Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)

Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)
#42


__ADS_3

Sepulang sekolah kian dan febbry jalan berbarengan di sepanjang koridor. Mengobrol banyak hal termasuk sikap Sarah pada mereka. Yang seharian ini selalu menghindar. Kian pun berusaha untuk mendekati Sarah dan meminta maaf. Namun jangankan untuk bicara, sekedar berpapasan saja sarah tak mau.


Hingga mereka sampai di depan gerbang sekolah, Febbry sudah di tunggu dengan supirnya. Dan tentu saja ia mengajak Kian. Namun Kian menolak ajakan itu. Yang akhirnya ia pulang sendiri. Kian menunggu bus yang ia naiki tadi pagi. Hari ini tak banyak tugasnya di sekolah bahkan karna ia bukan lagi anggota organisasi Karil ia pulang lebih cepat.


Ckiittt....


Sebuah motor berhenti di sampingnya membuat ia sedikit terkejut.


"Ki, ayo naik. Gw anter pulang."


"Hmm... gak makasih Jer. Gw mau naik bus aja. Lo bisa pulang duluan gih."


"Yah, tapi gw mau pulang bareng lo. Oh ya berapa hari ini lo kemana sih? Gw cariin ke kelas lo gak ada, si lambe turah juga gak tau. Anak anak karil menang dan semalem mereka ngerayain kemenangan mereka. Gw mau ngajak lo tapi pesan gw gak lo bales." rocehnya panjang lebar.


"Ohh itu. Gw lagi ikut orang tua gw. Jadi gw sibuk banget. sorry untuk itu. Dan selamat juga buat anak anak karil. Jadi kapan lagi mereka bakal ikut lomba?"


"Dua minggu kedepan. Lain kali kalo mau kemana tuh bilang cantik, biar gw gak cariin sama khawatirin lo. Huh... Ya udah yuk gw antar lo balik."


'Nih anak maunya apasih. Kemaren deket sama Sarah. Dan sekarang gini ke gw. Kalo Sarah tau bakal tambah salah paham dianya, haduh kok gw jadi serba salah gini sih. Nih anak juga udah deket Sarah masih aja.'


"Lain kali aja Jer. Gw masih ada urusan." ucap Kian, yang tak lama bus itu datang. Kian langsung berlari ke arah bus dan masuk ke dalam, takut dipaksa oleh Jerry lagi.


Setelah pulang dan berganti pakaian Kian langsung melesat ke rumah Devan. Terlihat begitu sepi dari luar. Kian mencoba mengetuk pintu itu beberapa kali namun tak ada yang membukanya. Kian mencoba lagi dan lagi, hingga akhirnya pintu itu terbuka. Menampakkan tubuh mungil dengan wajah yang sembab.


"Gio baru bangun tidur ya?" tanya Kian sambil menunduk, melihat anak itu mengusap usapkan matanya.


Anak itu mendongak ke atas,


"Kak Kian.." ucapnya yang semangat serta senyum yang lebar.


"Uhhh.... Iya ini kakak." ucap Kian sambil menggendong anak itu.


"Maaf ya kak, Gio ketiduran gara gara tunggu kak Kavin. Jadi lama deh Gio bukanya." ucapnya yang mengalungkan kedua tangannya di leher Kian.


"It's okey ganteng gpp. Tapi bener kak Kavin belum pulang?" Gio menggelengkan kepala yang artinya memang benar Kavin belum pulang.

__ADS_1


Kian membuka whatsapp nya dan coba mengirim pesan pada Devan. Dengan harap dibalasnya walaupun kecil kemungkinan.


Tring...


Suara pesan masuk ke ponsel Kian. Dibukanya pesan itu dari Devan. Ia sedikit tak menyangka jika Devan akan membalas pesannya secepat itu.


*Room Chet*


Me: Van, lo belom balik? adek lo nungguin. (14.01)


Devan: Gw gak balik bilang Gio soalnya langsung kerja. Jangan tungguin gw. Lo udah di rumah gw kan? (14.02)


Me: Udah. Oke deh. (14.05)


Devan: stiker. (14.05)


End~


Setelah chet singkat itu berakhir, Kian bertanya pada Gio apakah dia sudah makan atau belum, dan anak itu pun menjawab belum.


