di jam seperti sekarang ini. Terlebih lagi penghuni kawasan kontrakan itu adalah perempuan. Sudah pasti mereka cepat sekali tidur. Bahkan di saat ia masih terjaga pukul satu malam, ia sering mengintai ke luar jendela. Alhasil ia tak menemukan apa-apa melainkan kesunyian. Ia akui jika kawasan ini tak ada yang hobi nongkrong atau sekedar bergadang. Letak lontrakannya yang strategis membuat ia bisa melihat keadaan kontrakan lain. Keadaan kontrakan yang padam, menandakan bahwa mereka semua sudah tidur.
"Huuh..."
Ia berhenti melangkah. Setelah memasuki setengah kawasan kontarkan, tiba-tiba kakinya seperti terkena lem hingga tak bisa melanjutkan langkahnya. Perasaan lega dengan senyum manisnya seketika hilang bagaikan angin.
Degup jantungnya begitu keras hingga terdengar di telinganya sendiri. Tubuhnya terasa mati rasa, dan wajahnya berubah kaku. Kini atmosfer tegang sedang menglilinginya. Otaknya tak mampu berfikir sekarang.
Laki-laki itu berbalik, hingga mendapati Kian yang mematung di tengah lapangan kontrakan. Ia yang berada di depan kontrakan Kian langsung menghampiri gadis itu kala melihatnya, hingga menyisakan sepuluh langkah saja.
Tatapan mereka saling bertemu satu sama lain. Wajah Kian tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya. Nafasnya tak beraturan, tak tau apa karena ia lari sebelumnya, atau memang karena laki-laki di hadapannya ini.
"Dari mana?" Suara itu memecahkan lamunan Kian.
Sedari tadi, menatapnya ia tak memiliki keberanian untuk membuka suara atau bahkan hanya sekedar menyapa. Mulutnya terkunci rapat.
Laki-laki yang hampir satu bulan ini ia tunggu, tak kunjung memberi kabar. Namun sekarang ia muncul secara tiba-tiba membuat dirinya sedikit terkejut. Sungguh tatapan itu membuat degup jantungnya tak karuan.
"Kian?"
Kian POV
Dia datang! Apa yang harus gue lakukin? Hampir satu bulan ini gue sama sekali gak ketemu dia. Gue harap urusan keluarganya benar-benar udah selesai agar gue bisa kembali liat dia setiap hari.
Percaya gak percaya, selama tiga minggu lebih gak liat tuh cowok kayak ada yang kurang. Namun di sisi lain gue juga gak mau lagi nyusahin dia.
Dia natap gue dan ngeluarin ultimatum pertanyaan, untuk beberapa lama gue bisa dengar lagi suaranya. Dia juga memanggil nama gue. Gue tau kalo dia udah manggil nama pasti dia udah gak sabar dan itu gak baik sama sekali buat gue sendiri. Tapi gue gak tau, kenapa gue ngerasa seseneng ini saat dia manggil. Arhg... Jangan-jangan gue dah gila kali ya!Oke, Kian fokus!!
__ADS_1
Gue sedikit bingung harus jawab pertanyaannya dengan alasan apa. Haruskah gue bohong? Tapi jujur aja gak akan buat dia senang. Yang ada tambah marah.
"G-gue abis dari warung. Tadi mendadak laper jadi keluar cari makan. Oh ya, lo tumben dateng ke kontrakan. Kenapa? Ada yang mau lo bilang? Terus gimana kabar Cafe kak Arya? Ini udah lebih dari seminggu, dan gue belum denger kabar apapun. Oh ya lo mau masuk dulu? Sorry ya kalo lama nunggu---" Belum selesai gue ngomong, dia udah nyeletuk duluan. Niat gue emang banyak omong supaya dia gak terlalu fokus dengan pertanyaannya.
"Gak usah bohong! Jujur dari mana lo?"
Suara dia mendadak bikin gue gemeter. Suara dingin dengan penuh penekanan, "Gue gak bohong kok. Emang gue laper."
"Jam 11 malem?" Tanyanya menyelidik.
"Iya."
"Tapi gue dapet laporan kalo lo seharian ini gak di rumah. Lo kemana?"
Oke, sekarang gue deg-degan parah, lebih parah dari sebelumnya. Harus cari alasan apalagi gue supaya nih cowok percaya. "Ih.. tau dari mana lo. Gak usah sotoy deh." Gue masih inget pesen dia sebelum pergi tanpa kabar kemarin. Dia nyuruh gue buat belajar. Tapi... Ya setidaknya gue tersenyum buat nutupin kegugupan gue.
"Kak Nari udah kasih tau gue."
Damn!! Harusnya gue minta kak Nari buat kerja sama supaya jangan bilang ke cowok satu ini. Tapi mana gue tau kalo dia bakal dateng sekarang. "Terus mana kak Narinya?" Seolah gue gak percaya sama sekali dengan apa yang dia katakan.
