Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)

Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)
#39


__ADS_3

"Mama ngomong apasih? Mama gak boleh ngomong gitu. Kian panggil Devan dulu ya." Kian yang berusaha menenangkan mamamya.


"Gak perlu sayang. Mama juga udah gak tahan lagi sayang. Kamu tolongin mama ya. Buat jaga mereka berdua, mama sangat berterima kasih sama kamu yang udah mau sabar jagain mama. Dan mama cuma mau kamu kasih ini ke Kavin."


Zanna memberikan sebuah amplop putih pada Kian yang masih bersegel. Kian mengambil amplop itu Dan tak bertanya banyak hal.


"Sampaikan maaf mama sama Devan ya."


"Mama mau kemana?" tanya Gio yang meninjit meraih tangan mamanya itu.


"Mama mau pergi. Kamu baik baik ya, dan kamu juga harus dengar kata kakak Kavin sama kakak kian ya. Kamu harus bisa jadi anak pintar jangan bandel kayak kakak kamu. Pokoknya kamu harus bisa sukses nantinya. Mama bakal selalu liat kamu sayang." Kian mengangkat Gio ke atas tempat tidur, masih ada sedikit ruang di sana. Zanna mencium dan memeluk Gio lama. Hingga ia pun terisak menangis. Membelai lembut kepala Gio, menghapus air mata itu dari wajahnya bahkan mencium semua wajah Gio.


"Mama bakal rindu banget pelukan ini pastinya." gumamnya


Saat Zanna masih sibuk bicara dengan Gio, Kian menelpon Devan untuk beberapa kali namun tak dijawab olehnya. Ia berusaha terus menelpon Devan. Hingga Zanna memanggilnya untuk mendekat, menggenggam tangan kian erat.


Dan menyuruh kian untuk lebih dekat padanya, sampai wajah kian berada di samping wajah Zanna. Zanna membisikkan sesuatu pada Kian membuat mata kian perih dan tambah menangis.


Sedetik kemudian keadaan Zanna mulai lemah, Kian sangat bingung. Kian menurunkan Gio dari tempat tidur dan menyuruhnya untuk menjaga Zanna. Kian langsung berlari ke luar ruangan untuk segera memanggil dokter.


Hingga pada saat dokter berada di dalam kamar Zanna, Kian dan Gio berada di luar tetap berusaha untuk menelpon Devan. Dan akhirnya Devan menjawab telpon dari kian. Kian memberitahu Devan sambil menangis. Yang tentu saja membuat orang yang ada di seberang merasa khawatir.


Dokter berusaha untuk menyelamatkan Zanna dari kondisi itu, namun tubuh zanna menolak. Hingga sampai Devan sampai dokter dan suster itu juga keluar. Dan memberitahukan Devan jika......


end~


Setelah menceritakan semuanya kian memberi Devan amplop yang dititipkan padanya tadi. Devan menerima amplop itu dan memandang bingung amplop itu.


Saat ia hendak membukanya, tiba tiba ada beberapa orang datang ke kamar itu.


Kian juga di buat terkejut dengan hal itu. Sebab di sana juga ada dua orang polisi.


Devan yang melihat kedatangan mereka memicing kesal.


"Ka...Kavin... katakan pada papa siapa yang ada di sana?" tanya nya sambil menunjuk ke arah tempat tidur. Devan yang kesal melihatnya malah menyeret papanya itu keluar ruangan.


Karna benar benar marah, Devan hendak menghajar papa nya itu namun dihentikan oleh dua polisi yang ada di sana. Dan tak lama, datang lagi satu orang yang membuat Kian tampak bingung.

__ADS_1


"Papa" teriaknya.


"Sarah??" gumam Kian yang tampak bingung. Ntah apa yang terjadi sebenarnya.


"Puas kau Sekarang pak tua hah!!! Kau liat sekarang dia sudah tak bernyawa lagi. Dan kau baru muncul sekarang seolah tak tau apa apa. Dasar bajing**. Dimana kau saat dia benar benar membutuhkan bantuanmu hah!!" rocehnya yang melepaskan diri dari kedua polisi itu dan lagi lagi hendak memukul papanya. Namun kali ini yang menghentikannya adalah kian. Kian menarik mundur Devan dan menyuruhnya untuk duduk di kursi yang ada di depan ruangan Zanna.


"Lepasin gw ki!! lepasin gw!!" ucapnya memberontak, namun kian memberanikan diri untuk melawan Devan. Ia memaksa Devan untuk duduk. Namun saat duduk pun Devan masih memberontak. Hingga akhirnya Kian yang berdiri dihadapan Devan memeluknya erat agar Devan tak membuat onar lagi.


Kian terus menenangkan Devan yang mengamuk sambil menangis itu. Ia menyuruh Devan untuk diam bahkan mengelus elus kepalanya. Hingga Devan diam dan membalas pelukan Kian, membuat dirinya terkejut. Bahkan menangis tersedu-sedu dalam pelukannya. Padahal yang ia lakukan sekarang tak sedikit pun terpikir sebelumnya. Ia yang tak tau harus bagaimana menenangkan Devan yang mengamuk, membuatnya reflek melakukan hal tersebut. Hingga membuat Sarah, papanya, Gio dan dua orang polisi yang mengejarnya hanya diam memperhatikan keduanya.


