
Devan nampak diam menatap Kian dengan wajah yang sulit diartikan. Kian yang bingung harus berbuat apa sebab wajah Devan yang seperti itu membuatnya gelagapan, dan membuat topik baru. Ia takut jika Devan akan marah padanya.
"Oh iya.... Itu wajah lo kenapa?" tanyanya
"Gpp." Ucapnya sambil tersenyum.
Kian menatap tak percaya bahwa Devan bisa tersenyum semanis itu padanya. Sampai ia melongo melihatnya.
"Hey?"
"Eh... Iya Kenapa?"
"Lo tuh yang kenapa? Bengong aja." ketusnya
"Saran gw sih mending lo obatin tuh luka. Nanti malah infeksi lagi." ucap Kian yang sebenarnya menutupi saltingnya.
"Kenapa gak lo aja yang obatin?" tanya nya dengan wajah dingin dan alis yang diangkat sebelah.
"Eh...."
"Hahaha... Gw becanda doang kali. Serius amat." tawanya.
"Van, lo gak lagi sakit kan?"
"Kenapa?" tanya nya heran.
"Gak biasanya lo bisa kayak gini. Apalagi becanda. Rada aneh aja gw liat nya. Soalnya lo biasa diem terus tatapan lo kayak mau bunuh orang. Kadang takut gw, he... he... he... "
"Oh ya udah, gw gitu aja kali ya. Biar lo nyaman."
__ADS_1
"Eh.. Jangan juga. Lo lebih bagus kayak gini aja. Apalagi bisa kayak gini ke temen temen." ucap Kian tersenyum namun tidak dengan Devan. Bahkan wajahnya berubah muram.
Kian kembali khawatir jika ucapannya barusan mungkin saja salah. Membuat Devan tak nyaman bahkan seperti tak senang.
"Eh... Tapi kalo lo gak mau juga gpp. Jangan di paksain. Semua orang punya kepribadiannya masing masing." Hibur Kian.
"Kenapa lo masih deket sama gw walaupun lo udah tau gw yang sebenarnya?"
Pertanyaan yang Devan lontarkan sukses membuat Kian bingung tujuh putaran. Ntah apa maksud dari perkataan Devan ini. Yang ia tau hanya Devan merupakan anak korban broken home sama sepertinya. Hanya itu yang ia tau.
"Lo inget waktu lomba antar sekolah waktu itu?" tanya Devan yang diangguki oleh Kian.
"Dan lo juga pasti tau apa yang mereka bilang kan?" lanjutnya yang lagi lagi diangguki Kian.
"Mereka temen temen kelas gw dulu waktu SMP. Karna dulu waktu SMP, gw sekolah di sekolahan swasta yang kebanyakan anak orang kaya. Sedangkan gw? Gw cuma orang miskin yang masuk kesana dengan alasan jarak rumah gw deket sama tuh sekolah..... bla....bla..."
Devan yang bersekolah di sana tak memiliki apa apa. Tak memiliki prestasi untuk melindunginya ataupun seseorang yang bisa membelanya. Hingga akhirnya ia hanya menempuh jalan bertahan demi menuruti permintaan mamanya yang ingin melihatnya bisa sekolah seperti anak lainnya. Ia hanya punya dua alasan untuk tetap bersekolah di sana. Alasan pertama karna di tempatnya tinggal hanya ada satu satunya sekolahan, yaitu sekolahan swasta yang ia tempati. Dan alasan yang kedua karna mamanya.
Ia begitu menyayangi mamanya itu hingga untuk melanggarnya walaupun mamanya tak tau itu sungguh susah. Setiap kali pulang sekolah kadang wajahnya sudah biru dan kadang berdarah juga. Ia ingin melawan anak anak itu, namun tidaklah mudah baginya karna takut di keluarkan. Mamanya yang bertanya hanya paling dijawabnya terluka karena menolong orang lain di jalan ataupun terjatuh. Dengan begitu mamanya tak terlalu khawatir tentang sekolahnya.
Kian yang mendengarkan cerita Devan hanya mengulum kesedihan. Ia benar benar tak menyangka selain broken home ia juga korban bullyan di sekolahnya. Pantas saja Devan jarang untuk berinteraksi dengan orang sekitar nya, ternyata ia masih trauma. Dan kepribadian yang terbentuk terbilang lebih cuek dan dingin walaupun aslinya ia tak seperti itu. Bahkan setelah mengalami semua hal itu, sekarang dia malah kehilangan mamanya.
"Ki!? Lo kenapa natap gw gitu? Oh lo juga ngerasa kasihan ya sama gw?" senyum kecutnya.
Kian pun tersadar dari lamunannya, mendengar ucapan Devan yang terkesan lain.
"Gak. Gw gak kasihan sama lo. Lo cowok yang gak punya hati sama sekali. Ya kali gw mau kasihan sama lo. Cuma gw kagum aja. Hal sebesar dan seberat itu lo simpen sendiri dan gak pernah cerita ke orang lain. Untung aja lo gak depresot." Canda Kian di akhir kalimatnya agar Devan tak tersinggung dan suasana yang begitu kaku. Ia tau jika Devan tidak akan pernah suka jika ada yang bersimpati padanya karena alasan kasihan.
"Hampir... Gw gitu. Tapi selalu ada seseorang yang selalu buat gw semangat." senyumnya mengarah ke luar jendela.
__ADS_1
"Gw paham. Gw yakin mama Zanna juga pasti seneng dan bangga punya anak kaya lo."
"Lo sendiri, kenapa bisa kenal sama mama?"
Kian menceritakan awal pertemuannya dengan Zanna pada Devan hingga mereka akrab, terpisah dan bertemu lagi. Bahkan ia tak tau kalau Devan adalah anak almarhumah Zanna. Sebab ia jarang bahkan tak pernah bertemu Devan saat kecil. Namun ia hanya pernah melihat foto bocah kaki laki dengan senyum lebar nan manis. Kian pun mengatakan kalau ia bahkan tak percaya jika Devan semanis itu dulu. Tentu saja membuat si mpu bukannya malu atau pun senang malah menampakkan wajah datar dan tak suka. Jam istirahat itu habis oleh mereka berdua yang bercerita satu sama lain.
"Eh, Jam berapa sekarang?"
"Jam sebelas lewat. Kenapa? Bentar lagi mau masuk. Mau kemana lo?"
"Gw mau jemput adek gw dulu. Izin ya bentar ya."
Dengan santainya ia keluar dari kelas, sedangkan anak anak lain berbondong untuk masuk ke dalam kelas. Kian menatap punggung kokoh itu. Ternyata Devan adalah anak yang sangat bertanggung jawab bahkan tak sebanding dengan dirinya yang hanya mengharapkan uang dari kedua orang taunya, pikirnya.
"Woy Ki. Mau kemana tuh anak?" teriak Febbry pada Kian saat melihat Devan keluar kelas.
Kian hanya menggidikkan bahu, yang artinya tak tau.
.
.
.
.
.
"Terkadang orang itu bukan bermuka dua atau drama. Hanya saja ia sedang melindungi bagian dirinya yang rapuh dengan bersikap dingin dan tak perduli."
__ADS_1