"Dia udah tidur."
"Lo ---"
"Gue udah dari jam delapan di sini. Nungguin lo yang belum juga pulang. Sekarang gue mau lo jujur dari mana lo?"
Gue pasrah. Gue gak bisa bohong lagi kalo udah kak Nari turun tangan. Pasti dia cerita semuanya. Huuuh... Usaha gue buat mandiri dan gak nyusahin dia bakal gagal lagi.
"Dimana?"
"Lo bukan ketua RT Devan. Ngapain lo nanya-nanya gitu he? Itu urusan gue, mau gue kerja dimana kek bukan urusan lo!" Suara gue mulai naik, buat nutupin apa yang terjadi sama gue. Berharap dia gak nanya lagi atau bahas itu.
"Kenapa sih, lo harus bohong? Pulang kerja sampai jam 11 malem, dimana waktu belajar lo? Inget kan masih ada beasiswa yang harus lo kejar."
"Gue tau dan itu bukan urusan lo lagi."
Gue marah, gue kesel! Dan gue gak mau lagi bahas masalah ini. Gue ngelangkah maju berharap bisa lewati dia dan segera masuk ke rumah. Jujur aja badan gue udah capek kerja dan sekarang harus ladenin Devan yang udah kayak wartawan.
Seketika, rasa seneng gue mendadak luntur dan hanyut ntah kemana karena ulah dia sendiri. Sebenarnya gue pengen ajak dia masuk dan ngobrol. Dan gue juga bakal ngaku sendiri tentang apa yang gue lakuin selama gak ada dia. Tapi gue sedikit kecewa dengan sikapnya. Seolah gue siapanya? Segitunya dia gak percaya sama kemampuan gue?
"Harusnya lo masih tetep tinggal di rumah lo. Bukan kerja dan habisin waktu di jalan kayak gini. Gue yakin kalo lo ngomong baik-baik, orang tua lo bakal kasih kesempatan dan lo gak repot-repot kerja buat bayarin kehidupan yang berat ini."
Gue terperanjat kaget setelah denger kalimatnya barusan. Gue berbalik ngeliat dia yang nunduk. "Maksud lo?"
"Mending lo pulang Ki. Lo bisa terusin hidup tanpa harus cape kerja. Lo bisa omongin baik-baik sama kedua orang tua lo. Kehidupan kayak gini tuh gak enak. Fokus belajar aja dan buktiin ke orang tua lo kalo lo bisa."
Mendadak mata gue panas denger apa yang di bilang. Kalo aja orang tua gue bisa gue bujuk dan mau denger apa yang gue bilang, gak mungkin gue berdiri di sini sekarang.
"Lo gak tau apa-apa tentang keluarga gue! Stop buat bertindak lo tau segalanya, apa yang baik atau enggak buat gue!"
"Lo keluar dari rumah karena gak mau di jodohinkan? Tapi harusnya lo gak seegois itu sampai buat orang tua lo sakit!"
__ADS_1
Gue ngelangkah, biar tambah deket sama dia. Hingga menyisakan dua langkah aja. "Tau dari mana?!"
"Jerry. Dia yang kasih tau gue. Kenapa bohong he? Lo bilang lo di usir karena pengen kejar cita-cita. Tapi apa? Bahkan kalo itu benar, harusnya lo usaha sekarang. Bukan buang-buang waktu."
Gue tersenyum sinis. Ntah kenapa semakin sumbernya dari Jerry gue gak pernah tersentuh apalagi percaya. Gue tau obses dia sama gue, tapi itu bikin gue gak suka bahkan selalu curiga sama dia. Dan biar gue tebak ini bisa jadi cara lain dia buat narik gue pulang. "Buang-buang waktu?"
"Please, harusnya lo gak seegois itu. Lo harus bersyukur karena masih punya orang tua yang sayang sama lo."
"Ck, lawak lo Van. Lo ceramahin gue tentang kasih sayang orang tua, sedangkan lo sendiri? Apa urusan lo sama keluarga lo udah selesai? Lo aja selalu ngehindar dari ayah yang sayang sama lo."
"Kisah kita beda Ki."
"Ya, karena setiap manusia gak akan pernah sama, baik sifat, keadaan, bahkan takdir mereka. Dan kalo mereka bener-bener sayang sama gue, mereka gak bakal lakuin itu!"
"Hanya perjodohan. Lo gak mau, lo bisa bilang dengan cara baik-baik. Apa yang buat lo seegois ini? Kayak bukan Kian yang gue kenal."