Setelah tenang Kian melepaskan pelukannya, namin Gio malah langsung menghampiri kian. Kian pun memeluk dan menggendong Gio.


"Pa.... apa yang terjadi sebenarnya? Sarah gak ngerti. Bahkan sampai papa susul Devan ke rumah sakit. Sebenarnya ini ada apa? Kian?!" tanya sarah yang memecahkan keheningan itu.


Namun papanya hanya diam. Membuat sarah kesal melihatnya. Sedangkan Kian hanya menggelengkan kepala, yang juga masih bingung.


"Papa sarah tanya!"


Dengan perasaan ragu, Papa sarah bergantian melihat Devan dan sarah. Ia ingin sekali mengatakan sesuatu namun ntah kenapa begitu sulit. Seakan mencekik di lehernya.


Belum sempat papanya berucap, kedua polisi itu malah memegang kedua lengan Devan dan hendak membawanya. Mereka semua terkejut dan berusaha menghentikannya.


"Dia telah mencoba mencuri motor polisi dan membawa kabur motor tersebut." Ucap salah satunya yang saat ini mereka sudah berdiri dan hendak pergi.


"Pak, jangan bawa anak saya. Mungkin ini hanya kesalahpahaman pak." Ucap papa sarah memohon.


"Apa?" tanya Kian dan Sarah berbarengan tak percaya.


"Pak lepaskan anak saya. Saya yakin anak saya tidak bersalah." ucapnya lagi yang memegang tangan polisi itu.


"Maksud papa apasih?!" kesal sarah yang sedari tadi seperti orang bodoh, bingung dengan apa yang ia lihat. Ia pun menarik tangan papa nya.


Namun kedua polisi itu tak menggubris sama sekali. Mereka malah membawa Devan pergi dari sana.


"Kakak...." panggil Gio yang memberontak.


"Kak Kian ayo kita tolong kak Kavin." Ucap Gio merengek.

__ADS_1


Mendengar panggilan dari bocah itu membuat Papa sarah mengerinyitkan dahi. Ia tak tau dengan anak itu namun ia memanggil Kavin dengan sebutan kakak, pikirnya.


Sarah yang masih meronta pada papanya untuk meminta penjelasan.


"Nak, kamu siapa nya kavin?" tanya papa sarah pada Kian.


"Saya kian pak. Temen Devan."


"Lalu siapa yang berada di dalam?" tanya dengan hati hati.


"Tante Zanna Pak." Ucap kian dengan nada suara yang bergetar hampir kembali menangis.


Bagai di sambar petir, Papa sarah yang mendengar kalimat yang keluar dari mulut kian. Betapa tak percayanya ia. Hal itu membuatnya menangis dan terduduk lemas di lantai. Sarah dan Kian yang melihatnya hendak menolong.


"Nak, kamu tak perlu khawatirkan saya. Kamu tolongin saja Kavin yang ada di kantor polisi sekarang." pintanya pada Kian.


"Tapi...."


"Jangan khawatirkan Zanna. Dia saya yang akan mengurusnya."


Dengan segera Kian dan Gio langsung keluar dari rumah sakit menuju kantor polisi untuk meluruskan kesalahpahaman yang terjadi. Dengan taksi mereka berdua sudah sampai di kantor polisi.


Terlihat Devan yang masih lemas duduk di depan seseorang yang kian yakin adalah pimpinan yang ada di kantor itu.


Kian dan Gio masuk dan duduk di sana. Menjelaskan apa yang terjadi. Namun polisi tak percaya dan malah mengira kalau Devan sedang mabuk berat hingga berbuat berani seperti itu.


"Pak, saya mohon lepaskan teman saya ini. Dia hanya sedang berduka sekarang karena kehilangan mamanya. Ia meminjam kendaraan bapak karena terburu buru sekali pak. Dan jika bapak masih ragu bapak bisa datang ke rumah sakit untuk menanyakan hal itu."


Polisi itu memperhatikan Devan yang urakan dengan mata yang sudah sembab.


"Pak, jika saya berbohong bapak bisa ikut menahan saya." yakin kian lagi.


"Pak, saya mohon lepaskan kakak Gio. Mama masih di rumah sakit sendiri. Biarkan mama kami urus dulu pak." rengek Gio hendak menangis.


"Lagi pula, jika teman saya mau mencuri motor bapak tidak mungkin ia taruh di depan rumah sakit seperti itu. Yang tentu saja bisa dilihat orang lain." bantah kian agar polisi itu bisa memahami keadaannya.


"Pak saya mohon maafkan teman saya. Bapak pasti tau bagaimana kehilangan seseorang yang sangat di sayangi pak. Bahkan begitu pula dengan teman saya. Bapak lihat bagaimana terpuruknya ia sekarang ini." mohon kian.

__ADS_1


Polisi itu tampak berfikir dan akhirnya melepaskan Devan. Bahkan ia ikut mengucapkan bela sungkawa nya pada Devan. Mereka segera kembali ke rumah sakit dan mengurus jenazah Zanna.


__ADS_2