Lima belas menit ia habis kan di dapur hingga akhirnya makanan itu tersaji di meja makan.


"Gio, ayo sini kita makan dulu sayang." panggil Kian yang berada di dapur.


Dengan sigap anak itu langsung menemui Kian yang berada di dapur. Semua makanan sudah tersaji di meja membuat anak itu berbinar melihatnya.


"Wah... Kak Kian pinter masak ya. Mana makanannya banyak banget, pasti enak banget." ucapnya sambil menaruh dagunya di meja itu dengan kaki meninjit sebab tak sampai.


"Haha.... Gak ah. Biasa aja. Ayo kita makan." Ajak Kian yang sudah membukakan kursi untuk Gio.


Tak lupa ia juga mengambil nasi serta lauk pauk untuk Gio. Dan mereka pun makan bersama.


Tok...Tok....Tok....


Suara ketukan pintu. Dengan sigap Gio langsung turun dari kursi hendak membukakan pintu. Namun Kian menghentikannya. Ia ingat apa yang dikatakan oleh Devan tadi siang si sekolah.

__ADS_1


"Gio makan aja. Biar kakak yang bukain ya sayang." ucapnya yang membuat Gio pun menurut, kembali ke tempat duduk dan melahap makanan yang ada di piringnya.


Krakk.....


Kian membuka pintu, terlihat ada seorang petugas rumah sakit yang datang. Walaupun begitu Kian tak tau siapa itu.


"Maaf, bapak cari siapa ya?" tanya Kian yang hanya mengeluarkan kepalanya saja dari balik pintu takut seseorang yang tak dikenal dan ingin macam macam.


"Ah... Apakah benar ini rumah almarhumah ibu Zanna yang merupakan pasien di rumah sakit Harapan?" tanya nya. Terlihat jika orang tersebut memang memakai baju rumah sakit beserta topi juga.


"Iya. Memangnya ada apa ya pak?"


Setelah melihat orang itu kian pun keluar dengan tetap menutup rapat pintu rumah.


"Begini pada waktu itu ada seseorang yang menjatuhkan dua amplop uang ini di rumah sakit. Dan kata sebagian orang yang ada di sana itu milik keluarga pasien. Jadi saya hanya mengantarkan amplop ini." ucapnya menyerahkan dua amplop uang yang begitu besar.


'Astaga, uang sebanyak ini Devan dapat dari mana? Oh ya benar. Saat ia tiba waktu itu, memang ia terlihat membawa dua amplop besar yang ntah apa itu isinya. Jadi ternyata semuanya berisi uang?'


"Mbak.... Apa kau baik baik saja?" ucapnya yang membuyarkan lamunan Kian.


"Iya, saya baik pak. Baiklah saya akan berikan ini pada keluarganya."


"Iya mbak. Terima kasih kalau begitu."


Kian kembali ke dalam membawakan dua amplop besar berisi uang itu. Ia ingin menaruhnya tapi ia bingung dimana. Akhirnya ia memutuskan untuk menaruhnya di kamar Devan.


Kian yang bertanya pada Gio dimana kamarnya, hingga Gio menunjukkan kamar Devan padanya.


Kian masuk dan meletakkan dua amplop besar itu di atas nakas yang ada di kamar Devan.


"Oh astaga.... Kamarnya rapi banget. Insecure gw rasanya." gumam Kian yang melihat ruangan itu.


Kamar itu memang tertata dengan rapi. Tempat tidur, lemari, nakas dan beberapa barang lainnya tertata sedemikian rupa. Dinding kamar berwarna hitam dengan corak segitiga warna krim ditambah lagi garis pembatas warna putih.


Kian yang menaruh uang itu di nakas tak sengaja melihat sesuatu.

__ADS_1


'Ha... Bagaimana bisa ada foto ini disini?'


__ADS_2