"Hanya perjodohan? Emang sekenal apa lo sama gue? Katakanlah gue egois dan emang egois. Lo gak ngerasain gimana setiap hari liat orang tua lo bertengkar, orang tua lo kasar ke anaknya sendiri, dan lo ada tapi gak pernah dianggap. Gue katakan om Daren itu ayah yang baik, tapi lo nya aja yang gak pernah mau maafin dia. Jadi sekarang siapa yang egois?"
"Kian...." Lirihnya.
Semua bayang-bayang ketika gue masih di rumah sekelebat tayang kembali. Adegan kekerasan yang tidak hanya dilayangkan ke gue taoi juga ke bunda. Belum lagi tentang perempuan itu yang menjadi duri dalam rumah tangga ayah dan bunda. "Dan lo tau kenapa gue keluar dari rumah itu? Karena gue pikir hidup itu lebih menyenangkan kalo hidup sendiri. Dimana lo gak perlu nikah dengan orang gila kayak dia. Dan gak liat adegan menjengkelkan di tiap harinya. Apa susahnya hidup di luar tanpa orang tua? Tapi gue salah! Ternyata hidup itu emang susah, dan gue ketemu lo. Lo nolongin gue bahkan dengan cuma-cuma. Kebaikan lo Van, kebaikan lo bikin gue suka sama lo!"
"Ki...." Gue yakin gue udah gila karena ngaku hal memalukan ini. Di tambah lagi wajah terkejutnya. "Gue udah berapa kali bilang kehidupan gue gelap, bahkan ---"
"Stop! Gue ngerti. Lo nolongin gue cuma karena kasihan bukan karena ada apapun. Dan waktu di rooftop itu gue sadar lo gak punya perasaan apa-apa ke gue. Lo bahkan negelarang gue buat suka sama lo. Gue gak masalah dengan semua itu. Maka dari itu, gue minta lo buat gak lagi bantuin gue. Supaya gue sadar diri dan berhenti berharap sama lo, Devan. Lo pergi beberapa minggu lalu, dan setidaknya gue bersyukur. Dengan kepergian lo gue bisa mandiri dan benar-benar bisa lupain lo. Tapi gue salah lagi. Hidup gue terasa ada yang kurang karena lo gak ada. Maafin gue yang udah gak tau diri Devan. Tapi please, habis ini lo jauhin gue. Biar rasa suka gue gak tambah besar. Berhenti buat peduli sama gue! Berhenti buat sok tau tentang kehidupan gue." Gue sedikit menjeda kalimat. Karena dada gue semakin sakit. Gak gue gak mau tumbang di depan Devan! Dia gak boleh tau!
"Urusin aja kehidupan lo. Makasih karena selama gue keluar dari rumah lo selalu bantuin gue. Dan masalah utang piutang, lo tenang aja. Gue udah belajar nabung buat gantiin semua biayanya. Walaupun belum terkumpul semua, gue janji kalo udah cukup gue bakal ketemu lo sekali lagi buat kasih tu duit. Makasih Van sekali lagi. Setidaknya gue lega udah ngomong semuanya yang gue rasain. Dan satu lagi, jangan terlalu percaya dengan Jerry kalo lo gak mau tersesat."
Gue berbalik dengan isak tangis yang masih berlanjut. Bahkan gue sendiri gak tau kapan bakal berhenti. Gue bertekad gue gak ada noleh ke belakang sampai gue tutup pintu kontrakan.
Gue gak benci dia, tapi selalu berada di samping dia dengan rasa suka tanpa ada timbal balik juga gue rasa gak bakal bagus buat gue. Oke, gue tarik kalimat gue harap urusan keluarganya benar-benar udah selesai agar gue bisa kembali liat dia setiap hari. Gue pikir itu gak bakal berakhir happy ending.
Klak
Gue tutup pintu kontrakan, dan gue terperosot di belakang pintu dengan kedua kaki yang menekuk, dan wajah gue sembunyiin di antara keduanya. Dia tangan gue juga ikut meluk tuang kering gue. Gue nangis sejadi-jadinya tanpa ngeluarin suara sedikit pun. Gue tau nangis di tahan itu bakalan sakit, tapi buat orang lain terganggu malem-malem juga gak bakal lebih baik.
Gak lama gue denger suara hujan, bahkan sepertinya hujan pengen gue nangis kenceng supaya gak kedengeran orang lain.
Seketika gue teringat dengan Devan. Hingga buat gue ngintip di balik jendela samping pintu. Hujan di luar lumayan deres, persis kayak waktu dia nganter gue pulang sampai kehujanan. Dan gue liat dia udah gak ada lagi di sana. Syukurlah setidaknya dia gak bakal kehujanan kayak waktu itu.
Gue berjalan sempoyongan pergi ke kamar, rasanya otak, mental sama raga gue bener-bener lelah. Lelah dengan keadaan yang terus datang dan bantai gue tanpa bisa minta tolong ke siapa pun.
.
.
.
.
.
__ADS_1